Sang Penguasa

Sang Penguasa
145. Kota Tongzhe 2.


" Swhuss... Swhuss...." Seorang dengan jubah emas, di temani dua sosok berjubah perak, muncul ditempat itu.


" Jenderal Ao Fei," ucap prajurit sambil berlutut di hadapan pendekar semi abadi tingkat empat itu dengan hormat.


" Bagaimana pekerjaan kalian?"


" Ada sedikit masalah jenderal," jawab prajurit itu melapor.


" Masalah? Apakah kalian telah menemukan pencuri itu?" Menatap semua orang yang ada di halaman penginapan itu dengan lekat.


" Bukan itu jenderal, tapi mengenai kepatuhan dan kerjasama mereka..." Sambil menjelaskan situasi yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu, membuat sosok Jenderal tersebut mengarahkan pandangannya pada Qing Ruo.


" Tuan muda, apakah kamu kira kami ini main-main?" Menatap Qing Ruo dengan tajam.


" Jenderal apakah kalian juga menganggap nyawa kami ini juga main-main?"


" Kamu!" ucap salah satu komandan yang berada di sisi Ao Fei, menatap Qing Ruo dengan gusar.


" Komandan, yang di jelas prajurit memang terjadi, tapi tidak sepenuhnya benar. Pada saat aku bertanya dengan sopan, prajurit Anda malah menjawab dengan sangat kasar. Lagipula apakah kalian bisa menjamin keselamatan kami? Jika tidak, maka biarkan kami pergi dan menyelamatkan diri masing-masing," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Kami tidak akan membiarkan siapapun pergi sebelum kami menemukan pencuri tersebut!" ucap salah satu komandan lainnya, dengan tegas.


" Komandan itu sama saja kalian membunuh kami. Lagi pula dengan tingkat kultivasi yang kami miliki, apakah mungkin kami dapat melakukan. Aku rasa bahkan jenderal Ao Fei pun, tidak akan berani mencuri dari hewan buas tersebut."


" Kamu!" ucap komandan yang ada di sisi kanan Ao Fei marah.


" Prajurit apakah kalian sudah memeriksa cincin penyimpanannya?" Tanya Ao Fei dengan tenang.


" Sudah Jenderal, tetapi kami tidak menemukan sumber daya yang dimaksud."


" Baik, kamu silakan pergi. Tapi jika terjadi sesuatu, jangan salahkan kami," ucap Ao Fei dengan tegas.


" Baik jenderal. Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu meninggalkan tempat itu.


Tindakan Ao Fei membuat Komandan dan prajurit begitu heran.


" Jenderal, dia..." menatap punggung Qing Ruo yang meninggalkan tempat itu, dengan tidak senang.


" Yang dikatakannya memang benar. Selain itu, aku juga yakin dia bukanlah orang sembarangan."


" Maksud jenderal?"


" Apakah kalian buta! kalian terus mengoceh, tapi lupa untuk memperhatikan. Seharusnya kalian bisa membedakan seseorang dari tindakannya. Apakah keberaniannya itu terlihat pura-pura!" ucap Ao Fei mulai kesal, membuat prajurit dan semua orang yang ada di tempat itu terdiam.


" Tapi jenderal..."


" Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kalian, urus orang-orang di tempat ini dengan benar," ucap Ao Fei pada prajurit yang berjaga, lalu meninggalkan tempat itu bersama kedua komandan yang ada di sisinya.


" Baik jenderal."


Setelah Ao Fei dan kedua komandan itu pergi, prajurit dan semua orang di tempat itu akhirnya dapat bernafas lega, sambil memikirkan sosok Qing Ruo yang begitu berani sebelumnya.


" Dia memiliki lencana dan kekuatan darah Klan Na, tapi apakah mungkin dia sedang menyamar." Prajurit yang memeriksa Qing Ruo sebelumnya membatin dengan tubuh bergidik.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo terus bergerak meninggalkan penginapan Mawar Es, bergerak menuju pusat kota.


Fenomena yang terjadi membuat pemandangan kota siang itu benar-benar berbeda. Dimana jalanan kota yang biasa ramai, kini terlihat begitu lengang, dengan raungan keras hewan buas yang menggetarkan seluruh kota.


" Swhus... Swhus...." Qing Ruo bergerak, memeriksa jalanan kota itu. Sambil bergerak mendekati pusat kota dengan tenang.


" Naga bodoh. Apakah dia ingin menghancurkan kota ini!" Qing Ruo membatin kesal, sambil terus bergerak mendekati tempat hewan buas itu berada.


Pada saat terus bergerak, tiba-tiba Qing Ruo merasakan beberapa aura bergerak mengikutinya.


" Sepertinya prajurit kota," batinnya sambil terus bergerak tanpa menghiraukan keberadaan sosok yang mengawasi pergerakanya.


Setelah bergerak sepanjang cukup lama, Qing Ruo masih belum juga tiba di pusat kota, sedang sosok yang mengawasi pergerakannya semakin banyak.


" Benar-benar kota yang sangat luas." Batinnya.


Pada saat mendekati pusat kota, Qing Ruo merasakan ledakan aura hewan buas yang sangat kuat.


" Sangat mengerikan." Batinnya.


" Swhuss..swhus..." aura kuat bergerak mendekatinya dengan ekstrem.


" Aura ini..." Qing Ruo membatin, mengenali aura tersebut.


" Swhus... swhus...." Sosok Ao Fei dan kedua komandannya, muncul di sisi Qing Ruo dan mengapitnya.


" Jenderal, apakah kalian telah menemukan pencurinya?" tanya Qing Ruo dengan santai.


Pertanyaan Qing Ruo membuat Ao Fei terdiam.


" Tuan, apakah Anda pikir menangkap pencuri itu mudah?"


" Aku hanya bertanya. Lagipula aku tidak mengatakan bahwa menangkap pencuri itu mudah."


" Lalu apa maksud Anda menanyakan hal itu?"


" Jenderal, mana yang lebih mudah? Menangkap pencuri itu atau menenangkan Naga yang sedang murka tersebut?"


Pertanyaan Qing Ruo membuat Ao Fei dan kedua komandan itu saling berpandangan.


" Tuan benar. Tapi bagaimana caranya? Pemimpin kota bahkan sudah pusing tujuh keliling..."


" Bawa aku menemui naga itu," ucap Qing Ruo.


" Tapi tuan," ucap Ao Fei, menatap Qing Ruo dengan ragu.


" Jika tidak mencoba, bagaimana kalian bisa tahu," ucap Qing Ruo santai.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Ao Fei menganggukkan kepalanya.


" Mari tuan." Lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Di sisi Qing Ruo.


" Jenderal, apakah ini tidak berbahaya?" berbicara pada Ao Fei melalui telepati.


" Tenanglah, aku merasakan dia cukup serius dengan kata-katanya," jawab Ao Fei dengan tenang.


" Tapi bagaimana jika dia memiliki maksud jahat?"


" Komandan, aku rasa dia bukan orang yang seperti itu. Aku yakin itu."


" Tapi bagaimana jenderal bisa yakin?"


" Jika dia orang jahat, dia akan memanfaatkan kekacauan ini untuk membagi masalah lainnya. Tapi lihatlah. Pada saat semua orang sibuk untuk menyematkan diri, dia justru menawarkan dirinya untuk membantu kita. Mana ada orang jahat melakukan hal seperti ini."


" Tapi jenderal, aku curiga dia ..."


" Komandan, setiap tindakan selalu memiliki tujuan. Tapi keberaniannya untuk bertemu dengan hewan buas tingkat tinggi yang sedang murka bukan sekedar tindakan konyol."


" Tapi jenderal, bagaimana dengan tindakannya di penginapan Mawar Es sebelumnya?"


" Komandan itu adalah alasannya untuk meninggalkan tempat itu. Karena sangat tidak mungkin jika dirinya dengan tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu kita."


" Lalu yang dia lakukan sekarang?"


" Komandan! Keseriusan seseorang itu terlihat dari tindakanya. Apakah kamu sudah buta! Aku tahu membawa orang lain adalah hal yang sangat berbahaya, tapi apakah kamu sendiri memiliki solusi!" Ucap Ao Fei kesal, membuat snag komandan itu terdiam.


Setelah terus bergerak, mereka akhirnya tiba di depan gerbang halaman istana kota.


" Swhuss...swhus...." tigas sosok yang merupakan jenderal muncul, menghampiri mereka.


" Saudara Ao Fei, bagaimana pekerjaan kalian?"


" Saudara Ye Fang, kami bahkan masih belum menemukan jejek keberadaan sosok tersebut," jawab Ao Fei sambil menggelengkan kepalanya.


" Lalu mengapa saudara kembali?"


" Aku ingin menemui Yang Mulia, karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Dengan wajah serius.


" Tapi saudara Fei, yang mulia sedang tidak ingin menerima siapapun, bahkan   istana sekarang sedang di segel," jawab Ye Fang dengan wajah serius.


" Di segel?" Tanya Ao Fei, heran.


" Benar,  saat ini prajurit elit sedang mengamankan keluarga kerajaan."


" Jika demikian, lalu bagaimana dengan Naga Es?"


" Saat ini, para ahli mantra formasi sedang menyegelnya di dalam ruangan rahasia yang berada di bawah istana utama..."


penjelasan Ye Fang membuat Qing Ruo yang berada di sisi Ao Fei dan Nan Du, mendesah panjang.


" Tinggal menunggu waktu. Kota ini akan hancur." ucap Qing Ruo pelan. 


👉1🙏