Sang Penguasa

Sang Penguasa
300. Bertemu Yin Jue dan Yin Lao Weida.


Di dalam  dunia jiwa.


Huo Mingzhi dan rombongannya yang sedang menunggu kabar dari Qing Ruo, masih berada di tlatas langit, menatap Yin Xie dan Yin Rongyou dengan tenang.


" Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa penguasa sampai tidak mengabari kita mengenai hal ini," ucap Long Chen berbicara pada rombongannya melalui telepati dengan heran.


" Itulah yang sedang aku pikirkan.  Apakah  situasi di luar benar-benar sangat genting..." Long Yu Wei menimpali.


" Tapi siapa mereka? Apakah dia Nona Yin Rongyou dan leluhur Xie itu?" tanya Huo Mingzhi berbicara dengan rombongannya, karena dalam pertemuan singkat di kediaman Yin Rongyou sebelumnya, Qing Ruo membahas kedua nama itu.


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Huo Zhoudau dan Huo Mingzhi menerima pesan jiwa dari Qing Ruo yang diminta mereka untuk tidak menyerang Yin Gan dan rombongannya, sambil menjelaskan sosok Yin Rongyou dan Yin Xie  dengan rinci.


" Saudara, sudah ada kabar dari penguasa. Untuk sementara waktu, saudara Yin Gan tetap bersama mereka dan menemaninya di tempat ini," ucap Huo Zhaodau.


" Baik," jawab Long Yu Wei dan rombongannya.


" Saudara Yin Gan, kami pergi dulu. Nona Rongyou, leluhur Yin Xie, maaf atas ketidak nyamanan," ucap Long Chen lalu membawa rombongannya meninggalkan tempat itu.


" Swhus... swhus...." sosok mereka lenyap dari pandangan Yin Gan dan rombongannya.


" Saudara Yin Gan, aku pergi dulu. Nona  Yin Rongyou, leluhur Yin Xie, jika perlu sesuatu minta saja pada saudara Yin Gan," ucap Huo Zhaodau dengan ramah.


" Baik sudara, terima kasih," ucap Yin Gan dengan gembira.


" Baik, aku pergi dulu."


Setelah berkata-kata, Huo Zhoudau lalu meninggalkan tempat itu.


" Akhirnya. Saudari, leluhur, kita sudah aman," ucap Yin Gan yang akhirnya dapat bernapas lega, menatap Yin Xie dan Yin Rongyou yang masih terdiam.


" Ini sangat mengerikan," ucap Yin Rongyou yang tersadar dari ketakutannya.


" Saudari, mereka memang seperti itu, ganas dan tanpa ampun pada musuh, namun sebenarnya mereka sangat baik dan sangat tulus. Beruntung saudara Huo Zhaodau mampu bersikap bijaksana," ucap Yin Gan menjelaskan sosok Qilin Api ungu itu dengan hormat.


" Yin Gan er, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yin Xie.


" Leluhur, untuk sementara waktu, kita akan beristirahat di tempat ini.  ucap Yin Gan sambil membawa  mereka menuju pohon persik raksasa yang berada sembilan meter dari tempat mereka, lalu beristirahalah di bawahnya.


****


Di Dunia luar.


Satu jam kemudian.


" Swhuss...." Sosok Qing Ruo yang menyamar menggunakan tampilan Yin Hen Fen, tiba di puncak Zhu Yin. Namun belum sempat dirinya bergerak mencari tempat untuk beristirahat, tiba-tiba seorang gadis memanggilnya.


" Saudara Hen Fen,"  ucap gadis itu  memanggil namanya, membuat Qing Ruo yang hendak segera pergi itu menghentikan langkahnya, samhil mencari sumber suara tersebut.


" Saudari Shangtao," ucap Qing Ruo menyapa gadis tersebut yang bergerak menghampirinya dengan tergesa-gesa.


" Saudari, apakah telah terjadi sesuatu?"  tanya Qing Ruo dengan raut wajah heran.


" Saudara Hen Fen, aku baru saja menerima kabar bahwa tuan muda Di Lu tewas," jawabnya dengan wajah serius.


" Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Qing Ruo dengan wajah cemas.


" Saudara, aku juga tidak tahu, namun tetua  Jue ingin bertemu dengan saudara..." Dengan wajah serius.


" Saudari, aku sedang dalam misi, apakah aku harus kembali?" tanya Qing Ruo dengan wajah penasaran.


" Tidak perlu kembali, tetua Jue akan datang kemari," jawabnya, sambil membanwa Qing Ruo meninggalkan tempat itu.


" Baik," jawab Qing Ruo menganggukan kepalanya, lalu mengikuti gadis tersebut. Sambil mengikuti gadis tersebut, Qing Ruo juga memeriksa setiap tempat yang dilewatinya.


" Ternyata puncak utama benar-benar tempat yang luar biasa," batinnya, merasakan kekuatan es yang ternyata menenangkan, yang begitu berbeda dari puncak Dong Yin. Selain itu, pemandangan yang luar biasa dengan bangunan istana mewah yang berbalut pilar-pilar es dan emas membuat tempat itu begitu luar biasa.


Setelah terus bergerak, Qing Ruo akhirnya dapat melihat sebuah istana dengan pilar-pilar es hitam raksasa, berdiri dengan megah di atas gunung batu mengambang lainnya di antara bangun-bangun raksasa yang ada di puncak utama tersebut.


" Istana Gerbang Es Hitam," batinnya saat merasakan ledakan kekuatan gelap dan kekuatan es yang begitu luar biasa yang sesekali menyapu kawasan tersebut.


Setelah melewati kawasan istana para tetua tingkat rendah, mereka terus bergerak memasuki kawasan istana yang lebih megah lainnya yang merupakan kawasan elit kediaman para tetua tingkat tinggi.


" Saudari," ucap Qing Ruo yang  mengetahui bahwa kediaman yang mereka masuki itu adalah milik tetua Agung Klan Yin, Yin Lao Meide.


" Saudara, tetua Jue meminta kita untuk menunggu di tempat ini," ucap Yin Shangtao menjelaskan.


" Baik," ucap Qing Ruo yang mulai merasa tidak nyaman, memasuki tempat itu.


Tidak lama kemudian, mereka akhirnya memasuki aula utama kediaman tersebut, yang tidak ubahnya seperti istan puncak Dong Yin.


" Benar-benar tempat yang sangat mewah," batinnya.


" Saudara..." ucapnya mempersilakan Qing Ruo menempati kursi yang berad di tingkat paling bawah.


" Terima kasih saudari." Sambil menempati kursi yang tersebut dengan tenang.


Tidak lama kemudian seorang pelayan memasuki ruangan, lalu melayani Qing Ruo dan Yin Shangtao dengan hormat.


" Saudari, apakah tetua agung tidak ada di tempat?" tanya Qing Ruo dengan heran, memulai perbincangan santai mereka sambil menikmati minumannya dengan tenang.


" Benar," jawab Yin Shangtao sambil menganggukan kepalanya.


" Saudari, aku begitu penasaran dengan apa yang ingin tetua Jue bicarakan," ucap Qing Ruo.


" Saudara, mengenai hal itu aku juga tidak tahu, tetua Jue hanya meminta kami yang berada di puncak Zhu Yin untuk menahan saudara  untuk sebentar, " ucap Yin Shangtao menanggapi.


Qing Ruo menanggukkan kepalanya.


" Apakah mereka akan menyelidiki ku?" Batinnya.


Pada saat mereka sedang  berbincang-bincang santai. tiba-tiba langit kediaman tetua agung itu bergetar.


" Swhuss... swhus..." Sosok Yin Jue bersama seorang  pria paruh muncul di ruangan itu.


" Tetua agung, tetua Jue," ucap Qing Ruo dan Yin Shangtao sambil berlutut dengan hormat.


" Bangunlah," ucap Yin Lao Weida  dengan nada tegas, yang terlihat sedang menyembunyikan kemarahannya, menatap Qing Ruo  yang ada di hadapannya dengan tajam.


" Shangtao," ucap Yin Jue, menatap gadis tersebut dengan penuh arti.


" Baik tetua," ucap gadis itu dengan hormat, lalu meninggalkan ruangan itu.


Setelah Yin Shangtao pergi, Yin Jue lalu menyegel ruangan itu, membuat Qing Ruo semakin penasaran.


Setelah ruangan itu tersegel, Yin Lao Weida yang sebelumnya tampak tenang tiba-tiba melepaskan pukulannya.


" Swhus..." Serangan tapak hitam muncul, melesat ke arah Qing Ruo dengan cepat. Jarak yang begitu dekat tersebut membuat Qing Ruo tidak memiliki persiapan sedikit pun dan hanya bisa menyilang tangan di dadanya.


" Dhuar...." serangan tapak itu menghantam tubuhnya, melempar sosoknya hingga menghantam dinding ruangan yang telah tersegel tersebut.


" Akh..." Qing Ruo pura-pura terluka, dengan memuntahkan darah segar.


" Te-tetua...." ucap Qing Ruo ingin berbicara, tetapi sosok Yin Lao Weida tiba-tiba muncul di hadapannya, sambil melepaskan pukulan susulan.


" Dhaur...." Serangan tapak itu  kembali melempar tubuh Qing Ruo, hingga menghantam pilar emas istana dan menggetarkan perisai perlindungan yang menyegel ruangan itu.


" Tetua..." Ucap Qing Ruo terbata, dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


" Jangan berpura-pura!" ucapnya sambil mencengkram leher Qing Ruo.


" Siapa kamu sebenarnya?" Dengan tatapan tajam, sambil mengeratkan cengkeramannya.


" Te-tetua..." Ucap Qing Ruo dengan tercekat, mencoba berbicara dengan wajah yang kini telah memerah.


" Te-tetua..." ucap Qing Ruo berpura-pura kehilangan napasnya.


" Saudara," ucap Yin Jue pelan.


Dengan tatapan kesal, Yin Lao Weida lalu melempar Qing Ruo di hadapan Yin Jue.


" Brak..." Tubuhnya menghantam meja yang ada di hadapan Yin Jue dan menghancurkannya.