Sang Penguasa

Sang Penguasa
204. Kota Da Men 1.


Di tempat lain.


Arah timur gunung Es kabut hitam. Qing Ruo dan Long Chen, terus bergerak menuju kota Da Men dengan santai.


" Penguasa, mengapa kita harus pergi ke arah timur? Bukankah gerbang es hitam itu berada di wilayah Utara?"


" Aku ingin ke kota Da Men terlebih dahulu, untuk mencari informasi penting lainnya. Sebelumnya aku ingin mengajak tetua Yanshi Gong, namun  melihat reaksinya  yang seperti itu, membuat aku tidak yakin."


" Penguasa benar. Kita memang memerlukan informasi penting mengenai tempat itu, dan juga memerlukan penunjuk jalan," ucap Long Chen dengan hormat.


Pada saat mereka sedang bergerak,  tiba-tiba Mifeng Yi bersama pasukannya muncul di hadapan Qing Ruo, dan menghadangnya.


" Swhuss.. swhuss..." sosoknya  menjadi manusia.


" Apakah kalian tersesat?"


" Sebelumnya kami memang tersesat, tetapi sekarang tidak," jawab Long Chen dengan tenang.


" Oh, apakah itu berarti  kalian sudah tahu tempat ini?"


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Jendral, kami benar-benar sedang terburu-buru. Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan, silakan." ucapnya dengan tenang.


Mifeng Yi tersenyum santai.


" Apakah kalian yakin bisa meninggalkan tempat ini begitu saja...." dengan tatapan dingin.


" Tuan, kami-"


" Kembalikan kedua saudara kami sebelumnya!" Dengan sorot mata tajam.


Long Chen terkekeh.


" Melawan tetua Yanshi Gong saja kalian tidak bisa. Apakah kalian yakin ingin menahan kami di sini?"


Provokasi yang dilontarkan oleh Long Chen membuat Mifeng Yi menjadi kesal.


" Kepa***t. Apakah kalian-"


" Swhus..." ledakan aura semi abadi tingkat tujuh dari tubuh Long Chen membuat Mifeng Yi dan rombongannya langsung bergerak mundur.


" Jenderal, ternyata dia semi abadi tingkat tinggi...." ucap para komandan lebah yang ada di belakangnya dengan wajah serius.


" Jujur saja yang menangkap kedua saudara kalian sebelumnya itu adalah kami. Tapi karena mereka telah menguping pembicaraan kami, maka  tuanku  harus menahannya," ucap long Chen dengan santai membuat Mifeng Yi semakin kesal.


" Kalian!"


" Tuan, jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi,  maka kami akan pergi dulu," ucap Qing Ruo.


Tiba-tiba Mifeng Yi tertawa.


" Apakah kalian pikir kami takut!"


" Minggir!" ucap Long Chen dengan tatapan tajam.


" Baj***n. Kami tidak ingin melawan Yanshi Gong itu karena dia-"


" Itu karena kalian lemah. Minggir!" ucap Long Chen sekali lagi, sambil bergerak melewati rombongan manusia lebah itu dengan santai.


" Prajurit, serang!" Teriak Mifeng Yi memberi perintah pada pasukannya dengan kemarahan menyala. 


" Jangan tidak tahu diri kalian," ucap Long Chen dengan kesal, hendak menyerang, yang langsung di hentikan oleh Qing Ruo.


" Long Chen," ucapnya santai, sambil berhenti. Menatap ratusan lebah raksasa yang telah bertransformasi dan siap menyerang tersebut.


" Sebelumnya kalian telah kehilangan banyak orang. Apakah kalian ingin mengulangi kesalahan yang sama," ucap Qing Ruo sambil melepaskan aura semi abadi tingkat delapan milik Yin Gan.


" Trark...." Ledak petir tiba-tiba muncul di ujung jarinya, membentuk bola petir yang cukup besar sehingga menerangi kawasan gunung salju berkabut gelap itu menjadi sedikit terang.


Tindakan Qing Ruo tersebut membuat Mifeng Yi dan rombongannya ternganga.


" Yang ingin mati, silakan berdiri di hadapanku," ucap Qing Ruo membuat kawanan lebah emas itu berhamburan, membuat Long Chen tertawa terbahak-bahak.


" Swhus...." Qing Ruo menarik kekuatannya, membuat tempat itu menjadi tenang kembali.


" Benar-benar pengecut. Tidak sesuai dengan gertakannya," ucap Long Chen menatap Mifeng Yi yang telah meninggal tempat itu dengan wajah pucat pasi.


" Sudahlah, mari kita pergi," ucap Qing Ruo sambil bergerak meninggalkan tempat itu.


***


Yanshi Gong yang sebelumnya tiba-tiba merasakan kemunculan ledakan aura semi abadi tingkat tujuh dari tubuh Long Chen, segera keluar dari dalam gua dan memeriksa tempat itu, dan melihat tindakan Qing Ruo dengan jelas.


" Ternyata pemuda itu lebih kuat dariku. Untung saja aku tidak menyinggungnya." Membatin, sambil menatap kepergian Qing Ruo dan Long Chen dengan menggelengkan kepalanya, lalu bergerak mengikuti Qing Ruo.


****


Di tempat lain.


" Penguasa, mengapa kita tidak membunuh lebah-lebah itu?" tanya Long Chen dengan heran.


" Long Chen, apakah ada untungnya untuk kita?" tanya Qing Ruo, membuat Long Chen tiba-tiba terdiam.


" Tapi apakah ini tidak akan menjadi masalah di masa depan?"


" Bukannya aku meremehkan keberadaan mereka, tetapi pada dasarnya lebah emas adalah serangga yang paling lemah. Selain itu, mereka juga tidak memiliki kekuatan lain."


" Penguasa benar. Mereka hanya mengandalkan jumlah, tetapi benar-benar tidak memiliki kemampuan khusus. Selain itu, mereka juga sepertinya telah kehilangan pemimpin."


" Benar. Dengan situasi yang mereka hadapi sebelumnya, sangat mustahil jika ratunya akan diam saja." Sambil terus bergerak santai.


" Apakah penguasa merasakan sesuatu?"


" Ada banyak aura yang berkeliaran. Lalu apakah yang kamu maksud itu hewan buas  atau sosok yang terus mengikuti kita?"


" Sosok yang ada di belakang kita."


" Aku rasa itu tetua Yanshi Gong. Biarkan saja," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak tenang.


" Baik Penguasa."


Karena bergerak dengan santai, menjelang pagi Qing Ruo dan Long Chen akhirnya tiba di kota Da Men.


Setelah melewati pemeriksaan dari prajurit  penjaga kota, Qing Ruo dan Long Chen lalu memasuki kota itu dengan santai.


" Penguasa, sepertinya kota ini cukup tenang." Berbicara melalui telepati.


" Aku rasa demikian," ucap Qing Ruo sambil mengawasi semua orang yang ada di jalanan kota itu.


" Penguasa, karena kota  ini begitu jauh dengan gerbang es hitam, apa yang harus kita lakukan? Karena menggunakan gerbang teleportasi kota terlalu berisiko. Lagi pula aku begitu heran dengan pihak kota Heian, yang....." ucap Long Chen menjeda kata-katanya, saat melihat beberapa pemuda yang seperti bergerak mendekati mereka.


" Tujuanku ke kota ini adalah untuk membuat persiapan. Mengenai gerbang teleportasi kota Heian. Aku rasa mereka sudah memikirkannya hal ini dengan matang," ucap Qing Ruo yang tidak ingin menyalahkan para penjaga gerbang teleportasi yang mengarahkanya di puncak gunung es kabut hitam, menanggapi, sambil memperhatikan beberapa pemuda yang semakin dekat dengan mereka.


" Tuan muda, tetua, tuan  kami mengundang Anda," ucap pemuda tersebut dengan hormat.


" Baik," jawab Qing Ruo, lalu mengikuti kelima pemuda tersebut dengan tenang.


" Apakah penguasa mengenal mereka?" Tanya Long Chen melalui telepati dengan penasaran.


" Long Chen, aku juga tidak tahu," jawab Qing Ruo dengan tenang.


" Penguasa, apakah ini tidak aneh?"


" Tentu saja ini aneh. Apakah kamu takut padanya?"


" Tentu saja tidak. Hamba justru ingin melihat penguasa menggertak mereka dengan aura semi abadi tingkat delapan milik Yin Gan," ucap Long Chen sambil terkekeh. Pengalamannya melihat reaksi Mifeng Yi dan rombongannya yang langsung lari terbirit-birit masih tergambar di dalam pikirannya, membuatnya senyum-senyum sendiri.


" Long Chen, apakah ada yang lucu?" Tanya Qing Ruo dengan heran.


" Penguasa, hamba masih membayangkan reaksi  para lebah emas itu. Bagaimana jika mereka  mengetahui tingkat kultivasi Penguasa yang sesungguhnya," ucapnya sambil menahan tawa.


Qing Ruo yang juga membayangkan hal itu hanya tersenyum-senyum kecil.


Sambil berjalan, mereka terus berbincang-bincang santai hingga tiba kediamanan mewah berbenteng, yang dijaga oleh prajurit bersenjata lengkap.


" Tuan, mari." Sang pemuda membawa Qing Ruo dan Long Chen memasuki tempat itu dengan hormat.


Saat melewati gerbang benteng tersebut, Qing Ruo dan Long Chen dikejutkan dengan sosok pria paruh baya yang langsung menyambut kedatangannya.


" Tuan Hua Ruo, tuan Long Chen, mari...." ucapnya dengan gembira.


" Tetua Yanshi Gong, apakah yang mengundang kami sebelumnya Anda?" sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Benar, aku tahu tuan muda dan tuan Long Chen pasti ingin beristirahat, jadi aku ingin menawarkan tempat kami yang sederhana ini." dengan senyumnya yang ramah.


" Tetua, terima kasih. Ini adalah tempat yang luar biasa," ucap Qing Ruo dengan hormat.


" Tuan muda, ini adalah kehormatan kami. Mari..." Sambil membawa Qing Ruo ke dalam ruangan utama.