Sang Penguasa

Sang Penguasa
303. Menemui Yin Rongyou dan Yin Xie.


Tamparan keras Yin Xie membuat Yin Lao Weida terlempar hingga belas meter yang langsung merontokkan giginya.


" Akh...." Rintihnya kesakitan berusaha bangun dengan darah segar keluar dari mulutnya.


" Badj**"n! Ternyata kalian berkerjasama dengan orang-orang dari klan Qing, memalukan!" ucapnya kesal.


" Lao Weida, jaga kata-kata mu!" ucap Yin Gan sambil bergerak dan melempar wajahnya.


" Plak...." Tamparan keras itu mengubah bentuk rahangnya. Tidak hanya itu, Yin Gan juga mematahkan kedua tangan dan kakinya, membuatnya kini hanya bisa meraung dengan suara tertahan.


" Sial, Mengapa harus bertemu dengan Qing Ruo itu..." Batinnya merintih kesakitan, sambil berusaha memulihkan tangan dan kakinya, namun belum sampai kaki dan tangan itu benar-benar pulih, Yin Gan kembali mematahkannya.


" Akh..." teriaknya dengan suara tercekat, menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.


***


Di luar dunia jiwa.


" Swhus...." sosok Qing Ruo muncul di dalam aula istana kediaman Yin Lao Weida.


" Penguasa," ucap Hu Yan Lan dan Long Chen dengan hormat.


" Kalian kembalilah," ucap Qing Ruo dengan tenang, sambil membuka gerbang dimensi dunia jiwa.


" Baik penguasa..."


Setelah Long Chen dan Hu Yan Lan kembali ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu mengubah tampilan wajahnya dengan sosok Yin Lao Weida sambil memeriksa pengetahuannya.


Tidak lama kemudian. Setelah dirinya selesai memeriksa pengetahuan tersebut, Qing Ruo lalu membersihkan aura dari pertempuran  yang mereka lakukan sebelumnya.


***


Di halaman istana tetua agung.


Puluhan prajurit yang baru saja tiba di tempat itu dikejutkan dengan kawasan halaman istana yang ternyata sedang tersegel.


" Sepertinya telah terjadi sesuatu," ucap prajurit itu berbicara pada rombongannya dengan khawatir.


" Saudara, apa yang harus kita lakukan?"


" Saudara, aku juga tidak tahu,  apakah kita harus memanggil tetua," ucap prajurit lainnya menanggapi.


Pada saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba perisai segel yang menutup istana itu lenyap.


" Saudara, segelnya telah terbuka..." Sambil bergerak memasuki istana dengan tergesa-gesa.


" Swhus... swhus..." sosok mereka muncul di dalam istana, menatap tempat yang begitu kacau tersebut dengan heran.


" Tetua agung..." ucapnya dengan hormat, menatap Qing Ruo yang duduk pada kursi utama dengan wajah kusut.


" Kebetulan sekali," batinnya sambil berdiri dari kursinya.


" Tetua agung?" tanya prajurit tersebut dengan kebingungan dan heran.


" Sebelumnya terjadi sedikit masalah, tapi sudah dapat diselesaikan. Kebetulan sekali kalian datang, aku ingin kalian membersihkan tempat ini," ucapnya sambil meninggalkan ruangan itu.


" Baik tetua agung." Menatap Qing Ruo dengan heran.


Setelah Qing Ruo benar-benar pergi, puluhan prajurit itu lalu mulai bekerja.


" Sebenarnya apa yang telah terjadi,  mengapa ruangan ini begitu kacau."


" Saudara, jika tetua agung tidak ingin  membicarakannya, itu artinya  masalah ini bersifat rahasia.  Sebaiknya kita segera menuntaskan pekerjaan ini," ucap pemimpin pasukan dengan wajah serius.


" Baik saudara..." sambil  bekerja dengan cekatan.


****


Di tempat lain. 


Qing Ruo terus bergerak memasuki kawasan dalam istana itu dengan tenang. Sesekali senyum mengembang dari sudut bibirnya. Niatnya mencari tempat untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalan ke puncak Nan Yin akhirnya menemukan tempat yang paling aman.


" Tetua agung..." ucap prajurit yang berjaga disepanjang lorong ruangan menyapanya dengan hormat.


Tidak lama kemudian, Qing Ruo akhirnya tiba di depan pintu kamar ruangan Yin Lao Weida.


" Tetua agung," ucap prajurit yang berjaga di tempat itu menyambut kedatangannya dengan hormat sambil  membuka pintu kamar.


" Prajurit, aku ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu," ucapnya dengan serius, sambil memasuki ruangan.


" Baik tetua Agung." Sambil menutup pintu kamar dengan perlahan, lalu berjaga.


****


Di dalam kamar.


" Swhus...." cakram emas muncul dan menutup kamar itu dengan perlahan.


Setelah menyegel ruangan itu, Qing Ruo lalu mengeluarkan Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau dari dalam dunia jiwa.


" Swhus.. swhus..." Sosok mereka berdua muncul di dalam ruangan itu.


" Penguasa..." ucap mereka berdua dengan hormat, menatap Qing Ruo yang masih menggunakan tampilan Yin Lao Weida dengan heran.


" Mingzhi, Zhoudau, apakah ada yang salah?"


" Penguasa, penampilan anda seperti sosok yang sedang di siksa oleh Yin dan rombongannya," ucap Huo Zhaodau dengan serius.


" Oh maaf," ucap Qing Ruo sambil mengubah tampilannya, sambil menjelaskan sosok yang dimaksud.


" Tetua agung klan Yin? Apakah itu berarti sekarang kita berada di kediaman Yin Lao Weida?" tanya Huo Mingzhi.


" Benar, saat ini kita sedang berada di dalam kamarnya," jawab Qing Ruo menjelaskan.


" Lalu penguasa, apa rencana penguasa selanjutnya?" tanya Huo Zhaodau dengan serius.


" Setelah urusan di puncak Zhu Yin ini selesai, aku akan bergerak ke puncak selatan," jawab Qing Ruo menjelaskan rencannya.


Setelah membicarakan rencananya, Qing Ruo lalu meminta Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau berjaga di dalam ruangan itu.


" Aku akan beristirahat di dalam dunia jiwa," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa," ucap Huo Zhaodau dengan hormat.


Setelah berkata-kata, Qing Ruo lalu memasuki dunia jiwa.


" Swhus..." sosoknya lenyap dari pandangan kedua Qilin api tersebut, meninggalkan cahaya biru keemasan yang mengambang di tengah ruangan. Dengan sigap, Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau lalu menyegel cahaya biru keemasan itu dengan perisai segel api hitam dan perisai segel api ungu.


****


Di dalam dunia jiwa.


" Swhus...." Sosok Qing Ruo muncul di puncak gunung selatan, mendapati Yin Gan, Yin Rongyou dan Yin Xie sedang menyiksa Yin Lao Weida.


" Penguasa...." ucap Yin Gan dengan hormat.


" Yin Gan, bawa dia ke penjara barat," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Baik penguasa..." Lalu meninggalkan tempat itu sambil membawa Yin Lao Weida yang tampak kesakitan tersebut.


" Tuan muda," ucap Yin Xie dan Yin Rongyou dengan hormat.


" Nona Rongyou, tetua Xie, maaf sebelumnya karena menempatkan kalian di tempat ini. Selain  sedang terburu-buru, aku juga  ingin nona dan tetua dapat menyesuaikan diri di dalam dunia ini terlebih dahulu," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Seharusnya kami  yang meminta maaf,  karena begitu merepotkan  tuan muda," ucap Yin Xie dengan hormat.


" Jika demikian, mari..." ucap Qing Ruo  memimpin rombongan itu bergerak menuju istana naga emas.


" Baik tuan muda..." Bergerak mengikuti Qing Ruo dengan tenang.


Di sepanjang tempat yang dilewati. Yin Rongyou dan Yin Xie tidak henti-hentinya berdecak kagum. Selain pemandangan yang begitu luar biasa,  aura yang begitu berbeda di tempat itu juga membuat mereka semakin nyaman. 


Tidak lama kemudian, Yin Rongyou dan Yin Xie akhirnya melihat sebuah istana emas yang berdiri tegak diatas awan dengan pilar emas  raksasa yang memancarkan aura yang begitu luar biasa dan kentara.


" Dunia ini mengingatkanku dengan wilayah tengah yang dipenuhi dengan istana megah dan aura emas," ucap Yin Xie pelan.


" Apak tetua pernah ke kawasan emas?"


Yin Xie menganggukan kepalanya.


" Tuan muda, aku juga pernah muda dan pernah memasuki kawasan itu untuk beberapa kali," jawabnya pelan.


" Lalu apa tanggapan tetua mengenai kawasan emas?"


" Tempat yang sangat luar biasa dan  menyenangkan, terutama dengan pemandangannya, namun wilayah emas tidak terlalu cocok untuk kami para pelatih gelap, selain kami  tidak bisa menggunakan kekuatan secara maksimal, sumber daya yang kami perlukan  di tempat itu juga sangat terbatas," jawab Yin Xie menjelaskan, hingga mereka akhirnya tiba di halaman istana naga emas.


" Swhus.... swhus...." sosok mereka mendarat di halaman istana tersebut dengan perlahan. 


" Penguasa," ucap Yuan Bai dan Yuan Hei yang sedang berkultivasi di halaman istana menyambut kedatangan Qing Ruo dan rombongan dengan hormat.


" Yuan Bai, Yuan Hei, lanjutkan saja," ucap Qing Ruo dengan ramah dan hangat.


" Baik penguasa..." Lalu kembali berkultivasi di tempat itu.


" Nona Rongyou, tetua Xie, ini adalah istana Naga Emas, yang merupakan istana kediaman putra pertamaku, Qing Zilong," ucap Qing Ruo menjelaskan tempat itu sambil membawa kedua tamunya itu memasuki istana tersebut.


" Nona Rongyou, tetua Xie, silakan," ucap Qing Ruo mempersilahkan kedua tamunya menempati kursi yang tersedia dengan ramah.


" Terima kasih, tuan muda," ucap mereka berdua dengan hormat.