
Puncak Dong Yin.
Walaupun tempat itu terlihat begitu tenang dengan aktivitasnya yang berjalan seperti biasa, tetapi kata-kata yang Qing Ruo lontarkan di dalam aula istana sebelumnya benar-benar telah meresahkan para tetua tingkat tinggi.
Di setiap kediaman elit para tetua tingkat tinggi, mereka terus membicarakan masalah itu dengan serius, bahkan beberapa diantara mereka langsung menguji kebenaran kata-kata Qing Ruo itu dan menemukan bahwa segel yang ada di leher mereka adalah segel pengorbanan darah.
****
Di tempat lain.
" Swhus... swhus...." Sosok Qing Ruo dan rombongannya akhirnya tiba di kawasan puncak Dong Yin.
" Kalian kembalilah, aku ingin menemui wakil pemimpinan," ucapnya sambil bergerak menuju kediaman Yin Jue.
" Baik senior..." lalu memisahkan diri.
" Swhus.. swhus...." Sosoknya bergerak dengan cepat menuju istana yang sangat megah dari kediaman lainnya.
Dalam waktu singkat, Qing Ruo akhirnya tiba di gerbang kediaman tersebut.
" Senior," ucap berapa prajurit yang berjaga menyambut kedatangannya dengan hormat.
Dengan gaya Yin Hen Fen yang angkuh dan tidak ramah pada semua orang, Qing Ruo terus bergerak melewati prajurit itu tanpa menanggapi sapaan mereka sedikitpun.
" Suadara, bad***n ini benar-benar membuatku muak." ucap prajurit itu berbicara pada rombongannya melalui telepati.
" Aku juga, jika saja dia bukan orang kepercayaan tetua Jue, aku mungkin sudah menantangnya dalam pertempuran hidup dan mati," ucap prajurit lain menanggapi, sambil menatap sosok Qing Ruo yang berlalu di hadapan mereka dengan sangat kesal.
****
Di hadapan prajurit itu. Qing Ruo terus bergerak hingga memasuki aula istana.
" Tetua," ucapnya menyapa sosok pria paruh baya yang duduk di dalam aula istana dengan wajah masam.
" Duduklah," ucapnya ketus, mempersilakan Qing Ruo duduk bersama beberapa pemuda lainnnya yang juga akan melaporkan pekerjaan mereka.
Setelah Qing Ruo menempati kursinya, Yin Jue lalu meminta mereka melaporkan pekerjaannya, hingga giliran Qing Ruo.
" Sesuai perintah tetua, aku telah menempatkan Yin Gan dipenjara paling akhir," ucap Qing Ruo melaporkan pekerjaannya dengan rinci.
" Baik, badj***n itu memang harus merasakan siksaan es abadi," ucapnya dengan kebencian yang dalam.
Setelah Qing Ruo melaporkan pekerjaannya, satu persatu para pemuda itu melaporkan pekerjaan mereka dengan rinci.
" Tetua, kami telah melihat tindakan para tetua tingkat tinggi yang mencurigakan, namun mereka masih belum melakukan pergerakan yang berarti."
" Baik, tetap awasi mereka," ucapnya dengan serius.
Setelah menerima laporan pada pemuda tersebut, Yin Jue lalu membubarkan mereka.
" Tetap melakukan pengawasan secara rahasia, dan kamu Hen Fen, sebaiknya untuk beberapa waktu ini jangan melakukan pergerakan yang berarti, karena aku tidak ingin membuat kesan jika mereka sedang diawasi," ucap Yin Jue dengan serius.
" Baik tetua..." ucap Qing Ruo dengan hormat.
Setelah berpamitan, para pelayan itu lalu meninggalkan ruangan itu, termasuk Qing Ruo yang juga pergi menuju kediamannya yang berada di dalam kawasan pasukan elit.
Di depan pintu gerbang kediaman Yin Jue, beberapa prajurit yang berjaga itu kembali menyapa Qing Ruo.
" Senior," ucapnya dengan hormat.
" Tch... Berpura-pura ramah. Aku tahu kalian pasti membicarakanku," ucap Qing Ruo dengan wajah yang tidak ramah sambil berlalu meninggalkan tempat itu dengan gayanya yang congkak, membuat para prajurit itu benar-benar naik pitam dan ingin menyerangnya.
Dengan mengeraskan kepalan tangannya, prajurit itu hanya bisa berdiri menahan diri, menatap Qing Ruo yang terus berlalu dengan penuh kebencian.
" Argh.... Badj****n!" Mengumpat di dalam hati.
Dari jauh, Qing Ruo yang terus bergerak meninggalkan tempat itu tersenyum-senyum santai.
****
Di dalam aula kediamanan Yin Jue.
Tiba-tiba seorang pemuda memasuki ruangan.
" Tetua," ucapnya berlutut dengan hormat.
" Duduklah," ucap Yin Jue dengan wajah datar, membuat pemuda yang baru tiba itu merasa tidak nyaman.
" Gu Hin, bicaralah...."
" Tetua, ini mengenai tuan muda Di Lu," ucapnya dengan wajah ragu.
" Ada apa dengan Di Lu er, apakah ada masalah?"
Gu Hin menganggukan kepalanya.
" Tetua, tuan muda Di Lu dan keempat prajurit yang bersamanya hilang," ucap Yin Gu Hin dengan terbata.
" Hilang!"
" Be-benar tetua. Sudah beberapa hari ini kami benar-benar tidak mendapat kabar darinya, semula aku mengira tuan muda kembali ke klan, tetapi tidak ada yang melihatnya kembali."
Di hadapan Yin Gu Hin. Wajah datar Yin Jue kini tampak memerah.
" Lalu kapan terakhir kamu melihatnya?"
" Tiga hari yang lalu tetua." sambil menjelaskan masalah itu dengan rinci.
" Apakah ini ada hubungannya dengan Yuan Shui?"
Yin Gu Hin menggelengkan kepalanya.
" Tetua, pemimpin kota Gu Lu itu bahkan tidak berani menyentuh para prajurit kita, namun aku curiga ini adalah ulah dari kubu selatan." Yin Gu Hin berpendapat.
" Prang...." Gelas Giok yang ada di tangannya hancur.
" Pergi dan lakukan penyelidikan. Tugas ini aku serahkan sepenuhnya padamu!" ucapnya dengan kemarahan menyala.
" Ba-baik, tetua...." Lalu meninggalkan ruangan itu.
Setelah Yin Gu Hin pergi, ruangan itu kembali menjadi hening.
" Belum selesai masalah pertama, kini muncul masalah lainnya. Argh...!" Teriaknya kesal, lalu meninggalkan ruangan itu.
*****
Di tempat lain.
Qing Ruo yang terus bergerak memasuki kawasan kediaman pasukan elit, lalu melangkahkan kakinya menuju kediaman Yin Rongyou.
Pada saat Qing Ruo tiba di depan pintu gerbang kediamannya, tiba-tiba Yin Rongyou yang juga kembali dari tempat lain, tiba di tempat itu.
" Saudari, kebetulan sekali," ucap Qing Ruo dengan senyumnya yang ramah.
" Maksud saudara?" tanya Yin Rongyou dengan tatapan tidak suka.
" Saudari, ada hal yang ingin aku bicarakan," jawab Qing Ruo dengan santai.
" Maaf saudara, aku ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu," ucapnya menolak kehadiran Qing Ruo dengan halus.
Qing Ruo terdiam sesaat, lalu menatap Gadis yang menjaga jarak dengannya itu dengan ramah.
" Ini tentang Yin Gan, tapi jika saudari tidak ingin membicarakannya, juga tidak masalah," ucap Qing Ruo dengan santai, membuat gadis itu menjadi bimbang.
Setelah berpikir cukup lama, Yin Rongyou lalu mengangguk kepalanya.
" Baik," ucapnya dengan suara merendah sambil membuka pintu gerbang, lalu membawa Qing Ruo memasuki kediamannya.
" Terima kasih, sauadari," ucap Qing Ruo dengan ramah membuat Yin Rongyou tampak semakin risih.
Sambil mengikuti gadis itu, Qing Ruo tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
" Yin Hen Fen ini ternyata sosok yang di benci oleh banyak orang," batinnya.
Di hadapan Qing Ruo. Yin Rongyou terus memimpin jalan, membawa sosok yang sangat dia benci itu memasuki kediamanannya dengan perasaan dongkol.
" Jika saja ini tidak ada hubungannya dengan saudara Yin Gan, mungkin aku akan mengusir sosok tidak tahu malu ini," batinnya dengan kesal.
" Saudara, silakan," ucapnya mempersilakan Qing Ruo duduk sambil menjaga jarak.
" Terima kasih, saudari," ucap Qing Ruo dengan ramah, lalu menempati kursi yang tersedia.
Di hadapan Yin Rongyou, Qing Ruo yang duduk santai itu lalu mengeluarkan minum arak rumput kristal dari dalam cincin penyimpanannya
" Saudara," ucapnya menatap Qing Ruo dengan tajam.
" Saudari, apakah ada yang salah?"
" Minuman ini..." ucap dengan serius.
" Ini adalah arak rumput kristal, yang di racik dengan buah apel emas, buah persik abadi dan kelopak bunga teratai merah. Selain untuk memulihkan kekuatan, juga dapat menawar racun," jawab Qing Ruo menjelaskan minuman yang ada di tangannya dengan rinci, membuat Yin Rongyou terngaga.
" Tapi bagaimana saudara bisa tahu?"
" Karena ini adalah minuman racikanku," jawab Qing Ruo santai, membuat tatapan takjub Yin Rongyou menjadi tatapan kebencian.
" Benar-benar tidak tahu malu!" ucapnya tidak dapat menahan diri
" Yin Hen Fen, Yin Hen Fen, ternyata sosok ini sangat bermasalah," ucap Qing Ruo terkekeh membuat Yin Rongyou semakin kesal.