Sang Penguasa

Sang Penguasa
227. Di Dalam Dunia kecil Xiong Mao


Di kawasan terdalam hutan gelap. Di sebuah tempat rahasia.


Berkumpul para jenderal utama hewan gelap dan semut hitam raksasa.


" Ini benar-benar memalukan. Bagaimana bisa seorang penyusup dengan bebas memasuki tempat ini dan membunuh para penjaga begitu saja," ucap pria paruh baya, yang merupakan  Jenderal utama hewan gelap, menatap para jenderal tingkat rendah yang ada di tempat itu dengan kesal.


" Jenderal Mao Tang, ini semua murni kesalahan kita, karena lalai dalam segala hal dan menganggap remeh orang luar yang memasuki tempat ini. Jadi jangan menyalahkan mereka," ucap pria paruh baya lainnya yang merupakan Jenderal utama dari semut hitam raksasa.


" Mayi Gui, mudah bagimu berbicara seperti itu, karena kamu tidak mengalami kerugian seperti kami. Bahkan selama ini apa kontribusi kalian melindungi tempat ini," ucap Mao Tang dengan kasar. 


" Jenderal Mao Tang,  jaga sikap Anda. Reputasi hutan gelap yang ditakuti oleh para darah emas kini telah terpatahkan, bahkan membuat kita kelabakan seperti ini. Jika Masalah ini tidak kita selesaikan maka ini  akan menjadi masalah besar di masa yang akan datang. Jadi mari kita sama-sama mencari solusi masalah ini tanpa menyalahkan siapapun," ucap pria paruh baya lainnya.


" Jenderal Mao Bing, benar. Untuk itulah aku dan saudara Xian dan saudara Cao mengundang kalian semua, membicarakan masalah ini agar kita  tidak mengalami kerugian yang lebih besar lagi, karena jujur saja sosok ini pastilah sangat kuat, karena  bisa membunuh Jenderal Mao Cheng dan Mao Teng secara bersamaan," ucap Mayi Gui dengan kepala dingin.


" Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Mao Tang. 


" Mengerahkan seluruh kekuatan untuk mencari sosok tersebut. Agar kekacauan ini tidak keluar dan tersebar," jawab Mayi Gui dengan serius.


****


Di tempat lain.


Dua hari kemudian. Setelah bersusah payah dan melewati kawasan terdalam hutan gelap dengan berhati-hati. Long Chen dan Yanshi Gong akhirnya tiba di kawasan gua perak terlarang.


" Tuan Long Chen, akhirnya kita tiba di kawasan gua perak terlarang. Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Yanshi Gong dengan wajah serius.


" Karena kita akan menunggu tuan muda, sebaiknya kita mencari tempat persembunyian."


" Baik." Lalu bergerak memasuki kawasan gua perak terlarang. Tiga kilometer dari gua perak, Long Chen dan Yanshi Gong  tiba-tiba dikejutkan dengan ledakan yang menggetarkan kawasan itu.


" Tuan Long Chen, sepertinya mereka sedang menghancurkan gua perak terlarang," ucap Yanshi Gong dengan wajah serius.


" Kita tidak bisa menebak begitu saja," ucap Long Chen yang ingin bergerak memeriksa tempat itu, yang langsung dihentikan oleh Yanshi Gong.


" Tuan Long Chen, ini sangat berbahaya. Sebaiknya kita pergi saja."


" Lalu bagaimana kita tahu jika kita tidak memeriksa tempat itu."


Yanshi Gong yang tidak memiliki pilihan itu akhir menganggukkan kepalanya, namun pada saat mereka akan bergerak, tiba-tiba mereka merasakan ledakan aura semi abadi tingkat sembilan tahap puncak berada di pusat ledakan.


" Tuan Long Chen, sepertinya kita tidak bisa memeriksa tempat itu, karena ini sangat berisiko."


" Baik," jawab Long Chen, menjauh dari pusat ledakan.


Dari jauh, di tempat persembunyiannya,  Xiong Mao Zhu dan rombongannya, terus bergerak mengawasi Long Chen dan Yanshi Gong, melindungi mereka secara diam-diam.


****


Gua perak terlarang.


Lima sosok semi abadi tingkat sembilan tahap puncak,  bekerjasama membuat keributan di depan gua perak terlarang.


" Satu-satunya tempat persembunyian yang selalu digunakan oleh darah emas adalah tempat ini. Jadi kita harus menghancurkannya," ucap Moa Tang dengan serius, sambil melepaskan pukulannya, yang terus menggetarian tempat itu.


****


Klan Xiong Mao.


Di taman belakang istana kediaman Ling Zhong. Qing Ruo dengan tenang  berkultivasi di tempat itu dengan menyerap kekuatan emas yang menenangkan dari dunia kecil tersebut.


Tidak lama kemudian, Qing Ruo dikejutkan dengan cincin penyimpanannya yang tiba-tiba bergetar.


" Long Chen," ucap pelan sambil mengeluarkan lencana giok jiwa dari dalam cincin penyimpanannya. .


" Gege, ada apa?" tanya Qing Ling yang sedang bermain bersama Qing Lian An menghampirinya


" Pesan dari Long Chen. Gua perak terlarang sedang dihancurkan oleh orang-orang dari klan Mao dan Klan Mayi." Sambil meraih Qing Lian An yang ingin duduk di pangkuanmya dengan hangat.


" Lalu  bagaimana keadaan mereka?"


" Mereka baik-baik saja."


" Syukurlah. Lalu apa rencana gege?" Tanya Qing Ling lembut.


" Meminta mereka untuk tetap bersembunyi. Setelah urusan Jun er selesai, kita bisa melanjutkan perjalanan," ucapnya sambil memangku Qing Lian An yang bermain-main dengan jubah lengan bajunya,  berbincang-bincang di tempat itu santai.


****


Di tempat lain.


Di tempat terlarang dunia kecil Xiong Mao.


" Benar-benar penggila latihan," ucapnya pelan.


Lima Jam kemudian, Qing Yong Jun akhirnya selesai mempelajari teknik tersebut.


" Tidak heran banyak orang yang  gagal menjadi abadi," ucapnya pelan, sambil menghampiri Xiong Mao Tian.


" Jun er, apa yang kamu pahami dari teknik jalan keabadian ini?" tanya Xiong Mao Tian dengan tatapan penasaran.


" Kakek buyut, keabadian bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari, tetapi dijalani dengan menguji diri dari kekuatan semesta langit dan bumi," jawabnya dengan serius, menatap sosok Xiong Mao Tian dengan penuh kekaguman.


" Kamu lulus, dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."


Qing Yong Jun menganggukkan kepalanya.


" Aku juga ingin menjadi seperti kakek buyut," ucapnya dengan penuh semangat.


" Berlatih dengan menempa diri adalah kuncinya. Perak yang baik adalah perak yang dileburkan dengan api yang kuat."


" Baik Kakek buyut."


" Jun er, apakah ada yang ingin kamu tanyakan lagi?"


" Ada kakek buyut."


" Bicaralah."


" Setelah menjadi abadi apakah kita bisa melakukan apapun?" 


Xiong Mao Tian tersenyum kecil.


" Jun er, jika kamu sudah menjadi abadi, apa yang akan  kamu lakukan?"


" Aku ingin membuat dunia yang aman dan damai. Sama seperti yang ayah dan ibu lakukan sebagai penguasa agung  Benua Teratai Biru."


Xiao Mao Tian mengerutkan keningnya.


" Jun er, apakah ayah dan ibu Penguasa agung dunia kecil itu?"


" Benar Kakek buyut. Ibu adalah penguasa agung terdahulu sebelumnya ayah, dari Klan Lan dengan nama Lan Yue."


Xiao Mao Tian menganggukan kepalanya.


" Lalu apa yang kamu pahami?"


Qing Yong Jun terdiam. Dengan tatapan menerawang.


" Jun er, dunia yang seperti apa yang kamu inginkan? Dunia yang damai tanpa peperangan dan pertikaian?"


" Benar Kakek buyut...." menganggukkan kepalanya pelan.


" Jun er, bukannya aku meragukan niat baikmu, tetapi ayahmu saja tidak pernah mampu mewujudkan hal seperti itu.  Dengan menjadi kuat, kita tidak serta-merta bisa mengatur orang lain begitu saja, terutama hati dan pikiran mereka,  karena akan selalu ada individu yang melakukan tindakan di luar aturan itu dengan berbagai macam alasan, dan pada akhirnya peperangan itu terjadi. Jun er,  setelah menjadi abadi,  kamu  akan melihat segala sesuatu seperti  sia-sia tetapi menjadi abadi bukanlah sia-sia.


" Maksud kakek buyut?"


" Jun er, setelah kamu menjadi abadi kamu akan mengetahuinya. Dengan menjadi Abadi kamu dapat melindungi dan menolong orang-orang yang kamu kasihi."


" Baik Kakek buyut. Lalu bagaimana dengan klan kuno lainnya. Apakah mereka juga memiliki sosok Abadi?"


" Tentu saja, tapi tidak semua klan kuno memiliki  sosok abadi. Jika kamu ingin tahu apakah mereka memiliki sosok abadi atau tidak, lihat kekuatan klan mereka. Yang melemah sudah dapat dipastikan mereka tidak memiliki sosok itu. Walaupun demikian kita tidak boleh menyinggung siapapun."  Dengan wajah serius.


" Baik kakek buyut."


" Apakah ada lagi?"


Qing Yong Jun menggelengkan kepalanya.


" Jika tidak ada,  maka pelajari teknik ini."  Sambil memberikan gulungan kitab kuno pada Qing Yong Jun.


" Kakek buyut, apa ini?


" Jika kamu dapat menguasai teknik dalam kitab ini. Kamu tidak perlu lagi bersembunyi di dalam dunia jiwa."


" Benarkah?"


" Pelajarilah...."


" Baik Kakek buyut. Terima kasih." Lalu meraih gulungan kitab yang sangat tebal itu dan mulai mempelajarinya dengan serius, membuat Xiong Mao Tian menggelengkan kepalanya.