
" Swhus.... swhus...." sosok Qing Ruo terus begerak dengan bebas, mengawasi setiap kediaman elit di puncak Zhu Yin. Setelah selesai mengawasi instana-istana megah itu, Qing Ruo lalu bergerak menuju istana puncak utama.
Dengan menggunakan pengetahuan Yin Lao Weida yang diperoleh melalui teknik perubahan bintang, Qing Ruo terus bergerak, melewati setiap segel mantra formasi yang terpasang di kawasan itu dengan santai, serta meletakan segel mantra formasi lainnya sebagai persiapan untuk menyelamatkan diri.
Tidak lama kemudian, Qing Ruo akhirnya tiba di halaman istana Gerbang Es Hitam.
" Swhus ...." rasa dingin yang sangat ekstrem menyapu kawasan itu, membuat Qing Ruo begitu terkejut, karena rasa dingin itu langsung menusuk tulangnya.
" Istana Gerbang es hitam ini, benar-benar mengerikan," batinnya sambil mengeluarkan lencana giok es yang dia peroleh dari Yin Hen Fen sebelumnya.
Setelah tubuhnya terlindungi oleh kekuatan dari lencana Giok es tersebut, Qing Ruo lalu mendekati pintu gerbang istana yang tampak lengang tanpa penjagaan tersebut.
Istana gerbang Es Hitam mengingatkan Qing Ruo pada klan Bing yang berada di pulau es biru dengan istana es nya yang juga sangat dingin tetapi dengan aura yang menenangkan.
" Tempat ini juga istana es, tetapi tekanan dan kekuatan esnya begitu kacau, bahkan dapat membunuh Semi abadi tingkat dasar," batinnya saat merasakan penindasan yang begitu luar biasa terus menyapu kawasan itu.
Pada saat dirinya terus bergerak mendekati pintu gerbang istana tersebut, tiba-tiba udara di tempat itu bergetar bersamaan dengan munculnya tujuh sosok semi abadi tingkat sembilan tahap dasar.
" Tetua agung," ucap ketujuh sosok itu menyambut kedatangannya dengan hormat.
" Tetua pelindung, aku ingin menemui patriark," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Maaf tetua agung, patriark sedang tidak ingin diganggu, jadi silakan kembali besok pagi," ucap sosok itu berbicara dengan hormat.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Baik, tapi karena aku terlanjur datang, aku juga tidak ingin kembali, mohon tetua pelindung mengizinkan aku beristirahat dan berkultivasi di dalam istana." Dengan wajah serius.
" Baik," ucapnya dengan hormat, sambil meminta dua sosok lainnya membuka pintu gerbang itu.
Dengan perlahan pintu gerbang dari es hitam itu terbuka, melepaskan aura kekacauan dan niat membunuh yang ekstrem.
" Silakan tetua agung," ucap kedua sosok itu mempersilakan Qing Ruo dengan hormat.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo lalu memasuki aula istana. Dengan perasaan berdebar-debar, Qing Ruo mencoba untuk tetap bersikap tenang sambil menatap Trisula berwarna gelap dari campuran besi hitam dan kristal biru yang terus berdengung.
" Ternyata hawa dingin dan niat membunuh yang sangat kuat itu berasal dari trisula ini," batinnya sambil terus bergerak memasuki ruangan itu.
" Swhuss...." Trisula tersebut melepaskan kekuataan gelap yang sangat kuat, seperti menolak kehadiran Qing Ruo, membuat para tetua pelindung klan yang berada di luar istana begitu terkejut.
" Swhus.... swhus...." Ketujuh sosok paruh baya yang merupakan para pelindung klan itu memasuki ruangan.
" Tetua agung..." ucap pemimpin kelompok tersebut menatap Qing Ruo dengan tajam.
Qing Ruo yang juga tidak kalah terkejutnya, menatap para tetua tersebut dengan tajam.
" Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Qing Ruo dengan wajah heran, untuk mencari alasan.
" Justru kami yang ingin bertanya, mengapa Trisula kegelapan menolak kehadiran Anda," ucap pemimpin kelompok dengan suara meninggi, menatap Qing Ruo dengan penuh selidik.
" Yin Baohu! Apa maksudmu!" ucap Qing Ruo dengan kemarahan menyala, membuat tempat yang sangat dingin dengan aura gelap yang sang kentara itu menjadi tegang.
" Apakah seperti ini cara kalian memperlakukanku!" ucap Qing Ruo dengan suara meninggi dan terus mengoceh, memarahi Yin Baohu yang tampak sedang menahan diri.
" Apakah kalian telah menyembunyikan sesuatu dariku? Atau kalian telah melakukan sesuatu pada Trisula Kegelapan agar bisa menghinaku seperti ini? Keterlaluan!" ucap Qing Ruo dengan murka menyala.
" Tetua agung, kami-"
" Zhanshi Zhe, tutup mulutmu! Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari mulut Baohu yang terhormat ini!" ucap Qing Ruo dengan tatap tajam yang kini sudah siap menyerang.
Keributan yang terjadi di tempat itu menarik perhatian beberapa tetua tingkat tinggi yang kebetulan sedang berjaga di kawasan tersebut.
" Swhus... swhus..." satu persatu mereka datang di tempat itu, bahkan sosok Yin Jue juga datang namun hanya terdiam.
" Lao Weida ini, sebelumnya menolak kedatanganku, tapi ternyata..." Membatin, menatap Qing Ruo dengan kesal.
" Tetua agung, tetua pelindung, serta para tetua lainnya, mohon untuk tidak membuat keributan. Jika ada urusan, silakan kembali besok pagi," ucap prajurit itu dengan hormat.
" Para tetua, mohon untuk kembali," ucap prajurit lainnya, saat melihat Qing Ruo dan semua orang yang terdiam ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
" Panggil patriark, aku ingin dia menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, maka satu-satunya cara menyelesaikan masalah ini adalah dengan pertarungan hidup dan mati!" ucap Qing Ruo bersikeras, menatap Yin Baohu yang terlihat salah tingkah.
" Tetua agung, serta para tetua lainnya. Saat ini patriark benar-benar tidak ingin di ganggu, mohon pengertiannya," ucap prajurit jubah emas itu menanggapi dengan serius, membuat Qing Ruo dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam.
" Yin Baohu, mari kita lakukan pertarungan hidup dan mati!" ucap Qing Ruo sambil bergerak menuju halaman istana, membuat kedua prajurit jubah emas itu begitu kebingungan.
" Swhus...." sosok Qing Ruo berdiri di halaman istana, menunggu Yin Baohu yang terdiam dan tampak ragu.
" Tetua agung, serta para tetua lainnya, mohon n untuk tidak membuat keributan, supaya tidak menggangu patriark yang saat ini sedang berusaha naik tingkat, jadi mohon untuk menjaga ketenangan," ucap prajurit itu dengan serius.
" Apa!" ucap Qing Ruo dan semua orang yang ada di tempat itu terkejut.
" Jika Yin Quan naik tingkat, maka akan ada tiga kubu." Qing Ruo membatin sambil menatap para tetua yang terdiri dari tiga kubu yang berbeda di tempat itu, yang kini saling berpandangan.
Tanpa berkata-kata, Yin Jue yang tampak begitu kesal pada Qing Ruo sebelumnya, lalu meninggalkan tempat itu, termasuk dari kubu selatan yang juga hadir di tempat itu.
" Swhus... swhus...." Satu persatu mereka pergi, hingga menyisakan Qing Ruo, Yin Baohu dan para tetua pelindung klan lainnya.
" Ini adalah kabar baik," ucap Qing Ruo yang tiba-tiba menjadi ramah, menatap Yin Baohu yang tampak salah tingkah.
" Tetua agung, maaf sebelumnya karena aku merahasiakan hal ini," ucap Yin Baohu yang juga melunak.
Qing Ruo mengganggukan kepalanya.
" Namun memang tidak sewajarnya kalian merahasiakan hal ini, coba dari awal kalian berbicara, maka hal penting ini tidak akan di ketahui oleh kubu timur dan kubu selatan," ucapnya pelan.
" Tapi tetua agung, ini adalah rencana kami untuk melihat reaksi mereka, dan terbukti mereka tampak khawatir dan tidak menyukainya," ucap Yin Baohu menjelaskan.
" Apakah patriark tahu rencana ini?" tanya Qing Ruo dengan penasaran.
" Benar tetua agung, kami tidak akan berani bertindak tanpa perintahnya," jawab Yin Zhanshi Zhe menanggapi.
" Tapi bagaimana jika mereka membuat masalah?"
" Bukankah dari awal mereka memang seperti itu..." Ucap Yin Zhanshi Zhe menanggapi.
" Benar, tetapi kita juga tidak ingin membuat kegaduhan yang tidak berarti," ucap Qing Ruo dengan serius
Yin Baohu menganggukkan kepalanya.
" Saudara Lao Weida benar, namun ini adalah perintah patriark, dan kami yakin patriark juga sudah memiliki rencana mengenai hal ini," ucapnya dengan serius.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Sebelumnya kalian telah merahasiakan hal penting itu, lalu apakah reaksi Trisula sebelumnya juga rencana kalian?"
Yin Baohu dan rombongannya menggelengkan kepalanya.
" Saudara, mengenai hal itu, kami juga tidak tahu," Jawabnya dengan serius.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Sepertinya kita harus memeriksa hal itu secara bersama-sama, agar tidak ada kecurigaan di antara kita. Selain itu, aku juga ingin berjaga di tempat ini, untuk memastikan keamanan tempat ini supaya patriark dapat melewati proses ini dengan baik," ucap Qing Ruo.
" Baik, suadara..." ucap Yin Baohu menanggapi, lalu membawa Qing Ruo dan rombongannya memasuki aula istana Gerbang Es Hitam,
🙏🙏maaf 1 bab 🙏