
Si pelayan termenung karena tidak pernah mendapatkan pesanan seperti itu. Jingga yang melihatnya langsung melemparkan beberapa koin emas.
Dengan senang hati si pelayan menangkapnya lalu pergi. Tanpa menunggu lama, si pelayan datang kembali dengan membawa kendi besar dan langsung meletakkannya di atas meja yang ditempati oleh Jingga.
Jingga langsung menuangkannya ke dalam cangkir kecil lalu menenggaknya.
"Aah! Nikmatnya" ucap Jingga terobati kerinduannya.
Jingga mendelik memperhatikan para pengunjung yang sedang menikmati makanannya sambil menajamkan pendengarannya, ia berharap akan mendapatkan informasi yang menarik perhatiannya.
Setelah memindai percakapan para pengunjung, Jingga memfokuskan untuk mendengar perbicangan tiga orang pria dan satu orang wanita yang membicarakan tentang ratusan pendekar yang berbondong-bondong pergi ke lembah Persik.
"Sial! Aku sampai melupakannya" rutuk Jingga baru mengingatnya.
"Bukankah para pendekar masih berada di hutan bambu merah ketika aku berkelebat? Hem, ini pasti karena aku yang tersasar di dalam hutan" tanya pikirnya.
Ia lalu bergegas menenggak arak langsung dari mulut kendi. Sontak saja semua orang meliriknya dengan heran juga takjub.
Dengan mengangkat tinggi-tinggi kendi arak, air arak yang ditenggaknya tidak hanya memasuki tenggorokannya saja, sebagian lagi tertumpah ke lehernya dan membasahi pakaian yang ia kenakan.
Brugh!
"Aah! Ini sungguh enak" seru Jingga setelah menghabiskan seluruh isi dalam kendi.
Tanpa mempedulikan tatapan para pengunjung yang terus memperhatikannya, Jingga terus saja berjalan ke arah pintu keluar dengan bergaya bak seorang bangsawan.
Beberapa langkah kemudian ia menghampiri kembali penjaga gerbang kota.
"Tuan penjaga" panggil Jingga dengan ramah.
"Kau lagi pemuda asing, ada apa?"
"Tunjukkan aku jalan terdekat ke lembah Persik"
Si penjaga memperhatikannya dengan lekat dari kepala sampai kaki pemuda yang pakaiannya masih basah terkena arak.
"Sepertinya kau mau menyusul para pendekar sekte" terka penjaga.
"Betul" jawab Jingga dengan cepat.
"Kau lurus saja terus sampai istana kekaisaran Xiao, dari istana kau lihatlah perbukitan yang terlihat sangat indah. Lembah persik ada di kaki bukit, terserah kau mau lewat mana. Saranku kau terbang saja, itu lebih cepat. Ha ha ha" ujar penjaga gerbang terkekeh meledeknya.
"Terima kasih, Tuan" timpal Jingga lalu memberikannya beberapa koin emas.
Wuzz!
Jingga berkelebat ke arah istana kekaisaran Xiao dan berhenti tepat di pintu gerbang.
Tiba-tiba saja seorang penjaga gerbang kekaisaran menghampirinya dengan menampilkan tampang yang sangar.
"Hei, mau apa kau celingak celinguk di depan gerbang istana?" Tegur si penjaga.
"Tidak apa-apa Tuan, aku hanya mengagumi istana yang begitu megah ini" kilah Jingga lalu menyelonong pergi meninggalkannya.
Jingga kembali memasuki hutan yang mengarah ke area perbukitan, kali ini ia berjalan santai di bawah pepohonan yang tidak begitu besar. Suasana di dalamnya sangat membuatnya nyaman, Jingga bahkan menikmatinya sambil bersiul.
Cukup memakan waktu lama sampai akhirnya Jingga mendengar adanya pertarungan tak jauh dari tempatnya.
"Ha ha, sepertinya para pendekar sudah sampai di lokasi" kekeh Jingga begitu semangat.
Ia lalu memanjat pohon dan berlompatan di antara satu pohon ke pohon lainnya sampai menemukan tempat yang pas untuk menyaksikan pertarungan para pendekar di bawahnya.
"Apakah dia iblis sepertiku?" Gumam Jingga memperhatikan gadis penyihir yang terlihat sangat menikmati pertarungan sama seperti dirinya.
***
"Apakah kemampuan kalian hanya begini saja? Ayolah, gunakan kemampuan terbaik kalian" ejek Mei Moshu mencemooh para pendekar yang terus bertumbangan.
Para pendekar melangkah mundur menjaga jarak darinya, Mei Moshu membentangkan kipas lalu mengayunkannya sambil menunggu para pendekar kembali menyerangnya.
"Kenapa kalian diam saja? Apa kalian ingin beristirahat? Silakan, tapi jangan berpikir untuk kabur, ha ha ha" kelakar Mei Moshu begitu arogan.
"Sialan! Gadis ini bukan manusia, dia lebih mirip seorang iblis" celetuk seorang pendekar pedang bermata sayu.
"Kita terlanjur menghadapinya, apa kalian punya ide untuk melumpuhkannya?" Sambung pendekar golok melirik pendekar dari sekte Racun Kematian.
Mei Moshu tertawa-tawa mendengarkan diskusi para pendekar.
"Bagaimana kalau aku kasih ini buat siapa pun yang berhasil melukaiku?" Ujar Mei Moshu yang seenak jidat menyingkap gaun bagian atas hingga kedua bukit terpampang jelas menantang para pendekar yang langsung terbelalak melihatnya.
Bahkan tidak sedikit para pendekar yang meneteskan saliva karena tergiur menyaksikan keindahan bukit yang menantang.
"Dasar penyihir murahan!" Geram seorang pendekar wanita yang merasa malu melihatnya.
"Bilang saja punyamu tidak seindah punyaku, ha ha" balas Mei Moshu lalu menutupnya kembali.
Wuzz! Ia langsung menarik wanita itu dan melucuti paksa pakaiannya.
"Ha ha, sudah aku duga punyamu tak sebagus punyaku" ejek Mei Moshu lalu melempar si wanita dengan keras.
Wuzz!
Bugh!
Pendekar wanita terpelanting menabrak pohon dan jatuh dengan memuntahkan seteguk darah, tak lama kemudian ia pun tewas.
Mei Moshu kembali mengipasi dirinya dengan santai, ia masih menunggu para pendekar menyerangnya.
"Mau sampai kalian bertahan seperti itu?" ucapnya dengan kalem.
Para pendekar terlihat seperti gerombolan orang bodoh yang tidak tahu harus bagaimana.
"Nona penyihir, aku mengaku kalah. Bolehkah aku pergi dari sini" pinta pendekar muda berbadan besar.
Mei Moshu meliriknya dengan tersenyum lembut memancarkan aura kecantikannya.
"Apa kau yakin tidak ingin menikmatinya?" Tanya Mei Moshu menatap nakal pendekar muda yang gemetar melihatnya.
"Tentu ingin, Nona. Tapi aku tidak bisa melawanmu" jawab pendekar muda yang tanpa sadar tombaknya mengeras.
"Kau mesum juga rupanya, baiklah. Kau boleh pergi" balas Mei Moshu mengizinkannya.
Pendekar muda itu pun mengangguk senang bisa pergi meninggalkan area pertarungan. Ia lalu mengajak teman seperguruannya untuk pergi.
Wuzz!
Sret! Sret!
Mei Moshu dengan cepat menebas leher belasan pendekar yang baru saja membalikkan badannya. Ia lalu kembali ke posisinya sambil berkipas. Terlihat bagian ujung kipas dipenuhi bercak darah.
Bugh!
Belasan pendekar tersungkur jatuh ke tanah dengan leher yang menumpahkan darah.
Para pendekar lainnya tersentak ngeri melihat kematian para pendekar muda yang bersimbah darah.
"Siapa lagi yang mau pergi? Aku akan mengizinkannya?" Tanya Mei Moshu dengan tenang.
Semakin bingung para pendekar dibuatnya, mereka yang berjumlah lebih dari tiga ratus orang tidak ada satu pun yang berani menjawabnya.
Tiba-tiba saja dua orang pria tua botak yang menggenggam tongkat melangkah mendekati Mei Moshu.
"Nona penyihir, kami tahu bahwa kami tidak memiliki pilihan untuk pergi. Kami berdua adalah tetua sekte Rohani Senja. Kami siap mengorbankan diri kami kepadamu asalkan ketiga puluh murid kami bisa pergi meninggalkan lembah Persik" ujar seorang pria paling tua memohon.
Mei Moshu mempertimbangkannya, dalam pikirannya ia tidak ingin membiarkan seorang pun pergi dari lembah Persik. Namun ia memiliki sebuah ide untuk menguji para pendekar dari sekte Rohani Senja.
"Hem! Baiklah. Aku akan melepaskan semua muridmu, tapi hanya yang memiliki tombak besar yang bisa pergi meninggalkan lembah Persik" balas Mei Moshu sambil terkekeh pelan.
Kedua tetua sekte tidak memahaminya, keduanya menatap Mei Moshu dengan tatapan meminta penjelasan.
"Kenapa? Kalian tidak mau menyetujuinya?" Tanya Mei Moshu masih terus terkekeh.
"Maaf, Nona. Tapi kami tidak mengerti maksud ucapan Nona" jawab tetua sekte paling tua.
Jingga yang duduk santai di atas batang pohon tidak henti-hentinya menggelengkan kepala. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Mei Moshu.
"Dasar gadis gila!" Gumam Jingga mencibirnya.