
Di tempat lain.
Perbatasan sungai es Utara.
Huo Mingzhi terus bergerak membawa Qing Ruo yang berada di atas punggungnya dengan kecepatan yang luar biasa, terus bergerak menuju hulu sungai es.
Setelah bergerak sepanjang waktu, tiga jam kemudian, mereka akhirnya tiba di hutan teratai raksasa.
" Penguasa, ini?" tanya Huo Mingzhi.
" Hutan teratai raksasa. Setelah melewati tempat ini, akan ada kota kecil Hua, dan aku ingin beristirahat di tempat itu," jawab Qing Ruo sambil meminta Huo Mingzhi berhenti di tepi hutan tersebut.
" Baik penguasa, tapi mengapa harus beristirahat di kota Hua?'
" Karena itu adalah satu-satunya tempat netral, dan tentunya lebih aman."
" Maksud penguasa?" Tanya Huo Mingzhi penasaran.
" Mingzhi, kawasan perbatasan utara masih belum aman, karena orang-orang dari klan Yin, masih belum meninggalkan tempat ini. Terlebih lagi pasukan jubah emas yang sedang memburu mereka," ucap Qing Ruo menjelaskan keberadaan klan Yin yang sedang membuat masalah dengan pasukan jubah emas.
" Berarti sebelumnya penguasa berurusan dengan mereka?"
" Benar," jawab Qing Ruo.
" Lalu apa rencana penguasa selanjutnya?"
" Pertama aku ingin memulihkan diri, sambil mencari informasi penting lainnya, setelah itu mencari cara untuk mengambil sumber daya yang di cari oleh orang-orang dari klan Yin."
" Maksud penguasa."
" Mingzhi, aku yakin orang-orang dari klan Yin pasti sedang mencari sesuatu di kawasan ini."
" Aku rasa penguasa benar, karena tidak mungkin mereka tiba-tiba melakukan tindakan konyol dengan menantang pasukan langit, apalagi mengorbankan anggota klan mereka sendiri. Aku yakin itu pasti sumber daya yang sangat berharga..."
" Aku rasa juga demikian," ucap Qing Ruo.
Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Huo Zhaodau muncul disisi mereka.
" Zhoudau, bagaimana?" Tanya Qing Ruo.
" Aman penguasa..."
" Baik, kalian berdua periksa kawasan ini. Ingat, untuk tetap bersama. Jika terjadi sesuatu yang berbahaya, panggil aku." Sambil mengeluarkan Thou Thou dan keempat saudaranya.
" Baik penguasa..." Sambil bergerak meninggalkan Qing Ruo..
Setelah Huo Zhaodau, Huo Mingzhi, Thou Thou dan rombongannya pergi, Qing Ruo lalu melanjutkan perjalanannya, memasuki hutan teratai raksasa.
Setelah melewati pohon-pohon teratai raksasa setinggi puluhan meter itu, tiba-tiba dari jarak dua kilometer, Qing Ruo mulai merasa beberapa pasang mata mengawasi pergerakannya.
" Pengitai perbatasan. Itu artinya sudah tidak jauh," ucap Qing Ruo membatin, sambil terus bergerak dengan tenang.
Dua puluh lima kilometer kemudian, Qing Ruo akhirnya melihat kota Hua, kota kecil berbenteng yang dijaga oleh prajurit dengan persenjataan lengkap.
Pada saat mendekati gerbang kota.
" Swhus...swhus..." Beberapa prajurit berjubah perak menghampirinya.
" Tuan," ucap prajurit tersebut menangkupkan tangannya dengan hormat, yang juga langsung di balas oleh Qing Ruo dengan hormat.
" Anda memasuki kota Hua, jelaskan tujuan kedatangan anda..." Menatap Qing Ruo dengan penuh selidik, terlebih lagi dengan pakaian Qing Ruo yang masih kusut dan penuh dengan bercak darah.
" Prajurit, aku ingin beristirahat dan memulihkan diri," Jawab Qing Ruo dengan jujur.
Cukup lama prajurit itu memperhatikan Qing Ruo.
" Tuan, Identitasnya...."
Dengan tenang Qing Ruo lalu menunjukkan lencana Klan Luo, yang diberikan oleh Heian Bai pada saat mereka berada di samudera kehampaan sebelumnya.
"Shen Shandian Luo," ucapnya dengan hormat sambil meminta prajurit yang berjaga membuka gerbang benteng.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu mendekati gerbang benteng.
Setelah membayar biaya masuk sebesar dua ratus lima puluh kristal jiwa abadi, Qing Ruo lalu dipersilahkan untuk memasuki tempat itu.
" Shen Hua," Qing Ruo membatin saat merasakan ledakan aura emas dari pusat kota. Dia tidak menyangka jika kota Hua adalah klan dewa yang menyamar menjadi klan manusia.
" Cukup menarik," ucapnya sambil terus melangkahkan kakinya untuk mencari penginapan.
Setelah berjalan cukup lama, Qing Ruo akhirnya tiba di pusat kota yang sangat ramai tersebut. Tanpa menghiraukan pandangan semua orang yang tertuju pada. Dua ratus meter kemudian, Qing Ruo akhirnya menemukan sebuah penginapan sederhana.
" Selamat datang di penginapan Bunga Persik tuan." Seorang pelayan wanita menyambut kedatangannya dengan penuh selidik.
" Nona, aku perlu kamar untuk dua hari..." ucap Qing Ruo dengan wajah kelelahan.
" Kamar biasa atau-"
" Yang paling baik..."ucap Qing Ruo cepat.
" Baik. Silakan tuan membayar terlebih dahulu." Mengarahkan Qing Ruo pada meja kasir.
Qing Ruo ganggukan kepalanya, sambil menyerahkan dua ratus ribu kristal jiwa abadi pada pelayanan tersebut.
Setelah membayar biaya penginapan, Qing Ruo lalu diarahkan oleh pelayan menuju ruangannya. Sepanjang lorong menuju ruangan, tampak pelayan itu sedikit ketakutan, sehingga membuat Qing Ruo merasa kurang nyaman.
" Pelayan ada apa?" tanya Qing Ruo dengan ramah.
" Tuan, apakah anda baru saja membuat masalah?"
" Maksud nona?"
" Tuan, penginapan bunga persik kami adalah penginapan kecil yang tidak mampu membayar pendekar tingkat tinggi, sehingga kami tidak bisa memastikan keamanan tempat ini dengan lebih baik, dan kami-"
" Aku mengerti. Nona tenanglah. Aku datang untuk beristirahat. Aku bukan tawanan perang, ataupun penjahat. Dan aku menjamin penginapan ini akan baik-baik saja." Sambil menunjukam lencana emas Na Mu yang ada padanya.
" Tu-tuan, komandan pasukan jubah emas..." Menatap Qing Ruo dengan terbata-bata.
Qing Ruo menganggukan kepalanya, menatap pelayan tersebut dengan ramah.
" Ini adalah rahasia kita berdua,"ucap Qing Ruo dengan suara dalam.
" Baik komandan, hamba mengerti..." Dengan raut wajah yang kini mulai terlihat tenang.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
" Nona, mahon untuk tidak menyebutkan nama komandan."
" Maaf komandan, maksud hamba tuan," ucapnya karena terlalu bersemangat.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya tiba di ruangan yang dimaksud.
" Silakan tuan. Selamat beristirahat," ucapnya dengan sopan dan ramah.
" Baik, terima kasih nona." Sambil memasuki ruangan.
Setelah memastikan pelayan tersebut benar-benar pergi, Qing Ruo lalu mengunci pintu dan menyegel ruangan itu.
" Swhuss...." Liong Hei, Yuan Bai, Yuan Hei, Yu Jierui, Hu Shan, Wuya Hai, Mao Huo, Tian Feng, Tian Lu Ye, Qiong Du, Qiong Da, Zin, Zan, Tu Hai, dan Jinse keluar dari dalam dunia jiwa.
" Penguasa..." ucap mereka ragu, saat melihat kondisi Qing Ruo yang tidak terlihat baik-baik saja.
Qing Ruo menganggukan kepalanya, menatap para pelayannya itu dengan hangat.
" Tenanglah. Aku baik-baik saja," ucap Qing Ruo santai, sambil meyakinkan mereka.
" Aku ingin kalian mulai membiasakan diri dengan daratan ilahi. Saat ini kita bearada di kota Hua, sebuah kota Klan Dewa yang menyamar menjadi kota manusia. Ingat, jangan melakukan tindakan yang dapat menarik perhatian. Apalagi tebang di atas kota. Yuan Bai, Yuan Hei, Kalian berdua tetap berada di dalam ruangan, dan yang lainnya, silakan mencari pengalaman baru," ucap Qing Ruo dengan ramah.
" Baik penguasa..." Dengan gembira.
" Lianghao, Liong Hei mungkin kalian sedikit lebih mengerti. Dampingi mereka..."
" Baik penguasa." Lalu membawa rombongan itu keluar dari dalam kamar.
Setelah Yu Jieru dan rombongannya pergi. Qing Ruo meminta Yuan Bai dan Yuan Hei berjaga, lalu memasuki dunia jiwa.
***
Di dalam dunia jiwa.
Kedatangan Qing Ruo di dalam istana emas disebut Qing Ling dengan panik.
" Gege, apa yang terjadi?" Menatap Qing Ruo dengan lekat, sambil memeriksa tubuh Qing Ruo.
" Tenanglah, aku baik-baik saja," jawab Qing Ruo tenang.
" Gege mengapa selalu seperti ini," ucapnya sambil menanggalkan pakaian kotor Qing Ruo satu per satu dengan perlahan.
" Duduklah," ucapnya lembut, lalu bergegas Keluar ruangan.
" Awasi An er," ucapnya sambil berlalu.
" Baik," jawab Qing Ruo sambil menatap wajah mungil yang tertidur pulas.
Tidak lama kemudian, Qing Ling kembali sambil membawa ember yang berisi air hangat, lalu mulai membersihkan tubuh Qing Ruo dengan perlahan.
" Gege, sebenarnya, apa yang terjadi?" Sambil membersihkan tubuh Qing Ruo.
" Aku tanpa sengaja bertemu dengan semi abadi tingkat tujuh-"
" Apa!" Dengan wajah kesal, membuat Qing Ruo tersenyum kecil.
"Apakah Gege senang?"
" Istriku, apakah kamu sedang marah atau bahagia?" Tanya Qing Ruo berkelakar.
" Apakah aku ini sedang tertawa?" Dengan wajah yang semakin kesal.
" Tapi mengapa wajahmu semakin cantik..." Membuat Qing Ling meluruskan wajahnya.
" Istriku, aku selalu mengingat kata-katamu untuk tidak memaksakan diri. Lihatlah, jika aku benar-benar bertarung melawan mereka, apakah mungkin aku bisa baik-baik saja seperti ini. Lagi pula ada dua wanita yang selalu aku rindukan menungguku di dalam dunia jiwa." ucap Qing Ruo dengan lembut, membuat Qing Ling terdiam.