Sang Penguasa

Sang Penguasa
160. Kekacauan di Pulau.


" Swhus ..." Sosoknya muncul di hadapan Huo Zhaodau yang sedang berjaga di dalam gua.


" Penguasa, aku merasakan penghuni  pulau ini sedang melakukan penyisiran di tempat ini," ucapnya melapor.


" Biarkan saja. Bukankah sebelumnya mereka memang sedang melakukannya," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Tapi penguasa, aku khawatir mereka telah mencurigai tempat ini. Selain itu, aku juga heran mengapa mereka seperti begitu murka."


Qing Ruo tersenyum kecil.


" Itu karena aku menangkap Ular api sisik emas, Ular Racun daun dan ular Es Hitam," jawab Qing Ruo menjelaskan, membuat Huo Zhaodau terdiam.


" Tidak heran mereka begitu murka, karena mereka sangat membutuhkan kekuatan racun ular-ular itu untuk mengamankan pulau ini."


" Benar," ucap Qing Ruo, sambil meminta Huo Zhou untuk beristirahat. " Kita akan pergi besok pagi."


" Baik penguasa."


Setelah Huo Zhaodau mengambil sikap beristirahat, Qing Ruo lalu membuka kitab teknik pengendali hewan buas dari klan Xun  yang di diberikan Long Fu sebelumnya.


****


Di luar gua.


Ratusan hewan buas tingkat semi abadi yang di pimpin gagak hitam dan elang emas, terus bergerak menyisir seluruh tempat, mencari jejak penyusup yang telah menyerang dan menculik tiga ular raksasa, yang mereka curigai masih bersembunyi di dalam pulau itu.


" Saudara, kita telah menyusuri setiap sudut pulau ini, tapi kita masih belum menemukan jejak baj***n itu." ucap gagak hitam dengan kesal.


" Terus bergerak, aku rasa sosok itu masih bersembunyi di dalam pulau ini. Tapi apakah pasukan yang lain telah memeriksa setiap gua yang ada?"


" Sudah, tapi mereka tidak menemukan apapun."


" Jika demikian, minta pasukan yang di bawah menyisir setiap gua yang ada dengan teliti."


" Baik."


****


Di dalam dunia jiwa.


Luo Jiao Lie, yang sedang menyerap kekuatan darah emas Qing Ruo akhirnya membuka matanya, menatap Qing Yong Jun yang berdiri di hadapannya tanpa berkedip.


" Tubuh Emas..." Membantin takjub.


" Bibi, aku Qing Yong Jun, putra kedua Ayah Qing Ruo dan ibu Duan Ling, cucu dari kakek Qing Peng, Duan Ren dan Luo Feng," ucapnya memperkenalkan diri dengan hormat, membuat Luo Jiao Lie hampir menjatuhkan rahangnya.


" Lu-Luo Feng....?" Dengan terbata.


" Benar," jawabnya dengan senyumnya yang hangat.


" Aakah yang Jun er maksud itu Luo Feng Penguasa Agung wilayah selatan?" dengan wajah serius.


" Bibi, setelah selesai memulihkan kekuatan sejati bibi, kita akan memiliki banyak waktu. Aku akan membawa bibi menemui kakek Feng." Sambil meraih tangan Luo Jiao Lie yang masih terdiam itu, membawanya menuju danau petir yang tampak tenang tersebut.


" Jun er, mengenai nama Kakek Luo Feng itu, kamu tidak bercanda kan?"


" Bibi, tenanglah. Setelah bibi selesai memulihkan diri, aku akan membawa bibi menemui kakek Feng di danau giok biru." ucapnya sambil memasuki danau petir hitam itu yang kini mulai bereaksi dengan tubuh mereka.


" Baik," jawab Luo Jiao Lie dengan penuh semangat, mulai membiarkan kekuatan petir hitam itu memasuki tubuhnya.


****


Di dalam gua.


Qing Ruo dengan tenang terus mempelajari teknik terlarang dari klan Xun, sedangkan  Huo Zhoudau yang sedang beristirahat, dengan tenang  menyerap kristal jiwa abadi.


Menjelang pagi, Qing Ruo akhirnya selesai mempelajari kitab terlarang tersebut.


" Penguasa, bagaimana?" tanya Huo Zhaodau.


" Itu berarti teknik tersebut tidak berguna untuk Anda," ucap Huo Zhaodau.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Zhoudau, segala sesuatu yang kita pelajari itu semuanya berguna. Tidak ada yang sia-sia. Jika kamu mempelajari teknik yang hampir sama, anggap saja kamu memiliki dua pedang yang berbeda, yang suatu saat pasti akan berguna. Lagi pula teknik ini lebih tepatnya dipelajari oleh Ling er dan yang lainnya," ucap Qing Ruo menjelaskan, sambil menyimpan gulungan kitab tersebut.


" Baik penguasa. Hamba mengerti."


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ledakan dahsyat di atas langit pulau.


" Penguasa, sepertinya terjadi pertempuran lagi..."


" Benar. Tapi siapa yang mengusik ketenangan pulau ini," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Penguasa, apa yang harus kita lakukan?"


" Kita akan bergerak setelah pertarungan itu selesai." Sambil menikmati apel emas abadi.


" Baik penguasa."


****


Di luar gua.


Di atas pulau itu.


" Benar-benar tidak tahu diri. Beraninya kalian memasuki tempat kami dan membuat masalah. Kalian semua harus mati!" teriak Gagak hitam sambil mengerahkan pasukannya.


" Yang tidak tahu diri itu kalian. Berani-beraninya membunuh saudara kami!" ucap salah satu naga dengan murka.


" Naif! memasuki tempat ini hukumnya adalah mati!" ucap Elang Emas, sambil bergerak melepaskan serangan cakar pada enam sosok naga air yang ada dihadapannya.


Pertempuran hebat itu mengguncang danau raksasa, membuat para hewan buas yang ada di dalam air juga ikut keluar, ikut membantu elang emas dan gagak hitam melawan enam naga air dan tiga naga api yang kini terkepung oleh pasukan hewan buas yang ada di dalam pulau itu.


" Swhuss... swhus...." Tiga sosok cacing raksasa muncul, melepaskan semburan cairan hitam pekat pada ke sembilan naga dengan ekstrem yang langsung disambut para naga dengan semburan air dan api.


" Roargh....." Para naga itu meraung dengan keras.


Serangan para penghuni pulau yang ditambah dengan kehadiran cacing air raksasa, membuat para naga yang berada di bawah kurungan formasi pelemah jiwa, mulai kewalahan.


" Suadara, apa yang harus kita lakukan." Sambil bergerak dan melepaskan serangan.


" Kita terlalu gegabah, karena memasuki tempat ini begitu saja. Lihat serangan formasi ini, sepertinya  sudah mereka siapkan dari awal..." 


" Baj***n! Tempat ini benar-benar harus dilenyapkan!" ucap salah satu naga dengan murka menyala, mengedarkan kekuatan puncaknya.


" Lenyapkan mereka tanpa sisa!" Ucap gagak hitam paruh emas memberi perintah pada pasukannya, membuat pasukan hewan buas itu semakin brutal.


Pertempuran hebat  yang sangat mengerikan itu mengundang perhatian berbagai jenis kekuatan lain yang berada di kawasan danau hitam raksasa itu.


" Swhuss...swhus...." Pasukan dari klan manusia dan klan dewa, bergerak mendekati kawasan itu, menunggu kesempatan untuk mengambil keuntungan dari kekacauan itu.


*****


Di dalam gua. 


Qing Ruo yang sebelumnya tidak menggubris pertempuran itu akhirnya merasa terusik, karena guncangan dan retakan yang muncul karena ledakkan pertempuran benar-benar membuat tempat itu tidak nyaman lagi.


" Ini terlalu berisiko. Zhoudau," ucap Qing Ruo meminta Qilin api ungu itu kembali ke dalam dunia jiwa.


" Tapi Penguasa...." Menatap Qing Ruo dengan ragu.


" Zhoudau, kemunculanmu di tempat ini akan menarik perhatin kekuatan utama yang ada di tempat ini. Tenanglah. Aku tahu batasanku. Dari aura dan raungan hewan buas itu, aku yakin ini  adalah hewan buas yang sudah berada di tingkat semi abadi tingkat tinggi, dan raungan naga, itu pasti kesembilan naga yang menyusul ketiga saudaranya yang terbunuh di tempat ini. Ikut campur dalam pertempuran mereka, itu sama saja dengan bunuh diri."


" Baik Penguasa," ucap Hua Zhoudau, lalu memasuki pusaran angin berwarna biru keemasan yang telah muncul di hadapannya.


Setelah Huo Zhaodau kembali ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu meninggalkan gua itu.