Sang Penguasa

Sang Penguasa
185. Meninggalkan Kota Xi.


Penginapan Hua Cun. Di dalam ruangannya. Satu jam kemudian, Qing Ruo lalu membuka matanya.


" Waktunya untuk pergi." Sambil beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan penginapan tersebut lalu terus bergerak menuju gerbang teleportasi kota Xi, yang berada di pusat kota itu.


Sepanjang jalan menuju gerbang teleportasi kota, Qing Ruo menjumpai banyak orang yang juga akan meninggalkan kota itu.


" Sepertinya mereka adalah orang-orang yang datang di acara lelang sebelumnya." Membatin.


Setelah bergerak sepanjang waktu akhirnya Qing Ruo tiba di gerbang teleportasi tersebut.


" Tujuannya, tuan?" Tanya prajurit yang berjaga.


" Kota Cheng, tuan," jawab Qing Ruo.


" Baik, mohon tuan menunggu, dan bergabung bersama tuan muda itu." Sambil menunjuk lima pemuda dan tujuh tetua yang akan menuju kota yang sama.


" Baik tuan," jawab Qing Ruo.


Setelah membayar biaya perjalanan sebesar tujuh ratus lima puluh ribu kristal jiwa abadi, Qing Ruo lalu menghampiri para pemuda dan tetua tersebut.


" Saudara, tetua," ucap Qing Ruo menyapa mereka dengan ramah, yang di balas senyuman ramah mereka.


Tidak lama kemudian seorang Prajurit menghampiri mereka.


" Apakah tuan-tuan sekalian yang akan akan berangkat ke kota Cheng?" Tanya prajurit tersebut dengan ramah.


" Benar," jawab salah satu tetua, di ikuti anggukkan yang lain.


" Baik, mari tuan," ucap prajurit itu membawa Qing Ruo dan kelompok kecil itu menuju gerbang teleportasi.


" Swhung...." dua pilar giok raksasa itu bergetar, memunculkan pusaran angin hitam keemasan.


" Silakan tuan," ucap prajurit tersebut dengan ramah.


" Terima kasih tuan," ucap Qing Ruo mendahului rombongan tersebut, lalu memasuki pusaran angin hitam yang muncul di antara kedua pilar giok hitam tersebut.


" Swhus...." Sosoknya melesaat ke dalam pusaran angin hitam keemasan, lalu diikuti oleh pemuda dan tetua tersebut.


Di dalam lorong dimensi ruang dan waktu. Qing Ruo dengan tenang terus bergerak, meninggalkan rombongan para pemuda dan tetua yang ada di belakangnya.


" Semoga tidak ada halangan lagi, sehingga dapat segera tiba di gerbang es hitam," batinnya.


Di belakangnya.


Para pemuda dan tetua tersebut juga terus bergerak. Dan membiarkan diri terbawa arus kekuatan ruang dan waktu yang sangat cepat itu.


" Tetua, liahatlah. Sepertinya pemuda itu menghindari kita."


" Aku rasa tidak. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Apakah kalian menyadari keanehan dari pemuda tersebut?" tanya sang tetua.


" Maksud tetua?"


" Dia adalah pendekar tingkat tinggi yang menyamar. Jadi jangan pernah mengusiknya."


" Baik tetua, tapi bagaimana tetua bisa tahu hal itu?"


" Dari jarak kita dengan dirinya. Berdasarkan jeda waktu saat kita memasuki tempat ini. Normalnya jarak Paing jauh adalah sepuluh hingga lima belas meter, sedang dia ada ratusan meter di depan kita. Bukankah itu tidak masuk akal?"


" Tetua benar. Kami bahkan tidak menyadari hal itu, apalagi dengan lingkaran kekuatan yang hanya ada di tingkat pendekar kaisar dewa."


Di hadapan rombongan itu.


Qing Ruo terus bergerak dengan tenang, tanpa menghiraukan rombongan yang ada di belakangnya.


Tiga jam kemudian Qing Ruo melihat cahaya putih diujung lorong.


" Benar-benar luar biasa. Enam hari perjalanan dilewati dengan waktu tiga jam saja." Qing Ruo membatin, sambil membiarkan diri terhisap oleh cahaya putih tersebut.


" Swhus...." Sosoknya terhisap keluar dari lorong dimensi ruang dan waktu, dan muncul lima belas kilometer dari arah barat kota Cheng.


" Apakah gerbang teleportasi itu rusak?" Qing Ruo membatin heran, sambil mengedarkan pandangannya.


Tidak lama kemudian, kelima pemuda dan tujuh tetua yang ada di belakangnya juga muncul di tempat itu.


" Swhuss.... swhus ..." sosok mereka muncul di udara. Menatap Qing Ruo yang masih berada di tempatnya dengan heran.


" Tuan muda," ucap salah satu tetua menyapa Qing Ruo dengan ramah.


" Sepertinya telah terjadi sesuatu," ucap Qing Ruo pelan.


" Sepertinya memang demikian," ucap tetua tersebut, lalu membawa rombongannya bergerak menuju kota Cheng.


Qing Ruo yang juga tidak ingin berdiam di tempat itu, lalu bergerak menyusul rombongan tersebut.


" Tetua," ucap Qing Ruo ragu saat melihat wajah khawatir rombongan tersesebut.


" Tuan muda, bicaralah...." Sambil terus bergerak.


" Apakah tetua dan rombongan berasal dari kota kota Cheng?"


" Benar tuan muda, aku Lin Chang, dan mereka adalah murid-murid klan kami." Sambil menunjuk kelima pemuda yang bergerak di belakang mereka.


" Tetua Lin Chang, aku Hua Ruo," ucap Qing Ruo memperkenalkan diri dengan menggunakan nama klan Hua dari kota Hua.


" Benar dugaanku. Ternyata dia berasal dari klan dewa kuno." Lin Chang dan rombongannya membatin, sambil terus bergerak mendekati kota Cheng.


Pada saat Lin Chang ingin menanyakan tujuan Qing Ruo , tiba-tiba mereka melihat kabut hitam tebal menyelimuti kota Cheng.


" Perisai ilusi es hitam," ucap Qing Ruo pelan, namun dapat didengar oleh Lin Chang dan rombonganya dengan jelas.


" Oh tidak. Itu berarti kota sedang diserang," ucap Lin Chang panik, sambil mempercepat gerakannya.


Setelah berada satu kilometer dari kabut itu. Terdengar ledakan kecil yang terus bergema teredam.


" Tetua jangan!" ucap Qing Ruo dengan cepat menghentikan Lin Chang dan rombongannya yang hendak menerobos perisai ilusi hitam itu.


" Tuan Hua Ruo, apakah kami hanya diam dan menunggu saja."


" Tetua, bukan itu maksudku. Lihatlah. Kabut es hitam ini mengandung racun korosif." Sambil melepaskan pedang perak pada kabut itu.


" Srassk...." Racun hitam menyelimuti bilah pedang tersebut, membekukan dan mengikisnya dengan ektrem. Membuat Lin Chang dan rombongannya terdiam.


" Mereka pasti sudah melakukan persiapan yang matang, jadi jangan gegabah," ucap Qing Ruo.


" Tuan Hua Ruo benar. Dari tempat ini, hingga tiba di kota, jaraknya masih Lima kilo meter. Belum saja tiba, mungkin Kami sudah menjadi tulang belulang. Jadi apa yang harus kami lakukan?" Dengan wajah panik.


" Tetua, racun korosif ini hanya merusak benda yang disentuhnya, tetapi tidak merusak saraf dan peredaran darah, jadi para tetua cukup membuat perisai perlindungan. Setidaknya dengan demikian para tetua sudah membuat persiapan. Karena kita tidak pernah tahu, selain racun gelap, mungkin jebakan lain juga telah menunggu."


" Tuan Hua Ruo benar," ucap Lin Chang sambil mengarahkan rombongannya untuk membuat perisai perlindungan.


" Swhuss.... swhus...." Perisai perak setebal satu meter muncul, lalu membentuk bola perak raksasa.


" Tuan Hua Ruo, apakah anda..." ucap Lin Chang ragu.


Qing Ruo yang terdiam dengan pikirannya itu menganggukkan kepalanya lalu memasuki bola perak tersebut.


" Tuan Hua Ruo, apakah ada sesuatu yang ingin tuan katakan?"


" Sebenarnya banyak hal yang harus dipikirkan dan dipastikan. Semoga saja kita tidak langsung muncul di hadapan pasukan musuh," ucap Qing Ruo, membuat Lin Chang dan rombongannya merasa ngeri.


" Tapi tuan, kami benar-benar tidak memiliki pilihan," ucap salah satu pemuda.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Benar, karena akan sangat mengecewakan jika dalam situasi seperti ini kita hanya akan menjadi penonton."


" Tuan Hua Ruo benar. Selain itu, aku rasa perisai kabut ini hanya berada di jarak tertentu, karena tidak mungkin mereka mampu menyebarkan seluruh kawasan dengan kabut hitam ini."


" Benar, karena mereka juga tidak mungkin mampu bertahan di dalamnya. Pasti ada ruang bebas yang tidak terpapar kabut hitam ini," ucap Qing.


Setelah yakin dengan persiapannya, Lin Chang lalu menggerakan bola perak itu melesat memasuk kabut hitam tersebut.


" Swhus....swhus....." Bola perak itu melasat dengan ekstrem.


Di antara wajah panik tersebut, Qing Ruo berdiri dengan tenang, sambil mempersiapkan dirinya. Sebenarnya dia merasa enggan untuk terlibat dalam masalah itu, namun dia merasa kesal dengan sosok yang membuat masalah di kota itu, yang bahkan hampir mencelakainya di jalur lorong dimensi ruang dan waktu tersebut.


" Menggunakan perisai perak seperti ini, Bukankah tidak ubahnya seperti orang buta memasuki hutan belantara," Qing Ruo membatin, karena tida bisa melihat apapun.


Namun tiba-tiba bola perak tersebut menghantam benda keras, membuat mereka yang ada didalamnya terguncang.


" Benar dugaanku." Membatin sambil menggelengkan kepalanya.


Belum hilang keterkejutan mereka, tiba-tiba bola perak itu seperti menghantam benda keras lainnya.


" Dhuar... dhuar..." Ledakan keras mengguncang bola perak itu.


" Sepertinya kita sedang diserang," ucap salah satu pemuda, lalu meminta Lin Chang mengarahkan bola perak itu ke tempat lain.


" Itu berarti kita telah melewati kabut hitam," ucap Qing Ruo sambil meminta Lin Chang membuka perisai perak itu.


" Tapi tuan, bagaimana jika....?"


" Akan lebih berbahaya jika kita terus berada di dalam bola perak ini, karena selain kita tidak bisa melawan, kita juga pernah tahu hal yang ada diluar. Jadi bersiaplah," ucap Qing Ruo sambil mengeluarkan pedang perak dari cincin penyimpanannya.