Sang Penguasa

Sang Penguasa
293. Menolong Yin Xie.


Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening.


Qing Ruo terdiam dengan pikirannya terutama mengenai rencananya yang ingin mebangun kekuatan di kawasan Utara tersebut.


" Tetua, apakah anda membenciku?"


Yin Xie menggelengkan kepalanya.


" Mengapa bisa demikian?"


" Itu adalah masa lalu, lagipula aku juga  tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Semuanya karena ada sebab,  jika saat itu Penguasa Yisheng tidak membuat masalah, peristiwa itu  tidak akan pernah terjadi."


Penjelasan Yin Xie membuat Qing Ruo sedikit lega.


" Yin Gan benar, tetua Yin Xie adalah orang dengan pikiran yang terbuka, serta  dapat melihat sesuatu dengan jelas," bantinnya.


" Terima kasih tetua," sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Tuan muda, anda sudah terlalu lama di tempat ini, aku takut hewan penjaga itu akan mencari keberadaan anda," ucapnya mengingatkan.


Qing Ruo tiba-tiba terkesiap.


" Hais, aku hampir lupa. Tetua, aku datang untuk membawa Anda pergi dari tempat ini," ucapnya  dengan serius.


" Tu-tuan muda, jangan bercanda. Tidak ada yang bisa meninggalkan tempat ini," ucapnya dengan serius.


" Jika demikian,  lalu bagaimana dengan diriku," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Tapi tuan muda, bagaimana caranya?" Dengan wajah serius.


" Tetua, aku hanya perlu kekuatan darah tetua," ucap Qing Ruo.


Yin Xie terdiam sesaat, lalu mengangguk kepalanya.


" Tapi tuan muda, dengan kondisiku saat ini, bagaimana aku melakukan?" Sambil menunjukkan rantai besi hitam yang telah menyatu dengan dinding dan lantai ruangan itu.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Swhus...." Seorang pemuda yang telah kehilangan tingkat kultivasinya muncul didalam ruangan itu. Wajahnya yang lebam dengan gigi yang rontok, menatap Yin Xue dan Qing Ruo dengan panik.


" Diam!" ucap Qing Ruo sambil memeriksa leher pemuda tersebut.


" Tuan muda, ada apa?" Yin Xie dengan heran.


" Aku ingin memeriksa, segel hitam penghancur jiwa," jawab Qing Ruo yang tidak menemukan keberadaan segel terlarang itu.


" Siapa kamu sebenarnya?" tanya Qing Ruo dengan heran.


" Tuan muda, dia Yin Di Lu, salah satu  cucu Yin Jue," ucap Yin Xie.


" Oh, kebetulan sekali," ucap Qing Ruo tersenyum santai, lalu melepaskan  cakram emas di dalam ruangan itu.


" Swhus.... swhus...." cakram emas itu lalu memecah diri menjadi cakram emas kecil lainnya dan mulai  membentuk susunan mantra formasi.


" Tu-tuan muda, ini cakram Langit Ling..." ucap Yin Xie dengan takjub.


Qing Ruo dengan santai sambil menganggukkan kepalanya.


" Swhus... swhus...." Susunan mantra formasi yang terbentuk dari cakram emas kecil itu bergerak pada rantai besi hitam  yang mengikat tangan dan kaki Yin Xie.


Tidak lama kemudian, setelah mantra formasi itu bekerja, Qing Ruo lalu melepaskan ikatan rantai dari tubuh Yin Xie, dan mengikatkan Yin Di Lu pada rantai tersebut.


" Akh...." Teriak Yin Di Lu yang tidak memiliki kekuatan itu berteriak kesakitan.


" Tuan muda, apakah ini akan berhasil..." dengan tatapan ragu.


" Tetua tenanglah, aku telah menempatkan segel pembatas pada rantai, sehingga bocah ini bisa bertahan hingga beberapa hari kedepan," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Baik tuan muda." Sambil mengeluarkan kekuatan darahnya, dan memberikan pada Qing Ruo.


" Terima kasih tetua." Sambil membuat segel tangan dan menembakkannya pada Yin Di Lu.


" Argh...." Teriak Yin Di Lu kesakitan, saat kekuatan darah itu mengubah tampilan wajahnya.


" Tuan muda, aku Yin Xie akan mengingat budi Anda.  Terima kasih," ucapnya tidak dapat menahan diri, tiba-tiba berlutut di hadapan Qing Ruo dengan hormat.


" Tetua, apa yang anda lakukan?" sambil meraih tubuh yang masih sangat lemah itu.


" Tuan muda terima kasih," ucapnya dengan serius.


" Tetua, kita harus segera pergi dari tempat ini," ucap Qing Ruo sambil memberikan sosok itu cincin penyimpanan yang berisi pil peledak energi dan pemulih kekuatan lainnya. 


" Swhus...." bola cakram emas memuncul di dalam ruangan itu.


" Tetua dapat memulihkan diri di dalam ruang segel ini," ucap Qing Ruo.


" Baik tuan muda."


Tanpa ragu, Yin Xie lalu memasuki bola emas tersebut.


Ketika Qing Ruo akan pergi dari tempat itu, tiba-tiba Yin Di Lu berteriak meminta tolong. Sambil meronta-ronta.


" Semakin banyak kamu bergerak, maka semakin cepat kamu kehabisan tenaga," ucap Qing Ruo dengan santai.


" Tuan, tolong lepaskan aku tuan..." Teriaknya memohon dan mulai meraung keras saat Qing Ruo tiba-tiba meninggalkan ruangan itu tanpa mengubris permohonannya.


" Dhuar...." Benturan keras pintu besi yang ditutup dengan kasar mengejutkannya.


" Kakek... tolong aku kakek..." Sambil menangis dengan suaranya yang kini menjadi serak dan berubah seperti suara Yin Xie sebelumnya.


Di luar pintu penjara.


Qing Ruo yang telah mengubah tampilan wajahnya, lalu bergerak  meninggalkan tempat itu dengan tenang.


Pengetahuan yang telah diperoleh dari Yin Hen Fen membuatnya dapat mengenal tempat itu dengan baik.


" Swhuss... swhus...." Sosoknya terus bergerak hingga akhirnya bertemu dengan lima kera es raksasa yang langsung menghadangnya.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya salah satu sosok ganas tersebut dengan tatapan tajam.


" Memeriksa tawan," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Lain kali jangan lakukan itu, atau kami akan  mengurung kamu di dalamnya!" Dengan tatapan tajam.


" Jangan mengancamku dengan cara seperti itu! Aku hanya memeriksa, apakah salah!" ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin,  yang memang ingin membuat kerusuhan di tempat itu.


" Kamu!" ucap sosok raksasa itu sambil mengeluarkan tongkat es.


" Sudahlah, Hen Fen kamu   pergi saja!" ucap kera lain menengahi.


Qing Ruo yang mengikutinya gaya arogansi Yin Hen Fen menatap kera itu dengan sikapnya yang mendominasi.


" Tch..." ucapnya lalu pergi dari tempat itu, membuat kera itu sangat kesal.


" Yin Hen Fen, berani menghinaku, kamu akan memetik akibatnya!" Dengan tatapan dingin lalu turun menuju penjara tingkat dasar.


" Saudara, apa yang akan kamu lakukan?"


" Tentu saja menyiksa tawanan yang baru saja dimasukkannya, untuk membuat bukti dan melaporkan kejahatannya pada para tetua tingkat tinggi," ucapnya dengan kesal, membuat kera lainnya hanya bisa menggelengkan kepala.


" Ingat jangan sampai membuatnya terbunuh," ucap yang lain nasehati.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo terus bergerak meninggalkan penjara yang sangat dingin tersebut, hingga akhirnya keluar dari tempat itu.


" Swhus... swhus...." Sosoknya  muncul di atas permukaan lubang raksasa  tersebut, lalu bergerak menghampiri keempat prajurit yang sedang menunggunya.


" Senior," ucap keempat prajurit itu menyambut kedatangannya dengan hormat.


" Maaf  membuat menunggu, apakah ada yang salah?" tanya Qing Ruo dengan heran.


" Senior sebelumnya kami  telah mendapat peringatan dari hewan penjaga," ucap salah satu prajurit menjelaskan.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Aku juga,  tetapi sudah dapat diselesaikan," ucapnya dengan santai, lalu membawa rombongan itu meninggalkan lubang raksasa itu.


" Swhus.... swhus...." Sosok mereka bergerak meninggalkan tempat itu dengan cepat.


****


Di tempat lain.


Di dalam penjara tingkat dasar. Raungan keras  Yin Hen Fen dengan tubuh terbalik, terus bergema memenuhi ruangan itu. Di hadapannya, kera penjaga yang tampak begitu kesal tersebut, terus mengayunkan tongkat es memukul tubuhnya dengan ekstrem.


" Bhukkk....bhuk...." tongkat es itu terus bergerak mengantam tubuhnya.


Semakin keras raungan Yin Hen Fen, maka semakin kuat pukulan tongkat es itu.


" Argh...." teriaknya sambil menangis, meratapi kemalangannya.


****


Di tempat lain.


Sepuluh prajurit yang mengantar Qing  Ruo ke dalam penjara Terlarang Es Hitam sebelumnya, kini mulai bergerak menuju kubu selatan setelah mereka dapat membuktikan kata-kata Qing Ruo mengenai segel Terlarang penghancur jiwa yang ada di leher mereka.


Di tempat lain.


Yin Kun dan Yin Lun dalam waktu  singkat, juga telah berhasil membuktikan bahwa segel yang ada di leher mereka memang segel hitam penghancur jiwa.  


" Ding Dugong,  Xu Mubai,"  panggil beberapa tetua untuk datang ke lembah utara,  dan lakukan hal ini dengan rahasia," ucap Yin Kun dengan serius.


" Baik guru...." Lagu bergerak meninggalkan tempat itu.