Sang Penguasa

Sang Penguasa
188. Melawan Prajurit Kota Ning.


Di dalam kabut hitam.


Qing Ruo terus  melewati  kabut beracun tersebut dengan tenang, dengan harapan untuk dapat segera menuju utara secepatnya.


Tidak lama kemudian.


" Swhuss...." sosoknya keluar dari kabut tersebut, muncul di hadapan ribuan prajurit Ning  beserta para jenderalnya.


Qing Ruo yang tidak menyangka akan muncul dihadapan pasukan yang bersiap menyerang kota Cheng itu tetap bersikap tenang.


"Jenderal, aku Guang Ruo," ucapnya  memperkenalkan diri, pada sosok jenderal yang menatap kemunculannya dengan tatapan tajam.


" Tangkap dia!" ucap sang jenderal dengan tegas.


" Jenderal, aku hanya ingin pergi. Dan aku juga tidak terlibat dalam kekacauan ini," ucap Qing Ruo yang tidak menyangka  akan mendapat tanggapan yang berbeda dari sang jenderal. Sebelumnya dia mengira dengan menggunakan nama Shen Guang akan mempermudah dirinya pergi dari tempat itu, ternyata nama besar Shen Guang tidak membuat mereka takut sama sekali.


Sang jenderal terdiam sesaat, lalu menghampiri jenderal  utama yang berada di dalam kereta kuda Naga.


" Jenderal, dia berasal dari klan Dewa Cahaya. Apa yang harus kita lakukan?"


" Menyinggung klan besar itu memang masalah, tapi kita harus mencegah kemungkinan yang akan terjadi."


" Maksud jenderal?"


" Bisa saja dia menipu kita."


"Tapi jenderal, aku rasa dia adalah sosok yang kuat, karena dapat melewati kabut hitam dengan santai."


" Tangkap  saja dulu, dan perlakuan dia dengan baik."


" Baik jenderal, tapi bagaimana jika dia tidak mau?"


" Lakukan saja. Dalam situasi seperti ini kita tidak bisa percaya siapapun."


" Baik." Lalu meninggalkan sang jenderal utama, menghampiri Qing Ruo.


" Maaf tuan. Bukan berarti kami tidak percaya, tetapi lebih dari kepada mencegah hal-hal yang tidak-"


" Aku tahu maksud kalian. Tapi jika aku memang ingin terlihat dalam peperangan ini, mengapa  pula aku haru  pergi."


" Prajurit tangkap dia!" ucap sang jenderal dengan tegas, membuat prajurit yang sebelumnya terdiam lalu bergerak kembali.


" Jangan memaksaku!" ucap Qing Ruo dengan dingin. Membuat prajurit itu ragu.


" Tuan, jika anda tidak bisa bekerja sama maka, kami juga akan  memaksa. Sebelumnya kami hanya menahan Anda, tidak lebih," ucap sang jenderal dengan keras.


" Tindakan penyerangan yang kalian lakukan pada kota Cheng telah menghambat perjalananku. Jika kalian masih ingin mengganggu perjalananku kali ini, maka jangan salahkan aku." Dengan tatapan kesal.


" Prajurit, tangkap!" ucap sang jenderal dengan kesal.


Sepuluh prajurit yang  merupakan para  pendekar semi abadi tingkat dasar bergerak mendekati Qing Ruo. Namun Qing Ruo yang terlihat tenang itu tiba-tiba bergerak dan menampar mereka satu persatu dan mengubahnya menjadi kabut darah.


" Dhuar....dhuar...." Ledakan keras itu bergema bersamaan dengan cipratan darah dan  tulang yang berhamburan.


Tindakan Qing Ruo yang tanpa ampun itu membuat sang jenderal beserta belasan  jenderal lainnya  ternganga. Bahkan sosok jenderal besar yang berada di dalam kereta kudanya ikut keluar.


" Je-jenderal, dia...."


" Ketika kata-kata tidak didengar, maka tindakanlah yang menjelaskankan. Jika masih ingin mati,  silakan berdiri di hadapanku," ucap Qing Ruo dingin sambil bergerak dengan santai.


Tindakan Qing Ruo yang tanpa  ampun sebelumnya membuat prajurit elit yang berada di sisi para Jenderal itu bergerak mundur, bahkan belasan jenderal itu juga ikut membuka jalan. Namun di sisi keretanya, Sang jenderal utama  menatap Qing Ruo dengan murka.


" Jangan menatapku dengan seperti itu. Jika kamu juga ingin mati. Majulah!" ucap Qing Ruo pada sosok jenderal yang merupakan pendekar semi abadi tingkat enam tersebut.


" Anak muda jangan menggertakku. Jangan mengira kami takut padamu. Lagi pula kamu juga sudah membunuh prajuritku, apakah kamu pikir aku akan melepaskanmu." Dengan tatapan dingin.


Mendengar kata-kata sang jenderal, Qing Ruo lalu  berhenti bergerak, menatap sosok itu  dengan tersenyum santai. Tidak hanya itu, tiba-tiba  ribuan  pasukan tersebut bergerak membuat formasi serangan dan mengelilinginya. 


" Jenderal, apakah Anda yakin ingin menangkapku?" tersenyum dingin.


" Bernegosiasi setelah membunuh prajuritku, terlambat!"


" Jenderal, jangan sampai sebelum berperang dengan kota Cheng, kalian telah kehilangan pasukan," ucap Qing Ruo dengan tatapan dingin.


" Nak, jangan mengira kami takut pada  Shen Guang, apalagi kamu hanya seorang diri. Selain itu-"


" Sudah aku katakan sebelumnya, jika ingin mati, silakan berdiri di hadapanku," ucap Qing Ruo memotong kata-kata sang jenderal.


" Swhuss.... swhus...." ribuan prajurit itu bergerak, melepaskan tembakan pedang ke arah Qing Ruo. Membuat tempat yang begitu tenang sebelumnya menjadi medan pertempuran.


Di tengah massa yang bergerak ingin membunuhnya itu. Qing Ruo bahkan tidak bergerak sedikitpun, menunggu prajurit mendekat.


" Dhuar.... dhuar...." Ribuan pedang perak yang bergerak menyerangnya itu di halau oleh pisau cahaya Shen Guang,


Desingan pedang yang terhalau oleh pisau cahaya Shen Guang terlempar ke berbagai arah, bahkan mengenai prajurit  yang berada di dekatnya, dan melukai mereka.


" Dhuar...dhuar...." Serangan dahsyat itu mengguncang seluruh kawasan, bahkan ledakan dahsyat itu menyibakkan kabut hitam hingga membuat pasukan yang menyerang perisai pertahanan kota Cheng  dapat melihat pertempuran tersebut.


Qing Ruo yang berada di tengah pasukan itu masih belum bergerak, hanya bertahan sambil menunggu pasukan itu mendekatinya.


" Lemahkan kekuatannya!" ucap sang jenderal memberi perintah. Namun tiba-tiba Qing Ruo bergerak.


" Swhuss.... swhus...." sosoknya melesat menyerang prajurit yang ada di hadapannya. Melepaskan pukulan tapak emas naga ilahi. Merobohkan setiap prajurit yang berada di dekatnya.


" Dhuar... dhuar..." Tinjuannya beradu dengan tubuh prajurit tersebut dan menghancurkannya.


" Dia mulai melawan. Itu artinya dia mulai kewalahan," ucap sang jenderal, sambil terus menyemangati prajuritnya.


Qing Ruo yang mendengar kata-kata sang jenderal tersenyum santai.


Di hadapannya Qing Ruo, dalam waktu singkat itu, ratusan prajurit yang merupakan pendekar kaisar dewa tingkat dasar  itu terus berjatuhan.


" Dhuar...." Salah satu serangan tapak  prajurit mengenai punggungnya, melempar sosok Qing Ruo hingga belasan meter.


" Lihat, di terkena serangan," ucap komandan pasukan tersebut dengan gembira.


Di hadapannya mereka, Qing Ruo yang berpura-pura kesakitan dan membiarkan diri terkena pukulan tapak itu tersenyum santai.


Pada saat prajurit itu bergerak mendekatinya, Qing Ruo tiba-tiba melepaskan tembakan bola petir raksasa.


" Dhuar...." bola petir itu meledak, menyambar ke berbagai arah dan menghancurkan setiap sosok yang dilewatinya.


" Oh tidak," ucap para jenderal ketakutan.


" Mundur!" Sang jenderal utama dengan wajah pucat pasi memberi perintah.


Satu ledakan bola petir itu langsung mengubah ratusan prajurit baik di tingkat kaisar dewa hingga semi abadi tingkat dasar hingga tingkat dua menjadi kabut darah.


" Swhus.... Swhus...." belas bola petir itu melesat ke  berbagai arah, mengejar prajurit Ning yang bergerak mundur tersebut, meledak dan menghancurkan mereka.


Kemunculan bola-bola petir membuat formasi serangan prajurit Ning itu menjadi kacau, di mana setiap orang bergerak ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri, bahkan para jenderal itu kini satu pun tidak ada yang tersisa.


" Ingin pergi? Naif!" ucap Qing Ruo.


" Swhuss...swhus...." sosoknya bergerak, melesat seperti kilatan cahaya, mengejar sang jenderal yang pergi  dengan kereta kuda Naganya.


Dari jarak dua ratus meter.


" Swhus..." Tombak petir melesat mendahului sosoknya.


" Dhuar.." tombak petir itu menghantam kereta itu hingga hancur dan membunuh kuda Naganya.


" Swhuss...swhus..." sang jenderal yang  selamat dari  ledakan itu terus bergerak pergi.


" Semoga saja dia tidak berasal dari  klan kuno itu," ucapnya dengan wajah pucat pasi. Sambil  memanggil para jenderal lainnya untuk bergabung bersamanya.


Dari arah yang berbeda.


Para jenderal tingkat rendah itu terus bergerak meninggalkan tempat itu, tanpa mengindahkan  panggilannya, membuat jenderal utama itu mulai ingin menangis, sedang sosok Qing Ruo yang ada di belakangnya terus bergerak mengejarnya.


" Argh.... Kalian para jenderal keparat. Tunggu saja. Aku akan menghukum kalian teriaknya kesal. Lalu berhenti bergerak menunggu Qing Ruo yang bergerak mengejarnya."


" Swhus...." Qing Ruo mendekat.


" Mati!" Teriaknya melepaskan tembakan tombak petir, sambil mengedarkan aura semi abadi tingkat delapan milik Yin Gan, membuat  jenderal itu terkejut dan hingga membuatnya tidak siap dengan serangan tombak petir Qing Ruo.


" Dhuar...." Tombak dari teknik perubahan petir itu mengenai dada  sang jenderal dengan telak, dan melukainya dengan parah.


" Swhus...." Tubuh itu terjatuh dari langit dengan ekstrem yang langsung di seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di tempat itu.


👉 Masih satu bab ya kakak, hingga beberapa hari ke depan. Author juga pingin liburan. Tapi tetap author usahakan untuk tetap update. Terima kasih🙏