Sang Penguasa

Sang Penguasa
248. Menjadi Murid.


Kata-kata yang dilontarkan oleh sosok yang berada di dalam istana membuat Qing Ruo terdiam.


" Apakah mereka memiliki dendam dengan klan Qing." Membatin namun bersikap tenang.


" Swhus...." aura pembunuhan itu sekali lagi dilepaskan dari dalam istana, melempar sosok Qing Ruo hingga puluhan meter, bahkan terlempar hingga terjatuh pada tangga.


" Sangat kuat. Apakah sosok ini sudah berada di tahap Abadi...." sambil berdiri dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Dengan tenang, Qing Ruo lalu berdiri, berjalan perlahan menuju halaman istana itu kembali. Pada saat tiba di depan istana, Qing Ruo lalu berhenti di depan lima tangga kecil, lalu menunjukkan segel benua teratai biru pada keningnya, bersama  dengan kemunculan tombak emas teratai biru di belakang punggungnya.


" Tetua, aku Qing Ruo ingin menjadi murid Anda," ucapnya dengan serius sambil berlutut dengan hormat.


Cukup lama tempat itu tiba-tiba menjadi hening. Lima menit kemudian.


" Krark....." Pintu istana itu terbuka, mengejutkan Qing Ruo.


" Masuklah!" Suara dari dalam istana bergema.


Dengan tenang, Qing Ruo mulai menapaki tangga istana tersebut dengan berhati-hati.


Baru saja kaki kanannya menapaki tangga pertama, tiba-tiba lima cahaya putih terang muncul dari dalam istana.


" Swhus.... swhus...." cahaya tersebut menembus tubuhnya tanpa suara ledakan sedikitpun, namun memberikan rasa sakit yang luar biasa, membuat Qing Ruo meraung keras.


" Argh...."


Mencoba bertahan keseimbangannya yang hampir goyah.


" Benar-benar, tidak mudah." Qing Ruo membantin, sambil mengedarkan kekuatan semi abadi tingkat enam tahap menengah dari tubuhnya, menghadang serangan cahaya tersebut, sambil sambil melangkahkan kakinya menapaki tangga kedua.


" Swhus... swhus...." cahaya putih itu kembali muncul, dengan jumlah yang semakin banyak, menembus perisai pertahanan Qing Ruo.


" Akh...." Rintih Qing Ruo kesakitan, bahkan hampir tidak mampu melangkah kakinya.


" Serangan apa ini. Mengapa bisa menembus pertahanan dan begitu menyakitkan..." Membatin, sambil mengedarkan kekuatannya melawan kekuatan tersebut, lalu menapaki tangga ketiga.


" Swhus....." cahaya putih terang itu muncul menjadi ratusan, membuat Qing Ruo hanya bisa mengeraskan rahangnya, bersiap menahan rasa sakit yang mengiris dan memotong tubuhnya.


" Swhus... swhus....." cahaya putih itu menembus tubuhnya, bahkan membuat Qing Ruo hampir terjatuh.


" Argh...." Teriaknya sekali lagi, sambil mengedarkan kekuatan petir dari tubuhnya, bergerak dengan perlahan lalu menapaki tangga ke empat, bersiap dengan serangan cahaya putih yang kin menjadi ribuan.


" Satu tangga lagi..."  batinnya, sambil mengeraskan rahangnya.


****


Di dalam aula istana.


" Benar-benar gigih...." ucap sosok muda namun dengan rambut dan alis yang telah memutih.


" Benar, tidak heran dia dapat menjadi penguasa agung dunia kecil terlarang itu."


" Saudara, ini benar-benar di luar dugaan...." Sambil menatap Qing Ruo yang sedang melawan kekuatan serangan cahaya pada tanga emas istana tersebut.


" Benar-benar luar biasa...." ucapnya, saat melihat Qing Ruo yang tidak gentar sedikitpun, saat menapaki tangga kelima.


" Aura pembunuhan dan serangan jutaan jarum cahaya pada tangga terakhir akan benar-benar menguji tekatnya," ucap salah satu sosok, menatap Qing Ruo yang kini telah berlumuran darah, berusaha melewati tangga tersebut.


" Rasa sakit, ketakutan dan penderitaan, semuanya  hanyalah ilusi dari pikiran." sambil melangkahkan kakinya, hingga melewati tangga tersebut.


" Swhus....." Aura emas yang menenangkan dan kekuatan penyembuhan menyelimuti tubuhnya.


Qing Ruo tediam sesaat, membiarkan kekuatan tersebut memulihkan dirinya dengan tenang.


Satu menit kemudian, Qing Ruo lalu melangkahkan kakinya, memasuki istana kecil itu.


Di dalam ruangan, duduk dua sosok pria berwajah muda namun dengan rambut yang telah memutih, menatap kedatangan Qing Ruo dengan tajam.


" Hormat pada guru," ucap Qing Ruo sambil berlutut dengan hormat, terdiam di tempatnya menunggu tanggapan kedua sosok tersebut.


" Bangunlah, aku Shenghuo Zhuanjia, dan saudara kembarku Shenghuo Congming," ucap sosok muda berambut putih v itu memperkenalkan diri dengan tatapan tajam.


" Terima kasih guru..." ucap Qing Ruo dengan hormat, lalu duduk pada lantai istana dengan hormat.


" Terima kasih, guru. Murid di lantai saja," ucap Qing Ruo menolak dengan halus dan hormat, membuat kedua sosok itu menggelengkan kepalanya.


" Baiklah. Qing Ruo, apakah benar itu namamu?" tanya Shenghuo Zhuanjia.


" Benar guru...."


" Lalu segel suci Teratai Biru, bagaimana kamu bisa memilikinya? Apakah kamu penguasa agung Benua teratai biru?"


" Guru, murid lahir dan besar di dunia kerja itu," jawab Qing Ruo dengan hormat, membuat Shenghuo Zhuanjia menganggukkan kepalanya.


" Ini sangat aneh, bagaimana bisa seorang dari klan Qing bisa ada di dunia kecil itu. Qing Ruo, bagaimana dengan leluhurmu?"  tanya Shenghuo Congming, menatap Qing Ruo dengan penasaran.


" Guru, leluhurku Qing Fengbao adalah putra pertama leluhur agung Shen Guoshi Qing Kongque," jawab Qing Ruo dengan hormat.


" Ternyata sang petir angin itu ada di dunia kecil terlarang, tidak heran selama ribuan tahun ini sosoknya tidak pernah muncul," ucap Shenghuo Zhuanjia.


" Apakah guru mengenal leluhurku?" tanya Qing Ruo dengan penasaran.


" Kami pernah bertemu, tapi dengan situasi yang kurang baik...." ucap Shenghuo Congming, membuat Qing Ruo menyadari kemunculan aura pembunuhan yang  melukainya sebelumnya.  


" Itu artinya hubungan guru dengan leluhurku....." ucap Qing Ruo menjeda kata-katanya pelan.


" Qing Ruo, masa muda adalah masa yang berapi-api dan penuh dengan kesombongan, termasuk kami saat itu, sehingga terjadi sedikit kesalahan pahaman" ucap Shenhuo Congming, dengan santai.


" Terima kasih, guru. Atas nama leluhur Qing Fengbao dan secara pribadi aku memohon pengampunan guru berdua," ucap Qing Ruo berlutut di hadapan kedua sosok tersebut dengan hormat.


" Qing Ruo, duduklah," ucap Shenghuo Zhuanjia yang terlihat ramah namun masih menujukan dominasinya


" Terima kasih, guru."


" Ruo Ruo, lalu bagaimana kabar leluhur Qing Fengbao saat ini?" tanya Shenghuo Congming.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Guru, aku bahkan  tidak pernah bertemu dengannya." Membuat kedua sosok itu terdiam, memahami reaksi Qing Ruo sebagai kesedihan.


" Ruo Rio, aku dan leluhurmu hidup di jaman yang sama. Dan aku yakin dia masih hidup," ucap Shenghuo Zhuanjia


" Semoga demikian," ucap Qing Ruo dengan pelan.


" Ruo Ruo, sebelumnya kami merasakan  dua darah dewa yang berbeda dari tubuhmu," ucap Shenhuo Congming, mengalihkan pembicaraan. 


" Benar guru...."


" Swhuss...." Cakram emas Langit Ling muncul  di hadapan mereka, membuat kedua sosok itu saling berpandangan.


" Ini adalah darah murni suci, Shen Guoshi Ling," ucap Shenghuo Zhuanjia, berbicara pada  Shenghuo Congming dengan serius. 


" Guru, ibuku adalah putri tunggal patriark Shen Guoshi Ling Zhong," ucap Qing Ruo menjelaskan, membuat kedua sosok itu  menganggukan kepalanya.


" Ruo er, kakekmu dulu pernah datang di tempat ini, belajar sebagai murid luar bersama tetua Shenghuo Bai," ucap Shenghuo Congming sambil mengubah panggilannya yang kini semakin terbuka dan ramah.


" Guru, apakah aku dapat bertemu kakek guru Shenghuo Bai?"


Ke dua sosok  itu menggelengkan kepala.


" Ruo er, Shenghuo Bai telah tiada," ucap Shenghuo Zhuanjia dengan tatapan menerawang, membuat Qing Ruo terdiam.


" Guru, jika aku boleh tahu, siapa yang telah melakukannya? Biar aku yang mencari sosok itu," ucap Qing Ruo dengan kemarahan menyala.


" Ruo er, tenanglah. Semuanya telah kami selesaikan," ucap Shenghuo Congming dengan tenang.


Walaupun begitu penasaran, Qing Ruo hanya bisa menganggukan kepalanya.


" Baik guru," ucapnya pelan.


" Ruo er, ini adalah murni masalah internal klan.  Saudara kami sendiri, Shenghuo Dugong melakukan pengorbanan darah emas dengan membunuh semua anggota klan agar menjadi yang abadi. Kami berhasil membunuhnya, tetapi gagal menyelamatkan anggota klan yang lainnya," ucap Shenghuo Zhuanjia menjelaskan, agar Qing Ruo tidak berusaha mencari informasi tersebut lalu menyimpan dendam dalam hatinya.


Qing Ruo menganggukkan kepala. Dari sorot matanya terpancar kesedihan dan kemarahan yang membara, membuat Shenghuo Congming dengan Shenghuo Zhuanjia terdiam.


🙏🙏 1 bab 🙏🙏