Sang Penguasa

Sang Penguasa
280. Semi Abadi Tingkat Sembilan Tahap Puncak.


Aula kultivasi.


" Swhus...." aura penindasan sangat dahsyat keluar dari dalam bejana langit, menghancurkan segel yang di buat oleh Huo Zhaodau dan rombongannya.


" Sangat kuat," ucap Long Chen, yang terdorong hingga belasan meter. Pada saat mereka hendak menyegel benjana langit tersebut, tiba-tiba Qing Ruo muncul di tempat itu.


" Penguasa," ucap Huo Zhaodau dan rombongannya menyambut kedatangan Qing Ruo dengan hormat.


Qing Ruo menganggukan kepala dengan senyumnya yang ramah.


" Kalian semua beristirahalah dan pulihkan diri, kita akan melanjutkan perjalanan," ucapnya dengan tenang.


" Tapi penguasa," ucap Mayi Gui sambil menatap bejana langit yang sebelumnya melepaskan aura penindasan.


" Tenanglah, serahkan padaku," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Baik penguasa." Lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah Mayi Gui dan rombongannya pergi, Qing Ruo  lalu mendekati bejana langit yang mengambang di udara itu dengan tenang. Setelah menyegel kawasan itu, Qing Ruo mengedarkan kekuatan Jiwanya, lalu membuka tutup bejana tersebut.


" Swhus...." secara perlahan  cincin giok berwarna hijau terang menyala, keluar dari dalam bejana tersebut, serta terus-menerus  melepaskan ledakan kekuatan yang berbeda.


Setelah merasa yakin bahwa cincin itu benar-benar tenang, Qing Ruo lalu membuat kontrak darah dengan membuat segel mantra langit.


" Swhus..." kekuatan darahnya memasuki cincin giok tersebut, lalu mulai terserap secara perlahan. Lima menit kemudian, tiba-tiba cincin giok hijau yang seperti menemukan tuannya itu  bergerak menghampiri Qing Ruo dengan  perlahan.


Dengan tenang, Qing Ruo lalu mengarahkan jari telunjuk kanannya.


" Swhus...." Cincin Giok Hijau itu menyusuri jari telunjuknya hingga terpasang sempurna.


" Swhus...." Kekuatan yang  begitu luar biasa mulai memasuki tubuhnya. Seperti gelombang air bah, kekuatan tersebut terus muncul, mengisi titik -titik meridian di tubuhnya serta memenuhi lautan Dantiannya.


Lima belas menit kemudian, Qing Ruo mulai merasakan kekuatan jiwanya terus meningkat, bahkan menggetarkan dunia jiwa.


Lima menit kemudian, secara perlahan lingkaran kekuatan di dalam tubuhnya mulai terbentuk, tidak hanya satu tetapi terus menbentuk lingkaran -lingkaran lainnya.


" Benar-benar kekuataan yang sangat mengertikan, jika aku tidak memasukan  rumput emas penguat jiwa, mungkin jiwaku sudah hancur...." batinnya.


Tidak lama kemudian,  tiba-tiba tubuhnya melepaskan ledakan aura semi abadi tingkat enam tahap puncak dan terus menerus meningkat.


" Swhuss... swhus...." Sosok Luo Feng, Qing Ling, Qing Yong Jun dan Mayi Gui dan rombongannya yang sebelumnya pergi ke istana naga emas, kembali di tempat itu, menatap Qing Ruo yang sedang naik tingkat dengan takjub.


" Ibu...." ucap Qing Yong Jun berbicara pada Qing Ling dengan gembira.


" Tenanglah, jangan mengganggu konsentrasi ayah mu," ucap Qing Ling dengan lembut.


Di hadapan mereka, Qing Ruo dengan tenang terus membiarkan kekuatan abadi cincin giok hijau penguasa agung itu  meningkatkan kekuatannya.


Lima belas menit kemudian, lima belas lingkaran kekuatan dari tubuh Qing Ruo kini benar-benar telah terbentuk.


" Swhus....." Ledakan aura Semi abadi tingkat sembilan tahap puncak mengedar dari tubuhnya.


" Trark...." Suara  petir yang berderak-derak ekstrem muncul melepaskan gelombang ledakan yang sangat mengerikan, membuat mereka semua yang ada di tempat itu bergerak menjauh.


" Petir tanpa warna," ucap Luo Feng dengan mata berbinar-binar, yang hanya dapat mendengar suara ledakan dan melihat kilatan cahaya  putih yang sesekali muncul.


Di sisinya, Luo Jiao Lie yang hanya pernah mendengar legenda kemunculan petir tanpa warna itu terdiam dengan mulut ternganga.


" Swhuss...." Qing Ruo tiba-tiba bertransformasi menjadi Phoenix  emas bermata biru dengan penampilan barunya. Di sekitar tubuhnya, secara perlahan mulai terbentu armor petir hitam keemasan dengan sembilan bola petir sebesar kepala orang dewasa yang  bergerak mengitari tubuhnya.


" Sembilan petir angin," ucap Luo Feng.


" Benar, itu adalah petir abadi yang dimiliki oleh  leluhur Shen Guoshi Qing Fengbao," ucap Long Chen dengan serius, membuat mereka semua terdiam takjub.


Lima belas menit kemudian, tubuh Qing Ruo kembali seperti semula, bersamaan dengan tenang tempat itu.


" Selamat pada penguasa muda," ucap Long Chen dan rombongannya berlutut dengan hormat.


" Bangunlah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Ayah selamat...." ucap Qing Yong Jun dengan hormat.


" Gege selamat..." ucap Qing Ling dengan bahagia.


Satu persatu mereka-mereka mengucapkan selamat pada Qing Ruo, hingga Luo Feng menghampirinya.


" Ruo er, selamat," ucapnya dengan gembira.


" Terima kasih, ayah..."


" Sebelumnya dalam proses peleburan cincin giok hijau, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Luo Feng dengan serius.


Qing Ruo tersenyum kecut.


" Untuk mengantisipasi kenaikan tingkat yang ekstrem, aku mencampur rumput Emas Penguat jiwa," jawab Qing Ruo pelan.


" Itu berarti ayah menggabungkan delapan kekuataan yang berbeda?" tanya Qing Yong Jun.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Jika ayah tidak melakukannya, kenaikan tingkat secara ekstrem ini akan menghancurkan jiwa ayah," ucap Qing Ruo yang dari awal sudah mengantisipasi hal itu,  namun dia juga tidak menduga reaksi kekuatan langit dan Bumi yang ingin membunuhnya dan memghancur cincin giok hijau itu.


Luo Feng dan semua orang yang ada di tempat itu mengangguk kepalanya, dan memahami tindakan Qing Ruo  yang  mengantisipasi hal tersebut sudah benar, namun mereka  juga  tidak menyangka jika reaksi  kekuatan langit dan  bumi yang bengitu menentang hal  itu terjadi.


Setelah menjelaskan masalah tersebut panjang lebar,  Qing Ruo lalu meminta mereka untuk kembali beristirahat.


Satu persatu mereka lalu bergerak meninggalkan tempat itu, menyisakan sosok Qing Ling yang  masih belum beranjak dari tempatnya.


" Gege, selamat..." ucapnya sekali lagi, sambil menghampiri Qing Ruo dan memeluknya dengan hangat.


" Ling er, terima kasih," ucap Qing Ruo sambil membalas pelukan itu dengan erat.


" Kini aku sudah tenang, karena selain sosok Abadi, tidak ada yang dapat mencelakai gege lagi," ucapnya dengan bangga.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Tinggal giliran Aling er," ucap Qing Ruo dengan lembut.


" Tenanglah, aku juga akan menyusul gege," ucapnya dengan lembut.


Setelah berbincang-bincang sejenak di tempat itu, Qing Ling lalu kembali ke istana emas.


Setelah Qing Ling pergi, Qing Ruo yang masih belum beranjak pergi, mengitari pandangannya memeriksa kawasan aula kultivasi yang telah hancur tersebut tersenyum kecut.


" Benar-benar mengerikan," batinnya sambil menyimpan bejana langit ke dalam cincin penyimpanannya.


" Swhus... swhus ....." tempat yang telah hancur porak poranda itu kini mulai kembali pada bentuknya semula, bahkan aula kultivasi kini mulai terbangun kembali.


Lima belas menit kemudian, akhirnya pekerjaan itu selesai. Qing Ruo yang akan melanjutkan perjalannya menuju gunung Langit Yin, lalu beristirahat di tempat itu untuk memperbaiki  pondasi kultivasinya.


Menjelang malam, Qing Ruo mengakhiri kultivasinya, lalu keluar dari dalam dunia jiwa.


" Swhus...." sosoknya muncul di hadapan Hu Yan Lan dan Long Yu Wei yang  sedang berbincang-bincang santai.


" Penguasa," ucap mereka dengan hormat.


" Kita akan  melanjutkan perjalanan," ucap Qing Ruo mejelaskan rencananya sambil ingin  meminjam lencana klan yang di miliki oleh Hu Yan Lan.


" Baik penguasa," sambil menyerahkan lencana klan dengan lambang harimau mata biru pada Qing Ruo.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil meminta mereka kembali ke dalam dunia jiwa.


" Baik penguasa." Dengan sikap hormat,  lalu memasuki gerbang dimensi  dunia jiwa yang telah Qing Ruo buka untuk mereka.


Setelah Hu Yan Lan dan Long Yu Wei kembali ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu keluar dari dalam ruangan itu.


" Tuan muda," ucap dua  prajurit  yang berjaga di depan pintu memberi hormat.


" Bangunlah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Apakah tuan muda akan segera pergi?" tanya prajurit itu dengan hormat.


"  Benar," jawab Qing Ruo dengan ramah, sambil meminta prajurit tersebut menyampaikan hal itu pada Yuan Ding dan putri Yuan Liu.


" Baik tuan muda."


Setelah berkata-kata, Qing Ruo lalu meninggalkan tempat itu, dan lenyap dari pandangan kedua prajurit tersebut.


" Ternyata tuan muda Qing Ruo tidak cukup ramah."


" Benar, aku mengira dia adalah orang yang kejam."


" Aku juga mengira serti itu, ternyata anggapan kita meleset jauh." Tersenyum bahagia.


" Saudara, mari kita memberi laporan," ucap prajurit tersebut lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo terus bergerak meninggalkan kawasan istana terlarang tersebut.


" Swhus... swshus...." Sosoknya bergerak dari pohon ke pohon yang ada di kawasan istana itu dengan tenang, sambil memeriksa dan mengawasi setiap tempat yang di lewatinya.


" Swhus... swhus...." sosoknya dapat melewati semua segel terlarang yang terdapat di kawasan istana, hingga akhirnya benar-benar keluar dari tempat itu.


" Swhus...." Sosoknya tiba di pinggiran istana, lalu bergerak menuju gerbang kota.


🙏 1 bab ya kak🙏