
Qing Ruo mengikuti Liu Ye beserta rombongannya keluar dari dalam penginapan, sambil mengabari Hu Shan dan rombongannya untuk tetap berada di dalam penginapan, dan tidak meninggalkan tempat itu.
" Putri, sudah berapa lama Klan Nan ini membuat masalah?" tanya Qing Ruo, mengubah panggilannya pada Liu Ye, sambil berjalan di sisinya.
" Seratus tahun yang lalu, sejak leluhur Liu Lao menghilang. Klan Nan semakin berani menunjukkan dominasinya. Tidak hanya itu, mereka juga membuat masalah dan mengganggu wilayah sekitar dengan menanggap dirinya sebagai Klan Dewa terkuat. Tidak dapat dipungkiri jika mereka memang memiliki kekuatan yang cukup besar, tapi yang kami heran, bagaimana bisa mereka yang merupakan klan kecil itu tiba-tiba menjadi kuat."
Qing Ruo mengangguk-anggukkan kepalanya, menyimak penjelasan Liu Ye dengan seksama.
" Apa mungkin mereka menginginkan sesuatu dari kota ini?"
Liu Ye menggelengkan kepalanya.
" Kami juga belum tahu, tuan," ucap Liu Ye dengan hormat.
" Apakah sebelumnya pihak istana tidak melakukan penyelidikan mengenai hal ini?"
" Sudah tuan. Kami bahkan telah mengirim pasukan khusus, namun selalu gagal."
" Apakah mereka memiliki kekuatan lain yang melindungi mereka?"
Liu Ye mengelengkan kepalanya.
" Kami juga tidak tahu tuan..." ucapnya sambil terus berbincang-bincang, hingga akhirnya mereka tiba di halaman penginapan.
Halaman penginapan.
di tempat itu telah berkumpul ratusan prajurit elit kota Danau Emas, menunggu Liu Ye dan rombongannya.
" Putri," ucap komandan pasukan, yang merupakan pendekar Kaisar dewa tingkat akhir, menyapa Liu Ye dan rombongannya dengan hormat.
" Komandan Ming, apakah sudah siap?"
" Sudah Putri..." Sambil mempersilahkan Liu Ye memasuki kereta kuda.
" Baik, Mari bergerak," ucap Liu Ye, membawa rombongan meninggalkan halaman penginapan, bergerak menuju gerbang Utara.
****
Gerbang Utara kota.
Nan Xu, yang merupakan pendekar semi abadi tingkat lima, bersama lima puluh pendekar Semi abadi tingkat dasar, sepuluh semi abadi tingkat tiga, dan lima semi abadi tingkat empat, berdiri di depan gerbang Utara kota, berteriak-teriak memanggil Liu Hwang, sang pemimpin kota dengan sombongnya.
" Liu Hwang, keluar kamu! Jangan hanya bisa bersembunyi di balik meja kayu mu yang usang itu!" Suaranya bergema, terdengar di seluruh penjiri kota Danau Emas, membuat penduduk kota menjadi gempar. Tidak hanya itu, kemarahan Nan Xu semakin menjadi-jadi, karena tidak ada satupun pentinggi kota yang datang menemuinya, sehingga membuatnya terus melontarkan ancaman.
***
Di tempat lain. Di dalam kereta kuda.
"Putri, perintahkan pada para komandan pasukan untuk menenangkan penduduk Kota, serta mengawasi pergerakan mereka secara langsung." ucap Qing Ruo.
" Baik tuan."
" Selain itu, perintahkan pada para komandan untuk menindak tegas pada penduduk kota yang melakukan pergerakan yang mencurigakan. Jika perlu bunuh saja."
" Maksud tuan?" Tanya Liu Ye dengan heran.
"Aku curiga kota ini telah disusupi oleh orang-orang klan Nan, yang ditugaskan secara langsung untuk membuat kekacauan di dalam kota."
" Baik. Tuan benar, kami mengerti," ucap Liu Ye, lalu meminta Liu Ming membawa pasukannya mengawasi penduduk kota.
" Tapi Putri, jenderal Heng telah melakukan hal itu." Menatap Qing Ruo yang duduk di hadapannya dengan ragu.
" Lakukan saja, karena semakin tinggi tingkat pengawasan, maka semakin lebih baik."
" Baik putri," jawab Liu Ming.
" Tenanglah, aku percaya padanya," ucap Liu Ye berbicara pada Liu Ming melalui telepati, membuat komandan pasukan elit itu lalu meninggalkan Liu Ye dan Qing Ruo bersama lima penjaga, yang merupakan para pendekar tingkat semi abadi.
" Putri, jika kita terus menggunakan kereta kuda ini, kapan tibanya?" tanya Qing Ruo.
" Tuan, ini adalah aturan untuk semua orang. Bahkan pihak istana juga tidak diperbolehkan menggunakan kekuatannya di dalam kota, agar keseimbangan kekuatan klan Dewa dan Klan manusia di dalam kota tetap terjaga."
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Putri, aturan memang bersifat mutlak dan mengikat, namun dalam pelaksanaannya, juga jangan seperti ini. Anda harus mempertimbangkan hukum kebijaksanaan, yaitu mengambil keputusan melalui timbang rasa, karena setiap masalah itu tidak sama, dan cara menanganinya juga berbeda. Anda harus bisa mengambil keputusan dan memprioritaskan hal yang lebih penting dari pada menuruti sebuah aturan yang justru akan menjadi petaka. Tidak masalah jika Anda melanggar aturan demi kebaikan, karena rakyat kota dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah. Jika Anda terus mengikuti aturan yang baku dan kaku ini, maka dapat dipastikan kota Danau Emas akan hancur sebelumnya kita tiba di gerbang utara."
Liu Ye dan rombongannya terdiam. Menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Putri, yang dikatakan oleh tuan Qing Ruo itu benar," ucap salah satu pendekar, berbicara padam Liu Ye melalui telepati.
Liu Ye yang terdiam menyimak penjelasan Qing Ruo, lalu menganggukkan kepalanya.
" Tuan Qing Ruo benar," ucapnya, lalu meminta ke lima pendekar yang ada di sisinya bergerak mengikutinya.
****
Gerbang Utara kota.
Nan Xu terus menerus melontarkan tantangannya, menantang Penguasa kota, serta seluruh penduduk kota Danau Emas, membuat kota itu benar-benar mencekam.
" Liu Hwang, Jika kamu tidak keluar. Maka jangan salahkan aku meratakan kota ini!" suaranya bergema dengan lantang.
" Swhuss... swhus...."
Qing Ruo, Liu Ye dan rombongannya muncul di gerbang Utara kota, menatap Nan Xu dan pasukannya dengan tenang.
" Oh, putri kecil Liu Hwang kini sudah besar. Bahkan telah berani menunjukkan batang hidungnya!" ucap Nan Xu, menghina Liu Ye, sambil tertawa terbahak-bahak.
" Tua bangka, kamu berteriak-teriak di depan gerbang kota orang lain. Apakah kamu tidak tahu malu!"
" Malu? Bukankah itu Liu Hwang, yang bahkan tidak tahu malu mengirim anak kecil untuk menemuiku!" sambil tertawa terbahak-bahak.
" Swhuss..." Qing Ruo mengeluar tongkat kayu, lalu menunjukkannya pada Nan Xu, membuatnya langsung terdiam.
" Baj**n! Apakah kamu pikir aku ini anj**g?
" Aku tidak mengatakannya, dan ternyata kamu menyadarinya. Jadi tidak heran, kamu tidak memiliki malu," ucap Qing Ruo dengan santai, membuat Nan Xu langsung naik pitam.
" Anj***Ng keluarga Liu mana lagi ini. Apakah kamu-"
"Aku bukan penduduk kota ini," ucap Qing Ruo memotong kata-kata Nan Xu dengan santai.
" Oh, ternyata kamu hanya orang asing yang ingin mencari muka di hadapan gadis ingusan ini. Nak, seleramu sungguh rendah. Jika kamu ingin wanita sungguhan, aku akan menyediakannya..." menatap Liu Ye, sambil tertawa terbahak-bahak.
" Nan Xu, kamu sudah terlalu tua untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Sebaiknya pulanglah," ucap Qing Ruo dengan santai.
" Nak, dari mana keberanianmu mengatakan hal itu. Apakah kamu sadar mengatakannya?" menatap Qing Ruo dengan dingin.
" Nan Xu, kamu hanya pengecut yang berani saat ayahku dan pamn jenderal dalam latihan tertutup. Sungguh memalukan!" Liu Ye mencibir.
" Oh benarkah? Kebetulan sekali." Tertawa keras.
" Putri apa yang anda lakukan..." ucap Pendekar yang berada di sisi Liu Ye, dengan wajah khawatir.
" Paman tenanglah, karena aku memang sengaja melakukannya." Berbicara melalui telepati, menatap Qing Ruo yang tampak santai
Kata- kata Liu Ye membuat Nan Xu begitu senang.
" Pasukan, ini adalah kesempatan kita. Serang!" Memberi perintah pada pasukannya untuk menyerang pertahanan kota.
" Nan Xu, jangan membuat ku kesal!" Teriak Qing Ruo tiba-tiba, membuat prajurit elit Klan Nan itu menghentikan tindakannya.
" Anak muda, Jika kamu tidak ingin terganggu, maka silakan pergi. Tinggalkan kota ini sekarang juga." sambil tertawa santai.
" Kalian telah menganggu waktu istirahatku. Lalu sekarang kalian minta aku pergi. Sungguh mengesalkan. Jika dalam hitungan ketiga kalian tidak angkat kaki, maka jangan salahkan aku." Dengan wajah kesal, sambil menunjuk tongkat kayunya pada Nan Xu dan pasukannya yang sedang tertawa terbahak-bahak.
" Sungguh tidak tahu diri. Pendekar kaisar dewa tingkat dasar, berani menggertak kami. Hei manusia biasa, sayangilah pencapaian prestasimu yang luar biasa ini. Jangan pernah menjadi pahlawan kesiangan di kota ini. Jika kami sudah bertindak, kamu hanya akan menyesal," ucap Nan Xu, yang menganggap Qing Ruo adalah pendekar dari klan manusia.
" Satu...." ucap Qing Ruo mulai menghitung, membuat Liu Ye dan rombongannya menunggu tindakan Qing Ruo dengan berdebar-debar.
" Dua...." Ucap Nan Xu, menjawab hitungan Qing Ruo, sambil tertawa terbahak-bahak.
" Dalam hitungan ketiga, kita Serang kota ini," ucap Nan Xu, sambil memanggil bala bantuan pasukanya, yang berada satu kilometer dari benteng kota.
" Tuan," ucap Liu Ye, tiba-tiba menatap Qing Ruo dengan khawatir.
"Putri tenanglah," ucap Qing Ruo.
" Swhus.... swhus..." puluhan ribu prajurit kota Danau Emas, tiba.
" Tiga..." teriak Qing Ruo.
" Serang!" teriak Nan Xu, sambil mengarahkan pasukan menyerang perisai pertahanan kota.
" Sungguh tidak tahu diri!" Ucap Qing Ruo, sambil mengedarkan aura semi abadi tingkat delapan, dengan ledakan petir emas kehitaman menyelimuti tubuhnya.
" Apa!" Teriak Nan Xu panik, sambil meminta pasukannya bergerak mudur.
" Dhuar....dhuar..." dua sosok semi abadi tingkat dasar yang berada tidak jauh dari Qing Ruo terkena sambaran petir, mengubahnya menjadi kabut darah.
" Apa," ucap Liu Ye dan seluruh pasukan kota Danau Emas terkejut, menatap Qing Ruo dengan takjub.
" Nan Xu. Jika sejengkal saja kalian berani bergerak. Aku Qing Ruo akan mendatangi klan Nan, dan meratakannya!" Suara Qing Ruo bergema dengan lantang, membuat Nan Xu beserta pasukan yang berhasil bergerak mundur sejauh tiga ratus meter segera berhenti.