
Di tempat lain.
Qing Ruo meninggalkan gua terlarang yang merupakan kediaman penguasa Gunung Bei Tian dengan gembira, karena niatnya untuk memiliki rumput emas penguat jiwa akhirnya tercapai.
" Dengan membudidayakan rumput emas penguat jiwa, aku tidak perlu takut untuk naik tingkat." Batinnya senang.
Sambil melewati kabut ilusi, Qing Ruo dengan sengaja merusak pakaiannya, dan membuat dirinya seolah-olah terluka parah oleh pertempuran sebelumnya.
Sambil tersenyum kecil Qing Ruo terus bergerak meninggalkan kawasan terlarang tersebut, hingga akhirnya dapat merasakan beberapa aura yang masih berada di tempat itu.
" Swhuss...." Qing Ruo melesat keluar menemui para tetua yang dia jumpai sebelumnya.
" Tetua..." ucap Qing Ruo pura-pura terkejut.
" Anak muda, ternyata kamu selamat..." ucap salah satu dari mereka dengan gembira.
" Tetua apa yang terjadi? tanya Qing Ruo berpura-pura kebingungan, lalu menatap Dugu Leng dan Dugu Cai yang terdiam menundukkan kepalanya.
" Saudara Leng, ternyata dia masih hidup..." ucap Dugu Cai dengan panik.
" Saudara, tetap bersikap seperti biasa," ucapnya menenangkan Dugu Cai, walaupun dirinya juga begitu gugup.
" Tu-tuan," ucap Dugu Leng dengan terbata.
" Kalian, apa yang terjadi?" dengan mengerutkan keningnya.
" Mereka berdua terkena serangan bilang angin pedang." salah satu tetua menjelaskan.
" Bilah angin?"
" Benar, tiba-tiba bilah angin seperti pedang, dan kabut putih ini muncul," ucap tetua tersebut menjelaskan.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya, menatap Dugu Leng dan Dugu Cai yang terdiam mematung.
" Tetua, apakah kalian mengenal mereka?"
" Nak, mereka adalah tuan muda dari kediaman klan Dugu."
" Tidak heran mereka begitu sombong dan arogan. Ternyata seorang tuan muda." Qing Ruo membatin.
" Klan Dugu?"
" Benar. Mereka adalah salah satu klan yang berkuasa di kota Bei Shi. Selain sombong, mereka juga anak muda arogan yang suka menindas orang lain," ucap tetua tersebut dengan jujur.
" Apakah tetua sekalian pernah di tindas oleh mereka?"
" Bukan kami, tetapi murid Klan kami yang selalu berurusan dengan mereka."
" Benarkah demikian?" tanya Qing Ruo menatap Dugu Leng dan Dugu Cai yang tampak begitu ketakutan.
" Be-benar tuan..."
" Tetua, sekarang lakukan apa yang kalian pandang baik menurut kalian."
" Tapi nak, kami..." Dengan wajah bimbang dan ragu.
" Dhuar... Dhuar...." Ledakan kecil keluar dari tubuh mereka.
" Akh..." Dugu Leng dan Dugu Cai merintih kesakitan dan roboh.
" Tidak.. oh tidak..." ucapnya menangis, saat kekuatan kultivasinya dengan perlahan menghilang dari tubuhnya, membuat para tetua itu terkejut heran.
" Anak muda, apa yang kamu lakukan padanya?" menatap Qing Ruo dengan heran.
" Mereka benar-benar tidak bisa dibebaskan begitu saja. Anggap saja sebagai hukuman bagi Klan Dugu. Sebelumnya aku ingin membebaskan mereka, tetapi tindakannya tidak berubah sedikitpun. Dugu Leng, Dugu Cai, jika kalian masih berani bersuara, maka aku tidak akan segan-segan mematahkan kedua tangan dan kaki kalian!" ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin.
Tindakan Qing Ruo yang tidak memberikan toleransi sedikitpun pada Dugu Leng dan Dugu Cai, membuat kelima tetua yang ada di hadapannya itu terdiam.
" Tetua, beberapa waktu lalu, saat aku terkena serangan serigala taring emas, mereka begitu menginginkan kematianku. Namun itu tidak masalah, karena memang seharusnya mereka bersikap seperti itu, tetapi karena merasa yakin bahwa aku telah mati, mereka kembali bersikap sombong dengan berbicara tidak sopan pada kalian. Itu alasannya mengapa aku menghancurkan kultivasinya," ucap Qing Ruo menjelaskan, membuat para tetua itu akhirnya mengerti.
Tindakan Qing Ruo yang sangat tegas dan tanpa ampun, membuat para tetua itu semakin penasaran dengan latar belakangnya.
" Nak, terima kasih. Orang-orang Klan Dugu memang suka bersikap seperti ini, apalagi di kota Bei Shi."
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Sudah sepantasnya mereka menuai apa yang mereka tabur. Bahkan sebelumnya, aku juga telah bertemu dengan beberapa tuan muda dari keluarga utama klan Dugu yang juga ingin menindasku," ucap Qing Ruo.
" Nak, apa yang kamu lakukan padanya? lalu di mana mereka?"
" Aku juga menghilangkan kultivasinya dengan mematahkan kedua tangan dan kakinya. Mungkin sudah di selamatkan oleh mereka," jawab Qing Ruo santai sambil mengarahkan pandangannya pada Dugu Leng dan Dugu Cai yang kini hanya bisa meringis.
" Anak muda, kamu begitu berani. Apakah kamu tidak takut dengan mereka?"
Qing Ruo tertawa kecil.
" Tetua, bukankah aku akan meninggalkan tempat ini. Aku rasa klan Dugu juga tidak akan tahu, bahkan jika aku menyiksa dan membunuh mereka," jawab Qing Ruo santai, menatap Dugu Leng dan Dugu Cai yang begitu ketakutan.
" Nak, kamu benar. Siapa yang peduli jika kamu membunuhnya di tempat ini."
Kata-kata tersebut membuat Dugu Leng dan Dugu Cai langsung menangis.
" Tenanglah, aku tidak akan melakukan hal yang tidak berguna seperti itu," ucap Qing Ruo santai.
" Tetua, aku akan melanjutkan perjalananku. Sebaiknya kalian tinggalkan kawasan gunung Bei Tian secepatnya," ucap Qing Ruo mengingatkan mereka.
" Baik anak muda, kami mengerti."
" Tetua aku pergi dulu." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
Pada saat Qing Ruo hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba salah satu tetua menghentikan langkahnya.
" Anak muda, jika kami boleh tahu dengan siapa kami berbicara?" dengan penasaran. Tidak hanya para tetua, bahkan Dugu Leng dan Dugu Cai juga begitu penasaran.
Dengan senyumnya yang ramah.
" Tetua, apakah itu penting?"
" Tentu saja. Bagaimana Jika kita berjumpa lagi. Lalu dengan apa kami memanggil anda. Anak muda, aku Yan Wuzhou, dan mereka adalah saudarku," memperkenalkan keempat rombonganya dengan hormat.
" Tetua Yan Wuzhou, dapat memanggilku Qing Ruo," ucapnya dengan santai, lalu lenyap dari pandangan mereka.
" Apa!" ucap para tetua itu terkejut, bahkan membuat Dugu Leng dan Dugu Cai hampir menjatuhkan rahangnya.
" Benar dugaanku. Ternyata dia berasal dari klan kuno itu...." ucap Yan Wuzhou dengan merinding. Sedangkan Dugu Leng dan Dugu Cai yang begitu ingin tahu latar belakang Qing Ruo untuk melakukan pembalasan, terduduk dengan lutut bergetar.
" Nak, kalian telah menyinggung seseorang dari klan kuno. Bersiap-siaplah, karena mulai hari ini klan Dugu bukanlah tempat yang aman lagi..." Yan Wuzhou, menakut-nakuti Dugu Leng dan Dugu Cai, membuat kedua pemuda tersebut kini mulai menangis.
" Saudara, mari kita tinggalkan tempat ini..." ucap Yan Wuzhou, bergerak bersama rombongannya meninggalkan Dugu Leng dan Dugu Cai yang kini masih terdiam, meratapi kebodohan.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo dengan tenang terus bergerak meninggalkan kawasan terlarang puncak Gunung Bei Tian. Walaupun aturan ruang dan waktu membebaskannya mengeluarkan kekuatan di tempat itu, namun aturan lain yang melarang untuk terbang bebas di atas langit gunung, membuatnya hanya bisa bergerak di antara pohon-pohon rakasa dengan cepat.
Dari atas pohon-pohon raksasa, Qing Ruo terus bergerak mengikuti jejak aura yang di tinggalkan oleh para pendekar yang melewati tempat itu, sehingga memudahkan pergerakannya meninggalkan kawasan puncak gunung tersebut.
Semakin jauh Qing Ruo meninggalkan kawasan puncak Gunung Bei Tian, maka semakin lemah tekan aturan ruang dan waktu di tempat itu.
Setelah bergerak sepanjang waktu, saat matahari benar-benar telah meninggi, Qing Ruo akhirnya tiba di lembah utara rantai pegunung Bei Tian.
Qing Ruo berhenti sejenak, menatap pemandangan yang ada di hadapannya dengan takjub. Dari tempatnya berdiri, tidak henti-hentinya Qing Ruo berdecak kagum.
" Apakah ini sisi lain dari gunung Bei Tian?" sambil mengitari pandangannya.
Di Lembah Gunung itu, tampak puluhan gunung kecil lainnya mengambang di udara, di hiasi kabut tipis dengan air terjun yang membasahi kawasan lembah, membuat lemabh itu begitu subur.
" Sebuah tempat yang indah dan nyaman, bahkan seperti tidak terjamah oleh siapapun," Qing Ruo membatin, sambil bergerak mendekati lembah tersebut dengan perlahan.
" Swhuss...." Sosok Qing Yong Jun muncul di sisinya.
" Ayah..." ucap dengan girang. Matanya yang tajam mengamati tempat itu dengan jelalatan.
" Ayah di mana kita sekarang?"
" Lembah Utara gunung Bei Tian," jawab Qing Ruo santai, sambil bergerak dengan perlahan, mengawasi tempatnya itu dengan seksama.
" Ayah, apakah kita akan tinggal di tempat ini?" Dengan penuh harap.
" Sebenarnya ayah juga jatuh hati pada tempat ini, namun tempat ini terlalu jauh dari wilayah selatan..."
" Ayah, lalu apa yang akan kita lakukan di tempat ini?"
" Ayah ingin beristirahat sejenak."
" Lalu bagaimana dengan diriku?"
" Lakukan sesuatu yang kamu mau, tapi ingat untuk tetap berhati-hati. Ayah akan beristirahat di tempat itu..." Sambil menunjuk pada pohon besar yang ada di tepi sungai jernih yang ada di lembah tersebut.
" Baik ayah..." Lalu bergerak meninggalkan Qing Ruo memeriksa tempat itu.
Tidak lama berselang setelah Qing Yong Jun pergi, Long Fu, Long Qe dan Long Chen muncul dari dalam dunia jiwa.
" Penguasa," ucap mereka dengan hormat.
" Long Chen, awasi dia dengan diam-diam."
" Baik Penguasa..." jawab Long Chen, lalu lenyap meninggalkan Qing Ruo, memimpin Long Fu dan Long Qe, bergerak mengawasi Qing Yong Jun yang begitu kegirangan.
Setelah ketiga naga perak itu pergi, Qing Ruo lalu bergerak meninggalkan tempatnya menuju sungai yang berada di lembah gunung tersebut.