
Menjelang Pagi.
Qing Ruo mengakhiri tindakannya yang memulilhkan kekuatan dengan kristal jiwa abadi.
Dengan perlahan aura semi abadi tingkat tiga tahap puncak yang sebelumnya terus mengedar dari tubuhnya, dengan perlahan menghilang.
" Masih ada waktu," batinnya, lalu meninggalkan aula kultivasi, bergerak menuju danau giok biru untuk memulihkan lukanya di tempat itu.
" Swhus... swhus...." tubuhnya melesat dengan cepat.
Dalam waktu singkat, Qing Ruo akhirnya tiba di danau Giok biru.
Di tempat itu..
Qing Ruo langsung memasuki dasar danau untuk menyerap kekuatan dari tongkat emas Shen Guoshi Yisheng dari dekat.
Dua jam kemudian.
Pada saat dunia jiwa benar-benar sudah terang, Qing Ruo lalu meninggalkan tempat itu, bergerak menuju istana petir kuno.
" Swhus...." Sosok tiba di halaman istana yang disambut oleh Qing Yong Jun yang sedang berlatih di temani oleh Luo Feng di tempat itu.
" Ayah..." ucapnya dengan gembira.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Lanjutkan latihanmu," sambil mengusap rambut Qing Yong Jun dengan lembut, lalu menghampiri Luo Feng yang duduk di kursi taman.
" Ayah," ucap Qing Ruo dengan hormat, sambil menanyakan keadaan sang penguasa tersebut.
" Ruo er, seperti yang kamu lihat," jawabnya dengan santai, sambil menanyakan tujuan kedatangan Qing Ruo di tempat itu.
" Ayah, aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Qing Ruo dengan hormat.
" Bicaralah..."
" Apa yang ayah ketahui mengenai tongkat emas Shen Guoshi Yisheng?"
" Apakah kamu menemukannya?"
Qing Ruo menganggukkan kepalanya, membuat Luo Feng begitu bersemangat.
" Ruo er, tongkat emas Shen Guoshi Yisheng itu merupakan benda berharga, sebuah pusaka penyembuhan tingkat tinggi, karena memiliki Aura spiritual emas jiwa darah."
" Tapi Ayah, tongkat emas itu tidak utuh," ucap Qing Ruo pelan.
" Tentu saja. Karena tongkat emas itu di hancurkan oleh Leluhur utama Qing Tian. Menemukan bagiannya saja itu sudah cukup," ucap Luo Feng menjelaskan.
Qing Ruo menganggukan kepala lalu menjelaskan bagaimana dia mendapatkan potongan tongkat emas itu dengan rinci, serta menempatkan pusaka tersebut di Danau Giok Biru.
" Benar-benar keberuntungan yang luar biasa. Ruo er, perlu kamu ketahui. Sebenarnya tongkat emas yang sangat dibanggakan oleh Yisheng itu dihancurkan oleh leluhur utama Qing Tian menjadi tiga bagian. Namun aku tidak menyangka, jika klan Liu ternyata memiliki dua potongan lainnya."
Setelah mendengar penjelasan Luo Feng, Qing Ruo akhirnya merasa yakin bahwa kekuatan spritual yang dilepaskan oleh patahan tongkat emas itu tidak berbahaya.
" Ayah," aku ingin ayah memulihkan kekuatannya di danau giok biru," ucap Qing Ruo menjelaskan tujuan utama mendatangi tempat itu.
" Baik, aku mengerti," ucap Luo Feng dengan gembira.
Setelah berbincang-bincang mengenai keberadaan tongkat emas Shen Guoshi Yisheng, Qing Ruo lalu berpamitan pada Luo Feng dan Qing Yong Jun, bergerak meninggalkan istana petir kuno, lalu keluar dari dunia jiwa.
" Swhus..." sosoknya muncul di dalam kamar penginapan. Menjumpai Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau yang sedang menyerap aura spiritual di dalam ruangan tersebut.
" Penguasa," ucap kedua Qilin api tersebut menyapa Qing Ruo dengan hormat.
" Apakah ada sesuatu yang mencurigakan?"
" Tidak ada penguasa, hanya saja dua sosok semi abadi tingkat dua yang berada di luar ruangan, terus berjaga tanpa meninggalkan tempat ini.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya, lalu meminta kedua kedua Qilin Api tersebut kembali ke dalam dunia jiwa.
Setelah Huo Zhaodau dan Huo Mingzhi kembali ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo lalu keluar dari dalam kamar, menujunya lantai dasar, untuk menikmati suasana pagi kota di restoran penginapan sebelum melanjutkan perjalanannya ke utara.
Dengan tenang Qing Ruo lalu menuju meja yang berada di sudut ruangan, dan duduk di tempat itu dengan tenang.
Di tempat itu, beberapa sosok tiga sosk pria paruh baya yang merupakan para pendekar semi abadi tingkat tinggi, duduk dengan tenang tanpa memperhatikan Qing Ruo sedikitpun, berbeda dengan para pendekar tingkat raja dewa, hingga pendekar tingkat kaisar dewa yang menatap Qing Ruo dengan seringai dingin.
Tidak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya.
" Nona, aku ingin mencoba masakan terbaik di tempat ini," ucapnya memesan makanan.
" Baik tuan, mohon untuk menunggu," ucapnya dengan hormat lalu meninggalkan Qing Ruo.
Sambil menunggu pelayanan membawakan pesanannya, Qing Ruo mencari informasi dengan mendengarkan percakapan para tamu yang ada di tempat itu.
" Sepertinya tidak ada informasi penting. " batinnya, karena orang-orang yang ada di tempat itu hanya fokus membicarakan perekrutan prajurit pasukan Kekaisaran Langit
Tidak lama kemudian pesanannya datang. Namun tiba-tiba seorang pemuda memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa.
" Saudara, ada apa?"
" Saudara-saudara, aku baru saja kembali dari alun-alun kota. Jenderal utama dari kekaisaran langit telah tiba, dan mereka akan segera memulai kompetisi untuk melakukan perekrutan..." Dengan penuh semangat.
" Benarkah...?"
" Benar. Mari cepat, karena sudah banyak orang yang telah datang," ucap pemuda tersebut sambil bergerak membawa rombongannya.
Tanpa menunggu lama, puluhan para pemuda yang ada di tempat itu juga ikut bergegas meninggalkan restoran penginapan, beberapa di antara mereka bahka belum sempat menikmati makanannya, membuat Qing Ruo hanya bisa menggelengkan kepala.
Dalam waktu singkat tempat itu menjadi sepi, menyisakan tiga pemuda lainnya serta tiga pria paruh baya, yang bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya.
Tidak lama kemudian, salah satu dari pria paruh baya itu membuka percakapan.
" Nak, apakah kamu tidak ikut bersama mereka?" Tanya pria paruh baya tersebut, berbicara pada Qing Ruo dengan ramah.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum ramah pada sosok pria paruh baya tersebut.
" Tetua aku tidak tertarik," jawab Qing Ruo dengan hormat.
" Oh, ini menarik sekali. Nak, apakah kamu tidak menyukai kekaisaran langit? tanya seorang pria paruh baya lainnya, menatap Qing Ruo dengan senyumnya yang ramah.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya..
" Tidak tertarik, bukan berarti aku membenci kekaisaran Langit. Aku adalah orang yang tidak ingin terikat dan selalu ingin bebas," ucap Qing Ruo menjelaskan dengan senyumnya yang ramah.
Pria paruh baya tersebut tersenyum santai, menatap Qing Ruo yang begitu tenang dihadapannya dengan heran.
" Tapi bagaimana jika kekaisaran langit memaksa?" tanya salah satu tetua.
Qing Ruo dengan senyumnya yang ramah menatap ketiga sosok pria paruh baya yang hanya berjarak tiga meja dari tempatnya itu dengan santai.
" Tetua, itu sama saja dengan mencari mati," jawab Qing Ruo santai, mengejutkan para tetua tersebut.
" Nak, itu berarti kamu menentang perintah. Apakah kamu yakin akan melakukannya?"
Qing Ruo mengerutkan keningnya menatap ketiga pria paruh baya tersebut dengan heran.
" Tetua, apakah ada yang salah dengan kata-kataku?"
" Tentu saja nak," jawab tetua tersebut dengan cepat.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
" Tetua, jika Kaisar Langit benar-benar memiliki ide seperti itu? Bukankah dia ingin membunuh dirinya sendiri, karena bagaimanapun juga, memaksa seseorang untuk bekerja pada kita itu sama halnya dengan menciptakan musuh sendiri. Seorang pelayan yang patuh dan setia saja bisa berkhianat, apalagi mereka yang bekerja dibawah tekanan." Qing Ruo menjelaskan, sambil menggelengkan kepalanya.
" Nak, ada banyak cara yang dapat digunakan supaya orang tersebut dapat menjadi patuh pada perintah. Salah satunya dengan menindas mereka, dan menemukan letak kelemahan mereka.
Qing Ruo menanggukkan kepalanya.
" Kekuatan dan kekuasaan memang bisa digunakan untuk menindas, tetapi sampai kapan? Tetua, hanya batu yang tidak melawan, walaupun demikian, kadang batu yang tidak bisa mencelakai orang lain, tetapi juga bisa membuat celaka, apalagi sosok yang bernyawa. Tetua, kita tidak pernah tahu kedalaman hati, dan luasnya pikiran orang lain. Seseorang yang terus berada di bawah penindasan, akan menyusun rencana dengan pikiran dan melakukannya dengan hatinya.Di saat berkuasa kita memang dapat melakukan apapun, tetapi ketika kekuatan dan kekuasaan itu berakhir, maka masalah yang sesungguhnya akan datang. Selain membebani diri sendiri, masalah itu juga akan berimbas pada generasi muda yang bahkan tidak terlbat sama sekali dengan masalah itu." ucap Qing Ruo, sambil menikmati makanannya dengan santai.
Ke tiga pria paruh baya itu terdiam, bahkan tiga pemuda lainnya yang masih berada di dalam ruangan itu juga tidak kalah terkejutnya, menatap Qing Ruo dengan penuh selidik.