Sang Penguasa

Sang Penguasa
218. Hutan Gelap 10.


Pertempuran dahsyat di dalam makam terus berlangsung. Dentuman dari  ledakan pukulan yang beradu dan raungan naga yang terus bergema, mengguncang makam itu membuat Yanshi Gong yang berada di yang ceruk semakin gelisah.


Di dalam makam.


" Dhuar....dhaur ..." serangan tapak naga yang di lepaskan oleh naga putih, mengenai peti giok yang telah berhasil  direbut oleh Qing Ruo dan menghancurkannya.


" Swhus....." Sosok transparan yang berada di dalam peti itu keluar, melepaskan ledakan aura semi abadi tingkat sembilan tahap puncak sambil melepaskan tembakan angin ekstrem, melempar Qing Ruo dan semua naga yang ada di tempat itu ke berbagai arah.


" Dhuar.. dhuar...." ledakan dahsyat berkemah saat sosok mereka menghantam dinding makam.


" Lancang!" ucapnya dengan sorot mata tajam dan tidak bersahabat, menantap Qing Ruo dan rombongannya.


" Tu-tuan," ucap Kedua naga putih dengan tubuh yang penuh dengan luka, bergerak mendekati sosok itu. Yu Bai Xu, Yu Bai Ming, apa yang telah kalian lakukan!"


" Tuan, itu semua karena dia...." Mengarahkan pandangannya pada Qing Ruo yang terluka parah, yang sedang di tolong oleh Long Yu Wei dan rombongannya yang telah mengubah diri menjadi manusia.


" Tuan, tuanku tidak bermaksud demikian. Sebenarnya kami terjebak di tempat ini, tetapi kedua pelayan Anda ingin menindas kami." Long Chen menjelaskan, berdiri di sisi Qing Ruo yang sedang menyerap pil Fuyuan dan pil peledak energi.


Sebagai satu-satunya sosok yang paling lemah, serangan angin yang dilepaskan oleh sosok paruh baya itu benar-benar melukai Qing Ruo dengan parah.


" Tuan, mereka tidak jujur. Sebenarnya mereka ingin menjarah tempat ini..." Yu Bai Xu berkilah.


" Kamu-"


" Long Chen," ucap Qing Ruo pelan, menghentikan tindakannya.


" Baik tuan muda," ucapnya dengan hormat.


Sosok transparan itu dengan perlahan menujukan tubuh fisiknya, menatap Qing Ruo dengan penuh selidik.


" Tetua, Aku Qing Ruo,  dengan sengaja meminta orang-orangku untuk membangunkan Anda," ucapnya sambil berusaha berdiri dengan tubuh yang masih lemah, menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Shen Guoshi Qing, apakah kamu sadar dengan tindakanmu itu ?"


" Aku tahu ini tidak pantas, tetapi aku terpaksa. Tanpa kehadiran tetua, aku tidak yakin kedua pelayan Anda  itu akan melepaskan kami.  Jika aku terbunuh oleh mereka di tempat ini, apakah tetua yakin leluhurku akan diam?"


Kata-kata Qing Ruo membuat sosok itu terdiam, lalu mengarahkan pandangannya pada sosok Yu Bai Ming dan Yu Bai Xu yang tidak bisa berkata-kata tersebut.


" Kalian....." Dengan tatapan tajam.


" Tu-tuan. Itu karena mereka ingin menjarah tempat ini," jawab Yu Bai Ming membela diri dengan terbata.


" Yu Bai Ming, apakah kamu pikir tuanku ini  miskin?  Justru kalian berdualah yang ingin merampas sumber daya yang kami miliki."  ucap Long Chen dengan kesal.


" Penjarah makam, jika kami lemah apakah kalianasih membiarkan kami tetap hidup," ucap Yu Bai Xu menimpal.


" Tuan, kami-"


" Long Chen, cukup," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Tapi tuan muda...."


" Kita tidak perlu menjelaskan banyak hal, karena aku yakin tetua bisa menilai masalah ini dengan benar." Menatap pria paruh baya tersebut dengan tajam.


" Penguasa benar," ucap Long Chen dengan hormat.


" Tetua, aku yakin anda dapat memutuskan masalah ini dengan baik. Pelayan anda ingin membunuh kami dan Anda pun telah melukaiku. Jika nenek agung Kongque tahu hal ini, apakah Shen Kongqi yang anda jaga dan anda lindungi semasa hidup akan bisa bertahan?" Sambil mengeluarkan lencana giok merah yang diberikan oleh Qing Yan di kota Xi sebelumnya.


Kata-kata Qing Ruo yang tenang dan santai tetapi penuh dengan ancaman itu,  membuat pria paruh baya tersebut mengerutkan keningnya, menatap Qing Ruo dengan tajam.


" Ternyata dia cucu langsung dari sosok yang sangat mengerikan itu. Dan ini bukanlah masalah sederhana. Yu Bai Ming dan Yu Bai Xu benar-benar membuat masalah...." Membatin kesal,  sambil mengamati Qing Ruo yang sedang mengirim pesan jiwa pada lencana giok merah di tangannya.


" Jika dia benar-benar memecahkan lencana giok itu, Shen Kongqi tidak akan pernah ada lagi," membatin,  berusaha untuk bersikap tenang.


Di sisi Qing Ruo.


" Penguasa benar-benar ahli dalam strategi. Aku benar-benar tidak menyangka jika tujuannya untuk menghancurkan peti giok tersebut adalah untuk mengancam sosok ini," ucap Long Yu Wei berbicara pada rombongannya melalui telepati.


" Saudara benar. Hal seperti itu berarti terpikirkan olehku. Aku yakin sosok ini tidak akan berani macam-macam lagi," ucap Long Qe.


" Penguasa selalu penuh perhitungan. Aku yakin dia sudah mengira kita tidak akan mampu mengalahkan kedua naga dari klan Bai Yu ini," ucap Long Chen menimpali. 


" Tuan Muda, aku Kongqi Duyun, leluhur ketiga Shen Kongqi. Mohon penjelasannya bagaimana anda bisa berada di tempat ini. Mungkin aku bisa memberi pertimbangan." Memperkenalkan diri sambil mengubah sikapnya yang sebelumnya penuh dengan sikap mendominasi.


" Penguasa, ternyata Dia memang  berasal dari Shen Kongqi. Tapi bagaimana bisa pecahan jiwa leluhur klan dewa udara ada di tempat ini?" tanya Long Chen berbicara pada Qing Ruo melalui telepati, menatap sosok Kongqi Duyun yang kini menarik  kekuatannya.


" Long Chen, sejak kapan makam kuno terbuka dan dapat dimasuki dengan bebas?"


" Maksud penguasa?"


" Ini semua adalah jebakannya," jawab Qing Ruo singkat, membuat Long Chen terdiam.


" Ternyata dari awal penguasa sudah memikirkan hal ini," ucapnya pelan.


" Benar. Segel kuno yang ada di dalam ceruk sebelumnya adalah tanda palsu yang digunakan untuk menarik minat orang. Selain itu sosok ini juga bukan pecahan jiwa. Lihatlah, aura kehidupannya masih utuh," ucap Qing Ruo menjelaskan, membuat Long Chen terngaga.


" Jadi, saat berada di dalam peti sebelumnya?"


" Sepertinya dia sedang memulihkan diri."


" Penguasa, hamba mengerti sekarang. Alasan kita tidak bisa mempelajari kekuatan angin hitam sebelumnya, karena angin hitam itu adalah serangan pasif."


" Benar," ucap Qing Ruo.


" Tuan muda," ucap Kongqi Duyun, mengganggu diskusi Qing Ruo dan Long Chen.


" Tetua, penjelasan seperti apa yang ingin anda perlukan. Bukankah sudah jelas kami berada di tempat ini karena terjebak. Lalu pertimbangan apa yang ingin anda berikan? Jika tidak karena dua jenderal kucing hitam, kami tidak akan memasuki ceruk kecil ini," ucap Qing Ruo dengan nada kesal.


Kata-kata Qing Ruo yang menohok itu membuat Kongqi Duyun dan kedua naga putih itu terdiam.


" Ternyata dia sudah mengetahui rencana ini dari awal. Tidak heran dia membangunkanku dengan paksa." Kongqi Duyun membatin, menatap kedua naga yang ada di sisinya dengan kesal.


" Tuan, Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Yu Bai Xu, berbicara pada Kongqi Duyun melalui telepati.


" Kalian berdua benar-benar membuat masalah. Apalagi yang bisa kita lakukan selain mengaku kalah," jawabnya dengan kesal.


" Tapi tuan...."


" Apakah kalian bod*h. Klan Qing tidak pernah menoleransi siapapun yang berani mengusik orang-orang penting di klan mereka. Terlebih lagi sosok yang kalian anggap bocah ini, Dia adalah cucu dari Shen Guoshi Qing Kongque. Merak Petir itu tidak akan menyisakan satupun keturunanku." Dengan kesal.


" Tetapi jika kita mengaku kalah, apakah dia akan melepaskan kita, tuan," ucap Yu Bai Ming.


" semoga saja," ucap Kongqi Duyun yang merasa tidak berdaya.


" Tapi tuan..."


" Apalagi? Jika dia menghancurkan giok merah itu, klan tidak akan tertolong. Karena kebodohan kalian hal seperti ini tidak akan terjadi....." ucap Kongqi Duyun dengan sangat kesal.


" Tuan muda, apakah ini tidak bisa dibicarakan lagi?" Dengan tatapan serius.


" Hal apalagi yang ingin Anda bicarakan?  Bukankah sudah jelas kalian telah merugikan kami. Pertama kalian  menjebak kami, lalu ingin merampas sumber daya yang kami miliki, bahkan ingin membunuh kami di tempat ini."


Kata-kata Qing Ruo yang semakin berani membuat Kongqi Duyun tidak memiliki pilihan.


" Tuan muda, Jika demikian  apa yang harus aku lakukan?"


Mendapat pertanyaan seperti itu,  membuat Qing Ruo seperti mendapat angin segar. Matanya yang tajam, menatap Yu Bai Xu dan Yu Bai Ming yang tampak begitu gelisah.


" Tindakan Anda yang melukaiku masih dapat maafkan karena itu bukanlah sebuah kesengajaan, tetapi tidak dengan mereka," ucap Qing Ruo dengan penuh kemenangan.