
‘Ho?’ Sang perempuan gelap penasaran dengan apa yang akan dilakukannya.
Setelah semua yang terjadi, ia ragu dengan kemampuan pemuda ini.
Bukannya mau merendahkan, namun pada akhirnya makhluk kuat juga punya batasan.
Setelah bertarung, habis tenaga, ngasih tenaga, habis tenaga, bikin aura perlindungan, habis tenaga.
Dia sudah banyak habis tenaga.
Tak bisa dipungkiri raut wajah serius pemuda itu memang seram.
Namun sang perempuan gelap ini sama sekali tak takut.
SSHH….
Max masih dalam pose mengangkat tangan kanannya, wajahnya sudah serius, hanya tinggal satu hal….
Kekuatannya.
Tekad dan kekuatannya masih belum sinkron.
‘Hm.’ Max tak menyangka serangan mentalnya nggak mempan.
Padahal ia sudah menunjukkan ekspresi terseram yang bisa dibuatnya.
Namun ketahanan mental lawan lebih kuat dari yang ia duga.
Dan memang begitulah adanya.
Tak hanya datang dengan rencana sempurna, namun pemikirannya juga lebih kuat dan teguh dibanding sebelumnya.
“Hm?” Sang perempuan gelap ini terlihat makin tak sabar dengan apa yang akan dilakukan musuhnya.
Ia menguap kecil dan memainkan tanah.
Sarkasme yang lumayan membuat emosi.
Namun Max masih pada posisinya tak terpengaruh oleh sindiran lawannya.
Untuk pertama kali setelah sekian lama akhirnya ia menantang batas dirinya.
Shhh….
Perlahan namun pasti kekuatan suci mulai terkumpul dalam dirinya.
Sensasinya benar-benar beda.
‘Jadi sesakit ini ya.’ Max tak menyangka bakal menyiksa seperti ini.
Namun yah apa daya, memang dimana-mana memaksakan diri tidak selalu enak.
Tapi terkadang itu bukan hal buruk juga.
Max berusaha berdamai dengan rasa sakitnya itu.
Dan lagi-lagi tak segampang yang dipikirkannya.
Sayang sekali ia tak punya banyak pengalaman rasa sakit di dunia ini.
Yah sebagian besar musuhnya bisa diatasinya dengan mudah, dan ketika ketemu yang kuat ya kaget sih.
Dan mengeluh bukanlah solusi yang tepat untuk menghadapi situasi seperti sekarang.
“….” Sang perempuan gelap ini diam dalam bangga, semua dugaannya sudah terbukti.
Pemuda itu hanya menunjukkan gimmik meyakinkan yang tiada artinya.
Kenapa dia tak mengakui saja kekalahannya?
Dengan begitu dia tak perlu bersusah payah begitu.
Untuk apa memperjuangkan sesuatu yang tak bisa dicapai?
Dibalik kebanggaannya terselip juga rasa peduli yang dalam.
Namun yah ia tak bisa mengatur apa yang diinginkan makhluk lain sih.
Sang perempuan gelap ini masih diam dan memberi waktu lawannya untuk menyelesaikan urusannya, dan sampai sekarang masih belum beres juga.
Shhh….
Perlahan namun pasti kekuatan suci akhirnya mulai muncul juga dan menyelimuti tubuhnya.
Meski harus menunggu lebih lama dari biasanya, pada akhirnya usahanya tidak sia-sia.
“….” Sang perempuan gelap terdiam, kegigihannya patut diacungi jempol.
HUSH!
Sang perempuan gelap langsung melesat dan melancarkan serangan!
HUSSSH!!
Rentetan serangan sangat cepat langsung mengarah pada targetnya!
“!” Max tak punya pilihan selain menghindar!
Padahal ia masih mengumpulkan kekuatan!
Namun apa daya musuh sudah menyerang duluan!
Max sadar tak mungkin juga lawannya membiarkannya begitu saja.
Pada akhirnya apa yang mereka incar adalah sama, yakni kemenangan.
Membiarkan lawan bertindak seenaknya adalah hal yang jelas tak boleh dilakukan.
“Mana serangannya!?” Sang perempuan gelap terus melancarkan rentetan serangannya.
Max tak merespon apapun kecuali berusaha menghindari serangan yang datang padanya.
Kekuatan yang ia kumpulkan susah payah sirna begitu saja.
BUMMM!!
Ledakan energi tercipta dan Max langsung terhempas cukup jauh.
“Haaah … haaah….” Terlihatlah bagaimana lelahnya pemuda satu ini.
Ia tak cukup cepat mengumpulkan untuk mengumpulkan kekuatan dan menyerang lebih awal.
Max berusaha tetap tenang.
Sebagian besar energi yang sudah dikumpulkannya menguap begitu saja, ini lumayan bikin frustasi.
Namun yah lagi-lagi, setidaknya ia masih bisa berdiri sekarang.
Mau mengeluh dan menggerutu atau bersyukur, ini semua tentang mindset.
Pilihan pertama memang menggoda namun tak berguna, jadi pilihan kedua saja lah ya.
“….” Sang perempuan gelap menatapnya dari jauh, belum terlihat adanya pergerakan darinya lagi.
Max mulai ngumpulin kekuatan lagi.
Lawan pasti takkan membiarkannya lagi, dan ia hanya bisa waspada.
….
Waktu pun berlalu, dan masih saja belum ada pergerakan apapun dari sang makhluk gelap itu.
‘Lho.’ Max heran sih.
Kok kali ini dia ngebiarin dirinya ngumpulin kekuatan sih?
‘Sial.’ Ada alasan jelas kenapa sang perempuan gelap ini tak juga maju.
Bukan karena strateginya atau apa, namun karena memang ia tak bisa maju.
Ia sudah melancarkan serangannya, namun ternyata masih belum cukup untuk menumbangkan sepenuhnya pemuda itu.
Dari sini mungkin ada yang bertanya, kenapa bisa-bisanya sang makhluk gelap ini malah tak bisa menyerang lagi?
Bukankah dia punya kekuatan super besar yang menanti untuk dilepaskan?
Dia bisa membuat dua makhluk pelindung tempat ini takluk padanya.
Apa susahnya melawan lawan utamanya yang kini kekuatannya sudah minim begitu?
Pada akhirnya semua ada alasannya.
Dan tak lain tak bukan adalah karena strategi yang dijalankannya ini.
Ia percaya penuh strateginya ini akan berhasil seratus persen dan tak memikirkan kemungkinan lain.
Namun pada akhirnya yang tak disangkanya terjadi.
Inilah harga yang harus dibayar demi mengeksekusi rencananya.
Ya tentu saja dengan kekuatannya sendiri.
Ia menghilang selama ini dan berusaha menyusun rencana terbaik, dan ternyata memakan tenaga dari yang bisa dibayangkan.
Jadilah performa kekuatannya sekarang tak memuaskan seperti biasanya.
Pada akhirnya kedua makhluk ini saling mengumpulkan kekuatan satu sama lain.
Shh….
Asap hitam perlahan muncul dari sang perempuan gelap ini.
Pada akhirnya makhluk gelap ini tak menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya.
“Tch.” Sang perempuan gelap tak menyangka ia malah menunjukkan kelemahannya begini.
‘Jadi begitu.’ Max langsung paham kenapa dia tak menyerangnya lagi.
Kini keadaan lawannya tak beda jauh dengannya.
Mereka sama-sama seret buat ngumpulin kekuatan.
Dan kini mereka bersaing satu sama lain.
‘Aku lebih unggul.’ Sang perempuan hitam sangat percaya dengan kemampuannya.
Ia memang sedang lemah, namun kepercayaan dirinya tak ikut merosot.
Akselerasi kekuatannya memang menurun drastis.
Inilah akibat major dari rencana yang sudah dilancarkannya ini.
Namun keadaannya tak separah lawannya.
“….” Max terdiam, tak bisa dipungkiri mengumpulkan kekuatan jadi lebih sulit lagi sekarang.
Waktu terus berjalan dan kekuatan yang terkumpul belum sesuai harapannya.
Dan malahan sang perempuan gelap itu menyalipnya.
Kini kekuatan makhluk hitam itu sudah lebih besar lagi.
Ini nggak bagus sih.
Shhh…
Hempasan angin diiringi dengan aura gelap tipis-tipis mulai menyelimuti sang perempuan gelap ini.
Perempuan itu perlahan mengangkat tangannya, mengarah pada sang lawannya.
SHHH….
Seketika itu juga kekuatan gelap makhluk ini langsung terfokus.
“Heh.” Terlihatlah raut wajah percaya diri dari sang perempuan gelap ini.
Pada akhirnya dirinyalah yang unggul.
Kekalahan pemuda ini tak terelakkan lagi.
Kini hidupnya sudah ada di tangannya.
“….” Sang perempuan gelap menahan kekuatannya, padahal serangannya sudah siap.
Ia masih rendah hati dengan memberi jeda pada serangannya.
Namun ia takkan menanyakan soal kata-kata terakhir lagi.
“Sayonara, Death Cannon Ball.”
BUMMM!!!