Sang Penguasa

Sang Penguasa
279. Kebersamaan Di Istana Emas.


Istana Giok Biru.


Di dalam aula utama istana. Qing Yong Jun dan Luo Jiao Lie duduk berbincang-bincang Santai.


" Jun er, pada saat bibi seusia dirimu, bibi bahkan belum bisa apa-apa," ucapnya tersenyum kecut.


" Tapi bibi sekarang sudah menjadi semi abadi tingkat enam tahap puncak, bukanlah itu pencapaian yang luar biasa...."


" Benar, tapi itu semua karena penguasa Muda."


" Bibi, di Benua Teratai Biru, tidak ada wanita yang seperti bibi, bahkan saat ibu menjadi penguasa agung dunia kecil itu," ucap Qing Yong Jun menjelaskan betapa hebatnya sosok Luo Jiao Lie tersebut.


Pada mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Qing Ruo muncul di dalam ruangan itu.


" Penguasa muda," ucap Luo Jiao Lie sambil berlutut  dengan hormat.


" Bangunlah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


Qing Yong Jun yang melihat kemunculan Qing Ruo, langsung  menghamburkan diri.


" Ayah," ucapnya sambil  memeluk Qing Ruo dengan erat.


" Jun er, tenanglah, ayah baik-baik saja," ucap Qing Ruo, sambil mengusap-usap rambutnya dengan lembut.


" Ayah...." Denga suara bergetar yang tidak ingin melepas pelukannya.


" Jiao Lie," ucap Qing Ruo memberi isyarat agar gadis itu memberikan ruang padanya bersama putranya tersebut.


Di hadapannya, Luo Jiao Lie yang memahami maksud Qing Ruo lalu undur diri.


" Penguasa, hamba pergi dulu," ucapnya  berbicara melalui telepati dengan hormat.


" Baik, terima kasih," ucap Qing Ruo sambil menganggukkan kepalanya dengan ramah.


Setelah Luo Jiao Lie pergi, Qing Yong Jun yang masih membenamkan wajahnya pada dada Qing Ruo tiba-tiba terisak.


Qing Ruo terseyum lembut, membiarkan Qing Yong Jun melampiaskan kesedihan dan kekesalan hatinya sambil  memeluknya dengan hangat. 


" Jun er, maafkan ayah yang telah membuatkmu khawatir," ucap Qing Ruo sambil mengusap-usap rambutnya dengan lembut.


" Ayah, bagaimana dengan ibu..." ucapnya pelan.


" Tenanglah, semuanya baik-baik saja," ucap Qing Ruo menjelaskan bahwa Qing Ling yang kini telah pulih dan sudah berada di istana emas.


" Benarkah?" dengan mata berkaca-kaca, menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Tentu saja, apakah Ayah pernah berbohong padamu..." Dengan tatapan lembut.


" Jun er, percaya pada ayah," ucapnya pelan.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Terima kasih sudah percaya," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Maaf ayah, Jun er menangis," ucapnya  pelan sambil mengusap air matanya.


" Jun er, tidak ada yang melarang laki-laki itu menangis. Lagipula tangisan bukanlah sebuah kelemahan, tetapi ungkapan dari sebuah ketulusan," ucap Qing Ruo menjelaskan.


" Terima kasih ayah, Jun er takut ayah akan menganggap itu lemah," ucapnya pelan,  membuat Qing Ruo terkekeh.


" Jadi sebelumnya kamu malu pada bibi Jiao Lie?" Menyadari alasan tindakannya yang terdiam dengan membenamkan wajahnya.


" Ayah...." Menunduk kepalanya.


" Baiklah... baiklah, Ayah tidak akan menceritakannya pada siapapun." Sambil mengusap rambutnya dengan lembut.


" Terima kasih, Ayah."


" Baiklah, mari kita temui ibu," ucap Qing Ruo dengan senyumnya yang hangat.


" Baik ayah."


" Swhus... swhus...." sosok mereka berdua bergerak meninggalkan tempat itu.


*****


Istana Emas.


Qing Ling yang telah selesai membersihkan diri, menemui Qing Lian An yang di jaga oleh Huli Bai di aula istana.


" Huli Bai, terima kasih, kembali lah untuk beristirahat," ucapnya dengan ramah.


" Tapi penguasa putri..." ucapnya ragu,  menetapkan Qing Ling dengan lekat.


" Tenanglah, aku baik-baik saja," ucap Qing Ling dengan tenang.


Setelah Qing Ling meyakinkan keadaannya, Huli Bai akhirnya meninggal tempat itu.


Tidak lama berselang, Qing Ruo dan Qing Yong Jun tiba di tempat itu.


" Ibu...." ucap Qing Yong Jun menghamburkan dirinya, memeluk Qing Ling sambil menangis.


" Sudahlah, ibu baik-baik saja," ucap Qing Ling sambil memeluknya dengan hangat.


" Ling er, aku mau mengganti pakaian," ucapnya berbicara melalui telepati, sambil meninggalkan tempat itu.


" Baik," jawab Qing Ling sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah Qing Ruo pergi, Qing Yong Jun masih menangis tersedu-sedu. Qing Ling yang memahami perasaan putranya itu hanya tersenyum, dan membelai rambutnya dengan lembut.


" Jun er, tenanglah, ibu baik-baik saja," ucapnya dengan lembut.


" Tapi ibu sebelumnya....." ucapnya ragu.


Qing Ling yang memahami maksud Qing Yong Jun menganggukan kepalanya.


" Jun er, maafkan ibu, tetapi ibu juga  tidak bermaksud demikian. Ibu sayang Zilong er,  Jun er dan An er, tapi ibu juga juga sangat menyayangi ayahmu. Kelak, ketika kamu sudah dewasa dan berkeluarga, kamu akan memahami bahwa suami istri itu hendaknya saling menyayangi, saling memberi dan saling mengorbankan diri satu sama lain. Selama ini,  ibu dan kita semua telah menerima semua kebaikan dan cinta ayahmu serta pengorbanan yang begitu  luar biasa, dan ibu hanya bisa melakukan semampu yang ibu bisa," ucap Qing Ling menjelaskan tindakannya dengan lembut.


Qing Yong Jun terdiam sesaat, lalu menantap Qing Ling dengan mata berkaca-kaca.


" Terima kasih ibu, Jun er sayang ibu...."


" Ibu juga sayang Jun er," ucap Qing Ling dengan lembut, sambil mengusap air matanya, lalu melanjutkan perbincangan santai mereka.


Tidak lama kemudian, pada saat mereka sedang berbincang-bincang santai, Qing Ruo yang telah mengganti pakaiannya kembali ke dalam ruangan itu.


" Ling er, Jun er," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Ayah, apakah sudah mau pergi?" tanya Qing Yong Jun.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Ada pekerjaan yang akan ayah selesaikan," ucapnya sambil menghampiri Qing Lian An yang tertidur di tempat tidurnya.


Namun pada saat Qing Ruo mengecup keningnya, tiba-tiba bayi kecil itu membuka matanya, menatap Qing Ruo dengan senyumnya yang manis.


" Tuan putri, ternyata ayah mengganggu tidurmu..." ucap Qing Ruo yang akhirnya meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya dengan penuh kehangatan.


" Sepertinya An er tidak ingin ayah pergi," ucap Qing Yong Jun.


" Sepertinya demikian," ucap Qing Ruo  sambil bermain-main dengannya.


Di dalamnya pelukannya, Qing Lian An yang masih belum bisa berbicara itu tampak begitu senang, apalagi saat  Qing Ruo membawanya berjalan-jalan disekitar aula istana itu.


Di tempat duduknya, Qing Ling hanya tersenyum kecil, menatap keluarga kecilnya itu dengan haru dan perasaan penuh cinta.


" Akan semakin lengkap jika Zilong er ada di sini," batinnya merindukan putra pertamanya  yang berada di Benua Teratai Biru itu.


Qing Ruo yang tertahan karena Qing Lian An yang terbangun, lalu menghabiskan waktunya di tempat itu.


" Gege," ucap Qing Ling sambil meminta  Qing Lian An yang kini mulai mengantuk.


" Biarkan saja, tunggu An er tertidur," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Baik," ucap Qing Ling sambil menganggukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian, Qing Lian An akhir tertidur. Dengan perlahan Qing Ruo lalu meletakkannya kembali ke atas tempat tidurnya.


" Akhirnya..." ucap Qing Ruo tersenyum senang, sambil menatap wajah mungil yang kini tertidur lelap itu, lalu mengarahkan pandangannya  Qing Ling dan Qing Yong Jun. 


" Apakah ayah sudah mau pergi?"


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Jun er, maafkan ayah yang tidak bisa bersama-sama kalian. Ayah  harus menyelesaikan pekerjaan di tempat ini, agar kita bisa segera pergi selatan," ucap Qing Ruo.


" Baik ayah, berhati-hatilah," ucapnya dengan tulus.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut.


Setelah berpamitan, Qing Ruo lalu  meninggalkan tempat itu.


" Swhus...." sosoknya lenyap dari pandangan Qing Ling dan Qing Yong Jun.


" Ibu..." ucap Qing Yong Jun dengan ragu.


" Jun er, bicaralah," ucap Qing Ling dengan lembut.


" Aku merasa aura dan lingkaran kekuatan dari tubuh ayah sedikit aneh, apakah ibu juga merasakannya?"


Qing Ling menganggukkan kepalanya.


" Tapi ibu juga tidak tahu maksudnya," jawab Qing Ling dengan jujur.


" Ini sangat aneh,  aura tubuh ayah masih Semi abadi  tingkat enam tahap menengah, tetapi lingkaran kekuatannya walaupun samar  sudah berada di tingkat sembilan," ucap Qing Yong Jun heran.


" Jun er, ibu juga tidak tahu, mungkin ini ada hubungannya dengan cincin giok hijau."


" Ibu benar, mungkin ini ada hubungannya dengan cincin Penguasa Agung itu," ucap Qing Yong Jun dengan penuh semangat.


" Ibu..." ucapnya saat merasakan dunia jiwa yang tiba-tiba bergetar.


____________


👉 👍 Terima kasih