
Di tempat lain.
Xui Long dan semua orang yang ada di dalam ruang pertemuan sebelumnya, bergerak mengumpulkan para petinggi klan yang masih setia pada klan Yuan, dan mereka yang masih berada di posisi abu-abu.
Di istana utama kota Gu Lu.
Yuan Liu yang menyamar sebagai pelayan istana, terus bergerak memasuki kawasan itu dengan kesal.
" Benar-benar menjengkelkan," bantinnya melihat beberapa prajurit klan Yin berjaga di tempat itu.
Tidak lama kemudian, Yuan Liu akhirnya tiba di depan pintu kediaman pemimpin kota tersebut.
" Pelayan, ini sudah sangat malam, mohon untuk tidak mengganggu yang mulia," ucap prajurit yang berjaga.
" Ini aku," ucap Yuan Liu sambil menunjukan lencana Klan pada prajurit yang berjaga tersebut.
" Pu-putri, maaf tidak mengenali Anda...." Sambil mempersilakan Yuan Liu memasuki ruangan.
" Terima kasih...." Lalu memasuki ruangan itu dengan tenang.
Di dalam ruangan, Yuan Liu terus bergerak hingga tiba di depan pintu kamar sang kaisar.
" Ayah, Liu er ingin bertemu," ucapnya sambil mengetuk pintu ruangan dengan lembut.
Tanpa ada jawaban, tiba-tiba saja pintu kamar istana terbuka.
" Liu er, masuklah...." suara serak berbicara dari dalam.
Dengan tenang, Yuan Liu lalu memasuki ruangan itu, menemui sosok yang sedang duduk berkultivasi dengan tenang.
" Ayah, maaf mengganggu," ucapnya pelan, sambil menempati kursi yang tersedia.
" Bicaralah...."
" Ayah, aku telah bertemu dengan seseorang yang bersedia membantu kita," ucap Yuan Liu dengan serius.
" Liu er, jangan bercanda. Bisa bertahan hingga saat ini saja sudah cukup. Apakah kamu akan membuat kota ini tenggelam dalam murka mereka..." dengan nada kesal.
Yuan Liu terdiam, menatap sosok yang ada di hadapannya dengan sedih.
" Ayah aku bukan gadis kecil lagi. Jika aku tahu ini tidak pasti, aku tidak akan pernah membicarakannya."
Sosok paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
" Liu er, kamu terlalu muda dan pemarah. Ayah tahu kami sudah sangat jengah dengan tindakan mereka, namun apakah kamu sudah memikirkan konsekuensinya dengan matang?" sambil membuka matanya, menatap Yuan Liu dengan tajam.
" Ayah, sudah memikirkan hal itu-"
" Liu er, Kota Gu Lu adalah satu- satu kota terdekat dengan gunung langit Yin. Selain itu, ada banyak nyawa di Kota ini. Apakah kamu tahu maksud ayah?"
" Aku tahu ayah, tapi sampai kapan kita akan seperti ini? Apakah kita menunggu hingga mereka berani menampar kita di tempat umum de?ngan terang-terangan?" Dengan mata berkaca-kaca.
" Liu er, jangankan melakukan perlawanan, untuk membangun kekuatan saja kita sudah kesulitan," ucap sosok itu mendesah panjang.
" Ayah, kita memang sudah tidak mampu membangun kekuatan, namun kita dapat meminjam kekuatan lain, dan aku sudah bertemu dengan sosok itu."
" Liu er, kamu terlalu muda dan naif. Kota Gu Lu adalah kota kecil yang sedang menuju ambang kehancuran. Siapa yang begitu peduli dengan hal itu?"
" Ada, ayah-"
" Liu er, jangan naif kamu. Kepedulian orang asing, itu karena mereka memiliki alasan tertentu dan yang pastinya demi keuntungan mereka sendiri!" ucapnya memotong kata-kata Yuan Liu dengan tegas.
" Ayah setiap orang yang bekerja pasti ingin mendapatkan upah, dan tentu saja dia menginginkan sesuatu, untuk mendapatkan bantuannya, aku telah menawarkan pusaka klan," ucap Yuan Liu dengan serius.
" Apa? menawarkan mereka dengan pusaka klan? kamu benar-benar...." dengan wajah kesal.
" Lalu dimana Kepedulian ayah yang ingin melindungi kota dan orang-orang yang ada di dalamnya, jika hanya karena pusaka klan yang tidak bisa kita gunakan aku berikan pada orang lain? Ayah ini adalah kesempatan yang luar biasa. Aku tahu aku tidak akan pernah mampu meyakinkan ayah, tetapi aku punya satu permintaan, dan mungkin ini adalah permintaan terakhirku. Aku ingin ayah bertemu dengan sosok itu," ucapnya dengan serius, membuat sosok paruh baya itu terdiam.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening, dengan kedua sosok yang kini saling menahan diri untuk berbicara. Yuan Liu terdiam karena dia telah menyampaikan berhasil menyampaikan tujuan kedatangannya, sedangkan sosok paruh baya itu terdiam, untuk membuat keputusan.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya sosok itu menganggukkan kepala.
" Baik," ucapnya pelan.
" Terima kasih ayah. Besok malam, datang ke istana kediamanku," ucap Yuan Liu dengan wajah serius.
" Terima kasih ayah, Liu er undur diri," ucapnya sambil mengeluarkan satu botol minuman yang dia peroleh dari Qing Ruo sebelumnya.
" Ayah, ini adalah minuman terbaik. Semoga ayah menyukainya..." sambil meletakkan minuman itu di atas meja, lalu meninggalkan ruangan.
Setelah Yuan Liu pergi, ruangan itu kembali menjadi hening dengan sosok pria paruh baya yang hanya bisa menggelengkan kepala.
" Liu er.... Liu er. Kamu benar-benar membuat ku pusing," ucapnya pelan sambil meraih minuman yang di tinggalkan oleh Yuan Liu di atas meja, lalu meneguk minuman itu langsung dari botolnya.
" Apa....!" Dengan mata terbelalak, menatap botol minuman yang ada di tangannya dengan gembira.
" Ini benar-benar minum terbaik. Liu er, terima kasih..." ucapnya lalu menuangkan minuman itu pada gelas, dan menikmati dengan santai.
" Hampir saja," ucapnya, menyesap minumannya perlahan dengan mata berbinar-binar senang.
****
Di tempat lain.
Yuan Liu terus bergerak meninggalkan istana kediaman sang Kaisar dengan perasaan senang.
" Semoga yang lain juga berhasil," ucapnya sambil terus bergerak kembali menuju kediamannya.
****
Di tempat lain.
Sepanjang malam Qing Ruo beristirahat di dalam ruangannya dengan tenang. Menjelang pagi, Qing Ruo lalu menghentikan kultivasinya saat merasakan seorang sedang bergerak mendekati ruangan.
" Penguasa," ucap Mayi Xian dan Mayi Cao yang sedang berjaga di dalam ruangan itu membangunkannya.
" Aku juga merasakannya," ucap Qing Ruo sambil berdiri dengan tenang.
Tidak lama kemudian pintu kamar itu pun diketuk.
" Tuan muda, aku Lu Dan," ucapnya dari balik pintu memperkenalkan diri.
Dengan tenang Mayi Xian lalu membuka pintu tersebut, dan menpersilakannya memasuki ruangan.
" Terima kasih tuan..." Menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu menemui Qing Ruo yang ada di dalam ruangan.
" Silakan, jenderal,' ucap Qing Ruo mempersilahkan Lu Dan menempati kursi yang tersedia.
" Terima kasih, tuan muda." Sambil menempati kursi yang ada di hadapannya.
Setelah menempati kursi yang tersedia, Lu Dan lalu menyampaikan tujuan kedatangannya.
" Tuan muda, ini mengenai pertemuan yang akan kita lakukan. Kami telah berhasil menghubungi para pemimpin klan dan mereka yang masih setia pada Klan Yuan, namun dari kalangan abu-abu, mereka tidak terlalu menanggapi dan menganggap remeh hal ini, apakah pertemuan ini tetap bisa dilakukan?"
" Tidak masalah, yang penting semua orang yang masih mencintai kota ini datang dalam pertemuan, lalu bagaimana dengan Kaisar?"
" Tuan Putri mengatakan bahwa Yang mulia kaisar Yuan Shui juga bersedia..."
" Baik, aku rasa itu sudah cukup," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Jika demikian, apakah ada perintah selanjutnya, tuan?" tanya Lu Dan dengan hormat.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
" Hanya saja pastikan bahwa pertemuan Ini benar-benar aman."
" Baik, mengenai pertemuan, kami akan memanggil tuan muda jika semua orang sudah siap."
" Baik," jawab Qing Ruo.
Setelah berbincang-bincang, Lu Dan lalu meninggalkan ruangan tersebut.
" Mayi Xian, Mayi Cao, aku ada sedikit urusan. Jika ada yang datang mencariku, katakan aku sedang tidak ingin diganggu."
" Baik penguasa...."
" Setelah berkata-kata, Qing Ruo lalu keluar dari ruangan itu.
Setelah Qing Ruo pergi, Mayi Xian dan Mayi Cao juga ikut keluar dari dalam ruangan, lalu berjaga di depan pintu kamar tersebut.