Sang Penguasa

Sang Penguasa
Beradu


“Hmh hmh~” Sementara itu rekannya, sang gadis kecil masih diam dan terlihat santai.


“….” Yah itu sikap yang bagus juga sih.


Daripada tegang, mendingan dibawa rileks saja.


“Oh ya, kenapa Tuan tak mencari kami?” Tak lama sang gadis cilik itu pun membuka obrolan.


Para makhluk penjaga dunia ini sudah tahu identitas sang tuan penguasa yang sedang tertidur.


Yang ternyata sudah terbangun.


“Sudah.” Langsung to-the-point saja lah ya.


“Eh?” Gadis kecil ini tak menyadarinya.


“Hm kok kita tak bertemu?” Ia menempelkan jari telunjuknya pada dagunya, pose mikir.


“….” Pertanyaan bagus, yah Max juga penasaran juga soal itu.


Kebetulan para makhluk pelindung dunia sibuk dengan agenda-nya masing-masing dan malah tak sadar sang tuan penguasa sudah bangun.


Bahkan pertarungan awal Max dengan perempuan gelap masih belum cukup untuk membuat para makhluk pelindung dunia ini sadar dengan keberadaannya.


Namun yah, yang penting kini mereka bisa bertemu satu sama lain.


Kilatan cahaya, dentuman, dan hempasan terus terjadi.


Max belum bisa melihat apa yang terjadi dengan jelas.


Tubuhnya masih berusaha pulih dari luka yang dialaminya.


Tak disangka butuh waktu lama.


Namun itu lebih baik daripada tidak pulih sama sekali.


“Tenang saja tuan.” Gadis kecil ini menatapnya ramah.


“….” Gadis cilik ini tak marah seperti rekannya.


Yah terkadang kekecewaan lahir dari ekspektasi yang tak terpenuhi.


Jadi gadis kecil ini tak kecewa?


“Hm?” Gadis kecil itu menatapnya heran.


“A!” Gadis kecil itu akhirnya tahu apa maksudnya, raut wajah sang tuan penguasa ini mengatakannya dengan jelas.


“Dia memang begitu Tuan.” Sang gadis kecil pelindung dunia ini akhirnya menceritakan soal rekannya.


‘Oh.’ Max akhirnya paham.


Ternyata memang begitulah sifatnya.


Keras dan tegas dan berani mengungkapkan pendapatnya.


“Maafkan dia yang seperti itu Tuan.” Gadis kecil ini tak tahu perkataan rekannya mengganggu sang tuan penguasa.


‘OKE JANGAN MULAI.’ Max tak mau dianggap lebih tinggi dari para makhluk pelindung dunia.


Malahan ia yang harus minta maaf karena sudah merepotkan mereka.


BUMMM!!!


SREEET!!


Sang bocil terhempas, namun ia masih bisa menahan dirinya.


Kini raut wajah anak kecil ini lebih serius dari yang sebelumnya.


Akhirnya ia mencicipi juga kekuatan lawannya.


Dan tak bisa dipungkiri dia memang kuat.


Max terdiam dan hanya memerhatikannya.


Sang bocah itu melirik ke arahnya “Hih.”


‘MASIH?’ Bocah kuat itu bener-bener benci dirinya ya?


Sementara itu terlihatlah sang perempuan gelap dengan kekuatan yang besar.


Tekad kuat benar-benar membuka seluruh potensinya.


“Hei, jangan buru-buru.” Sang gadis kecil kembali memberi peringatan.


Yah tak bisa disangkal, bocah ini memang tak mau membuang waktunya dan ingin menyelesaikannya dengan cepat.


Ia masih punya urusan yang harus dikerjakan juga.


Namun pada akhirnya ia dipaksa mengakui kekuatan lawannya.


Team makhluk empat penjuru sudah terpecah dengan kedua rekannya yang tidak ada di sini.


Kalau mereka selalu bersama dan bekerja sama tentu hal ini tak akan terjadi.


Namun sayang sekali tidak seperti itu.


Para makhluk pelindung dunia ini lebih senang bekerja sendiri-sendiri.


Itulah sebabnya ia tak bisa mencegah hal ini.


Namun sudah terlambat untuk menyesalinya.


Kini yang bisa dilakukan hanya langsung mengalahkannya.


“….” Max terdiam, jadi begitu ya.


“Kenapa kerja-nya sendiri-sendiri?” Daripada penasaran, langsung nanya saja deh ya.


Terlepas dari betapa terkenalnya para makhluk pelindung dunia.


Namun banyak versi cerita yang mengatakan mereka kelompok yang solid.


“Ahaha….” Sang gadis kecil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dan akhirnya ia pun menjelaskannya.


‘Begitu ya.’ Akhirnya semuanya jelas.


Tak selalu rumor yang tersebar adalah fakta yang sebenarnya.


Selama ini para makhluk pelindung dunia bekerja dengan caranya masing-masing dan jarang team up.


Namun tujuan mereka sama, yakni melibas makhluk gelap yang ada dalam dunia ini.


“Jangan dibahas.” Bocah itu terdengar tak senang.


Sret.


Kini sang perempuan gelap berdiri dengan tatapan tajam.


“HEHEH….” Ia terkekeh kecil.


Ia terlalu khawatir dengan dua makhluk yang tiba-tiba muncul ini.


Yang pada akhirnya kekhawatirannya tidak terbukti.


Bocah itu lebih lemah dari yang ia pikirkan.


Ternyata tak semua makhluk penjaga dunia ini punya level kekuatan yang sama.


Kini kepercayaan dirinya kembali lagi, faktanya ia sudah lebih kuat mereka.


Kesempatan langka untuk membinasakan tiga makhluk yang menghalangi tuannya.


“Baiklah~” Sang gadis kecil maju dan berdiri disamping rekannya.


“Aku bisa sendiri.” Bocah laki tak senang ada yang ikut campur.


“Ayolah, kita harus kerja sama.” Sang gadis cilik berusaha meyakinkannya.


“Tch.” Ia terpaksa menerimanya dengan raut wajah yang tak terima.


“….” Max tak menyangka ada tsundere versi bocil juga.


Jadi apa yang mereka rencanakan?


Tambahan satu makhluk lemah takkan membuat perbedaan yang berarti.


SRING!


Aura suci langsung memenuhi mereka berdua.


Benar-benar handal.


Sang bocah berlutut dengan satu kakinya dan seketika itu juga bazzoka putih terang langsung tercipta.


‘Wow.’ Nah itu baru senjata mantap. Max terkesan.


“….” Sang perempuan gelap terdiam, ia tak merasa terancam sama sekali.


Memang senjata besar itu kelihatannya keren, namun hanya sebatas penampilan luarnya saja.


Tak butuh waktu lama untuk energi suci super kuat terkumpul pada senjata itu.


Sang perempuan gelap mengangkat tangan kanannya ke depan.


Dan seketika itu juga shotgun hitam besar langsung tercipta.


Aura gelap langsung memenuhi senjata api yang keren itu.


Sang perempuan gelap tak diam saja.


Ia pun punya cara-nya tersendiri untuk mengumpulkan kekuatan.


Ajang mengumpulkan kekuatan masih berlanjut.


Keduanya hendak memakai strategi sama.


Yakni mengakhiri ini sekali untuk selamanya.


“Tuan, berlindunglah.” Sang gadis kecil terdengar serius.


Max terdiam, ia tahu akan ada sesuatu yang gawat kalau makhluk ramah mulai serius,


“Aku tetap di sini.” Terima kasih nasihatnya, tapi ia takkan pergi kemanapun.


“….” Sang gadis kecil terdiam, ia sudah mengira sang tuan penguasa akan menolaknya.


Bukannya meragukan, namun ia hanya ingin sang tuan penguasa dan rekannya ada di zona aman.


Namun ia tak bisa memaksanya juga sih.


Baiklah.


Waktunya untuk memusnahkan ancaman dunia ini!


Sang gadis kecil melihat tajam ke depan.


“Heheh.” Sang bocah laki pun sama, dengan senyuman ganas di wajahnya.


“One shot light!”


BUMMM!!!


Seketika itu juga ledakan energi suci tercipta.


Sang perempuan gelap perlahan menarik pelatuk senjatanya.


DOR!!!


Peluru aura gelap berkekuatan besar langsung melesat juga.


Ia tak mengatakan apa nama tekniknya.


Padahal dengan begitu jurusnya pasti terlihat lebih keren.


Namun ia berkaca dari pengalaman, dan memilih tak melakukannya.


Nama teknik keren tidak berpengaruh apapun pada teknik sebenarnya.


Namun yang pasti ia sudah melancarkan serangan aura gelap terkuat yang dimilikinya.


Apapun yang terjadi, kemenangan tetap jadi miliknya.


DUAAAR!!!


Aduan kekuatan suci dan gelap pun tak terhindarkan.