
Suara ledakan di dalam lorong itu semakin intens, membuat lorong gelap itu kini menjadi terang benderang oleh ledakan cahaya yang terjadi akibat serangan kedua belah pihak yang saling beradu.
Dalu Rong dan Heian Bai menyerang hewan yang datang dari dalam lorong. Qing Ruo dan Jianyu menyerang hewan yang sebelumnya tiba-tiba muncul dari arah belakang, sedangkan Hua Zhen masih bertugas mengumpulkan mutiara jiwa hewan tersebut.
Lima belas menit kemudian, serangan hewan beracun gelap itu mereda, namun tidak membuat Qing Ruo dan rombongannya menurunkan kewaspadaannya.
" Swhuss... swhus..." Ratusan bola api hitam dari dalam lorong, melesat kearah Qing Ruo dan rombongannya, yang langsung di halau oleh Dalu Rong dan Heian Bai.
" Dhuar... dhuar..." Ledakan keras bergema.
" Hati-hati, serangan racun Api hitam," ucap Jianyu mengingatkan.
" Saudara Heian Bai, gunakan kesadaran dewa, aku akan melepaskan serangan," ucap Qing Ruo.
" Baik," jawab Heian Bai.
" Swhuss.... " Tujuh bilah pedang Xue Luo muncul, lalu melesat ke dalam lorong.
" Slash.... Slash..." Kilatan petir muncul, memerangi lorong gelap itu.
" Dhuar... dhuar...." ledakan keras bergema saat pedang Xue Luo mengenai sesuatu di ujung lorong.
" Roargh...." raungan keras menggetarkan tempat itu.
" Hewan buas semi abadi tingkat tiga." Ucap Heian Bai, sambil mengedarkan kesadaran dewanya, memeriksa kekuatan yang ada di dalam lorong.
" Sepertinya ada delapan hingga sepuluh hewan buas semi abadi tingkat tiga, dan tiga diantara tingkat lima, yang sepertinya sedang melindungi sesuatu di dalam lorong," ucap Heian Bai.
" Apakah saudara yakin?" tanya Qing Ruo.
Heian Bai menganggukkan kepalanya.
" Baik, karena kita sudah mengetahui kekuatan mereka, maka sekarang waktunya. Aku dan saudara Hua Zhen akan mengambil benda yang dimaksud, sedangkan saudara bertiga, memancing hewan buas itu untuk keluar." Sambil menarik pedang Xue Luo kembali.
" Baik, tapi tunggu, karena masih ada ribuan serangga raksasa tingkat rendah yang akan menyerang" ucap Heian Bai.
" Baik," jawab Qing Ruo, bersamaan dengan munculnya semut racun, kalajengking gurun dan kelabang perak beracun, memenuhi mulut lorong, bergerak menyerang Qing Ruo dan rombongannya dengan beringas.
" Ini adalah serangan terakhir sebelum serangan puncak. Jadi jangan terlalu menguras tenaga." Heian Bai mengingatkan.
" Dhaur .. dhuar..." ledakan dahsyat mengguncang lorong makam, bersama dengan taburan permata jiwa yang terlempar ke berbagai arah, membuat Hua Zhen begitu bersemangat.
Lima belas menit kemudian, pertempuran itu berakhir.
" Saudara Ruo, segel dulu," ucap Heian Bai meminta Qing Ruo menutup mulut lorong, agar memiliki waktu untuk memulihkan diri.
" Baik," jawab Qing Ruo, sambil menutup lorong itu.
Setelah memastikan mulut lorong tersegel, Heian Bai dan rombongannya lalu mulai memulihkan diri.
***
Di dalam ruangan utama makam.
Hewan buas dan serangga raksasa yang sedang berjaga tampak begitu heran, saat suasana di tempat itu tiba-tiba menjadi hening, terlebih lagi sosok yang menyerang mereka sebelumnya tidak kunjung tiba, sehingga membuat mereka merasa lega.
Di dalam lorong.
Lima menit kemudian, Qing Ruo dan rombongannya selesai memulihkan diri.
" Saudara Bai, sekarang," ucap Qing Ruo, membuka perisai segel yang menutup lorong makam.
" Baik..." ucap Heian Bai, lalu bergerak bersama Dalu Rong dan Murong Jianyu memasuki lorong bagian dalam makam, sedangkan Qing Ruo dan Hua Zhen mencari tempat untuk bersembunyi.
" Shwus.. Swhus..." mereka bergerak, merapatkan diri pada dinding langit lorong, dan membuat perisai ilusi. Menunggu Heian Bai, Dalu Rong dan Jianyu memancing hewan buas dan serangga raksasa untuk keluar.
" Saudara Ruo, apakah tidak terlalu berbahaya membiarkan mereka melakukannya?" tanya Hua Zhen khawatir.
" Saudara Hua Zhen, mereka bertiga adalah Semi abadi tingkat lima, sehingga mereka dapat meninggalkan lorong lebih cepat dibandingkan dengan kita berdua."
" Aku mengerti," ucap Hua Zhen menunggu dengan cemas.
****
Di dalam lorong bagian dalam makam.
Ledakan pukulan pertempuran Heian Bai, Dalu Dalu Rong dan Jianyu terus bergema, mengguncang tempat itu.
" Swhus... swhuss...." Serangan tapak emas Dalu Rong, tebasan pedang Emas Jianyu dan tembakan tombak emas Heian Bai menyerang para hewan buas yang berada di dalam lorong.
" Saudara Heian Bai, bagaimana ini mereka bahkan tidak mau bergerak sama sekali..." Ucap Jianyu, saat melihat kumpulan hewan buas dan monster serangga itu justru membentuk pertahanan di dalam lorong.
" Terus Serang..." ucap Heian Bai, sambil terus melepaskan serangan tombak emas, membombardir pertahanan hewan buas tersebut.
***
Di tempat persembunyian. Qing Ruo dan Hua Zhen merasa begitu heran, karena Heian Bai dan rombongannya tidak kunjung keluar, bahkan suara pertempuran semakin intens.
" Saudara Ruo," ucap Hua Zhen dengan wajah khawatir.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Saudara Hua Zhen, tunggu di sini. Aku ingin memeriksa mereka sebentar," ucapnya lalu bergerak meninggalkan Hua Zhen di tempat persembunyiannya.
" Swhuss...." Qing Ruo memasuki lorong bagian dalam, dan terus bergerak hingga akhirnya tiba di dalam ruangan utama yang cukup besar, sebuah ruangan yang di sangga dengan pilar-pilar batu raksasa dengan mantra formasi tingkat tinggi. Di dalam ruangan itu, tampak harimau hitam bersayap, ular hitam ekor api, kalajengking gurun, kelabang perak beracun dan semut beracun membentuk formasi pertahanan, sedangkan dua Cacing gurun dengan pajang tubuh dua puluh lima meter, yang merupakan hewan buas semi abadi tingkat lima terus bergerak menghalau serangan Heian Bai, Dalu Rong dan Murong Jianyu.
" Dhuar...." Serangan Heian Bai dan Dalu Rong mengenai salah satu cacing berwarna perak kehitaman tersebut dengan telah telak dan melukainya dengan parah.
" Slash...". tebasan pedang Murong Jianyu melesat, memotong tubuh caing tersebut dan merobohkannya.
" Swhus...." Tubuh yang terpotong itu menyemburkan darah hitam beracun yang berbau busuk.
" Swhus... swhus...." Heian Bai dan Dalu Rong bergerak mundur, saat cacing lainnya menjadi semakin beringas.
Qing Ruo yang sebelumnya ingin menggunakan serangan racun, mengurungkan niatnya.
" Satu-satunya cara adalah menggunakan racun hati monyet, tetapi jika para hewan tersebut menggila, itu bisa menghancurkan ruangan ini." Qing Ruo membatin, kebingungan.
" Saudara, keluar..." teriak Qing Ruo mengejutkan Heian Bai, Dalu Rong dan Murong Jianyu.
" Saudara Ruo, ada apa?" tanya Heian Bai heran, sambil bergerak mundur bersama Qing Ruo.
" Saudara pergi saja, tunggu di luar, aku ada rencana..." Dengan wajah serius.
" Baik. Saudara hati-hati," Jawab Heian Bai tanpa ragu, lalu membawa rombongannya bergegas meninggalkan tempat itu.
Di dalam ruangan utama.
Hewan buas dan serangga raksasa itu melonggarkan pertahanannya, bahkan cacing gurun yang sebelumnya mulai menggila juga ikut menurunkan pertahannya, sambil memakan bangkai cacing yang telah terbunuh sebelumnya.
Di dalam lorong.
Qing Ruo yang telah memastikan Heian Bai dan rombongannya telah keluar dari tempat itu lalu memanggil Qing Ling dari dunia jiwa.
" Swhus...." sosoknya muncul di hadapan Qing Ruo.
" Gege, ada apa?" Dengan wajah penasaran, merasakan sisa aura pertempuran yang begitu luar biasa di tempat itu.
" Ling er, saat ini kita berada di dalam lorong makam yang berada di bawah gurun perbatasan Utara. Di dalam ruangan utama makam ini beberapa hewan buas semi abadi tingkat tiga hingga tingkat lima dan monster serangga sedang melindungi sesuatu yang di cari oleh orang-orang Klan Yin. Aku dan rombongan telah berusaha memancing mereka untuk keluar, namun gagal."
" Lalu apa rencana Gege?"
" Aku perlu trisula Naga utara," ucap Qing Ruo, sambil menjelaskan rencananya.
" Baik, aku mengerti," ucap Qing Ling dengan penuh semangat.
" Swhuss...." Trisula Naga utama muncul, namun belum sempat Qing Ling bergerak, tiba-tiba gelang giok biru yang ada di tangannya menyala.
" Ling er, ada apa?" tanya Qing Ruo heran.
Qing Ling tersenyum masam, sambil menunjuk gelang giok yang menyala tersebut.
" An er," ucapnya pelan.
" Baik, aku mengerti. Kembalilah." Sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.
" Baik. Gege berhati-hatilah..." sambil menyerahkan trisula Naga utara pada Qing Ruo, lalu masuk ke dalam dunia jiwa.
Setelah Qing Ling pergi, Qing Ruo lalu kembali bergerak, mendekati ruang utama yang terdapat di ujung lorong. Dengan kesadaran dewa, Qing Ruo berusaha memeriksa keadaan hewan buas tersebut namun gagal, karena hewan buas itu juga melepaskan serangan kesadaran dewa mereka.
" Ternyata mereka juga melakukan hal yang sama," Qing Ruo membatin, sambil menancapkan trisula Naga utara yang ada di tangannya.