Sang Penguasa

Sang Penguasa
203. Lebah Emas 2.


" Tuan-tuan," ucap Qing Ruo dengan tenang, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Kalian berdua telah menahan saudara kami. Kembalikan mereka!" Ucap sang pemimpin dengan tegas.


Qing Ruo dan Long Chen saling berpandangan, dan berpura-pura terkejut.


" Hentikan tindakan sandiwara kalian itu. Kembalikan sekarang juga, maka silakan pergi! Jika tidak, maka kami akan menguburkan kalian di tempat ini."


" Tapi tuan, Bagaimana bisa kami melakukannya..." ucap Qing Ruo yang terlihat kebingungan.


" Jangan banyak alasan. Aku telah melihat kalian muncul di puncak gunung es kabut hitam. Dan aku juga yang menugaskan kedua saudaraku untuk mengawasi kalian. Jika bukan kalian siapa lagi?"


" Tapi,  apakah mungkin kami bisa mengalahkan kedua saudara tuan itu?"


Kata-kata Qing Ruo membuat mereka terdiam.


" Saudara, sepertinya pernyataan mereka memang masuk akal.  Lalu apa yang harus kita lakukan?"


" Aku benar-benar tidak menemukan celah kesalahan sedikitpun. Namun aku tidak  yakin dengan pengakuan tersebut." Sambil terus berdiskusi dengan rombongannya.


" Tuan,  apakah kami sudah bisa pergi?" tanya Qing Ruo mengejutkan mereka. "


" Jika demikian, kami harus memastikannya. Serahkan cincin penyimpanan kalian!"


" Baik tuan," ucap Qing Ruo dan Long Chen sambil melepaskan cincin dari jarinya.


" Silakan tuan," ucap Qing Ruo  sambil menyerah cincin penyimpanan mereka pada pemimpin kelompok.


" Tidak ada jejak sama sekali," ucap pemimpin kelompok,  berbicara pada rombongannya melalui telepati sambil memeriksa cincin penyimpanan Qing Ruo dan Long Chen.


" Terima kasih," ucapnya ketus sambil menyerahkan cincin penyimpanan pada Qing Ruo.


" Terima kasih tuan," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Sekarang silahkan pergi," ucap pemimpin kelompok tersebut dengan tatapan tajam.


" Terima kasih, tuan," ucap Qing Ruo,  lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


" Pergi dan awasi mereka." Baik jenderal, ucap puluhan lebah emas yang tidak bertransformasi menjadi manusia, bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah lebah-lebah kecil itu pergi, sang jenderal lalu memasuki lorong gua dan memeriksa tempat itu dengan saksama.


Di dalam lorong gua,  mereka menemukan jejak pertarungan kecil yang belum sempat Qing Ruo dan Long Chen bersihkan, membuat sang jendral menjadi murka.


" Badj***n! Mereka telah menipu kita!" Ucapnya murka, meninju dinding gua dan menggetarkan tempat itu.


" Jenderal, apa yang harus kita lakukan?"


" Pergi dan tangkap mereka!" Sambil membawa rombongannya bergerak  meninggalkan tempat itu.


***


Di dalam gua.


" Benar-benar membuat kesal!" ucap sosok pria paruh baya yang merasa terganggu oleh tindakan jenderal lebah emas itu kesal.


" Swhus...." sosoknya keluar dari dalam gua, sambil melepaskan tembakan angin, menghancurkan segel batu yang menutup lorong gua.


" Dhuar....." Ledakan keras itu mengejutkan pasukan lebah emas yang hendak bergerak meninggalkan tempat itu.


" Mundur!" Teriak sang jenderal dengan panik.


" Swhuss...." Kubah batu raksasa tercipta, mengurung lebah emas yang berada di dalam jangkauannya.


" Mati!" Teriaknya murka.


" Trark...." Kubah batu raksasa itu memperkecil ukurannya. Dan mulai membunuh lebah emas yang terkurung di dalamnya.


" Shen Yanshi. Aku Mifeng Yi


memohon pengampunan anda," ucap sang jenderal memohon pada sosok yang mulai membunuh pasukannya yang terkurung dalam kubah batu tersebut.


" Serangga kecil seperti kalian benar-benar tidak tahu diri. Yang terkurung akan mati. Tetapi jika kalian tidak mau pergi, maka aku juga akan membunuh kalian!" Menatap sang jenderal dengan kemarahan yang menyala.


Mifeng Yi yang tidak memiliki pilihan itu, lalu bergerak meninggalkan tempat itu dengan dongkol.


" Mundur!" ucapnya memberi perintah.


****


Di tempat lain.


" Penguasa, aura ini..." ucap long Chen dengan wajah serius.


" Sepertinya jenderal lebah itu telah membuat kesalahan. "


" Maksud Penguasa?"


" Apakah kamu ingat dengan jejak auara yang sengaja kita tinggalkan sebelumnya?"


Long Chen menganggukkan kepalanya.


" Jenderal lebah itu pasti murka di dalam gua itu, sehingga mengganggu sosok yang ada di dalamnya. Mari kita periksa," ucap Qing Ruo.


" Tapi penguasa......" 


" Tenanglah, aku ada ide.."


" Baik penguasa." lalu bergerak mengikuti Qing Ruo yang mendahuluinya.


" Swhuss... swhus...." mereka bergerak mendekati gua yang  mereka tinggali sebelumnya dengan cepat.


****


Di depan mulut gua. Sosok pria paruh baya dari klan Shen Yanshi itu  masih tampak begitu kesal, dengan membunuh lebah emas yang masih tersisa di dalam kubah batu, dan meremukan mereka satu per satu.


" Ini adalah harga yang harus kalian bayar karena berani mengganggu ketenanganku," ucapnya dengan tatapan menyala.


Tidak lama kemudian.


" Swhus... swhus..." sosok Qing Ruo dan Long Chen muncul di tempat itu. Mengawasi pria paruh baya tersebut dengan tenang.


" Dhuar...dhuar..." Ledakan keras terus bergema mengguncang tempat itu, bersamaan dengan robohnya lebah-lebah tersebut.


" Ternyata sosok yang berada di dalam gua itu berasal dari klan pengendali elemen bumi," ucap Long Chen.


" Benar," ucap Qing Ruo sambil mengawasi sosok itu dengan seksama.


" Penguasa, apakah tidak berbahaya jika kita berurusan dengan orang yang pemarah seperti dia."


" Long Chen, dia marah karena dirinya terganggu. Tenanglah."


Lima menit kemudian, tempat itu akhirnya menjadi senyap. Setelah merasa yakin sosok itu telah tenang, Qing Ruo lalu keluar dari persembunyiannya.


" Tetua," ucapnya muncul dari balik perisai ilusi,  menyapa pria paruh baya itu dengan hormat.


" Kalian!" ucapnya terkejut, menatap kemunculan Qing Ruo dan Long Chen dengan penuh selidik.


" Tetua, aku Hua Ruo," memperkenalkan dirinya dan Long Chen dengan hormat.


" Mengamati pertarunganku dengan bebas, bahkan tanpa jejak aura. Dengan tingkat kultivasinya yang sangat rendah. Itu berarti mereka sedang menyamar."


" Tuan-tuan,  Aku Yanshi Gong." Sambil menangkupkan tangannya .


" Tetua Yanshi Gong. Kebetulan sekali kami berjumpa dengan tetua di tempat ini. Aku dan tetua Long Chen baru saja tiba di tempat ini, dan  kami  tidak tahu arah," ucap Qing Ruo menjelaskan situasi mereka, menanyakan kota terdekat dari tempat itu pada Yanshi Gong dengan jujur.


Yanshi Gong  terdiam cukup lama, lalu menatap Qing Ruo dan Long Chen yang sedang menanti jawabannya.


" Tuan-tuan. Saat ini kalian berada di kawasan gunung Es kabut hitam. Seratus kilo meter arah timur  dari tempat ini ada kota kecil  Da Men," jawabnya dengan jujur.


" Terima kasih tuan, lalu seberapa jauh  gerbang es hitam dari tempat ini?" tanya Qing Ruo sekali lagi, membuat Yanshi Gong tampak begitu terkejut.


" Tuan Na Ruo, apakah anda yakin ingin pergi ke tempat itu?" Dengan wajah serius.


" Tetua, tujuan awal kami memang untuk pergi ke tempat itu, tapi kami tiba-tiba muncul di tempat ini. Apakah ada yang salah dengan tempat itu?" tanya Qing Ruo.


Yanshi Gong terdiam beberapa saat lalu menatap Qing Ruo dengan serius.


" Tuan Hua Ruo, tempat itu tidak bersahabat dan kultivator aliran putih. selain itu, jika berada di kawasan ini, itu berarti tuan akan melewati hutan gelap."


" Tidak masalah," ucap Qing Ruo dengan tenang, membuat Yanshi Gong hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Tempat itu berada dua ribu kilo meter arah utara dari tempat tempat ini," ucapnya pelan, membuat Qing Ruo dan Long Chen saling berpandangan.


" Ternyata tempat itu masih begitu jauh," ucap Qing Ruo membatin.


" Baik tetua, terima kasih."  Menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu membawa Long Chen bergerak meninggalkan tempat itu.


" Tuan-tuan, jaga diri kalian. Orang-orang di tempat itu membenci orang asing seperti kalian," ucap Yanshi Gong, sambil meninggalkan tempat itu, bergerak menuju gua tempatnya beristirahat.