Sang Penguasa

Sang Penguasa
86. Perbincangan bersama Murong Jianyu.


" Penguasa, apakah ini tidak berbahaya?"


" Berbahaya itu jika kamu melumpuhkan dan melukai mereka.  Apakah kamu melakukannya?"


" Aku hanya melumpuhkan mereka saja," ucap Murong Jianyu.


" Baik."


" Penguasa," ucap Murong Jianyu ragu.


" Bicaralah..."


" Penguasa, untuk berbicara dan bertemu dengan pemimpin klan Dewa kuno merupakan hal yang sulit. Sejauh ini, apa rencana penguasa?" Dengan wajah serius.


" Tenanglah, hingga saat ini, rencana itu berjalan dengan lancar. Aku telah meminta para tetua kediaman Hua Zhen untuk membawa kita menemui Patriark klan, dan mereka menyetujuinya."


" Lalu kapan kita akan menemuinya?"


" Besok pagi, jadi persiapkan dirimu."


" Baik. Penguasa."


" Jianyu, mengenai mencari dukungan dan kerjasama dengan Klan Kuno lainnya, apakah kamu punya saran?"


Murong Jianyu terdiam, cukup lama berpikir mencari solusi mengenai hal itu.


" Penguasa, memang  ada banyak klan kuno, tetapi masalah utamanya adalah,  mereka tidak suka berperang."


" Benar, tetapi apakah mereka semua seperti itu."


Murong Jianyu menggelengkan kepalanya.


" Penguasa, ada Shen Guoshi Lieren, mereka terkenal dengan keahlian dalam memburu harta dan itu membuat mereka serakah dan suka berperang, namun  mereka sulit untuk dipengaruhi dan bekerjasama dengan klan dewa baru. Selain itu, ada Shen Guoshi Sunhai,  Shen Guoshi Feixu, Shen Guoshi Feng, Shen Guoshi Siwang, dan salah satunya Shen Guoshi Yin. Tapi apakah kita akan bekerjasama dengan mereka yang sangat liar dan sulit untuk di taklukan tersebut?"


Qing Ruo terdiam sesaat. Menatap Murong Jianyu dengan lekat.


" Baik, aku akan mempertimbangkannya lagi,  tetapi  salah satu dari mereka, yaitu Shen Guoshi Yin akan menjadi sekutu kita."


" Tapi Penguasa..."


" Tenanglah. Aku yakin bisa meyakinkan mereka. Lalu bagaimana dengan Shen Dong?"


" Shen Guoshi Dong, klan dewa kuno yang berada di wilayah timur itu memang terkenal kuat dan kaya, tetapi mereka juga  tidak menyukai peperangan. Mereka  cenderung membiarkan masalah individu diselesaikan secara individu, kecuali patriark mereka di ganggu, barulah seluruh kekuatan mereka akan ikut campur, tapi siapa yang ingin mengusik kekuatan besar itu."


" Tapi bagaimana dengan pernyataan Dong He sebelumnya?"


" Penguasa, itu adab dari sesama Klan Dewa kuno, yang sebelumnya mengganggap Anda sebagai Shen Guoshi Qing." ucap Murong Jianyu merasa heran, karena Qing Ruo terkesan tidak mengetahui kebiasaan para dewa kuno ketika mereka bertarung.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Tapi bukan itu maksudku. Apakah kamu memperhatikan  kondisi Dong He sebelumnya?"


Tiba-tiba mata Murong bersinar.


" Apakah maksud Penguasa, klan  utama mereka sedang mengalami masalah besar?"


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Semi abadi tingkat enam. Menurutmu orang gila seperti apa yang ingin membuat masalah dengannya? Selain itu, bukankah seorang tetua biasanya selalu berada di dalam klan,  tetapi Dong He  berada di wilayah di perbatasan utara?"


" Benar. Lalu apa rencana penguasa?"


" Setelah urusan di klan Hua selesai, mungkin aku akan bergerak ke utara, menuju klan Yin, lalu menunju klan Dong, setelah itu menuju Selatan."


" Baik, tapi penguasa, mengapa kita harus membangun  kekuatan di tempat yang sangat jauh. Bukankah itu akan menjadi masalah dalam menggerakan pasukan?"


" Jianyu, tidak ada masalah dalam hal itu, karena setiap Klan Dewa kuno pasti memiliki gerbang teleportasi jarak jauh, sehingga kita tidak memikirkan masalah itu."


Murong Jianyu terdiam, dan menganggukkan kepalanyanya.


Setelah membicarakan banyak hal, Murong Jianyu lalu meninggalkan ruangan itu.


" Beristirahatlah dan persiapkan dirimu," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa," ucap Murong Jianyu dengan hormat, lalu meninggalkan ruangan itu.


Setelah Murong Jianyu benar-benar pergi, Qing Ruo lalu menyegel ruangan, dan memasuki dunia jiwa.


***


Di tempat lain.


Hu Shan dan rombongannya yang terus berjaga,  mengawasi  kediaman Hua Zhen, di kejutkan dengan tindakan Hua Kai yang tiba-tiba keluar dari tempat itu.


" Saudara Hu Shan, aku akan mengawasinya," ucap Yu Jieru bergerak mengikuti tetua tersebut.


" Baik," jawab Hu Shan, sambil terus berjaga.


" Saudara, apakah kita harus segera melaporkan hal ini pada penguasa  sekarang?" tanya Liong Hei.


Hu Shan menggelengkan kepalanya.


"  Sebaiknya kita menunggu hasil penyelidikan saudara Lianghao," Jawab Hu Shan, sambil meminta rombongan untuk tetap berjaga.


" Baik..." jawab Liong Hei dan rombongannya.


****


Di tempat lain.


Hua Kai  terus  bergerak meninggalkan kediaman Hua Zhen, tanpa mengetahui dirinya sedang diawasi oleh Yu Jieru.


Dengan tenang sosok pria paruh baya itu terus bergerak menuju pusat kota, membuat Yu Jieru yang berada dari jarak dua seratus meter itu, semakin curiga.


" Sebenarnya apa yang dilakukan oleh tetua ini?" Yu Jieru membatin, sambil terus bergerak dan menyamarkan aura kultivasinya.


Setelah bergerak sepanjang waktu, Hua Kai tiba di istana kota, memasuki tempat itu, sehingga membuat Yu Jieru  hanya bisa menunggu di luar benteng istana.


****


Di dalam dunia jiwa.


Qing Ruo muncul di penjara barat. Menemui Yuan Bai dan Yuan Hei yang sedang menjaga Yin Gan.


" Penguasa muda," ucap Yuan Bai menyambut kedatangan Qing Ruo dengan hormat.


" Istirahatlah," ucap Qing Ruo sambil memasuki penjara.


Qing Ruo memasuki ruangan penjara, menatap Yin Gan yang begitu murka padanya.


" Argh..." teriaknya sambil berusaha melepaskan lilitan rantai hitam dari tubuhnya.


" Yin Gan, apakah siksaan Yuan Bai dan Yuan Hei masih belum cukup?" tanya Qing Ruo membuat Yin Gan semakin murka.


" Tch... Bunuh saja aku!" jawabnya sengit.


" Jenderal perbatasan benteng utara, ternyata memang tidak takut mati. Mungkin aku harus membawamu menemui Jenderal Luo Xing, atau Jenderal Baoyang Ran," ucap Qing Ruo santai, membuat Yin Gan terdiam.


" Apakah kamu takut?" tanya Qing Ruo mengejutkan lamunan.


" Baj***n kecil. Kamu pikir kekaisaran peduli dengan masalah itu, lagi pula apakah kamu yakin, mampu menaklukan-"


" Shen Guoshi Yin. Jangan sombong kalian. Apakah kamu pikir teknik terlarang kalian yang tidak sempurna itu mampu menahan gempuran pasukan utama kekaisaran? Apalagi ketiga kitab terakhir yang di bawa oleh ketiga putra patriark masih belum kalian miliki. Apakah kamu yakin?" tanya Qing Ruo, membuat Yin Gan mematung.


" Ini adalah masalah internal klan. Ba-bagaima kamu tahu? Siapa kamu sebenarnya?" menatap Qing Ruo dengan lekat.


" Rahasia," jawab Qing Ruo tersenyum santai, sambil mengeluarkan bola-bola petir sebesar buah anggur, membuat Yin Gan begitu ketakutan.


" Tu-tuan, aku akan bicara. Ta-tapi jangan-"


" Trark...." bola-bola petir yang ada di tangan Qing Ruo meledak, dan mulai menyelimuti tubuhnya, membuat Yin Gan terdiam.


" Shen Guoshi Qing..." ucapnya dengan mulut bergetar, menatap Qing Ruo yang dengan santai menyerap racun petir tersebut.


" Tu-tuan, jangan..." ucapnya memohon, saat Qing Ruo yang bergerak mendekatinya.


" Swhus..." Qing Ruo bergerak, mencengkram lehernya.


" Tu-tuan, aku mohon..."


" Diam," ucap Qing Ruo berusaha menyerap pengetahuan dan kekuatan jiwanya.


Yin Gan yang mengetahui tindakan Qing Ruo lalu merelakan kekuatan jiwanya diserap.


Dua menit kemudian, Qing Ruo mengakhiri tindakannya.


" Beristirahatlah. Jika perilaku baik, aku akan mempertimbangkan masa depanmu." lalu meninggalkan ruangan itu.


" Ba-baik tuan..." menatap kepergian Qing Ruo yang meninggalkan ruangan itu dengan wajah pucat pasi.


Di luar penjara.


" Penguasa," ucap Yuan Bai.


" Yuan Hei, Yuan Bai, beristirahatlah." ucap Qing Ruo, lalu meninggalkan tempat itu, dan keluar dari dunia jiwa.


" Swhus..." Qing Ruo muncul di dalam ruangan kamarnya, dan mulai memeriksa kekuatan jiwa Yin Gan.


Pada menit terakhir, Qing Ruo begitu terkejut saat merasakan sisa kekuatan semi abadi tingkat delapan dari kekuatan jiwa Yin Gan mengedar di dalam kekuatan jiwanya.


" Ini..." ucap Qing Ruo dengan penuh semangat.


Setelah memastikan dapat mengendalikan sisa kekuatan tersebut, Qing Ruo lalu berkultivasi, mempersiapkan diri untuk pertemuan yang dia rencanakan.


Menjelang pagi.


Qing Ruo tiba-tiba menghentikan kultivasinya, saat merasakan lencana  giok jiwanya bergetar.


" Hua Kai, apa yang dia lakukan di dalam istana kota. Apakah dia ingin melapor pada tetua di kediaman utama untuk memberitahu pertemuan ini." Membatin sambil mengirim pesan pada Hu Shan supaya tidak mengambil tindakan apapun.


" Sepertinya sudah pagi," ucapnya lalu bersiap-siap.


***


Di tempat lain.


Hua Zhen di dalam ruangannya juga sedang  bersiap-siap untuk menemui Hua Diu.


" Semoga Diu er, dapat bekerjasama dengan baik," batinnya lalu meninggalkan ruangannya.


****


Aula utama kediaman Hua Zhen.


Hua Zun, Hua Thong dan ke empat tetua lainnya sudah berada ada di tempat itu menunggu kehadiran Qing Ruo dan rombongannya, sambil berbincang-bincang santai.


Tampak ketegangan dari gurat wajah mereka. terutama Hua Ding, Hua Hai dan Hua Zhi yang tidak ikut bersama Hua Zhen di gurun perbatasan utara sebelumnya.


" Saudara Zun, jujur saja aku masih tidak yakin  dalam hal ini," ucap Hua Ding dengan wajah ragu.


" Benar, apalagi mempercayai orang lain..." ucap Hua Hai menimpal.


" Jujur aku juga masih ragu, tapi setidaknya kita patut mencoba," ucap Hua Zun.


" Benar, kita percayakan saja  pada penguasa muda Qing Ruo. Lagipula aku yakin dia tidak akan main-main dalam hal ini." Hua Thong berpendapat.


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Heian Bai dan Dalu Rong memasuki ruangan. Tidak lama kemudian disusul oleh Qing Ruo dan  Murong Jianyu.


" Penguasa Muda," ucap Hua Zun dan Hua Thong, menyambut kedatangan Qing Ruo dan rombongannya itu dengan hormat.


" Para tetua, saudara Bai, saudara Rong," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu duduk pada kursi yang tersedia.


Sambil menunggu Hua Zhen dan Hua Diu tiba, mereka berbincang-bincang santai.


" Tetua Zun, aku tidak melihat tetua Hua Kai?" tanya Qing Ruo, berpura-pura tidak tahu.


" Penguasa muda, mungkin tetua Kai sedang ada urusan, jadi kita tunggu saja dulu," jawab Hua Zun.


" Sepertinya demikian. Sebaiknya kita tunggu saja dulu," ucap Hua Thong.


Lima belas menit kemudian, Hua Zhen dan Hua Diu masih belum juga datang, apalagi Hua Kai yang juga masih belum menunjukkan batang hidungnya, membuat Hua Thong dan rombongannya mulai gelisah.


🙏🙏🙏


satu chapter ya kak.


***Terima kasih***



🙏🙏🙏