Sang Penguasa

Sang Penguasa
207. Kota Da Men 4.


Di dalam dunia jiwa.


Qing Ruo dan Qing Ling masih berbincang-bincang santai.


" Gege, sepertinya mereka tidak mencarimu?"


" Mungkin saja mereka belum kembali. Lagipula sudah malam, aku yakin mereka juga tidak akan menggangu jika tidak ada alasan penting." Sambil merebahkan tubuhnya.


" Dari penjelasan gege mengenai hutan gelap itu, apakah gege tidak ingin mencari cara lain untuk melewatinya?" sambil merebahkan diri di sisi Qing Ruo.


" Sebenarnya aku ingin menggunakan gerbang teleportasi kota Da Men, tapi aku tidak yakin."


" Mengapa bisa demikian?" tanya Qing Ling dengan heran.


" Ling er, sebelumnya aku menggunakan gerbang teleportasi kota Heian, tetapi mereka tidak berani mengantarku langsung tiba di wilayah gerbang es hitam. Aku ceriga mereka memiliki alasan tersendiri. Apalagi kota Da Men yang berdekatan dengan kawasan Hutan gelap ini. Selain itu, aku juga sangat tertarik dengan monster gelap yang diceritakan oleh Yin Gan sebelumnya."


" Apakah itu berarti Gege ingin berburu?"


" Sepertinya demikian. Karena untuk naik tingkat aku memerlukan begitu banyak sumber daya yang berbeda."


" Baiklah, tapi gege jangan terlalu memaksakan diri."


" Baik," jawab Qing Ruo sambil membelai rambut Qing Ling dengan lembut.


*****


Di dalam kamar, di luar dunia jiwa.


Long Fu, Mao Lei dan Huo Zhaodau yang sedang berjaga di tempat itu,  juga berbincang-bincang santai.


" Saudara Fu, bagaimana dengan tugas saudara sebelumnya?" tanya Mao Lei.


" Saudara, kami telah mendapatkan informasi penting yang diperlukan. Mulai dari peta rahasia, dan kekuatan yang bisa kita gunakan untuk membantu penguasa melewati tempat tersebut."


" Apakah tempat itu berbahaya?" tanya Huo Zhoudau dengan wajah serius.


" Menurut informasi yang kami dapatkan, sepertinya demikian. Bisa jadi  kali ini tenaga saudara berdua juga akan dilibatkan."


" Semoga saja, karena aku sudah cukup lama ingin meregangkan tulang-tulangku," ucap Mao Lei.


" Aku juga. Tapi semoga saja demikian," ucap Huo Zhaodau.


" Maksud saudara?" Tanya Mao Lei.


" Mengenai masalah yang seperti itu, kadang penguasa tidak ingin melibatkan kita. Tapi semoga saja penguasa mengubah pikirannya."


Kata- kata Huo Zhaodau membuat Mao Lei terdiam.


" Saudara, itu karena penguasa tidak ingin kita terluka," ucap Huo Zhaodau dengan serius, sambil melanjutkan perbincangan santai mereka.


****


Di tempat lain.


Long Chen dan Long Qe juga berbincang-buncang santai, membicarakan rencana dan persiapan mereka.


" Mengenai pasukan pengawal, itu  keputusan dari penguasa. Apakah dia menginginkannya  atau tidak," ucap Long Chen.


" Semoga saja penguasa menyetujuinya,  karena berdasarkan informasi yang kami terima kawasan tersebut merupakan tempat yang sangat berbahaya," ucap Long Qe.


Long Chen menganggukkan kepalanya.


" Situasi ini benar-benar mengingatkanku, saat pertama kali kita meninggalkan gerbang sembilan naga," ucapnya.


" Benar, saat itu kita begitu mengkhawatirkan daratan ilahi ini, ternyata tempatnya tidak begitu menakutkan," ucap Long Qe tersenyum masam.


" Itu artinya kita jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu dengan berlebihan. Walaupun demikian,  kita harus tetap mempersiapkan diri, karena tenaga dan kekuatan kita sangat diperlukan oleh penguasa."


" Saudara benar." Sambil melanjutkan perbincangan mereka.


****


Di tempat lain.


Yanshi Gong yang telah selesai mempersiapkan keperluan, lalu mengambil sikap duduk.


" Semoga perjalanan ini tidak menjadi sia-sia." Batinnya lalu  mulai berkultivasi untuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan esok hari.


***


Tanpa terasa, pagi pun tiba. Di dalam dunia jiwa. Qing Ruo yang masih tertidur akhirnya terbagun setelah mendapat panggilan dari long Fu yang berada di luar dunia jiwa.


" Ling er, aku pergi dulu," ucapnya dengan lembut.


" Berhati-hatilah."


Setelah berpamitan dengan Qing Ling, Qing Ruo  lalu keluar dari dalam dunia jiwa.


" Penguasa, maaf. Seseorang..." Ucap Long Fu.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo, yang juga merasakan aura asing yang mendekati ruangan, lalu meminta Long Fu dan rombongan kembali ke dalam dunia jiwa.


" Penguasa, ini..." ucap Long Fu, sambil menyerahkan peta rahasia yang dia peroleh di pasar gelap kota Da Men.


" Terima kasih. Untuk informasi lainnya, kabari saja lewat lencana giok jiwa."


" Baik Penguasa." Lalu memasuki dunia jiwa.


Baru saja Long Fu dan rombongannya kembali ke dalam dunia jiwa, tiba-tiba pintu kamar diketuk.


" Tuan muda, apakah Anda sudah bangun?" tanya Yanshi Gong.


" Sudah tetua," jawab Qing Ruo sambil membuka pintu ruangan dan mempersilakan sosok itu memasuki ruangan.


" Tuan muda, maaf menganggangu. Ada yang ingin aku bicarakan," ucapnya dengan serius.


" Silakan, tetua..." Dengan sikap hormat.


" Tuan muda, aku telah memutuskan untuk pergi bersama Anda."


Qing Ruo terdiam sesaat, menatap Yanshi Gong dengan serius.


" Apakah tetua, yakin?"


" Tentu saja. Apakah tuan muda...." ucapnya ragu.


" Tetua, aku sangat senang jika tetua bisa menjadi teman perjalanan. Jika dari awal aku tahu tetua mau menjadi penunjuk jalan, mungkin aku tidak perlu singgah di kota Da Men," ucap Qing Ruo dengan gembira.


" Terima kasih tuan muda. Jika demikian, aku pergi dulu. Satu  jam lagi kita akan berangkat." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Baik tetua," ucap Qing Ruo dengan hormat.


Setelah Yanshi Gong pergi, Qing Ruo lalu mempelajari peta rahasia yang diberikan oleh Long Fu sebelumnya.


" Ada banyak kota dan klan yang berada di wilayah terluar bagaian utara. Ada banyak jalur rahasia yang dapat digunakan untuk memasuki tempat itu, tapi ini terlalu berisiko." Membatin sambil terus mempelajari peta tersebut dengan teliti.


Setelah selesai mempelajari peta tersebut, Qing Ruo lalu meninggalkan ruanganya, menemui Long Chen dan Long Qe yang masih berada di dalam kamarnya.


****


Di dalam ruangannya.


Long Chen yang ditemani oleh Long Qe tampak sudah bersiap-siap.


" Long Chen,"  ucap Qing Ruo dari luar kamar, mengejutkan mereka.


" Penguasa," ucap Long Qe segera bergegas membuka pintu kamar.


"  Penguasa," ucapnya dengan hormat, sambil mempersilakan Qing Ruo memasuki ruangan.


" Maaf membuat kalian menunggu," ucap Qing Ruo, sambil menempati kursi yang tersedia.


" Penguasa, apakah kita akan segera pergi?"


" Sebentar lagi. Long Qe, bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Qing Ruo.


" Penguasa, berdasarkan informasi yang kami peroleh dari organisasi rahasia, tiga ratus kilometer dari kota ini, adalah kawasan terlarang yang disebut hutan gelap, yang merupakan  wilayah kekuasaan hewan buas gelap, dan itu sangat berbahaya. Mengenai hal itu, aku dan saudara Fu ingin menyewa para pendekar bayaran, dan kami sudah membicarakan hal itu dengan mereka, namun mereka mematok harga tinggi, seratus juta per orang." Long Qe menjelaskan informasi yang diperolehnya dengan rinci.


" Baik, terima kasih," ucap Qing Ruo sambil memintanya kembali ke dalam dunia jiwa.


" Baik penguasa," ucapnya dengan ragu.


" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan hangat.


" Mohon penguasa mempertimbangkan hal itu lagi," ucapnya lalu memasuki gerbang dimensi dunia jiwa.


" Long Chen, bicaralah," ucap Qing Ruo pada Long Chen yang tampak ingin berbicara tersebut.


" Mengenai saran saudara Qe, apa pendapat penguasa mengenai hal itu?"


" Sebelumnya, aku memang ingin memiliki pasukan, namun itu tidak efektif dan justru mempersulit pergerakan kita. Selain itu, tetua Yanshi Gong juga akan menemani kita.  Dan aku memiliki ide lain mengenai tempat itu."


" Benarkah. Penguasa, apa itu..."


" Aku ingin berburu hewan buas tersebut."


" Baik, aku setuju," ucap Long Chen dengan penuh semangat, lalu membicarakan rencana mereka.


Tidak lama kemudian, setelah mereka selesai membicarakan rencana tersebut, seorang pelayan memanggil mereka.


" Tuan, Jenderal Gong telah menunggu di ruangan utama," ucapnya dengan hormat.


" Baik," jawab Qing Ruo dengan ramah, lalu meninggalkan ruangan itu,  menemui Yanshi Gong yang telah menunggu mereka di ruangan utama Klan.