Sang Penguasa

Sang Penguasa
127. Melawan Hewan Penjaga.


Tempat yang begitu ramai tersebut begitu hening.  Sembilan sosok hewan buas semi abadi tingkat tiga hingga tingkat lima yang ada di depan mulut Gua, mematung menatap sosok Qing Ruo yang  terbebas dari aturan ruang dan waktu gunung Bei Tian.


Dengan perlahan Qing Ruo menarik aura penindasan dari tubuhnya, bergerak mendekati sosok hewan penjaga tersebut dengan perlahan.


" Tenanglah, aku tidak ingin membuat masalah, apalagi ingin membunuh kalian..." berbicara dengan ramah dan hormat.


Walaupun Qing Ruo menunjukkan keramahannya, tetapi para hewan penjaga itu tidak percaya begitu saja.


" Anak muda, jangan mendekat..." Harimau putih cakar emas yang merupakan hewan buas semi abadi tingkat lima  berbicara.


" Dalam pertempuran sebelumnya, aku yakin kalian juga  mengawasiku. Selama pertempuran tersebut, apakah aku ada membunuh salah satu dari kalian?"


Kata-kata Qing Ruo membuat hewan buas itu terdiam.


" Jika demikian, lalu mengapa kamu tidak pergi dari tempat ini...." Kucing dahan, hewan buas semi abadi tingkat empat berbicara.


" Aku memerlukan rumput emas penguat jiwa, namun aku tidak akan mengambil dengan cuma-cuma," ucap Qing Ruo dengan jujur.


" Maaf kami tidak mengizinkan," ucap harimau putih cakar emas dengan tegas, membuat Qing Ruo terdiam.


" Apakah mereka telah mengetahui   aura kultivasi yang aku lepaskan sebelumnya adalah aura palsu. Dengan kekuatan mereka saat ini, aku yakin mereka tidak akan berani melakukan perlawanan seperti ini." Qing Ruo membatin.


Qing Ruo mendesah panjang.


" Bagaimana jika aku mengambilnya dengan paksa..."


" Justru kami ingin melihat, bagaimana kamu melakukannya." Serigala taring emas, hewan buas Semi abadi tingkat lima berbicara, membuat Qing Ruo kembali terdiam.


" Apakah kalian yakin ingin aku melakukannya?"


" Tentu saja," ucap harimau putih cakar emas dengan santai.


" Jujur saja, aku sangat malas membuat musuh. Tapi kalian memaksa, maka baiklah," ucap Qing Ruo dengan perasaan berdebar-debar. Seorang diri di hadapan sembilan hewan buas tingkat semi abadi, membuatnya sedikit ketar ketir. Dia bisa saja meminta bantuan pada Long Chen dan rombongannya yang berada di dalam dunia jiwa, tetapi dia tidak yakin, apakah mereka juga bisa terbebas dari aturan ruang dan waktu gunung Bei Tian yang justru akan membuat mereka dalam bahaya.


" Swhus...." Ledakan aura semi abadi tingkat tiga keluar dari tubuh Qing Ruo.


" Sebenarnya, aku ingin membantu kalian mempertahankan tempat ini, tapi kalian tidak ingin bekerjasama, maka baiklah," ucap Qing Ruo dengan tenang.


Tindakan Qing Ruo yang kini tidak menggunakan aura semi abadi tingkat delapan milik Yin Gan, membuat hewan buas penjaga tersebut tertawa.


" Benar dugaanku. Ternyata dia hanya menggertak saja," ucap Kucing Dahan dengan bangga, membuat Qing Ruo tersenyum kecut.


" Apakah kalian yakin?"


" Nak, siapa lagi yang ingin kamu kelabui? Jika memang tidak yakin, maka silakan tinggalkan tempat ini. Kami menghargai kebaikan mu sebelumnya..." Harimau putih cakar emas berbicara.


" Baik," ucap Qing Ruo.


" Swhuss...." Tombak emas teratai biru muncul dari punggungnya, berdengung dengan lembut. Tidak hanya itu, tujuh bilah pedang Xue Luo juga ikut muncul, mengitari tubuh Qing Ruo.


" Trark...." Ledakan petir hitam keemasan muncul menyelimuti pedang tersebut.


" Swhus.. swhus...." Delapan sosok hewan buas yang ada di hadapan Qing Ruo melepaskan kekuatan mereka, bersiap untuk bertempur.


" Trark..." Ledak petir yang menyelimuti bilah pedang itu semakin lama semakin  kuat, melepaskan ledakan yang menggelegar. Sedangkan tombak emas teratai biru melepaskan api biru dan api   putih dari matanya yang semakin lama juga semakin membesar. 


" Swhus... Swhus...." Pedang Xue Luo  melesat seperti kilatan cahaya, melepaskan ledakan petir menyerang mulut gua.


" Dhuar... dhuar...." Ledakan dahysat bergema, menghantam mulut gua dan menghancurkannya. Membuat Harimau Putih Cakar Emas dan Hewan buas lainnya bergitu terkejut panik.


" Oh tidak dia ingin memasuki gua..." ucap Harimau Putih Cakar Emas, sambil mengarahkan rombongannya menghadang serangan Qing Ruo.


" Dhuar...dhuar ..." suara ledakan susulan, menghantam mulut gua tersebut dengan keras, hingga gelombang ledakan itu mendorong Kucing Dahan dan serigala gigi emas terlempar hingga belasan meter.


" Swhus ...." Tombak emas teratai biru, melesat, menghantam mulut gua. Menghancurkan bagian luar mulut gua tersebut, dan  menggetarkan seluruh kawasan gunung itu.


Polan serangan cepat yang dilancarkan oleh Qing Ruo membuat hewan penjaga tersebut begitu kelabakan. Terlebih lagi hewan buas Semi abadi tingkat tiga dan tingkat empat yang langsung terlempar keluar dari wilayah tersebut.


Di hadapan Qing Ruo.


Hewan buas tingkat tinggi seperti harimau putih cakar emas yang merupakan hewan buas semi abadi tingkat  lima, tidak kalah terkejutnya saat merasakan kekuatan serangan Qing Ruo yang sebanding dengan serangan Semi abadi tingkat empat.


" Dengan serangan ini, dia dapat membunuh semi abadi   tingkat tiga  dan tingkat empat secara langsung, namun dia masih tidak ingin melakukannya..." Berbicara pada Serigala taring emas, sambil menghadang serangan pedang Xue Luo yang melesat kearahnya yang terus melepaskan sambaran petir yang menggelegar.


" Saudara benar, ini adalah serangan dari klan kuno yang melegenda itu. Tapi sebelumnya aku bahkan tidak merasakan kekuatan petir abadi dari tubuhnya...." ucap Serigala taring emas, yang juga menghadang serangan pedang Xue Luo yang melesat menyerangnya.


" Apakah itu berarti ledakan aura semi abadi tingkat delapan yang kita rasakan sebelumnya adalah kekuatan sejatinya?" tanya Harimau putih cakar emas.


" Saudara, aku juga tidak tahu, karena aturan ruang dan waktu gunung Bei Tian memang membatasi kekuatan seseorang. Tetapi jika dia bisa melakukan, sangat aneh jika dia menahannya."


Di hadapan hewan buas tersebut, Qing Ruo yang terus bergerak sambil mengendalikan serangan pedang Xue Luo dan tombak emas teratai biru, terus bergerak Zig-zag seperti kilatan cahaya mengacau serangan hewan penjaga tersebut.


Dalam waktu singkat, dari sembilan hewan buas tersebut,  lima hewan buas semi abadi  tingkat Tiga dan tingkat empat  keluar dari wilayah yang terbebas dari aturan ruang dan waktu tersebut, menyisakan lima hewan buas lainnya yang hanya bisa bertahan di dalam wilayah tersebut.


" Dhuar.... dhuar...." ledakan dahsyat  pertempuran terus menggetarkan tempat itu.


****


Dari jauh.


Lima kilometer dari pusat pertempuran.


Suara ledakan serangan dan kemunculan kilatan petir yang membaha, mengejutkan semua orang yang menjaga jarak dari tempat tersebut. Bahkan dari jauh mereka dapat melihat kilatan cahaya dengan gelombang petir yang sangat kuat, terus menerus muncul menyelimuti kawasan sekitar mulut gua.


Adapun hewan buas tingkat rendah yang berada di wilayah tersebut, bergerak menjauh dan menjaga jarak.


Di tempat perlindungan.


Dugu Leng dan Dugu Cai yang sedang memulihkan dirinya bersama para pendekar lainnya begitu terkejut,  saat melihat ledakan petir yang begitu dahsyat menggetarkan tempat itu.


" Saudara, itu..." Ucap Dugu Leng dengan rahang membeku, mengenali aura serangan petir tersebut.


" Oh tidak, apakah  dia masih hidup..." ucap Dugu Cai keceplosan, membuat Dugu Leng kini benar-benar mematung.


Tindakan Dugu Leng dan Dugu Cai membuat para tetua tersebut saling berpandangan.


" Anak muda, apa maksud kalian?" tanya salah satu tetua menatap Dugu Leng dan Dugu Cai dengan lekat.


" Di-dia masih hidup...' ucap Dugu Leng terbata-bata.


" Anak muda, apakah maksudmu pemuda yang kami temui sebelumnya?"


" Be-benar tetua. Aku mengenali kekuatan petir itu," ucap Dugu Chen menunjuk  ke arah pusat pertempuran yang sangat mematikan tersebut.


" Apakah kalian yakin?"


" Sangat yakin, tetua..."


" Itu adalah serangan petir abadi. Aku tidak tahu apakah dia dari klan kuno atau dari klan penguasa selatan," ucap tetua dengan tubuh bergidik.


" Saudara, apakah kita akan memeriksanya?"


" Jangan gegabah. Dengan aturan ruang dan waktu tempat ini, serangan petir itu dapat mengubah kita menjadi kabut darah, bahkan menewaskan kita semua dengan sekejap..." dengan tubuh bergidik.


" Nak, penderitaan kalian belum berakhir. Jika pemuda itu dari kaln dewa kuno itu, jangan harap klan Dugu akan menjadi aman..." Salah satu tetua meledek Dugu Leng dan Dugu Cai membuat kedua pemuda itu mematung.