
Tanpa terasa lima jam pun berlalu, menjelang malam, dengan perlahan kitab segel Shenghuo terbuka, menampilkan halaman kelima yang memunculkan berbagai teknik sederhana hingga teknik yang paling rumit untuk menggunakan kekuatan cahaya.
" Swhus...." Ledakan aura pembunuhan muncul di tempat itu.
Dengan tenang, Qing Ruo berusaha mencoba memahami teknik tersebut dengan dalam, hingga lima menit kemudian, halaman kitab itu menutup kembali.
" Semakin rumit teknik yang digunakan, maka semakin kuat serangan segel itu. Akhirnya aku mengerti," ucapnya lalu bergerak, meninggalkankan tempat itu.
" Swhuss...." sosoknya melesat menuju langit lorong, terus bergerak lalu keluar dari dalam perut gunung Ping Xie.
Dengan wajah gembira, Qing Ruo terus melangkahkan kakinya menemui Shenghuo Zhuanjia dan Shenghuo Congming yang berada di aula istana.
" Guru," ucap Qing Ruo dengan hormat.
" Ruo er, duduklah," ucap Shenghuo Congming dengan ramah.
" Terima kasih, guru."
" Ruo er, bagaimana?" tanya Shenghuo Zhuanjia.
" Guru, murid mengerti." Lalu mulai mengedarkan kekuatannya.
" Swhus...." Tombak emas teratai biru dengan balutan api biru muncul di belakang punggungnya. Dengan perlahan tombak emas itu mulai mengecilkan bentuknya hingga lenyap membentuk cahaya putih, bergerak perlahan menuju keningnya.
" Swhus...." cahaya itu bergabung bersama tiga segel suci, yaitu segel tertatai biru, segel pagoda emas tiga lantai dan tombak emas.
" Swhus...." Udara di tempat itu bergetar seperti terhisap oleh segel tersebut, yang semakin lalu semakin kuat.
" Swhuss....." ketiga segel suci dan tombak emas teratai biru itu lenyap dari dahi Qing Ruo.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba ledakan petir abadi muncul dari tubuh Qing Ruo, bersamaan dengan munculnya tombak emas teratai biru dengan bentuk yang berbeda. Pada leher mata tombak, terbentuk motif bunga teratai, sedangkan di bagian ujung tombak, terbentuk motif pagoda emas.
" Swhuss.... swhus....." tombak itu bergerak, dan mengambang di hadapannya Shenghuo Congming dan Shenghuo Zhuanjia, yang langsung menampilkan senyum bahagia yang penuh dengan kebanggaan.
" Ruo er, kamu berhasil. Senjata segel suci ini akan semakin kuat seiring dengan tingkat kultivasimu," ucap Shenghuo Congming.
" Terima kasih, guru," ucap Qing Ruo dengan bahagia.
" Ruo er, kitab segel Shenghuo adalah manifestasi dari pedang cahaya yang menurunkan aturan-aturan dalam membunuh, dan tombak emasmu adalah manifestasi dari tombak cahaya. Kelebihan dari tombak cahaya yang kamu miliki, adalah tiga kehidupan cahaya, pertama teratai biru melambangkan kehidupan cahaya. Lalu ada pagoda emas yang melambangkan kehidupan cahaya yang melindungi, dan tombak emas yang melambangkan kehidupan yang dapat membunuh kehidupan lainnya. Ingat, penggunaan tombak cahaya tidak seperti kamu menggunakan pedang biasa," ucap Shenghuo Zhuanjia dengan serius.
" Terima kasih guru, murid mengerti."
" Swhus...." Tombak emas itu lenyap dalam kehampaan, membuat tempat itu kembali tenang.
" Ruo er, kami tahu kamu sedang terburu-buru, tapi beristirahatlah, besok kamu bisa melanjutkan perjalanan," ucap Shenghuo Zhuanjia dengan
" Baik guru," ucap Qing Ruo yang memang sudah begitu kelelahan.
" Silakan kamu pilih tempat dimana kamu suka, karena istana juga sudah menjadi milikmu," ucap Shenghuo Zhuanjia, membuat Qing Ruo terheran-heran.
" Ruo er, lencana giok hijau yang kamu temukan pada pilar batu hitam sebelumnya, itu adalah lencana klan Shenghuo yang terakhir. Tapa lencana itu, Tidak ada satu pun yang dapat memasuki tempat ini." Shenghuo Congming menjelaskan.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya, mengingat bagaimana Hu Yan Lan yang tiba-tiba lenyap saat memasuki cahaya elemen air sebelumnya.
" Terima kasih guru, murid mengerti." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Baik, beristirahalah..." Ucap Shenghuo Congming dengan ramah.
" Baik guru." Sambil berlutut Dengan hormat lalu meninggalkan tempat itu.
" Benar-benar jenius," ucap Shenghuo Congming sambil menatap kepergian Qing Ruo yang belalu meninggalkan ruangan itu.
" Dia bahkan mampu memahami kitab pedang cahaya dalam waktu singkat," ucap Shenghuo Zhuanjia terkekeh tersenyum kecut.
" Dulu ketika aku mempelajarinya, aku bahkan seperti orang gila," ucap Shenghuo Congming tertawa kecil.
" Saudara, saat Ruo er melepaskan kekuatan sejatinya, aku merasa ada aturan ruang dan waktu dari dalam jiwanya," ucap Shenghuo Zhuanjia dengan serius.
" Benar, aku juga merasakannya," ucap Shenghuo Congming dengan tenang, sambil melanjutkan perbincangan santai mereka.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo meninggalkan aula istana dengan perasaan bahagia. Selain dapat menggunakan segel suci penguasa Agung benua teratai biru, ternyata dirinya juga menjadi bagian klan dewa kuno tersebut.
Setelah terus berjalan, Qing Ruo lalu memasuki sebuah ruangan yang cukup mewah.
" Seperti ruangan ini cukup nyaman," ucapnya lalu beristirahat dan berkultivasi di dalam ruangan itu dengan tenang.
Dua jam kemudian, Qing Ruo membuka matanya, lalu mencoba memeriksa pesan jiwa dari Hu Yan Lan, namun masih tidak bisa, sehingga Qing Ruo memutuskan untuk kembali beristirahat di dalam dunia jiwa.
" Swhus...." sosok muncul di Istana Emas.
"Gege," ucap Qing Ling menyambut kedatangan Qing Ruo dengan gembira, namun dengan perasaan khawatir.
" Bicaralah...." ucap Qing Ruo dengan lembut, sambil mengecup keningnya dengan pelukan hangat.
" Di mana kita sekarang, apakah aman?"
" Saat ini kita berada di istana puncak gunung Ping Xie. Tenanglah, tempat ini sangat aman," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Tapi Gege....."
" Ling er, tenanglah. Ada dua sosok abadi yang melindungi tempat ini," ucapnya sambil merebahkan tubuh diri di atas tempat tidur membuat Qing Ling semakin khawatir.
" Tapi bagaimana Gege bisa begitu yakin pada mereka?" Menatap Qing Ruo dengan serius.
Qing Ruo dengan tenang lalu menunjukan lencana giok hijau polos.
" Ini adalah lencana klan Shen Guoshi Shenghuo. Dewa kuno yang menguasai gunung Ping Xie. Selain itu, aku adalah murid kedua sosok abadi itu, guru Shenghuo Zhuanjia dan guru Shenghuo Congming," ucapnya menjelaskan, membuat Qing Ling begitu antusias.
" Lalu Gege, bagaimana dengan Segel Suci benua teratai biru?"
Dengan tenang, Qing Ruo lalu menunjukkan transformasi tombak emas teratai biru, dan menjelaskan dengan rinci.
" Ling er, ternyata tombak emas teratai biru adalah perwujudan dari tombak cahaya. Sedangkan klan Shen Guoshi Shenghuo memiliki kitab suci segel Shenghuo yang merupakan perwujudan dari pedang cahaya."
" Benar-benar luar biasa. Lalu apa rencana gege selanjutnya?"
" Melanjutkan perjalanannya menuju klan Yin," jawab Qing Ruo sambil berbincang bincang santai, hingga tertidur lelap.
***"
Menjelang Pagi.
Qing Ruo terbangun dari tidurnya, alalu menuju kawasan terlarang dunia jiwa. Sambil menunggu hari benar-benar terang, Qing Ruo meracik minuman arak rumput kristal dengan buah-buahan abadi.
" Tidak ada yang dapat aku berikan pada guru, semoga ini berkenan." Batinnya sambil terus bekerja.
Dua jam kemudian, Qing Ruo keluar dari dalam dunia jiwa, lalu menuju taman belakang istana, dan berkultivasi di tempat itu dengan tenang.
Tiga jam kemudian, saat matahari benar-benar terang, Qing Ruo lalu menemui Shenghuo Zhuanjia dan Shenghuo Congming yang kebetulan ada di dalam istana.
" Guru," ucap Qing Ruo dengan hormat.
" Ruo er, duduklah," ucap Shenghuo Zhuanjia dengan ramah.
" Terima kasih guru."
" Ruo er, apakah kamu akan segera pergi?" Tanya Shenghuo Congming.
" Benar guru, namun sebelum itu, aku ingin menunjukkan sesuatu," ucap Qing Ruo sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.
" Swhus... swhus....." sosok Qing Ling yang menggendong Qing Lian An, dan Qing Yong Jun muncul di dalam ruangan itu.
" Guru," ucap Qing Ling dengan hormat.
" Qing Yong Jun, memberi hormat pada kakek guru," sambil bersujud di hadapan Shenghuo Zhuanjia dan Shenghuo Congming dengan hormat, membuat gosok paruh baya tersebut saling berpandangan.
" Dunia Jiwa," ucap bersamaan, lalu mengarahkan pandangannya pada Qing Ruo.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Guru, ini istriku Duan Ling dan putra kedua kami, Qing Yong Jun, lalu yang paling kecil putri kecil kami, Qing Lian An," ucap Qing Ruo menjelaskan dengan ramah.
" Jun er, Ling er, bangunlah," ucap Shenghuo Zhuanjia dengan hangat.
" Terima kasih, kakek guru..." sambil menempati kursi yang tersedia dengan hormat.