
Di tempat lain.
Di kawasan dalam hutan gelap.
" Swhus.... swhus...." sosok Long Chen dan Yanshi Gong yang terus bergerak menuju gua perak terlarang tiba-tiba berhenti pada dahan pohon raksasa.
" Swhus...." perisai ilusi muncul, menyembunyikan keberadaan mereka di tempat itu.
" Tuan Long Chen, ada apa?" Tanya Yanshi Gong, menatap Long Chen yang sedang memeriksa lencana giok jiwa dari dalam cincin penyimpananya.
" Tuan muda, meminta kita untuk terus bergerak mendahuluinya.
" Maksud tuan Long Chen?"
" Tuan muda Qing Ruo selamat."
" Benarkah?"
" Tentu saja," jawab Long Chen dengan serius.
" Jika demikian, kita mari kita lanjutkan perjalanan," ucapnya dengan penuh semangat, yang benar-benar tidak mengira Qing Ruo akan selamat dari murka ketiga panda putih cakar emas itu.
" Benar-benar di luar dugaan. Ini adalah kali kedua tuan muda Qing Ruo selamat dari sosok semi abadi tingkat sembilan tahap puncak." Membatin dengan penasaran sambil terus bergerak.
****
Dunia kecil klan Xiong Mao
Di dalam aula istana utama.
" Hormat pada patriark," ucap Xiong Mao Zhu, Xiong Mao Shanliang dan Xiong Mao Meide sambil berdiri, menyambut kedatangan Xiong Mao Tian yang sedang berjalan masuki ruangan itu dengan hormat.
Setelah Xiong Tian duduk, Xiong Mao Zhu dan rombongannya lalu duduk menempati kursi mereka masing-masing.
" Para tetua, ada hal apa yang membawa kalian ingin menemuiku?"
" Patriark, kami ingin melapor, bahwa kami telah membawa tamu ke dalam dunia kecil kita," jawab Xiong Mao Shanliang.
" Mengenai hal itu, bukankah aku telah melarang kalian melakukanmya?" dengan tatapan tajam.
" Benar, patriark, tapi dia cucu Ling Zhong, apakah kita-"
" Benarkah?" Berdiri dari kursinya.
" Benar patriark," jawab Xiong Mao.
" Lalu dimana dia?" Dengan wajah penuh semangat.
" Saat ini sedang beristirahat di istana kediaman Ling Zhong, patriark."
" Baik, Terima kasih." Tiba-tiba sosoknya lenyap dari dalam ruangan itu, membuat Xiong Mao Shanliang dan rombongannya saling berpandangan, lalu terkekeh.
" Saudara, karena tugas kita telah selesai. Sebaiknya kita mengawasi dunia luar saja," ucap Xiong Mao Shanliang.
" Baik," jawab Xiong Mao Meide
" Saudara tunggu, kedua sosok yang ikut bersama ruo er sebelumnya," ucap Xiong Mao Zhu.
" Saudara benar, sepertinya mereka perlu di awasi. Jika terjadi sesuatu, Ruo er pasti tidak akan senang," ucap Xiong Mao Shanliang.
" Jiak demikian, mari kita awasi mereka."
" baik...." Lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
****
Di dalam dunia jiwa.
Qing Ruo duduk ditemani Qing Ling yang sedang mengawasi Qing Luo An yang sedang tertidur, menceritakan pertemuannya dengan klan Xiong, yang ternyata memiliki hubungan dengan sang kakek, Ling Zhong.
" Semoga kakek tidak meninggalkan kesan buruk," ucap Qing Ruo pelan.
" Semoga saja demikian. Jika pun kakek melakukan hal seperti itu, bukankah ini saatnya gege membantu meluruskan masalah itu."
" Ling er, benar," ucapnya pelan.
Pada saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba, tiba-tiba cincin penyimpanannya bergetar.
" Ling er, seseorang datang," ucap Qing Ruo sambil menyerahkan cicin penyimpanan yang berisi mutiara jiwa semut hitam dan tikus raksasa yang berada di tingkat tujuh semi abadi tahap akhir."
" Gege, terima kasih. Berhati-hatilah," ucap Qing Ling lembut.
Qing Ruo menanggukkan kepalanya, menghampiri Qing Lian An, lalu mencium keningnya dengan lembut.
" Ayah pergi dulu," ucapnya lembut, lalu meninggalkan tempat itu.
" Swhuss...." Sosoknya muncul di dalam kamar.
" Penguasa, seseorang mendekati kamar," ucap Huo Zhaodau.
" Baik," jawab Qing Ruo sambil meminta Mao Lei dan Huo Zhaodau kembali ke dalam dunia jiwa.
Tidak lama kemudian, pelayan yang mengantarkan Qing Ruo sebelumnya, mengetuk pintu.
" Tuan muda, patriark ingin bertemu Anda," ucapnya pelan.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya tiba di aula istana.
Dari jauh Qing Ruo dapat melihat sosok Pria paruh baya, yang duduk dengan tenang di kursi utama, menatap kedatangan Qing Ruo dengan penuh selidik.
" Tanpa aura tapi begitu mendominasi. Apakah dia sudah berada di tingkat abadi." Qing Ruo membatin, sambil terus melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dengan tenang.
" Patriark," ucap Qing Ruo berlutut di hadapan sosok itu dengan hormat.
" Xiong Mao Tian," ucapnya memperkenalkan diri, sambil meminta Qing Ruo bangkit berdiri.
" Terima kasih, patriark."
" Nak, siapa namamu?"
" Qing Ruo, patriark," jawab Qing Ruo dengan hormat, merasa heran.
" Apakah tetua Xiong Mao Zhu tidak memberi penjelasan?" Batinnya.
" Klan Qing, Apakah kamu berasal dari Klan Shen Guoshi Qing itu?"
" Benar patriark."
Xiong Mao Tian terdiam sesaat, lalu menatap Qing Ruo dengan tajam.
" Lalu apakah kamu juga memiliki hubungan dengan Shen Guoshi Ling?"
" Benar patriark, ibuku Ling Yun, putri tunggal patriark Ling Zhong," jawab Qing Ruo menjelaskan dengan hormat.
" Dua darah dewa kuno," batinnya.
" Apakah kamu dapat membuktikan hal itu?"
Qing Ruo menganggukkan kepalanya, lalu melepaskan kekutan petir abadi dari telapak tangan kanannya, lalu cakram Langit Ling pada tangan kirinya.
" Benar-benar pemilik darah kuno yang sangat murni." Xiong Mao Tian membatin, menatap Qing Ruo terkagum-kagum.
" Panggil aku kakek guru," ucapnya dengan ramah, lalu menghampiri Qing Ruo, dan memeluknya dengan hangat, membuat Qing Ruo yang sebelumnya merasa was-was akhirnya dapat bernafas lega.
" Kakek guru, terima kasih," ucap Qing Ruo.
" Ruo er , ini sudah ribuan tahun, sejak kakekmu meninggalkan tempat ini," ucapnya menatap langit-langit aula istana dengan perasaan haru.
" Kakek Zhong benar-benar hebat, karena dapat berguru patriark Shen Guoshi Xiong Mao Tian." Qing Ruo membatin.
" Dulu saat kakekmu tiba di tempat ini, dia masih sangat muda, mungkin sama seperti dirimu. Tapi setelah Kakek mu pergi, dia tidak pernah kembali. Ruo er, bagaimana kabarnya saat ini? Apakah dia sudah berada di tingkat abadi?"
" Kakek guru, kakek Zhong tidak akan pernah kembali, karena...." ucap Qing Ruo ragu.
" Bicaralah," ucapnya dengan wajah penasaran.
" Kakek Zhong bersama klannya telah meninggalkan daratan Ilahi," ucap Qing Ruo membuat Xiong Mao Tian terdiam.
" Apakah setelah perang besar itu?"
Qing Ruo menanggukkan kepalanya.
" Lalu dimana dia sekarang?"
" Benua Teratai Biru," jawab Qing Ruo pelan.
" Ruo er, apakah itu berarti kamu lahir di dunia kecil terlarang itu?"
" Benar kakek guru. Aku lahir dan besar di benua teratai biru," jawab Qing Ruo, membuat Xiong Mao Tian terperangah.
" Lalu darah Shen Guoshi Qing, itu?"
" Dari leluhur Qing Fengbao, putra pertama Shen Guoshi Qing Kongque," jawab Qing Ruo.
Xiong Mao Tian terdiam, menatap Qing Ruo dengan penuh selidik.
" Dilihat dari kekuatan tulangnya, Ruo er jelas terlihat sangat muda. Itu berarti dia datang ke daratan ilahi setelah Baoyang Tian menutup gerbang langit." Batinnya.
" Ruo er, bagaimana kamu bisa tiba di tempat ini?"
" Menjadi penyusup gelap," jawab Qing Ruo pelan, menceritakan perjalanannya meninggalkan Benua Teratai Biru melalui gerbang teleportasi hitam, hingga ikut membantu pasukan langit melawan pasukan iblis dari neraka besar, lalu menyamar menjadi prajurit dari klan Luo, membuat Xiong Mao Tian yang mendengar kisah itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Benar-benar perjuangan yang begitu luar biasa. Ruo er, aku yakin kamu pasti memiliki alasan," ucapnya menatap Qing Ruo dengan penuh selidik.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Kakek guru benar. Ada misi yang sedang aku emban...." ucap Qing Ruo menjeda kata-katanya dengan tersenyum kecut.
" Berkorban nyawa demi sebuah misi, ini pasti sesuatu yang sangat penting." Batinnya.
" Ruo er, jika aku boleh tahu, apa misimu itu?" Menatap Qing Ruo dengan serius.
" Putra keduaku terlalu beruntung dan putriku tidak seberuntung kakaknya," jawab Qing Ruo
" Ruo er, ada apa dengan putra dan putrimu?" Dengan wajah yang semakin penasaran.
Qing Ruo terdiam cukup lama, lalu membuat segel tangan.
" Swhuss.... swhus...." sosok Qing Ling yang memeluk Qing Lian An yang sedang tertidur, dan sosok Qing Yong Jun yang berdiri di sisinya muncul di dalam ruangan itu.