
Aula istana terlarang.
Di dalam ruangan itu, telah berkumpul puluhan patriark dan belasan para pemimpin organisasi rahasia yang mendukung penuh kepemimpinan klan Yuan.
Di kursi utama, duduk Yuan Shui dengan tenang sambil menikmati minuman yang telah disuguhkan oleh para pelayan yang siap sedia melayaninya.
Tidak lama kemudian, Lu Dan memasuki ruangan.
" Jendral, di mana tuan Qing Ruo?" tanya Yuan Liu, berbicara melalui telepati.
" Sebentar lagi, putri. Mereka akan menyusul," jawab Lu Dan dengan hormat.
" Baik," ucap Yuan Liu sambil meminta patriark dan tamu yang datang untuk bersabar, sambil meminta para pelayan untuk melayani mereka dengan baik.
Di dalam ruangan itu, sambil menunggu undangan yang belum datang, para patriark dan pemimpin kelompok rahasia itu berbincang-bincang santai, terutama mendiskusikan perihal undangan tersebut.
Tidak lama kemudian, Qing Ruo dan rombongan memasuki ruangan. Kedatangannya di tempat itu langsung disambut oleh Yuan Liu dan para jenderal yang mengenalnya dengan hormat.
" Tuan muda, selamat datang, mari..." ucap Yuan Liu dengan hormat..
" Yang Mulia Kaisar, tuan putri, Maaf membuat anda menunggu." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Tuan muda, kami juga menunggu sedang undangan yang lainnya," ucap Yuan Liu sambil mengarahkan Qing Ruo menempati kursi kehormatan.
" Patriark," ucap Qing Ruo sambil membawa Jin Kong duduk bersamanya, membuat Yuan Liu begitu terkejut.
" Tuan muda, dia...." ucap Yuan Liu berbicara pada Qing Ruo melalui telepati.
" Putri dia adalah tamu kehormatanku," ucap Qing Ruo menjelaskan.
" Baik tuan muda," ucapnya dengan hormat.
Setelah Qing Ruo dan Jin Kong menempati kursinya, beberapa pelayan langsung melayani Qing Ruo dan Jin Kong dengan hormat.
" Tuan muda, kita masih menunggu beberapa undangan lainnya," ucapnya menjelaskan sambil mempersilahkan minuman yang telah disuguhkan oleh para pelayan tersebut.
" Patriark, tidak satupun dari para tamu ini mengenal anda," ucap Qing Ruo berbicara melalui telepati.
" Dilihat dari reaksi mereka, sepertinya memang demikian," ucap Jin Kong pelan, sambil memeriksa semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Sambil berbincang-bincang santai, Qing Ruo dengan tenang memeriksa semua orang yang ada di dalam ruangan itu, termasuk sosok Yuan Liu yang terlihat sedang berusaha menyelidiki kekuatan Qing Ruo dan Jin Kong.
Tidak lama kemudian, tiga sosok lainnya memasuki ruangan, lalu menempati kursi yang tersedia.
Tiba-tiba Yuan Liu berdiri dari kursinya, mengedarkan pandangannya, menatap semua orang di dalam ruangan itu dengan ramah.
" Patriark, dan saudara sekalian, tamu kita telah datang, mari kita mulai pertemuan ini. Tuan muda, silakan," ucap Yuan Liu mempersilakan Qing Ruo dengan hormat.
" Terima kasih, putri." Sambil berdiri dari kursinya.
" Yang mulia, para patriark dan saudara sekalian, aku Qing Ruo. Hadir bersamaku, Patriark Jin Kong," ucapnya memperkenalkan diri dan sosok Jin Kong yang langsung membuat ruangan itu menjadi gaduh. Bahkan membuat Mayi Xian dan Mayi Cao yang ada di belakang Qing Ruo langsung berdiri.
" Penguasa, sepertinya mereka menolak kehadiran kita," ucap Mayi Cao, yang tampak mulai kesal, terlebih lagi tindakan Yuan Shui yang langsung berdiri dari kursinya.
" Liu er, jadi tamu yang maksud itu adalah orang dari klan Qing!" Dengan wajah kesal membuat membuat ruangan semakin gaduh.
" Ayahanda, patriark dan saudara sekalian, mohon tetap tenang. Biarkan tuan muda Qing Ruo bicara. Jangan cepat mengambil kesimpulan," ucap Yuan Liu menenangkan semua orang, yang bahkan tidak digubris oleh mereka.
Di hadapan mereka, Qing Ruo dan Jin Kong duduk dengan tenang.
" Tuan muda, biar aku saja yang berbicara," ucap Jin Kong yang tiba-tiba mengubah tampilannya yang sebelumnya dengan rambut hitam tergerai, kini menjadi putih berkilau, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.
Tiba-tiba Jin Kong berdiri, menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
" Yang mulia, dan saudara semuanya. Di sini aku hadir sebagai orang yang berdiri di belakang tuan muda Qing Ruo. Sebelumnya aku telah diperkenalkan oleh tuan muda, dan kini giliranku. Sama seperti saudara, sebelumnya aku juga tertipu oleh nama itu, namun tuan muda Qing Ruo hadir dengan identitasnya sebagi Penguasa muda hutan gelap, perlu Yang mulia dan saudara sekalian ketahui dia adalah cucu dari yang abadi Shen Guoshi Xiong Mao Tian," ucap Jin Kong menjelaskan, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan Itu tampak begitu terkejut dan saling berpandangan.
" Benarkah? Tapi mengapa dia menggunakan nama klan Qing," ucap mereka ragu, bahkan Yuan Shui juga tampak tidak mempercayai hal itu.
" Tuan muda," ucap Jin Kong, meminta Qing Ruo menunjuk identitasnya, namun Qing Ruo menggelengkan kepalanya, dan menolak.
" Tuan muda, ada apa?" tanya Jin Kong dengan heran, membuat mereka yang ada di dalam ruangan itu meragukan identitasnya.
" Penjelasan dari sosok Abadi saja tidak mereka percaya, lalu untuk apa aku melakukannya. Dan itu sama saja mereka menganggap kata-kata Anda adalah sebuah candaan." Dengan tatapan dingin, membuat ruang yang sebelumnya gaduh, kini menjadi senyap.
Di sisi lain, Yuan Liu dan para jenderal kepercayaannya tampak kebingungan, karena Qing Ruo mulai tersinggung dan tidak ramah.
" Kami tidak meminta, tetapi kami di minta. Kedatangan kami berdua ke tempat ini adalah untuk memenuhi undangan Putri Yuan Liu yang memohon padaku secara langsung, bahkan berlutut dan memohon padaku, dan aku memahaminya bahwa putri Yuan Liu benar-benar membutuhkan pertolongan, namun kalian menolak, itu berarti kalian tidak membutuhkan pertolongan," ucapnya sambil berdiri dari kursinya.
" Tuan muda Qing Ruo," ucap Yuan Liu dengan wajah memohon.
" Tuan putri, yang peduli dengan kota ini hanya anda sendiri, dan itu tidak akan bisa mengubah apapun. Sampai kapan pun kata ini tidak akan pernah bisa lepas dari cengkraman Klan Yin," ucap Qing Ruo mengibaskan lengan bajunya, meninggalkan ruangan itu.
" Patriark," ucap Qing Ruo membawa Jin Kong meninggalkan ruangan itu.
" Baik tuan muda," ucapnya dengan hormat, lalu bergerak menyusul Qing Ruo yang dikawal oleh Mayi Xian dan Mayi Cao.
Dengan santai, keempat sosok itu lalu bergerak meninggalkan ruangan itu dengan tenang, tanpa menoleh sedikitpun.
" Jika di pahami secara sepintas lalu, Tuan muda Qing Ruo adalah orang yang benar-benar pemarah, namun jika dilihat dari sudut pandang seorang pemimpin, tuan muda Qing Ruo adalah orang yang bijaksana. Kemampuannya memilah hal penting dengan hal yang tidak terlalu prinsip benar-benar luar biasa, namun kadang disalahpahami. Apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh tuan muda Qing Ruo," Jin Kong membatin, sambil terus bergerak mengikuti Qing Ruo dengan tenang.
" Tuan muda, apakah kita akan langsung pergi?" tanya Jin Kong berbicara melalui telepati, setelah mereka keluar dari istana terlarang itu.
" Sepertinya tidak," jawab Qing Ruo santai.
" Maksud tuan muda?" tanya Jin Kong dengan heran.
" Karena mereka akan memohon, dan meminta kita untuk kembali," jawabnya sambil terus berjalan dengan santai.
Jin Kong ingin bertanya segera mengurungkan niatnya.
" Tuan muda Qing Ruo pasti memiliki rencana," batinnya sambil terus bergerak mengikuti Qing Ruo.
****
Di dalam aula istana.
Setelah Qing Ruo dan rombongannya pergi, tempat itu menjadi gaduh kembali.
" Benar-benar keterlaluan!" ucap Yuan Liu dengan kesal. Tidak hanya itu, tiba-tiba Lu Dan bersama rombongannya, Xui Gong, Xui Yen, Xiao Rong dan Shan Ye meletakkan lencana emas jenderal Kekaisaran.
" Apa yang telah kalian lakukan!" ucap Yuan Liu dengan sedih.
" Putri, mari kita tinggalkan kota ini. Perjuangan anda hingga merendahkan diri dengan berlutut dan memohon di hadapan tuan Muda Qing Ruo, benar-benar tidak ada gunanya. Semua orang yang ada di dalam ruangan ini memegang hal yang menurut mereka sangat prinsip, tetapi buta dengan kenyataan bahwa mereka adalah boneka bernyawa yang ditindas oleh klan Yin!" ucap Lu Dan dengan serius, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.
" Jendral benar. Bahkan jika tuan muda Qing Ruo menggunakan nama Klan Ling, Klan Qing dan Klan Xiong Mao, hasilnya akan tetap sama, oang-orang di dalam ruangan ini tidak akan pernah memahami arti dari kesempatan," ucap Yuan Liu dengan tatapan menerawang, lalu berdiri dari kursinya.
" Ayahanda, kali ini aku benar-benar pergi," lalu berlutut di hadapan Yuan Shui yang terdiam, lalu berdiri pergi.
🙏🙏 satu bab ya kak 🙏🙏