
Di tempat lain.
Qing Ruo terus melangkahkan kakinya meninggalkan kawasan istana, menuju gerbang utara kota dengan santai. Sambil berjalan meninggalkan kawasan pusat kota, tidak lupa dirinya mengabari, Hu Shan dan rombongannya.
Setelah berjalan cukup lama, Qing Ruo akhirnya singgah di sebuah kedai sederhana, yang tidak jauh berada dari gerbang Utara Kota.
" Nona," ucap Qing Ruo memanggil seorang pelayan wanita, dan memesan minuman.
" Apakah tidak sekalian dengan makanannya tuan?"
Qing Ruo menggelengkan kepalanya dengan tersenyum ramah.
" Nantinya saja," ucapnya santai.
" Baik tuan, tunggu sebentar..." ucap sang pelayan sambil bergegas untuk menyiapkan pesanan. .
****
Di tempat lain.
Hu Shan dan rombongannya yang sedang menikmati suasana kota Danau Emas, dan sedang mencari berbagai jenis informasi, tiba-tiba dikejutkan dengan pesan dari Qing Ruo.
"Penguasa akan segera pergi," ucapnya, mengabari rombonganya, lalu bergegas menuju kawasan gerbang utara Kota.
***
Kedai sederhana utara kota.
Qing Ruo duduk dengan tenang, menikmati minumannya, sambil mengamati semua orang yang ada di tempat itu dengan santai.
Para penduduk kota yang datang di kedai sederhana itu, tampak begitu senang, berbincang-bincang santai sambil tertawa ria.
" Saudara, Aku rasa dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun kedepan, Kota Danau Emas akan menjadi ramai."
" Aku rasa juga demikian, karena tidak menutup kemungkinan, orang-orang yang selalu mencari tempat yang aman untuk tinggal akan datang di kota ini."
" Saudara benar, karena sudah dapat dipastikan, bahwa kota Danau Emas akan menjadi salah satu kota yang paling aman di kawasan wilayah perbatasan Utara ini." sambil tersenyum senang.
" Benar, kemunculan seseorang dari klan kuno yang sangat kuat itu akan menjamin keamanan kota ini. Bahkan beritanya kini telah tersebar di kota lain," ucap pemuda tersebut dengan bangga, membuat Qing Ruo yang duduk tidak jauh dari tempat mereka, hampir menyemburkan minuman dari mulutnya.
" Tuan, apakah ada yang salah?" Tanya sang pemuda dengan raut wajah masam, tersinggung dengan tindakan Qing Ruo.
" Tidak ada saudara, aku hanya terlalu bersemangat..." Jawab Qing Ruo memberi alasan, sambil menahan tawanya.
" Jika saja orang-orang dari klan Nan tahu bahwa aku telah membohongi mereka, mungkin kisah mereka akan berbeda," Qing Ruo membatin.
" Saudara, apakah Anda bukan dari penduduk kota ini?"
" Benar. Aku bahkan baru saja tiba," jawab Qing Ruo.
" Wajar saja, ternyata Anda adalah orang baru, sehingga tidak tahu peristiwa penting yang terjadi beberapa hari yang lalu," ucap Pemuda tersebut dengan penuh semangat.
" Maksud saudara?" tanya Qing Ruo, penasaran.
" Suadara, aku tidak perlu menceritakannya dengan detail, aku dapat mengatakan bahwa anda aman di kota ini."
" Saudara aku semakin tidak mengerti," ucap Qing Ruo berpura-pura.
" Hais, perlu saudara ketahui bahwa kota Danau Emas ini berada dibawah perlindungan Pendekar tingkat tinggi dari klan Dewa Kuno yang sangat kuat." Dengan wajah bangga.
Qing Ruo mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Sungguh kota yang beruntung, tapi apakah itu akan menjamin kota ini akan tetap aman?" tanya Qing Ruo pelan, sambil terus ramah.
" Tentu saja, bahkan mendengar namanya saja, orang akan langsung pergi," jawab sang pemuda itu dengan yakin.
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Semoga saja," ucap Qing Ruo pelan.
Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Hu Shan dan rombongannya tiba.
" Tuan," ucapnya mengubah panggilannya.
" Duduklah," ucap Qing Ruo dengan ramah, sambil memesan makanan dan minuman.
" Terima kasih Penguasa," ucap Hu Shan dengan hormat, berbicara melalui telepati.
Sambil menunggu pensanan tiba, Qing Ruo lalu menjelaskan tujuannya.
" Hu Shan, Tu Hai, aku akan segera melanjutkan perjalanan. Adapun Huli Bai dan Huli Hei, akan ikut bersamaku."
" Apakah Penguasa akan pergi sekarang juga?" Tanya Yu Jieru.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Semakin cepat semakin baik, karena bagaimanapun juga, aku harus segera tiba di wilayah selatan dan membangun kekuatan. Lianghao, Liong Hei, pandu saudara-saufara kalian."
" Baik Penguasa, secepatnya kami juga akan segera berangkat," jawab Hu Shan.
" Tenanglah, kalian tidak perlu tergesa-gesa. Kalian dapat beristirahat beberapa hari lagi sebelum melanjutkan perjalanannya."
" Baik Penguasa."
Tidak lama kemudian, pelayan kedai kembali, membawa makanan dan minuman.
Tindakan Hu Shan dan rombongannya pada Qing Ruo menarik perhatian para pengunjung yang lain, bahkan para pemuda yang sebelumnya berbicara dengan Qing Ruo, menatap kelompok baru tersebut dengan heran.
" Siapa Pemuda ini sebenarnya? Lihatlah para pendekar yang baru datang itu memperlakukannya dengan sangat hormat." berbicara pada rombongannya.
" Saudara, aku jug penasaran, tapi mereka sepertinya berbicara melalui telepati..."
" Benar..."
Di hadapan para pengunjung lainnya tersebut.
Qing Ruo berbincang-bincang santai hingga menjelang sore, lalu mengakhiri perbincangan mereka.
" Baik, aku akan pergi. Jaga diri kalian. Jika terjadi sesuatu, segera kabari aku," ucap Qing Ruo dengan tegas.
" Baik Penguasa," jawab mereka dengan hormat.
Dengan tenang Qing Ruo lalu meninggalkan Hu Shan dan rombongannya di kedai sederhana tersebut, melanjutkan perjalanannya menuju gerbang Utara kota.
Di tempat itu, Hu Shan dan rombongannya melepaskan kepergian Qing Ruo dengan hormat. Walaupun Tampak begitu tenang, namun di dalam hatinya, mereka begitu sedih. Mereka tahu bawah mereka akan berjumpa lagi, namun setelah bertahun-tahun bersama, perjalanan tanpa Sang tuan kini akan berbeda.
" Semoga urusan Penguasa berjalan dengan lancar dan kita dapat bersama kembali," ucap Yu Jieru dengan mata berkaca-kaca, menatap punggung Qing Ruo yang bergerak meninggalkan tempat itu.
" Semoga Penguasa tidak menemukan kesulitan," ucap Jinse, yang begitu mengkhawatirkan Qing Ruo.
" Tenanglah. Sepanjang perjalanan, dan kebersamaan kita, penguasa adalah orang yang mampu menempatkan diri. Aku yakin kita akan segera berkumpul lagi di Selatan," ucap Hu Shan menenangkan rombongannya, lalu melanjutkan kebersamaannya di tempat itu.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo terus melangkahkan kakinya dengan santai, hingga akhirnya tiba di gerbang Utara kota.
Pada saat Qing Ruo sedang berbicara dengan prajurit jaga. Tiba-tiba Komandan pasukan yang berjaga di atas benteng, menemui Qing Ruo dengan ragu.
" Apakah Dia tuan muda Qing Ruo itu, atau orang lain...?" dengan ragu.
" Tuan," ucap sang komandan, menghampiri Qing Ruo dengan hormat.
Dengan ramah, Qing Ruo menganggukkan kepalanya, lalu menjelaskan tujuannya.
" Baik tuan," ucap komandan tersebut dan meminta prajurit membuka gerbang kota.
" Terima kasih," ucap Qing Ruo dengan ramah, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu meninggalkan tempat itu.
" Komandan, apakah ada yang salah?" tanya sang prajurit, menghampiri sang komandan yang biasanya jarang turun menemui tamu yang akan meninggalkan kota itu, terlebih lagi tindakan sang Komandan yang tidak melepaskan pandangannya dari sosok Qing Ruo yang terus bergerak meninggalkan tempat itu.
" Prajurit apakah kamu mengenal pemuda itu?"
" Tidak komandan..." sambil menggelengkan kepala, menatap sang komandan dengan heran.
" Hais, saat itu aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena aku berada di barisan belakang, tapi aku yakin, bahwa pemuda itu adalah tuan Qing Ruo, orang yang menyelamatkan kota ini," ucap sang komandan.
Baru saja komandan itu selesai kata-kata, tiba-tiba sosok Qing Ruo yang berada dua puluh lima meter dari mereka, tiba-tiba lenyap dari pandangan mereka.
" Ko-komandan, itu..." ucap prajurit tersebut terkejut, menatap sang komandan yang tidak kalah terkejutnya.
" Prajurit, aku yakin itu pastilah dia..."
" Maksud komandan?"
" Ledakan aura ini. Aku mengenalinya. Dia adalah tuan muda Qing Ruo itu..." dengan wajah serius, membuat prajurit itu ternganga.
" Tuan muda Qing Ruo telah pergi. Prajurit, ini adalah rahasia antara kita. Ingat, jangan sebarkan informasi ini, atau kota ini akan mengalami bahaya."
" Baik komandan, rahasia ini akan kami jaga dengan nyawa kami," ucap para prajurit dengan bersungguh-sungguh.