Sang Penguasa

Sang Penguasa
224. Dunia Kecil Xiong Mao.


Xiong Mao Shanliang, Xiong Mao Zhu dan Xiong Mao Meide saling berpandangan, menatap Qing Ruo  yang terus mengedarkan kekuatan petirnya dengan tenang.


" Saudara, dia benar-benar dari klan kuno itu," ucap Xiong Mao Meide berbicara melalui telepati pada rombongannya.


" Benar, petir abadi ini bahkan menuju tahap puncak. Lihatlah, bentuknya yang transparan," ucap


Xiong Mao Shanliang.


" Jika begitu aku ingin mencoba kekuatannya," ucap Xiong Mao Zhu, yang tiba-tiba melepaskan pukulannya.


Di hadapannya. Qing Ruo yang tidak menyangka Xiong Mao akan menyerangnya, reflek melepaskan cakram Langit Ling, tanpa sengaja  mengkombinasikan dua  kekuatan yang berbeda tersebut menjadi perisai pertahanan.


" Dhaur....." Ledakan dahsyat bergema dengan sosok Qing Ruo dan Xiong Mao yang masing-masing terdorong hingga berapa meter.


" Nak, kamu menipu kami lagi," ucap Xiong Mao Zhu yang tiba-tiba tertawa lepas, membuat Qing Ruo begitu kebingungan.


" Maksud tuan?" tanya Qing Ruo dengan sikap siaga.


" Cakram Langit Ling. Siapa kamu sebenarnya?" Dengan tatapan bersahabat.


" Aku putra pertama Ling Yun, putri klan Shen Guoshi Ling," jawab Qing Ruo.


" Apakah itu berarti kamu cucu Ling Zhong?"


" Benar, aku adalah cucu pertamanya," jawab Qing Ruo sekali lagi, membuat Xiong Mao Zhu, Xiong Mao Shanliang dan Meide begitu kegirangan.


" Anak nakal. Hampir saja aku membunuhmu," ucap Xiong Mao Zhu memukul kepala Qing Ruo sambil mengubah sosoknya menjadi manusia, menghampiri Qing Ruo dan memeluknya dengan hangat.


" Kakekmu, Ling Zhong adalah sahabat dan saudara kami," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


" Maksud tuan?"


" Anak bodoh. Apakah Ling Zhong tidak menceritakan keberadaan kami?" tanya Xiong Mao  Zhu.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Tuan,  aku besar dan tinggal di klan Qing. Adapun dengan kakek, aku hanya bertemu sekali saja," jawab Qing Ruo dengan jujur.


" Ruo er, aku Xiong Mao Zhu, dan dia Xiong Mao Meide, dan dia adalah yang paling bijaksana, Xiong Mao Shanliang," ucap Xiong Mao Zhu memperkenalkan diri.


" Tetua, aku Qing Ruo, putra Qing Feng dan Ling Yun, memberi hormat pada tetua," sambil berlutut dengan hormat.


" Anak nakal, bangunlah," ucap Xiong Mao Zhu yang begitu ceria dan meledak-ledak, membawa Qing Ruo meninggalkan tempat.


" Swhus... Swhus...." mereka berempat muncul di halaman gua, tempat yang Qing Ruo datangi sebelumnya.


" Masuklah," ucap Xiong Mao Zhu dengan sikapnya yang begitu ramah dan hangat.


" Baik tetua." Sambil bergerak mengikuti rombongan itu.


Tidak lama kemudian mereka akhirnya tiba di dalam ruangan utama gua.


" Ruo er, lihatlah," ucap Xiong Mao menunjuk tanda yang ada di dinding gua.


" Segel Cakram emas Langit Ling, apakah kakek pernah pergi ke tempat ini?"


" Tentu saja, apakah kamu tahu maksud segel itu?" tanya Zhu Meide.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya, lalu meletakan tangannya pada tanda segel tersebut.


" Swhuss...." Gerbang teleportasi dunia kecil muncul pada dinding gua.


" Benar-benar pemilik darah Shen Ling,"  ucap Xiong Mao Shanliang dengan bahagia, lalu membawa Qing Ruo dan rombongannya memasuki dunia kecil tersebut.


" Swhuss... swhus...." sosok mereka muncul di dalam dunia kecil Klan Xiong Mao.


" Dunia kecil yang sangat indah," ucapnya pelan dengan penuh kekaguman. Dari langit dunia kecil itu, Qing Ruo dapat melihat ribuan istana megah dan indah. Selain itu, terhampar   berbagai jenis hutan bambu. Ada bambu ungu, bambu giok hijau, bambu emas dan bambu hitam, dan berbagai pohon-pohon raksa yang membuat pemandangan itu semakin indah.


" Ruo er," ucap Xiong Mao membawa Qing Ruo bergerak menuju sebuah istana.


" Swhuss.... swhus...." rombongan itu tiba di halaman istana yang sangat megah dari istana lainnya.


" Ruo er, istana ini adalah kediaman  kakekmu pada saat tinggal di dunia kecil ini," ucap Xiong Mao, berbincang bincang santai sambil menaiki tangga istana menuju ruangan utama.


" Benarkah, lalu apa yang dilakukan kakek di tempat ini?"


" Ruo er, kakekmu itu adalah murid patriark agung, Xiong Mao Tian," jawab Xiong Mao Zhu dengan gamblang, membuat Qing Ruo ternganga.


" Benarkah?" Dengan wajah tidak percaya.


" Tentu saja," jawab Xiong Mao Zhu dengan serius.


" Trark...." Pintu utama ruangan instana  terbuka, menampilkan pemandangan aula istana yang begitu luar biasa.


Tidak lama kemudian, beberapa pelayan memasuki ruangan, dan mulai melayani mereka.


" Ruo er, setelah ribuan tahun, akhirnya ruangan utama istana ini kembali digunakan," ucap Xiong Mao memulai perbincangan santai mereka, sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan oleh para pelayan.


" Maksud tetua?" Tanya Qing Ruo.


" Ruo er, setelah kakekmu pergi, instana ini ditutup, dan hanya dirawat oleh para pelayan," jawab Xiong Mao Shanliang menjelaskan.


" Ruo er, maaf sebelumnya," ucap Xiong Mao Zhu dengan tulus.


Qing Ruo mengelengkan kepalanya.


" Tidak perlu tetua meminta maaf, justru aku yang harus melakukan hal itu," ucap Qing Ruo dengan hormat.


Di tempat itu mereka membicarakan banyak hal, terutama  keberadaan Ling Zhong saat  berada di tempat itu, hingga akhirnya Xiong Mao Zhu mengakhiri pembicaraan mereka.


" Ruo er, beristirahat. Jika perlu sesuatu, katakan saja pada pelayan. Kami akan menemui patriark," ucapnya dengan hangat.


" Baik tetua," ucap Qing Ruo dengan hormat.


Setelah Xiong Mao Zhu dan rombongannya   meninggalkan tempat itu, Qing Ruo lalu meminta pelayan membawanya  ke tempat istirahat.


" Tuan muda, mari," ucap gadis pelayan membawa Qing Ruo meninggalkan ruangan itu dengan hormat.


Sepanjang tempat yang dilewati, Qing Ruo terus di buat kagum, karena jejak aura Ling Zhong benar-benar ada di tempat itu,  yang membuatnya semakin yakin bahwa ketiga tetua klan Xiong Mao itu tidak berbohong padanya.


Tidak lama kemudian,  Qing Ruo dan gadis itu akhirnya tiba di depan sebuah kamar besar.


" Tuan muda, silakan," ucapnya dengan hormat.


" Terima kasih, nona," ucap Qing Ruo dengan ramah.


" Jika tuan muda perlu sesuatu,  tuan muda dapat memanggilku."


" Baik, Nona."


Setelah Qing Ruo memasuki ruangan, sang gadis lalu menutup pintu kamar tersebut dan terjaga seratus meter dari depan pintu.


*****


Di dalam kamar.


Qing Ruo lalu menyegel ruangan itu, dan langsung mengabari Long Chen dan Yanshi Gong, agar tetap berhati-hati dan menunggunya di gua perak  terlarang.


" Apakah ini mimpi," ucap Qing Ruo sambil merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran tenang, yang tidak menyangka akan bertemu dengan sahabat kakeknya, Ling Zhong.


" Semoga Long Chen, baik-baik saja," ucapnya pelan, lalu mengeluarkan Mao Lei dan Huo Zhaodau dari dalam dunia jiwa.


" Kalian berdua, berjaga di tempat ini. Jika ada sesuatu,  segera kabari aku," ucapnya dengan ramah.


"Baik penguasa."


Setelah berkata-kata,  Qing Ruo lalu memasuki dunia jiwa.


" Swhus...." Sosoknya muncul di atas puncak gunung selatan dunia jiwa.


" Penguasa," ucap Long Yu Wei dan rombongannya, menyambut kedatangan Qing Ruo dengan hormat.


" Beristirahat dan pulihkan diri kalian. Saat ini kita berada di tempat  yang aman," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa," ucap Long Yu Wei, sambil menyerahkan mutiara jiwa Mao Cheng dan Mao Teng.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil menyerahkan mutiara jiwa kadal hitam dan semut hitam raksasa pada mereka.


" Long Fu, Long Qe, kalian berdua bisa naik tingkat sekarang."


" Baik Penguasa."


Pada saat Long Yu Wei dan rombongan akan meninggalkan tempat itu,  Youlin Sha dan She Pian datang di tempat itu.


" Kebetulan sekali kalian datang," ucap Qing Ruo sambil  menyerahkan masing-masing satu butir mutiara jiwa semut hitam raksasa yang berada di tingkat tujuh semi abadi tahap puncak.


" Terima kasih, penguasa."


" Kembalilah, kalian juga bisa naik tingkat sekarang."


" Baik Penguasa." lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah Youlin Sha dan She Pian pergi dari tempat itu, Qing Ruo lalu bergerak meninggalkan tempat itu, menemui  Qing Ling di istana emas.