Sang Penguasa

Sang Penguasa
254. Berurusan Dengan Klan Jin.


Dalam waktu singkat.


" Swhuss... swhus....." Belasan sosok itu tiba, dan langsung mengapung Qing Ruo dan Hu Yan Lan.


" Anak muda, apakah benar dia orangnya?" tanya seorang tetua pada seorang pemuda yang menatap Qing Ruo dengan tajam.


" Benar tetua, aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana sosok ini membunuh tuan muda Jin Gong," ucap pemuda tersebut dengan serius, membuat Qing Ruo dan Hu Yan Lan saling berpandangan.


" Hu Yan Lan, sebelumnya aku bahkan tidak merasakan keberadaan pemuda ini." Berbicara melalui telepati.


" Hamba juga, penguasa." Dengan serius.


" Tidak masalah, karena memang wajar, dengan kekuatan kita yang tertekan dan situasi yang tidak kondusif bisa membuat kita lengah," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Kamu!" ucap pemuda yang sebelumnya  pernah berbicara pada Qing Ruo dengan kesal, yang di balas  dengan senyum santai Qing Ruo.


Tiba-tiba seorang tetua mengeluarkan sosok Jin Gong dari dalam cincin penyimpanan yang telah di lindungi dengan mantra formasi pelindung tubuh.


" Apakah kamu yang membunuhnya?"


" Benar," jawab Qing Ruo dengan santai.


" Badj****n!" ucap seorang pemuda yang sudah hampir tidak dapat menahan diri.


" Yang badj***n  itu adalah para tuan muda kalian. Jika aku tidak membunuhnya, maka aku lah yang akan terbunuh. Lalu apakah ada  yang salah dengan hal itu...." ucap  Qing Ruo, membuat kelompok tersebut semakin murka.


Satu persatu mereka melepaskan kekuatannya, menatap Qing Ruo dengan kebencian dan  niat membunuh yang sangat kuat. 


" Kamu!" ucap tetua itu menunjuk Qing Ruo dengan tangan bergetar.


" Jaga sikap kalian. Jangan merasa sebagi klan terkuat kalian lalu ingin bertindak semena-mena!" ucap Hu Yan Lan dengan sengit, menatap tetua tersebut dengan tajam.


" Jangan memprovokasi kami!" ucap pemuda lainnya yang sudah tidak sabar menyerang Hu Yan Lan dan Qing Ruo.


" Nak, jaga sikapmu. Anak muda, apakah kamu melihat pertarungan kami dari awal?" tanya Hu Yan Lan pada pemuda yang ikut bersama kelompok klan Jin tersebut.


" Tidak tetua, saat itu aku hanya melihat tuan muda anda membunuh tuan muda Jin Gong," jawab pemuda tersebut dengan jujur.


Hu Yan Lan menganggukan kepalanya.


" Itu berarti kamu tidak melihat kejadian yang sebenarnya dengan lengkap. Tuan-tuan, perlu aku tegaskan bahwa tuan muda kalianlah yang mendahului, dan kami hanya membela diri. Sekarang urusan sudah jelas, dan kalian juga sudah tahu bahwa kami yang melakukannya, maka urusan ini selesai," ucap Hu Yan Lan dengan santai, membuat ketiga tetua tersebut murka.


" Swhus... swhus...." ledakan aura Semi abadi tingkat sembilan tahap dasar mengedar dari tubuh ketiga tetua tersebut, membuat pemuda yang menjadi saksi mata itu bergegas pergi.


" Selesai! Setelah membunuh tuan muda kami, kamu bilang selesai!"


" Tentu saja. Apakah kalian ingin menuntut balas!" ucap Hu Yan Lan yang juga sudah tidak dapat menahan diri, sambil melepaskan aura Semi abadi tingkat sembilan tahap puncak, membuat para pendekar yang berada di tingkat dua hingga tingkat delapan langsung bergerak mundur.


" Sangat kuat..." ucap para pemuda tersebut bergidik ngeri.


" Tidak heran dia begitu berani, ternyata dia adalah sosok yang sangat kuat," ucap pemuda yang lain menimpali.


" Saudara,  tenanglah. Dia hanya seorang diri, dan pemuda itu pasti pendekar tingkat rendah." Seorang tetua  berbicara pada rombongannya, menatap Hu Yan Lan dengan sedikit gentar.


" Kalian menganggap diri terlalu tinggi. Apakah dengan status sebagai klan  terkuat kalian berani menyinggung pemuda yang ada di hadapanku ini? Karena aku masih menghormati Shen Jin, maka aku akan memberi kalian kesempatan.  Aku akan menghitung sampai tiga, jika dalam hitungan ketiga kalian juga tidak mau pergi maka jangan harap masalah ini akan berakhir di tempat ini!" ucap Hu Yan Lan dengan tatap tajam.


" Jangan menggertak kami. Kamu tidak akan pernah tahu kekuatan kami!" ucap seorang pemuda balik mengancam.


" Apakah kalian yakin?" tanya Hu Yan Lan yang sudah tidak sabar ingin membunuh pemuda tersebut.


Sebenarnya dua kekuatan yang berbeda tersebut saling menahan diri, Hu Yan Lan menahan diri karena perintah Qing Ruo yang memang tidak ingin membuat kekacauan di wilayah besar itu, sehingga akan merusak rencananya, selain itu dia juga tidak ingin merepotkan klan Shen Guoshi Xiong Mao dan kedua gurunya Shenghuo Zhuanjia dan Shenghuo Congming,  sedang orang-orang dari klan Yin menahan diri karena masih belum mengetahui latar belakang sosok yang mereka dihadapi.


" Hu Yan Lan, mereka datang dengan persiapan yang matang. Selain itu, aku juga yakin mereka sudah memanggil bantuan. Jika kita membunuh mereka di tempat ini,  maka urusannya akan panjang. Aku tidak mau merepotkan Kakek guru dan kedua guruku," jawab Qing Ruo  menjelaskan, membuat Hu Yan Lan terdiam.


" Jika demikian,  lalu apa yang harus kita lakukan?"


" Panggil petinggi klan mereka, aku ingin berbicara langsung padanya, karena  berurusan dengan mereka sama saja kita berurusan dengan prajurit tingkat rendah dan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Selain itu, aku juga punya rencana," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Baik penguasa, hamba mengerti," ucap Hu Yan Lan, lalu mengarahkan pandangannya pada para tetua tersebut.


" Kalian semua hanyalah tetua tingkat rendah. Jika ingin masalah ini selesai, maka panggil patriark Jin Kong," ucap Hu Yan Lan dengan tegas, membiat para pemuda yang menjaga jarak dengan mereka itu tertawa terbahak-bahak.


" Jangankan bertemu dengan patriark, bertemu-"


Para pemuda itu langsung terdiam saat Qing Ruo tiba-tiba mengeluarkan lencana giok putih dengan lambang bambu ungu langit.


" Panggil patriark Jin Kong sekarang juga! Kami akan menunggu," ucap Hu Yan Lan sambil bergerak membawa Qing Ruo menuju bukit kecil yang berada lima kilo meter dari tempat itu.


Para tetua tetua itu hanya bisa menatap kepergian Qing Ruo dan Hu Yan Lan yang terus bergerak menjauh dari mereka dengan mulut ternganga.


" Tetua," ucap seorang pemuda, membuyarkan lamunan para tetua tersebut.


" Tidak ada pilihan. Kita harus memanggil patriark," ucap tetua tersebut sambil  menggelengkan kepalanya.


" Tapi tetua, patriark tidak akan senang."


" Dan mereka juga pasti tidak akan senang," ucap tetua tersebut dengan wajah masam, lalu memecahkan lencana giok merah, lalu menunggu di tempat itu.


" Hais, mengapa harus berurusan dengan pihak hutan gelap," ucap tetua itu mendesah panjang.


" Jin Qui dan Jin Gong, benar-benar membuat masalah," ucap tetua yang lainnya menimpali.


*****


Di atas puncak bukit kecil, lima kilometer dari tempat para tetua klan Jin itu berada, Qing Ruo duduk dengan tenang sambil menyesap arak rumput kristal dengan santai.


" Penguasa, arak ini benar-benar nikmat."


" Terima kasih. Lain kali aku akan mengajarimu cara meraciknya," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Baik penguasa...." Dengan wajah gembira.


" Hu Yan Lan, apakah masih belum ada kabar dari Mayi Xian dan Mayi Cao?"


" Belum penguasa," jawab Hu Yan Lan dengan tenang, sambil mengawasi kelompok dari klan Jin yang bahkan  tidak bergeming dari tempatnya.


" Hu Yan Lan, seberapa kuat pengaruh kakek guru di kawasan ini?"


" Yang pastinya sebagai klan kuno, Shen Guoshi Xiong Mao tetap dihormati. Penguasa, apa rencana kita selanjutnya? 


" Ada hal  penting yang ingin aku bicarakan dengan Jin Kong, dan ini ada kaitannya dengan klan Yin," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Baik, penguasa...." dengan perasaan khawatir.


" Hu Yan Lan, ada yang salah dengan wajahmu, bicaralah...."


" Penguasa, ini tidak akan mudah, apalagi kita telah membunuh tuan muda mereka," ucap Hu Yan Lan dengan serius.


" Tenanglah," ucap Qing Ruo dengan santai.