Sang Penguasa

Sang Penguasa
197. Kota Heian 4.


Setelah Qing Ruo dan Qing Ling pergi. Sang hakim lalu memanggil seorang penjaga.


" Awasi pergerakan mereka," ucapnya berbicara melalui telepati pada prajurit tersebut.


" Baik yang mulia," lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah prajurit itu pergi. Sang hakim lalu mengarahkan pandangannya pada kedua pemuda yang tampak kebingungan tersebut.


" Saudara, apa yang harus kita lakukan?  Apakah kita akan memanggil saudara yang lain?" Berbicara melalui telepati.


" Saudara, aku juga tidak yakin apakah  saudara yang lain juga masih memiliki banyak uang, karena mereka juga  mengalami masalah yang tidak mudah di restoran penginapan. Baj***n itu benar-benar.... Argh....." menggerutu kesal. 


" Yang mulia, apakah kami dapat memanggil saudara kami yang lain, karena kami..."


" Silakan..." ucap sang hakim dengan santai


Kata-kata sang hakim membuat kedua pemuda lalu mengeluarkan lencana Giok jiwa dan mengirim pesan pada saudaranya.


" Yang mulia, bagaimana jika kami tidak mampu membayar denda?" tanya salah satu pemuda.


Pertanyaan pemuda itu membuat sang hakim tersenyum santai.


" Jika. kalian tidak bisa membayar denda, maka hukumannya akan di gandakan menjadi tiga kali lipat," jawab sang hakim santai, membuat wajah kedua pemuda itu pucat pasi.


***


Restoran penginapan Hua Bing.


Tiga pemuda keluar dari restoran itu dengan tergesa-gesa.


" Baj***n itu benar-benar ingin mati. Kerugian kali ini benar-benar telah menguras semua uangku."


" Saudara, aku sudah tidak sabar ingin mengulitinya. Bahkan kali ini aku juga tidak takut membuat masalah di kota ini." Dengan wajah yang sangat kesal.


" Jangan gegabah. Ingat, kita adalah klan yang berada di bawah perlindungan penguasa agung." sambil terus bergerak meninggalkan ruangan.


Pada saat mereka berada di halaman penginapan. Tiba-tiba pemimpin kelompok itu menerima  pesan jiwa dari rombonganya yang  berada di aula kehakiman.


" Kepar**t . Baji***n itu kembali memperdaya sibo***h itu," ucapnya kesal.


" Maksud saudara?" tanya yang lain.


Dengan menahan murka, pemuda tersebut menyerahkan lencana giok jiwa pada pemuda lainnya, yang langsung membuat pemuda tersebut lemah.


" Bagaimana bisa mereka berurusan dengan pihak keamanan kota," ucapnya tanpa semangat.


" Biarkan saja mereka. Urusan kita saat ini adalah mencari pemuda tersebut dan membunuhnya!" ucap pemimpin kelompok sambil bergegas meninggalkan tempat itu.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo dan Qing Ling meninggalkan aula kehakiman kota Heian dengan tenang.


" Ling er, bicaralah," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Gege, apakah kita tidak rugi?"


" Tentu saja, tapi bukankan uang bisa di cari. Tenanglah, jangan terlalu memikirkan hal itu."


Qing Ling menganggukkan kepalanya.


" Tapi Gege, sepertinya mereka mengikuti kita."


" Biar saja, aku rasa itu dari pihak keamanan kota," jawab Qing Ruo lembut.


" Lalu kemana tujuan kita sekarang?"


" Tentu saja menikmati suasana kota ini."


" Baik," jawab Qing Ling dengan penuh semangat.


Sambil bergerak meninggalkan tempat itu, tidak lupa Qing Ruo mengabari Long Qe dan rombongannya agar lebih berhati-hati, dan menghindari setiap masalah.


****


Di tempat lain.


Tiga pemuda lainnya yang memiliki dendam membara,  terus bergerak mencari keberadaan Qing Ruo.


" Jika seperti ini, kita akan sulit menemukan keberadaannya."


" Saudara benar. Sebaiknya kita berpencar. Jika ada diantara kita yang  menemukannya, segera kabari yang lain."


" Baik...." Lalu memisahkan diri.


***


Aula kehakiman.


Dua pemuda yang masih berada di tempat itu semakin gelisah karena saudara yang mereka tunggu tidak kunjung datang.


" Ini sudah terlalu lama," ucap sang hakim yang tampak tidak tenang duduk di kursinya.


" Yang mulia benar,  apalagi jarak penginapan Hua Bing dan tempat ini tidak terlalu jauh," ucap penjaga yang ada di sisinya.


" Kita tunggu satu jam lagi. Jika bantuan mereka tidak kunjung datang, sita cincin penyimpanannya, dan  masukan mereka ke dalam penjara," ucap sang hakim lalu meninggalkan ruangan itu.


" Baik yang mulia," jawab para penjaga dengan hormat.


Setelah sang hakim pergi. Tempat itu kini benar-benar menjadi sunyi. Di hadapan para penjaga, kedua pemuda yang tidak mampu membayar denda dari sang hakim, kini semakin gelisah.


****


Di tempat lain.


Setelah puas mengunjungi tempat-tempat khusus tersebut, mereka lalu mengunjungi pusat perbelanjaan kota Heian.


Di tempat itu, Qing Ling membeli berbagai keperluan Qing Lian An, Hu Qing, Qing Yong Jun, Huli Bai dan  Huli Hei dalam jumlah yang sangat banyak, membuat tindakannya menjadi pusat perhatian para penjual yang ada di tempat itu.


" Pasangan ini sangat luar biasa. Selain cantik dan tampan. Mereka juga benar-benar kaya."


" Benar, untung saja mereka ada di kota Heian, jika di kota lain,  mungkin mereka sudah mengalami masalah."


" Saudara benar, karena selain tingkat kultivasi yang rendah, para sang wanita juga terlalu mencolok," ucap para penjual di tempat itu membicarakan Qing Ruo dan Qing Ling melalui telepati.


Pada saat mereka sedang memilih barang,  tiba-tiba gelang giok biru yang ada di tangan Qing Ling terus bergetar dan menyala.


" Gege," ucapnya sambil tersenyum kecut, sambil membawa Qing Ruo untuk meninggalkan tempat itu.


Qing Ruo yang memahami maksud Qing Ling menganggukkan kepalanya. 


" Sepertinya An er, mulai marah," ucap Qing Ruo sambil tertawa.


" Sepertinya An er sudah rindu,"ucap Qing Ling, sambil terus bergerak meninggalkan tempat itu.


Di tempat tersembunyi yang berada di pusat perbelanjaan itu. Seorang pemuda terus  mengawasi pergerakan Qing Ruo dan Qing Ling dengan kemarahan menyala.


" Akhirnya," ucapnya pelan sambil mengirimkan informasi pada kedua saudaranya, bergerak mengikuti Qing Ruo dan Qing Ling yang meninggalkan pusat perbelanjaan itu dengan tergesa-gesa.


" Gege sepertinya ada sosok lain yang bergerak  mengikuti kita."


" Biarkan saja. Itu pasti rombongan dari pemuda lainnya."


" Tapi gege...."


" Tenanglah," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak.


Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di sebuah penginapan mewah yang tidak jauh dari tempat itu.


" Ling er, di tempat ini saja," ucapnya, sambil membawa Qing Ling  memasuki penginapan di tempat itu.


" Tuan, nyonya," ucap pelayan menyambut kedatangan mereka dengan hormat.


" Nona, aku ingin menyewa kamar yang  biasa saja."


" Baik tuan."


Setelah membayar biayanya penginapan, pelayan tersebut lalu membawa Qing Ruo dan Qing Ling ke dalam kamarnya.


***


Di luar penginapan.


Dua pemuda lainnya menghampiri seorang pemuda yang sudah menunggu di tempat itu.


" Saudara, bagaimana?"


" Baji***n itu ada di dalam."


" Baik, mari kita tunggu di restoran penginapan." Sambil memasuki penginapan sederhana tersebut.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo dan Qing Ling akhirnya tiba di kamarnya.


" Silakan tuan, nyonya," ucap pelayan itu dengan hormat.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan ramah sambil memasuki kamar itu.


Setelah pelayan itu pergi. Qing Ruo lalu menyegel ruangan itu.


" Ling er," ucapnya sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


" Gege, maaf," ucap Qing Ling.


" Kembalilah," ucap Qing Ruo dengan lembut.


Setelah Qing Ling masuk ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu mengeluarkan Huo Zhoudau dan Mao Lei.


" Penguasa..." dengan hormat.


" Zhoudau,  Mao Lei, aku ingin kalian berjaga sebentar," ucapnya lalu masuk ke dalam dunia jiwa.


" Swhuss...." sosoknya muncul di dalam kamarnya, mendapati Qing Ling sedang menyusui Qing Lian An.


" Ling er...."


" An er benar-benar kehausan. Gege apakah tidak berbahaya...."  menantap Qing Ruo dengan ragu.


" Tenanglah. aku hanya memastikan keadaan An er," jawabnya lembut.


" Gege tenanglah. An er baik-baik saja. Dia hanya kehausan." Qing Ling menenangkan.


" Putri ayah, maaf."  mengecup ubun Qing Lian An dengan lembut.


Setelah berpamitan pada Qing Ling, Qing Ruo lalu keluar dari dalam dunia jiwa.