
Qing Ruo menyambut kedatangan para pendekar tersebut dengan tenang.
" Jenderal..." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Tuan muda, mohon tinggalkan tempat ini sekarang juga," ucap sosok tersebut dengan tenang.
" Tapi tetua, suasana di luar masih tidak memungkinkan, beri aku waktu untuk tinggal beberapa saat di tempat ini," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Tuan, ini adalah aturan kuno wilayah Gerbang Es hitam," ucap salah satu sosok lainnya memaksa.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Baik jenderal, terima kasih." Sambil mengeluarkan cincin penyimpanan lalu meletakannya di atas meja.
" Tuan muda, anda tidak perlu membayar," ucap gadis tersebut dengan serius, membuat Qing Ruo terdiam.
" Tapi putri, aku sudah mengambil maka aku harus membayar."
" Tuan muda, pergi saja. Anda tidak perlu harus membayar," ucap seorang jenderal, membuat Qing Ruo terdiam.
" Sebegitu bencikah kalian pada kami?" Tanya Qing Ruo dengan penasaran.
" Tuan muda, jangan salah paham. Aku tidak bermaksud demikian. selain itu, arak yang aku suguhkan bukanlah arak terbaik, jadi aku minta maaf," jawab gadis tersebut menjelaskan.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Putri, maaf karena sudah salah sangka, tapi dalam duniaku, tidak ada yang gratis. Jika Anda menolak uangku, mohon di terima pemberianku." Sambil meletakan dua botol arak rumput kristal di atas meja.
Qing Ruo lalu menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu meninggalkan tempat itu.
" Akhirnya...." ucap Gadis itu mendesah panjang, menatap ke empat sosok yang berada di sisinya dengan tenang.
" Putri, Saudara, kalian hampir saja membuat kesalahan," ucap seorang jenderal dengan serius.
" Maksud jenderal Lu Dan?"
" Membiarkan seorang pria seperti tuan muda Qing Ruo pergi begitu saja tanpa membayar minuman yang telah dia nikmati, itu bisa merendahkan martabatnya," ucap Lu Dan dengan serius, membuat ruangan itu menjadi hening.
" Sudahlah, tidak perlu di bahas lagi. Putri, apa yang harus kami lakukan?"
Gadis itu mengangguk kepalanya.
" Jenderal Lu Dan dan Jenderal Xui Long, lindungi tuan muda Qing Ruo hingga keluar dari kota. Jenderal Shan Ye dan Jenderal Xiao Mu, periksa keadaan istana."
" Baik putri...." Lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
Setelah keempat jenderal itu pergi, gadis tersebut lalu meraih dua botol minuman yang ditinggalkan oleh Qing Ruo sebelumnya.
" Hais, mengapa harus dari klan kuno itu." Sambil memeluk kedua botol minuman itu dengan erat.
****
Di jalanan kota.
Qing Ruo terus bergerak menuju gerbang kota dengan tenang. Sebelumnya dia berharap segera dapat membangun relasi dengan putri tuan kota itu, sehingga dapat bertemu dengan tuan kota dan membagun kekuatan di tempat itu.
" Mereka benar-benar tidak bersahabat..." bantinnya.
Karena kekacauan yang terjadi di pusat kota, membuat jalanan kota yang biasanya begitu ramai, kini menjadi lengang sehingga memudahkan Qing Ruo merasakan kehadiran sosok yang mengawasinya.
" Sepertinya mereka tidak ingin melepaskan ku." Batinnya.
Tidak lama kemudian, Qing Ruo akhirnya melihat kerumunan di gerbang utara Kota.
" Pemeriksaan," batinnya, sambil terus bergerak mendekati tempat itu dengan tenang.
" Kamu, ikut barisan di sebelah kiri!" ucap prajurit yang melakukan pemeriksaan itu berbicara padanya dengan kasar.
" Baik tuan...." sambil merapatkan diri pada barisan sebelah kiri.
" Saudara, dari mana saja?" tanya seorang pemuda yang ada di depannya dengan ramah.
" Saudara, sebelumnya aku bersembunyi, berharap pemeriksaan ini segera selesai, ternyata masalah hbada begitu banyak orang," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Saudara tenang saja. Asalkan kita bukan dari klan Yin, maka kita aman,"ucap pemuda itu dengan ramah.
" Maksud Saudara?" tanya Qing Ruo dengan terkejut dan penasaran, karena sebelumnya dia memasuki kota itu menggunakan lencana Klan milik Yin Gan.
" Apakah saudara benar-benar tidak tahu?" tanya pemuda tersebut dengan heran.
" Saudara jika aku tahu, mengapa aku harus bertanya," jawab Qing Ruo.
" Saudara, saat ini pangeran Yin Zuo sedang mencari orang-orang dari klan Yin yang bermasalah dengannya di dalam klan," ucap pemuda tersebut berbicara melalui telepati.
" Jadi suara pertempuran di pusat kota sebelumnya?"
" Itu adalah pertempuran sesama anggota Klan Yin," jawab pemuda tersebut menjelaskan.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Terima kasih saudara," ucapnya dengan hormat.
" Ternyata Yin Zuo sudah mulai bergerak. Dan ini adalah kesempatan bagus untuk membunuhnya, tapi itu akan membawa kota Gu Lu dalam masalah. Selain itu, aku juga masih belum mengetahui latar belakang kekuatan yang dia miliki." Membatin, sambil mengawasi tempat itu dengan seksama.
Sepanjang malam prajurit yang berada di pintu gerbang Utara Kota itu melakukan pemeriksaan, hingga akhir giliran pemuda yang ada di depan Qing Ruo pun tiba.
" Kamu!" ucap prajurit tersebut memanggil pemuda itu dengan kasar, lalu melakukan pemeriksaan.
" Menggunakan lencana Klan Yin, itu sangat tidak mungkin. Lencana Klan Qing dan lencana klan Shenghuo apalagi. Tidak ada pilihan," batinnya, bersiap menunggu panggilan pemeriksaan.
Dengan tenang, Qing Ruo lalu menghampiri prajurit yang berjaga di gerbang kota.
" Apakah kamu ingin keluar dari kota ini?" Dengan tatapan penuh selidik.
" Benar tuan."
" Identitas," ucapnya dengan tegas.
" Baik tuan." Lalu menujukan lencana giok putih dengan lambang bambu ungu langit.
" Tu-tuan muda," ucap prajurit berlutut dengan hormat.
" Prajurit, ada apa?" tanya seorang jenderal yang berjaga, bergerak menghampiri Qing Ruo.
" Jendral, dia tuan muda dari Shen Guoshi Xiong Mao," ucap prajurit tersebut berbicara melalui telepati.
" Tu-tuan muda," ucap Jenderal tersebut sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Jenderal, aku ingin keluar kota untuk melanjutkan perjalanan," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Ba-baik tuan muda...." Dengan gugup.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu meninggalkan tempat itu dengan santai.
Jenderal tersebut hanya bisa menghela nafas panjang, berharap Qing Ruo segera meninggalkan tempat itu, sedangkan prajurit yang sebelumnya berlutut masih terdiam pada tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
" Prajurit, bangunlah. Dia sudah pergi," ucapnya, mengejutkan prajurit tersebut.
" Te-terima kasih, jenderal." Masih dengan detak jantung yang tidak beraturan. Mengingat tindakannya yang begitu kasar pada Qing Ruo sebelumnya, hampir membuat prajurit tersebut menampar wajahnya sendiri.
" Jika gerbang kota itu adalah tempat yang sepi, mungkin aku sudah melakukannya..." Membatin menyesali kebodohannya.
" Swhuss... swhus...." Lu Dan dan Xui Long yang ditugaskan melindungi Qing Ruo muncul di tempat itu.
" Saudara Xui Yen, apa yang terjadi?" tanya Xui Long.
" Suadara, pemuda sebelumnya adalah tuan muda Hutan Gelap," jawab Xui Yen dengan serius, membuat Lu Dan dan Xui Long tampak begitu terkejut.
" Apa saudara sudah memastikannya?" tanya Lu Dan.
" Sudah jendral. Aku yakin dengan apa yang aku lihat," jawabnya dengan serius.
Lu Dan dan Xui Long terdiam dan saling berpandangan.
" Ini tidak benar. Saudara, aku akan menemui putri Yuan Liu, dan kalian berdua, ikuti tuan muda itu," ucap Xui Long lalu bergegas pergi.
Setelah Xui Long pergi, Xui Yen dan Lu Dan juga langsung bergerak meninggalkan tempat itu.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo terus bergerak meninggalkan gerbang utara Kota Gu Lu, bergerak menuju kawasan barat kota, untuk menemui Mayi Xian dan Mayi Cao yang berada di tempat itu.
" Semoga lencana klan ini tidak membawa masalah," batinnya, lalu menyimpan lencana tersebut ke dalam cincin penyimpanannya.
***
Di kedai sederhana.
Yuan Liu duduk di tempatnya dengan tatapan menerawang, menikmati minuman yang diberikan oleh Qing Ruo sebelumnya dengan perasaan yang tidak menentu.
Sesekali dirinya terus menghela nafas panjang.
" Mengapa harus klan Qing...." ucapnya pelan.
" Putri, apakah Anda ada di dalam..." suara Xui Long mengejutkan lamunannya.
" Jenderal, masuklah...." sambil meneguk minuman.
" Baik putri..." Lalu memasuki kedai dengan pintu tertutup rapat itu dengan heran.
" Jenderal Xui Long, ada apa?"
" Putri, ada yang tidak benar dengan tuan muda Qing Ruo," ucap Xui Long memulai laporannya.
" Maksud jenderal?" Dengan tatapan tajam.
" Tuan putri, pada saat di gerbang kota, tuan muda Qing Ruo ternyata menggunakan indentitas Shen Guoshi Xiong Mao."
" Benarkah?"
" Benar putri, tapi ini lebih dari itu, lencana yang dia tunjukan adalah lencana giok putih dengan lambang bambu ungu langit."
" Apa! Lalu di mana dia sekarang?"
" Sudah pergi, putri. Tapi aku sudah meminta Jenderal Xui Yen dan Jenderal Lu Dan mengikutinya.
" Baik, aku juga akan ikut mencarinya."
" Tapi, putri...."
" Bergerak," ucapnya dengan tegas sambil bergegas meninggalkan tempat itu.
" Baik putri..."ucap Xui Long dengan hormat lalu bergerak mengikuti Yuan Liu.