
Di tempat lain.
Qing Ruo terus bergerak meninggalkan kawasan pertempuran dan semakin menjauh dari tempat itu. Berbekal dengan peta rahasia yang di peroleh Long Fu dari organisasi rahasia kota Da Men dan penjelasan dari Yin Gan, Qing Ruo terus bergerak menghindari tempat-tempat yang berbahaya.
" Swhus... swhus...." sosoknya melesat diantara pohon-pohon raksasa, berharap pelariannya tersebut tidak diketahui oleh kedua jenderal kucing hitam bermata gelap tersebut.
****
Di tempat lain.
Mao Teng dan Mao Cheng akhirnya tiba di kawasan yang telah dihancurkan oleh mereka sebelumnya, menatap pertempuran yang terjadi di dalam kubah segel kabut gelap dengan kemarahan yang menyala.
" Badj***n kita benar-benar telah tertipu," ucap Mao Teng kesal.
" Jenderal besar, apa yang harus kita lakukan?" tanya ular gelap yang merupakan jenderal tingkat rendah yang masih berjaga di laur segel kabut gelap itu.
" Berdasarkan pergerakannya. Sosok itu pergi ke arah timur. Kalian, lakukan pengejaran!" ucapnya pada jenderal ular tersebut.
" Baik jenderal besar." Lalu membawa rombongannya bergerak meninggalkan tempat itu.
" Jenderal besar, apa yang harus kita lakukan pada ketiga semut hitam itu?" Tanya seorang komandan.
" Mereka sepertinya telah kehilangan pikirannya, dan tempat itu juga sudah dipenuhi dengan racun kekacauan. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu mereka berhenti sendiri." Dengan perasaan dongkol.
" Tapi jenderal, apakah itu berarti kita akan membicarakan mereka saling membunuh?"
" Tidak ada pilihan, karena jika kalian masuk ke tempat itu, maka kalian juga akan seperti mereka," jawab Mao Cheng menjelaskan.
" Tapi saudara, kita bisa mengetahui penyusup itu dengan menanyakannya pada komandan semut itu," ucap Mao Teng.
" Saudara benar. Kita harus memastikan bahwa komandan semut itu tetap hidup. Jika demikian kita bunuh saja prajurit yang tersisa," ucap Mao Cheng.
Pada saat mereka hendak bergerak memasuki, tempat itu, tiba-tiba ketiga semut hitam itu meledakkan diri.
" Dhuar.... dhuar...." Ledakan dahsyat bergema, mendorong kedua kucing hitam yang hendak memasuki lingkaran segel kabut gelap tersebut.
" Badj***n. Ternyata dewa kep***t itu juga sudah mengantisipasi hal ini. Argh...." Teriak Mao Cheng kesal. Dan yang lebih mengejutkan mereka lagi, ternyata ketiga sosok semut raksasa yang meledakan diri itu, tidak memiliki mutiara jiwa.
" Badj***n. Ini adalah boneka hidup."
" Tapi bagaimana kepa***t itu melakukannya?"
" Ini seperti teknik terlarang dari klan dewa pengendali hewan," ucap Mao Teng.
" Maksud saudara Teng, klan Shen Xun?"
" Benar. Hanya mereka yang bisa mengendalikan Hewan hingga ke tingkat yang ekstrem ini. Tidak heran ketiga semut itu bahkan tidak terpengaruh oleh racun kekacauan...."
" Itu berarti penyusup tersebut berasal dari klan Shen Xun?"
" Sauadara Cheng, kita masih belum bisa memastikannya, karena teknik tersebut juga bisa dipelajari oleh orang lain."
" Ini benar-benar kerugian yang luar biasa," ucap Mao Cheng menggelengkan kepalanya.
" Komandan, urus sisa kekacauan ini. Setelah selesai, kerahkan semua pasukan untuk bergerak menyisir ke arah timur."
" Baik jenderal besar."
Setelah berkata-kata, Mao Teng dan Mao Cheng lalu bergerak meninggalkan tempat itu.
" Swhus... swhus...." sosoknya lenyap dari pandangan para komandan dan prajurit hewan gelap tersebut.
" Ini adalah kekacauan terparah sepanjang masa. Bahkan Jenderal kembar pun, dibuat kelabakan seperti ini," ucap prajurit kadal hitam, sambil membantu rombongannya mengangkut mayat prajurit yang telah terbunuh.
****
Di tempat lain. Menjelang sore.
" Swhuss...swhus..." sosok Qing Ruo yang terus bergerak dengan kecepatan puncaknya, akhirnya tiba di sungai besar yang sangat jernih.
" Seberang sungai ini adalah kawasan hutan hidup," ucapnya pelan, lalu bergerak menyusuri sungai tersebut.
Pada saat hari mulai gelap, Qing Ruo akhirnya menemukan sebuah ceruk kecil yang berada ditepi sungai.
" Ternyata ceruk ini cukup dalam. Sepertinya tempat ini sedikit lebih aman," batinnya, sambil memasuki bagian dalam ceruk kecil itu dan menyegelnya.
" Swhuss.... swhus...." sosok Yanshi Gong dan Long Chen muncul di tempat itu.
" Penguasa," ucap Long Chen, menyapa Qing Ruo melalui telepati dengan hormat, yang ditanggapi anggukan ramah Qing Ruo.
Qing Ruo hanya menganggukan kepalanya, lalu menunjukkan ke arah sungai yang berada di luar ceruk yang dibatasi oleh perisai ilusi transparan. .
" Tetua, lihatlah," ucapnya.
" Tuan Muda, apakah kita telah tiba di sungai besar?"
" Benar, sungai batu besar. Di seberang kita adalah kawasan Hutan hidup. Jadi malam ini kita akan beristirahat di tempat ini."
" Tuan muda, Anda sepertinya sudah mengetahui kawasan ini...." Menantap Qing Ruo dengan lekat.
" Hanya sedikit," ucap Qing Ruo merendah, sambil memeriksa tempat itu dengan seksama.
" Tetapi setidaknya tuan muda tidak buta kawasan ini," ucapnya dengan penuh semangat.
" Tetua, sepertinya ceruk kecil ini ...." ucap Qing Ruo menjeda kata-katanya, menatap tanda kecil yang berada dilangit ceruk itu, membuat keceriaan dari wajah Yanshi Gong langsung menghilang.
" Penguasa, ini adalah pintu makam," ucap Long Chen dengan wajah serius.
" Benar, ini adalah tanda segel makan kuno," ucap Yanshi Gong dengan panik.
Qing Ruo terdiam, karena tidak menyadari tempat yang dimasukinya adalah kawasan terlarang lainnya.
" Ternyata hewan gelap itu menghindari tempat ini. Tidak heran aku tidak menemukan jejak aura sedikitpun, sehingga aku mengira tempat ini lebih aman." Membatin.
" Apakah tetua tahu makam ini?"
Yanshi Gong yang tampak khawatir itu menggelengkan kepalanya.
" Tuan muda, apa yang harus kita lakukan?"
Pertanyaan Yanshi Gong membuat tempat itu menjadi hening.
Pada saat mereka sedang berpikir, tiba-tiba lantai ceruk itu bergetar.
" Swhuss...." Lubang angin selebar tiga meter muncul, menghisap Qing Ruo dan rombongannya.
" Tuan muda, ini...." ucap Yanshi Gong berusaha melawan hisapan angin hitam yang sangat kuat tersebut, sambil bergerak menjauh, sedang Qing Ruo yang tepat berada di pusaran angin itu, langsung terhisap di dalamnya.
" Tuan Long Chen, bagaimana ini..." ucap Yanshi Gong dengan wajah panik.
" Tuan Gong tetap berjaga di tempat ini. Aku akan menyusul tuanku." Sambil melepaskan tapak perak, mendorong Yanshi Gong menjauh dari pusaran angin hitam tersebut.
" Swhus....." Sosok Yanshi Gong terlempar dan menjauh dari pusaran angin hitam tersebut, bersamaan dengan lenyapnya sosok Long Chen.
" Swhuss...." Lingkaran selebar tiga meter itu lenyap, membuat tempat itu menjadi tenang kembali.
" Semoga tuan muda Qing Ruo dan tuan Long Chen baik-baik saja," ucap Yanshi Gong seperti kehilangan arah, menatap lantai ceruk yang kini kembali seperti semula.
****
Di dalam pusaran angin hitam.
Qing Ruo yang terhisap oleh angin hitam itu, berusaha mengimbagi dirinya agar dapat melihat situasi yang berada di bawahnya dengan jelas.
" Swhus..." Long Chen muncul di sisinya.
" Penguasa," ucap sambil melepaskan lilitan rantai perak dan mengikat mereka berdua agar tidak terpisah di dalam pusaran angin yang sangat ekstrem tersebut.
" Di mana tetua Yanshi Gong?"
" Hamba memintanya untuk berjaga," ucap Long Chen menjelaskan tindakannya.
" Baik," ucap Qing Ruo berusaha untuk tetap bersikap tenang.
" Long Chen, sepertinya ada yang salah dengan pusaran angin hitam ini," ucap Qing Ruo menyadari keanehan angin itu.
" Penguasa benar. Pusaran angin hitam ini seperti menghisap kita, tetapi tidak membawa kita turun ke dasar," ucap Long Chen menyadari keanehan angin hitam itu yang terus mengombang-ambingkan mereka.
" Itu berarti kita terjebak di dalam pusaran angin hitam ini," ucap Qing Ruo, sambil berusaha mempelajari elemen angin tersebut.
Melihat Qing Ruo yang tidak panik dan tetap tenang, membuat Long Chen juga sedikit tenang.
" Long Chen, aku akan berusaha mencoba mempelajari kekuatan elemen angin ini, dan kamu lakukan cara lainnya, karena semakin lama kita di dalam pusaran angin hitam ini, maka semakin cepat kita kehabisan tenaga," ucap Qing Ruo.
" Baik penguasa."