
Qing Ruo sebenarnya sangat kesal, karena sebelumnya mengira para tetua tersebut dapat melihat arah dari dalam bola perak tersebut.
" Ternyata mereka benar-benar berjalan seperti orang buta." Membatin kesal.
" Swhus.... swhus...." Bola perak itu terus bergerak.
" Sekarang!" Ucap Lin Chang. Meminta rombongannya untuk segera bersiap.
" Swhus....." Bola perak itu terbuka, lalu membentuk tameng raksasa.
" Oh tidak...." ucap para murid klan Lin itu terkejut saat melihat ratusan sosok pendekar kaisar dewa yang di pimpin lima pendekar semi abadi tingkat tiga hingga tingkat empat bergerak menyerang mereka.
" Swhus.... swhus...." tembakan serangan pedang terbang dan serangan tapak roh keemasan muncul, melesat menyerang Qing Ruo dan rombongannya.
" Swhuss... swhus...." Lin Chang dan rombongannya juga melepaskan serangannya.
" Dhuar.... dhuar...." ledakkan dahsyat bergema, mengguncang seluruh kawasan barat kota Cheng yang kini menjadi pusat pertempuran.
Di antara kelompok murid Klan Lin itu, Qing Ruo terus bergerak sambil melepaskan tebasan pedang perak menghalau serangan yang terus diarahkan padanya.
" Tetua, apakah kalian mengenal mereka?"
" Tuan Hua Ruo, mereka adalah prajurit kota Ning," jawab Lin Chang sambil melepaskan tembakan pisau perak pada pasukan yang terus bergerak menyerang tetapi menjaga jarak Itu.
" Tuan Hua Ruo, kota Cheng memang sudah lama berseteru dengan kota Ning, namun kami tidak menyangka jika mereka benar-benar berani menyerang." Salah satu tetua menjelaskan.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Ternyata serangan ini sudah di rencanakan," ucap Qing Ruo.
" Benar tuan."
" Benar-benar strategi yang baik. Melemahkan kekuatan lawan sebelum melakukan serangan puncak." Qing Ruo membantin, sambil terus bergerak, dan melapaskan serangannya, mengamati strategi serangan yang dilepaskan prajurit kota Ning tersebut.
" Tetua," ucap para murid klan yang merupakan para pendekar semi abadi tingkat dasar yang kini mulai kewalahan. Serangan skala besar yang terus diarahkan pada mereka membuat kekuatan mereka mulai terkuras.
" Ini tidak akan efektif," ucap Qing Ruo saat Lin Chang terus bergerak membawa rombongan menghindar dan menjauh.
" Tuan Hua Ruo, apa yang harus kita lakukan?"
" Tetua, bergerak mundur ke arah timur hanya hanya akan membuat kita terpojok, karena kita akan bertemu dengan pasukan lainnya. Sebaiknya kita mendekati perisai pertahanan kota saja, karena kita juga tidak mungkin bergerak mundur.
" Baik," jawab Lin Chang sambil mengarahkan murid klannya.
" Sebagian menjaga perisai perak sebagai pertahanan dan sebagian melepaskan serangan pengacau. Kita harus segera tiba di dalam kota," ucap Lin Chang.
Empat tetua lalu mengendalikan perisai perak sebagai tameng untuk menahan serangan, sedangkan Lin Chang dan dua tetua lainnya membantu kelima murid klan melepaskan serangan semu.
Di dalam kelompok tersebut, Qing Ruo juga terus melepaskan serangan sambil mengamati situasi.
Dari jauh, di tempat yang berbeda. Qing Ruo dan rombongannya dapat melihat puluhan regu pasukan yang berjumlah ratusan prajurit, sama seperti kelompok yang sedang menyerang mereka itu, terus bergerak menyerang perisai pertahanan kota dan menggempurnya dengan ekstrem.
" Tidak perlu khawatir, karena kota masih baik-baik saja," ucap Lin Chang.
" Benar kota baik-baik saja, tetapi nyawa kalian yang sedang tidak baik-baik saja." Qing Ruo membatin, sambil terus bergerak.
Di hadapan mereka. Ratusan prajurit kota Ning yang sebelumnya terus menjaga jarak untuk melemahkan kekuatan Lin Chang dan rombongannya, kini mulai lepaskan serangan penuh mereka.
" Dhuar.... dhuar...." Ledakan dahsyat yang melepaskan percikkan cahaya yang saling bertabrakan dengan suara ledakan yang memekakan telinga itu terus mengguncang kawasan luar kota Cheng.
" Tetua, aku saja," ucap Qing Ruo bergerak, saat Lin Chang ingin bergerak menyelamatkan kedua murid klan itu.
" Swhus.... swhus...." Qing Ruo bergerak, meraih kedua tubuh itu dan membawanya ke dalam rombongan. Namun baru-baru saja Qing Ruo menyelamatkan kedua murid itu, satu murid lainnya terlempar, terkena serangan tapak dan melukainya dengan parah.
" Swhuss...." Qing Ruo bergerak menolong murid itu kembali.
" Bertahanlah," ucap Qing Ruo sambil memintanya untuk memulihkan diri di balik perisai perak tersesebut.
Serangan ekstrem itu membuat para murid klan Lin yang merupakan pendekar semi abadi tingkat dasar itu kini semakin melemah.
****
Dari jauh.
Di dalam perisai pertahanan kota. Para jenderal kota Cheng yang sedang menjaga perisai transparan keemasan itu, dengan jelas dapat melihat kemunculan Lin Chang dan rombongannya yang menjadi pusat serangan para prajurit kota Ning.
" Jenderal, perisai perak. Itu berarti mereka adalah orang-orang dari klan Lin. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya seorang komandan pasukan.
" Tidak ada yang bisa kita lakukan. Jika kita keluar, itu akan memberi celah pada musuh, karena memang seperti itulah tujuan mereka."
" Tapi jenderal, apakah kita akan membiarkan mereka seperti itu."
" Tentu saja tidak. Mereka adalah penduduk kota Cheng, dan pilar kekuatan kota. Tunggu hingga mereka mendekat."
" Baik jenderal."
****
Lima ratus meter dari perisai pertahanan kota. Qing Ruo dan rombongannya yang sedang berusaha mendekati tempat itu, mendapatkan tekanan dan gempuran habis-habisan dari prajurit kota Ning yang tidak ingin mereka mendekati kota itu. Bahkan perisai perak yang menjadi tameng untuk melindungi mereka dari satu sisi itu, kini mulai hancur. Membuat murid Klan Lin yang terluka begitu khawatir.
" Terus bertahan dan jangan berpisah." Lin Chang mengingatkan, sambil terus bergerak.
" Sebentar lagi," ucap Lin Chang sambil terus melepaskan serangannya.
Di balik perisai perak. Ke tiga murid klan Lin yang terluka, menatap Qing Ruo yang terus bergerak dengan bebas melepaskan serangannya.
" Saudara, akhirnya aku mengetahui penjelasan tetua Lin Chang ketika kita berada di dalam lorong dimensi ruang dan waktu."
" Saudara benar. Lihatlah, dengan kultivasi tingkat pendekar Kaisar dewa, tapi dia bahkan tidak terluka sedikitpun." Murid-murid itu berbicara melalui telepati sambil berusaha memulihkan diri.
" Saudara benar." Menatap Qing Ruo dengan heran.
" Tetua, biarkan mereka mendorong kita," ucap Qing Ruo tiba-tiba.
" Baik," jawab para tetua tersesebut yang langsung mengerti maksud Qing Ruo.
" Swhuss..." serangan tapak raksasa menghantam perisai perak itu. Mendorong mereka dengan ekstrem mendekati perisai pertahanan kota.
" Swhus...." Perisai emas transparan seperti air itu robek, membentuk celah. Bersamaan dengan keluarnya ratusan prajurit kota yang langsung melepaskan tembakan panah emas menghalau pasukan Kota Ning yang bergerak mendekati tempat itu.
" Sekarang!" ucap seorang jenderal yang ikut beserta pasukan itu memberi perintah pada Qing Ruo dan rombongannya untuk memasuki kota.
" Swhus... swhus...." Sosok Qing Ruo melesat, masuk ke dalam celah perisai transparan tersebut dan muncul di dalam kota Cheng lalu di ikuti Lin Chang dan rombongannya.
Setelah memastikan Qing Ruo dan rombongannya telah berada di dalam kota. Jendral itu lalu menarik pasukannya kembali ke dalam kota.
👉 Maaf ya kakak-kakak, hanya satu bab. Terima kasih.🙏