Sang Penguasa

Sang Penguasa
287. Perbincangan Bersama Yin Rongyou 2.


Penjelasan Yin Rongyou membuat Qing Ruo terdiam, sehingga membuat tempat itu menjadi hening.


" Tidak heran kawasan ini menjadi aman, itu karena ada dua sosok abadi yang berkuasa. Klan Yin benar-benar kuat." Batinnya sambil berpikir keras  menyusun ulang rencananya.


" Saudara, pilihan hanya dua, mengaku setia atau di penjara," ucap Yin Rongyou pelan, memecah keheningan itu.


Qing Ruo menanggukkan kepalanya.


"  Pada saat yang kuat  berkuasa, semua aturan adalah miliknya."


" Lalu bagaimana dengan saudara?" tanya Yin Rongyou dengan serius.


" Aku hanya memberikan diri pada memimpin yang baik," ucap Qing Ruo pelan.


Yin Rongyou menanggukkan kepalanya.


" Semua keputusannya aku serahkan pada saudara," ucapnya lirih.


" Saudari, apakah selama ini ada  konflik yang berujung pada pertempuran?"


Yin Rongyou menganggukkan kepalanya, lalu menceritakan ketegangan yang pernah terjadi, hingga berujung pada pertempuran hebat.


" Dari konflik itulah kami tahu bahwa pangeran Zuo dan Pangeran Bei ternyata sudah berada di tingkat abadi. Dalam pertempuran itu tidak ada yang menang, namun mereka berdua masing-masing terluka dengan parah. Setelah pertempuran hebat itu, tetua Jue dan pangeran Gang, melakukan gencatan senjata hingga memperluas wilayah penjagaan di  luar gunung dengan tujuan menjaga rahasia itu agar tidak keluar dari klan." 


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Saudari, mengenai aturan di puncak Dong Yin apakah sama dengan puncak lainnya?"


Yin Rongyou menggelengkan kepalanya.


" Aturan di setiap puncak berbeda. Kubu timur membuat aturan seperti sekte dengan alasan agar bisa membentuk kuatan serta membawa orang lain memasuki tempat ini."


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Ternyata klan ini benar-benar menuju kehancuran," ucapnya pelan.


" Benar, sebenarnya tetua Xie sangat berharap dengan misi yang saudara lakukan. Satu-satunya alasan kedua belah pihak  masih menahan diri, karena aturan kuno mengenai Trisula  Kegelapan serta ketujuh kitab kuno itu, tapi...." ucapnya lirih menatap Qing Ruo dengan sedih.


Qing Ruo tersenyum kecut.


" Saudari, kami benar-benar gagal. Pasukan jubah emas benar-benar tidak memberi kami ruang. Kekuatan yang telah  kami bangun di kawasan perbatasan juga mereka hancurkan, namun aku sedikit kecewa, karena satupun tidak ada yang mengabari kami masalah ini," ucap Qing Ruo lirih dengan tatapan menerawang.


Yin Rongyou menganggukan kepalanya dan  mencoba tersenyum.


" Sebenarnya aku sangat ingin mengabari suadara mengenai hal ini, tetapi tetua Jue melarang kami melakukannya, bahkan hingga saat ini aula terlarang yang menyimpan lencana giok jiwa pasukan tombak hitam yang menjalani misi masih tersegel," ucapnya dengan perasaan bersalah. 


Qing Ruo menganggukkan kepalanya dan memahami alasan itu.


" Saudari, aku mengerti. Mengenai situasi ini mengapa saudari tidak pergi saja."


Yin Rongyou terseyum kecut, lalu menggelengkan kepalanya.


" Saudara, Tetua Jue dan Pangeran Zuo adalah orang yang cerdas, mereka dari awal sudah mengantisipasi masalah itu," ucapnya lalu menujukan segel hitam terlarang yang terpasang pada lehernya.


" Apa! Segel hitam penghancur jiwa!"  ucap Qing Ruo terkejut.


" Inilah alasan kami yang mengaku setia tidak bisa pergi dari kawasan ini." Dengan wajah sedih.


" Ini benar-benar mengerikan.  Apakah ini juga berlaku pada murid sekte yang mereka rekrut?"


Yin Rongyou menganggukkan kepalanya.


" Semua orang tanpa terkecuali," ucapnya pelan, membuat Qing Ruo tiba-tiba terdiam.


" Itu artinya semua orang yang  berada di Puncak Dong Yin adalah pasukan berani mati," batinnya.


" Hais, mengapa harus seperti ini," ucap Qing Ruo dengan wajah kesal dan kecewa.


" Saudara, aku tidak memiliki pilihan," ucap Yin Rongyou pelan.


" Saudari, bukan itu yang aku maksud, tetapi segel hitam penghancur jiwa, ini adalah segel pengorbanan darah..." ucap Qing Ruo dengan serius, membuat Yin Rongyou yang tampak  tidak berdaya itu hanya menganggukkan kepala.


" Saudara, aku juga baru tahu setelah aku mempelajarinya," ucapnya lirih.


" Apakah sebelumnya mereka menipu kalian?"


Tiba-tiba tempat itu menjadi hening. Qing Ruo yang tidak menyangka langkah yang telah disiapkan oleh Yin Zou untuk berkuasa di Gunung langit Yin benar-benar membuatnya menggelengkan kepala.


" Mengenai masalah ini, apakah saudari punya rencana ?"


" Saudara, apalagi yang bisa kami lakukan selain mengikuti perintah yang diberikan," jawabnya pelan.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Ini benar-benar mengerikan. Saudari, lalu bagaimana dengan kekuatan pasukan yang dimiliki puncak Dong Yin?"


" Total kekuataan pasukan ada dua ratus ribu prajurit,  tetapi yang dapat berperang setengah dari kekuatan itu. Mulai dari semi abadi tingkat dasar hingga tingkat tiga ada enam puluh ribu prajurit, semi abadi tingkat empat hingga tingkat lima ada dua puluh ribu prajurit, tingkat lima hingga tingkat tujuh ada dua belas ribu, di tingkat tujuh sampai delapan ada tujuh ribu  dan tingkat sembilan ada seribu prajurit," ucap Yin Rongyou menjelaskan kekuataan pasukan dari gabungan dua gunung tersebut dengan rinci, membuat Qing Ruo mematung. 


" Ini sangat mengerikan, lalu bagaimana dengan pasukan kubu selatan?" tanya  Qing Ruo dengan serius.


Yin Rongyou menggelengkan kepalanya.


" Saudara, aku tidak memiliki akses untuk mengetahui kekuatan pasukan mereka."


Qing Ruo mengganggukan kepalanya.


" Saudari, mengenai hal ini aku punya rencana," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Rencana?"


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Jika saudari punya kesempatan untuk pergi, apa yang akan saudari lakukan?"


Yin Rongyou terseyum tipis.


" Aku akan pergi ke kubu selatan," ucapnya pelan.


" Itu terlalu berisiko, karena kubu selatan juga tidak akan percaya pada saudari lagi," ucap Qing Ruo.


Yin Rongyou menganggukkan kepalanya.


" Saudara benar, lalu bagaimana dengan saudara?"


" Aku akan pergi dari tempat ini sejauh mungkin," ucap Qing Ruo.


Yin Rongyou terseyum tipis,


" Tapi itu hanya angan-angan,' ucapnya pelan.


Setelah berbincang-bincang cukup lama di tempat itu, Yin Rongyou minta Qing Ruo untuk beristirahat sejenak sebelum menghadap Tetua Yin Jue yang kini menjadi wakil pemimpin puncak Dong Yin.


" Saudara,  silahkan beristirahat, satu jam lagi kita akan pergi ke aula istana  puncak," ucapnya dengan ramah.


" Baik saudari," ucap Qing Ruo, lalu beranjak dari ruangan itu menuju kamarnya.


Setelah Qing Ruo pergi, Yin Rongyou masih terdiam di tempatnya. Matanya yang lentik menatap langit-langit ruangan itu, lalu mendesah panjang.


" Semoga tetua Jue memberi  sedikit keringanan," batinnya lalu beranjak dari ruangan itu.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo akhirnya tiba di dalam ruangannya. Di dalam kamarnya Qing Ruo tidak langsung beristirahat, tetapi membuka panduan informasi dasar yang telah diberikan oleh Yin Rongyou sebelumnya.


Dengan tenang, Qing Ruo lalu mempelajari gulungan  informasi tersebut.


Lima belas menit kemudian, Qing Ruo akhirnya selesai mempelajari gulungan informasi tersebut.


" Yin Zuo ini selain sangat kaya karena dukungan puncak utara, ternyata lebih cerdas, caranya mengatur dan mengawasi semua anggota klan begitu efektif, hukuman yang diberikan kepada mereka yang melanggar aturan begitu keras dan tegas, namun  imbalan bagi mereka yang patuh dengan aturan tersebut sangat tinggi, terlebih lagi dengan hak-hak istimewa yang dijanjikan. Masih ada waktu," batinnya.


" Swhus... swhus...." sosok Long Chen, Hu Yan Lan, Mayi Gui,  Mao Bing, Yuan Bai, Yuan Hei, Huo Zhaodau, Huo Mingzhi dan Yin Gan muncul di dalam ruangan itu.


" Penguasa," ucap mereka dengan hormat.


" Duduklah, ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Qing Ruo dengan serius.