
Gunung langit Yin adalah sebutan umum oleh mereka yang berada di kawasan Gerbang Es Hitam, namun sebenarnya tempat itu adalah kumpulan lima gunung raksasa dengan gunung utama yang terletak di tengah keempat gunung lainnya.
Gunung timur disebut dengan puncak Dong Yin, gunung barat disebut dengan puncak Xi Yin, gunung utara disebut puncak Bei Yin, gunung selatan disebut dengan puncak Nan Yin dan gunung utama dengan puncak Zhu yang merupakan tempat berdirinya istana Gerbang Es Hitam dengan puncaknya yang menyentuh awan.
Setiap gunung memiliki tugasnya masing-masing, gunung timur sebagai tempat pelatihan dan pengembangan kekuatan fisik, gunung barat sebagai tempat pelatihan dan pengembangan senjata, gunung utara sebagai tempat pelatihan dan pengembangan sumber daya, seperti pembuatan pil dan teknik pengobatan, gunung selatan tempat pelatihan dan pengembangan ahli mantra formasi, sedangkan gunung utama, selain sebagai tempat pusat pemerintahan, juga pusat pengembangan diri para murid jenius.
*****
Dari jauh, Qing Ruo yang terus bergerak melewati wilayah terlarang, hingga akhirnya tiba di kawasan pintu gerbang klan.
" Swhus..." sosoknya lalu turun dari langit dengan perlahan.
" Tempat ini benar-benar dingin," batinnya.
****
Di atas langit.
Tidak lama setelah Qing Ruo tiba, Yin Kun,Yin Lun dan rombongannya juga tiba di tempat itu, tetapi mereka tidak langsung turun, melainkan berhenti di tempatnya, mengawasi Qing Ruo yang menghampiri murid Klan yang berjaga dengan seksama.
Halaman gerbang raksasa.
Qing Ruo lalu melangkahkan kakinya, menghampiri para murid yang berjaga.
Kemunculan sosoknya yang hampir tidak dikenali oleh murid baru yang kebetulan berjaga di tempat itu, membuat sosoknya langsung dicurigai.
" Saudara, siapa anda sebenarnya?" tanya pemimpin pasukan itu dengan ramah.
" Aku Yin Gan," jawabnya sambil menunjukan lencana klan yang di milikinya.
" Yin Gan?" ucap pemimpin kelompok itu dengan heran.
" Istana puncak timur, kediaman pasukan tombak hitam," ucapnya menjelaskan tempat tinggalnya.
" Saudara, itu adalah nama pasukan tangan kanan tetua Xie yang telah dibubarkan," ucap seorang murid yang berada di belakang pemimpin kelompok itu dengan serius, membuat Qing Ruo begitu terkejut.
" Apa yang terjadi?" tanya. Qing Ruo dengan penasaran.
" Sebaiknya senior pergi ke puncak Dong Yin untuk segera melapor," ucap sosok itu dengan hormat.
" Senior? Aku ini seorang tetua," ucap Qing Ruo diliputi rasa penasaran yang luar biasa.
" Tetua, status anda telah dicabut. Sekarang hanya ada senior dan junior, untuk lebih jelasnya, silakan senior melapor terlebih dahulu," ucap murid itu dengan hormat.
Qing Ruo yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu menggukan kepalanya.
" Baik," ucapnya sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Senior Yin Gan, silakan," ucap pemimpin pasukan sambil meminta murid yang berjaga memembuka pintu gerbang emas tersebut.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil melepaskan kekuatan darah Yin Gan yang dimilikinya, lalu memasuki gerbang emas itu dengan tenang.
****
Di atas langit Gerbang Klan.
" Apa pendapat saudara Kun mengenai hal ini?" tanya Yin Lun, sambil menatap Qing Ruo yang memasuki gerbang emas tersebut dengan tenang.
" Sejauh ini tidak ada tindakan yang mencurigakan, bahkan kekuatan darahnya juga menunjukan orang yang sama," jawab Yin Kun.
" Aku rasa juga seperti itu," ucap Yin Lu lalu bergerak memasuki gerbang emas.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo yang telah melewati gerbang emas itu, terus bergerak menuju gunung timur.
Matanya yang tajam mengawasi setiap tempat yang dilewati dengan seksama.
" Benar-benar tempat yang sangat menakutkan," batinnya saat merasakan aura yang membuatnya tidak nyaman, selain itu rasa dingin yang menusuk tulang benar-benar membuatnya merasa asing di tempat itu.
" Aura di tempat ini begitu berbeda di luar gunung," batinnya.
Pada saat terus bergerak, tiba-tiba Qing Ruo dikejutkan dengan aura gelap yang begitu mengerikan yang sesekali muncul dari puncak gunung utama.
" Swhus.... swhus...." Sosok terus bergerak, hingga akhirnya tiba di puncak gunung timur.
" Swhus...swhus...." sosoknya langsung dihadang oleh beberapa murid yang yang berjaga.
" Senior Yin Gan?" seorang pemuda menyambut kedatangannya dengan wajah gembira.
" Senior, ini aku Fan Mu," ucapnya memperkenalkan diri sambil memeluk Qing Ruo dengan hangat.
Qing Ruo yang akhirnya dapat menemukan ingatan Yin Gan mengenai sosok itu akhirnya tersenyum lega.
" Junior Fan Mu, tingkat kultivasi mu membuatku hampir lupa dan merasa malu," ucap Qing Ruo yang masih menujukan kekuatan Yin Gan yang masih berada di tingkat lima.
" Tapi aku kalah pengalaman," ucap Yin Fan Mu merendah.
Qing Ruo hanya menggelengkan kepala, menatap sosok yang bergitu ramah padanya itu tersenyum kecut.
" Senior, silakan...." ucapnya dengan ramah mempersilakan Qing Ruo memasuki kawasan puncak Gunung timur.
" Fan Mu, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan, apakah kamu punya waktu?" tanya Qing Ruo dengan serius.
" Besok pagi kebetulan aku tidak bertugas, aku akan menunggu di kediamanku," jawabnya dengan hormat.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Baik junior." Lalu bergerak menuju istana puncak Dong Yin.
Dengan tenang, Qing Ruo terus melangkahkan kakinya menuju istana megah yang berdiri di atas puncak gunung timur tersebut.
Matanya yang tajam terus mengamati setiap tempat yang dilewatinya serta menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dari ingatan Yin Gan.
" Tempat ini benar-benar berbeda," batinnya saat merasakan aura yang begitu menenangkan pikirannya.
Tidak lama kemudian, Qing Ruo akhirnya benar-benar memasuki kawasan istana puncak, lalu menuju aula misi.
Kemunculan sosoknya di tempat itu menarik perhatian para junior dan senior yang mengenal Yin Gan dengan baik. Mereka begitu ramah dengan menyapa dengan hangat, namun sebagian di antara mereka yabg tidak dikenalinya menatapnya dengan penuh Kebencian, membuat Qing Ruo semakin penasaran dengan perubahan besar yang terjadi di klan itu.
Sambil menghiraukan tatapan kebencian itu, Qing Ruo akhirnya tiba di aula misi dan melaporkan kedatangannya.
" Saudara Yin Gan, akhirnya kamu kembali. Di mana yang lain?" tanya gadis yang bertugas di tempat itu dengan tatapan penuh selidik.
Qing Ruo tersenyum kecut, sambil menggelengkan kepalanya.
" Saudari, itu adalah laporanku pada tetua, dan aku juga ingin secepatnya mendapatkan panggilan untuk menghadap," jawabnya dengan ramah.
Gadis petugas itu mendesah panjang.
" Saudara, banyak hal telah berubah jadi mohon untuk berhati-hati," ucapnya berbicara melalui telepati dengan serius.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Saudara, kediaman pasukan tombak hitam telah di hancurkan. Sambil menunggu murid pekerja menyiapkan tempat tinggal baru, saudara bisa beristirahat di kediamanku." Sambil memberikan lencana kayu dengan ukiran tinta emas.
" Saudari Rongyou, ini...." ucap Qing Ruo dengan ragu.
" Saudara, hanya ini yang dapat aku lakukan. Beristirahat," ucapnya dengan serius sambil memberikan gulungan informasi yang berisi peta dan aturan baru di puncak Dong Yin itu.
Qing Ruo yang tidak ingin berdebat dengan gadis itu menganggukan kepalanya, lalu meraih lencana kayu dan kitab informasi tersebut.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan hormat, lalu meninggalkan tempat itu.
Setelah Qing Ruo pergi, Yin Rongyou lalu memanggil beberapa murid klan untuk mempersiapkan kediaman baru untuk Qing Ruo.
" Saudara Yin Gan, mengapa harus kembali," batinnya dengan perasaan sedih, lalu kembali bekerja.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo yang mendapat lencana kayu dari Yin Rongyou terus bergerak meninggalkan aula misi dengan rasa penasaran yang begitu luar bisa. Terlebih lagi tatapan sinis dari beberapa murid yang berjaga membuatnya semakin tidak nyaman di tempat itu.
Setelah melewati lorong panjang, Qing Ruo akhirnya keluar dari kawasan aula misi. Namun pada saat dirinya akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba dua murid klan yang tidak dikenalinya memanggil.
" Senior Yin Gan," ucapnya dengan hormat sambil meminta Qing Ruo menunggu.
Qing Ruo yang benar-benar tidak mengenali murid tersebut mengerutkan keningnya.
" Junior adal apa?" tanya Qing Ruo dengan ramah.
" Senior, kami mendapatkan perintah dari senior Rongyou untuk mengantarkan anda ke tempat kediamannya," ucap murid itu dengan ramah.
Qing Ruo yang memang tidak memiliki pilihan mengangguk kepalanya.
" Baik," ucapnya dengan ramah, lalu mengikuti kedua murid itu.