Sang Penguasa

Sang Penguasa
165. Kota Xi 2.


Qing Ruo dan Long Chen keluar dari halaman penginapan, terus bergerak melangkahkan kakinya menuju rumah lelang.


Di pimpin oleh Long Chen,  mereka berdua berbincang-bincang santai,  sambil menikmati suasana kota Xi yang menenangkan tersebut.


" Penguasa," ucap Long Chen ragu.


" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Penguasa, aku merasa para pemuda sebelumnya bukanlah kelompok baik-baik."


" Biarkan saja. Lagipula mereka tidak berbuat jahat pada kita."


" Penguasa benar. Tapi bagaimana jika mereka melakukan tindakan jahat pada orang lain?"


" Jika demikian, Apakah kita langsung memberi mereka pelajaran? Long Chen, aku rasa bukan seperti itu caranya. Ada waktu untuk diam dan ada waktu untuk menjadi pahlawan. Namun bukan berarti aku memandang sepele hal seperti itu."


" Baik penguasa, hamba mengerti."


" Long Chen, bagaimana dengan kekuatan yang ada di kota ini?"


" Penguasa, kota Xi ini di kuasai oleh dua belas klan dewa dan tiga klan dewa kuno, sehingga kota ini lebih aman dari kota lainnya. Bahkan rumah lelang Giok Es adalah milik salah satu  dari klan itu,"ucap ucap Long Chen menjelaskan.


Tidak lama kemudian mereka akhirnya melihat bangunan pagoda lima lantai yang tampak didatangi banyak orang.


" Penguasa, itu." ucap Long Chen menunjuk bangunan yang sangat besar tersebut, sambil terus bergerak mendekati bangunan tersebut.


Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba.


" Penguasa, kita tidak perlu berbaris seperti mereka, karena kita sudah memiliki lencana emas," ucap Long Chen, saat melihat Qing Ruo tiba-tiba berhenti di antara kerumunan itu.


" Long Chen, bukan itu maksudku. Lihatlah kelompok yang datang ini," ucap Qing Ruo meminta Long memeriksa kerumunan itu.


Long Chen terdiam beberapa waktu, sambil memeriksa kerumunan itu dengan seksama.


" Apakah kamu menemukan sesuatu?" tanya Qing Ruo.


" Penguasa, dari kerumunan ini, setiap orang memiliki kelompoknya sendiri. Aku merasakan  lima belas sampai dua puluh pengunjung ini adalah orang yang memiliki kekuatan darah yang sama, tapi anehnya mereka tidak membaur, tetapi terpisah dengan kelompok lainnya."


" Benar," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Penguasa, lalu apa yang harus kita lakukan?"


" Sebaiknya kita tidak menyinggung mereka." Sambil mendekati pintu masuk ruangan.


" Tuan," ucap penjaga menyambut kedatangan Qing Ruo dan Long Chen dengan hormat.


Sebelum penjaga itu bertanya, Qing Ruo sudah menujukan lencana emas yang dimilikinya, yang segera ditanggapi oleh penjaga tersebut dengan memanggil pelayan khusus yang berada di dalam ruangan.


" Mari tuan," ucap pelayan itu, membawa Qing Ruo memasuki ruangan dengan hormat.


Di lantai dasar rumah lelang, Qing Ruo dapat melihat  ratusan orang dengan tingkatan kultivasi pendekar kaisar Dewa hingga semi abadi tingkat tiga, tampak sedang berlalu lalang mencari  berbagai jenis sumberdaya yang mereka perlukan.


" Tuan muda apakah anda ingin melihat-melihat dan mencari sumber daya terlebih dahulu atau langsung masuk ke ruang lelang?" tanya sang pelayan dengan ramah.


Qing Ruo terdiam sejenak, lalu menatap Long Chen yang berada di sisinya.


" Long Chen, bagaimana dengan dirimu?" tanya Qing Ruo.


" Tidak perlu tuan. Sebaiknya kita langsung ke dalam ruang lelang saja," jawabnya dengan hormat, sambil mengubah panggilannya.


" Baik," jawab Qing Ruo sambil meminta pelayan itu mengarahkan mereka.


" Nona, apakah aku bisa bertemu dengan pengelola tempat ini?"


" Maksud tuan muda?"


" Nona, selain ingin mengikuti acara ini, aku juga ingin melelang sumber daya yang aku memiliki."


Sang pelayan tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatap Qing Ruo dengan serius.


" Apakah tuan serius?"


" Tentu saja," jawab Qing Ruo, sambil menunjukkan dua buah apel emas abadi. " Nona, apakah ini bisa dilelang?"


" Mari tuan," ucap pelayan tersebut tanpa menjawab, mengarahkan Qing Ruo dan Long Chen menuju ruangan khusus yang berada di lantai tiga rumah lelang tersebut.


Sambil membawa Qing Ruo menuju lantai tiga. Pelayan itu menjelaskan aturan yang ada di tempat itu.


" Tuan muda, lantai dasar adalah tempat kami menjual sumber daya tingkat rendah hingga tingkat menengah. Lantai dua khusus untuk acara lelang, dan lantai tiga adalah tempat khusus para petinggi dan tempat transaksi," ucapnya yang di tanggapi Qing Ruo dengan anggukan.


" Lalu bagaimana dengan lantai empat dan Lima?" Tanya Long Chen.


" Tuan, lantai empat dan lantai lima adalah wilayah terlarang untuk umum," jawab pelayan itu dengan ramah.


Sambil berbincang-bincang santai, mereka akhirnya tiba di depan pintu ruangan yang dijaga oleh dua prajurit, yang merupakan pendekar semi abadi tingkat dasar.


" Kabari nona. Tuan muda ini ingin bertemu," ucap pelayan itu berbicara pada salah satu penjaga, sambil menjelaskan tujuan Qing Ruo.


" Baik. Tuan tunggu sebentar," ucap penjaga itu, lalu memasuki ruangan.


Tidak lama kemudian, penjaga itu kembali, mempersilakan Qing Ruo memasuki ruangan.


" Tetua, maaf. Cukup tuan muda ini saja," ucap pelayan itu menghentikan Long Chen yang juga ingin memasuki ruangan.


" Tapi tuan," ucap Long Chen ragu, sambil menatap Qing Ruo yang menggelengkan kepalanya.


" Baik tuan," ucapnya lalu mundur dari tempat itu. Menunggu Qing Ruo di luar ruangan.


Setelah Long Chen menjaga jarak dari tempat itu. Qing Ruo lalu memasuki ruangan.


" Sangat ketat," batinnya. Sambil terus melangkahkan kakinya memasuki ruangan.


Tidak lama kemudian, Qing Ruo akhirnya tiba di depan pintu  ruangan lainnya, yang ternyata di jaga oleh dua pendekar lainnya.


" Silakan tuan," ucap penjaga itu,  sambil membukakan pintu ruangan.


" Terima kasih,"  ucap Qing Ruo dengan hormat.


Di dalam ruangan. Qing Ruo disambut oleh gadis cantik bergaun hijau, menatap kemunculan Qing Ruo dengan terpana.


" Tuan muda, aku Hong Dou, manager rumah lelang ini. Maaf atas ketidaknyamanannya."  Menangkupkan tangannya dengan hormat,  sambil mempersilakan Qing Ruo  duduk dengan ramah.


" Terima kasih nona, aku Na Ruo," ucap Qing Ruo dengan tenang, sambil menempati kursi yang tersedia.


" Tuan muda Na Ruo, penjaga telah menyampaikan tujuan kedatangan anda. Apakah benar tuan akan melelang sumber daya yang tuan  dimiliki ?"


" Benar nona," sambil menunjuk lima apel emas yang sudah berevolusi.


" Ini adalah sumber daya yang luar biasa. Di dalam daftar lelang hari ini, kami juga akan melelang apel emas, hanya saja apel tersebut masih belum berevolusi." Menatap apel emas yang memancarkan aura emas yang menenangkan.


" Apakah aku juga bisa melelang benda lainnya?"


" Tuan muda Na Ruo, apapun sumber daya yang tuan miliki, kami rumah lelang Giok Es, siap melelangnya, asalkan bukan sumberdaya tingkat rendah," ucap Hong Dou dengan senyumnya yang manis.


" Baik, Jawab Qing Ruo, lalu mengeluarkan lima buah bodhi, membuat Hong Dou ternganga.


" Ini buah Bodhi yang telah lama hilang dari daratan ilahi," ucapnya dengan penuh semangat.


Qing Ruo yang tidak menyangka jika buah bodhi adalah buah langka juga sedikit terkejut.


" Tuan Na Ruo, darimana tuan mendapatkan buah ini?" menatap Qing Ruo dengan lekat.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Rahasia nona," jawab Qing Ruo santai.


Hong Dou yang sudah menduga jawaban Qing Ruo seperti itu, mengangguk kepalanya.