
" Swhus...." sang jenderal menghampiri Qing Ruo dan rombongannya.
" Tetua, silakan kembali ke dalam klan dan memulihkan diri, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi." dengan ramah dan hormat.
" Terima kasih jenderal," ucap Lin Chang dengan hormat.
" Tuan Hua Ruo, mari," ucapnya membawa Qing Ruo ikut serta ke klan Lin.
" Terima kasih tetua. Aku rasa itu tidak perlu. Karena selain aku tidak terluka. Aku juga dapat memulihkan diri di tempat ini. Silakan tetua dan yang lainnya kembali ke klan untuk segera memulihkan diri."
" Jika demikian, kami pergi dulu, tuan." ucap Lin Chang dengan hormat.
" Tuan Hua Ruo, terima kasih," ucap kelima murid klan Lin itu bersamaan, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Saudara, segera pulihkan diri kalian," ucap Qing Ruo dengan ramah, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
Sang jenderal yang sebelumnya mengira Qing Ruo adalah bagian dari kelompok tersebut tampak terkejut.
" Dari Klan Kuno." Batinnya.
Setelah Lin Chang dan rombongannya benar-benar pergi. Qing Ruo pun juga hendak meninggalkan tempat itu, namun dengan segera dihentikan oleh Sang Jenderal.
" Tuan," ucapnya dengan hormat sambil menghampiri Qing Ruo.
" Jenderal," ucap Qing Ruo dengan hormat.
" Tuan Hua Ruo, maaf telah mendengar percakapan tuan sebelumnya."
" Maksud jenderal?" Tanya Qing Ruo dengan ramah.
" Tuan Hua Ruo, aku Hei Lin. Kebetulan tuan datang di kota ini. Jadi aku ingin meminta bantuan tuan."
" Bantuan?"
" Benar tuan, kami mohon agar tuan bisa meminta pemimpin kota Hua mengirim bantuan." Dengan wajah serius.
Qing Ruo yang tidak menyangka jika Hei Lin akan mengucapkan kata-kata seperti itu tampak sedikit terkejut.
" Maaf jenderal, bukanya aku tidak peduli dengan masalah kalian, tapi-"
" Tuan, tolonglah kami. Shen Guoshi Bai dan Shen Guoshi Hu telah melepaskan perlindungan yang pada kota ini. Jika ada klan Dewa kuno yang kembali melindungi kota Cheng ini. Kami yakin kota Ning akan melepaskan kami."
" Jenderal, anda salah. Aku Hua Ruo bukan dari kota klan Shen Guoshi Hua, tapi pengembara dari selatan," jawab Qing Ruo.
Sebenarnya bisa saja dia memilinta Hua Zhuigao untuk datang. Tetapi alasan yang baru disebutkan Hei Lin tersebut membuatnya ragu.
" Dua klan dewa kuno tiba-tiba melepaskan perlindungannya. Itu pasti karena telah terjadi sesuatu di internal kota Cheng, atau klan dewa kuno yang lebih kuat telah melindungi kota Ning." Batinnya. Sambil matanya mempelajari susunan formasi perisai perlindungan kota itu.
Di hadapan Qing Ruo.
Tiba-tiba wajah ramah Hei Lin menjadi masam.
" Jika demikian, silakan anda pergi. Jangan menjadi beban kota ini," ucapnya menghardik Qing Ruo.
Qing Ruo yang tidak menyangka tindakan Sang Jenderal yang tiba-tiba menjadi kasar itu hanya menganggukkan kepalanya lalu hendak pergi, namun dihentikan oleh Hei Lin sekali lagi.
" Pergi, tinggalkan kota ini," ucapnya dengan kesal.
Qing Ruo terdiam sesaat, menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan tempat itu.
" Belum sempat Hei Lin meminta pasukannya membuka celah perisai transparan tesebut, sosok Qing Ruo melesat keluar dari dinding perisai itu.
" Ba-bagaimana mungkin...." ucapnya, menatap sosok Qing Ruo yang seperti menembus air.
" Je-jenderal," ucap para komandan yang ada di sisi Hei Lin, menatap Qing Ruo dengan tercengang.
" Oh tidak. Berarti dia sebelumnya...." ucap sang komandan menjeda kata-katanya, menatap Hei Lin yang terdiam mematung.
Di luar perisai transparan.
Kemunculan Qing Ruo yang tiba-tiba keluar dari perisai perlindungan kota Cheng langsung mendapat serangan dari pasukan kota Ning yang sedang berusaha menghancurkan perisai pertahanan kota tersebut.
"Swhus... swhus....." Ratusan prajurit di tingkat pendekar kaisar Dewa bergerak dalam formasi serangan, melepaskan tembakan ratusan pedang perak yang membentuk sosok naga kearahnya.
" Dhuar.... dhuar...." tembakan pedang perak itu beradu dengan serangan tapak Qing Ruo, menghancurkan formasi pedang naga tersebut.
Melihat kemampuan Qing Ruo yang mampu menghancurkan ratusan pedang perak yang membentuk seperti naga tersebut membuat beberapa Jenderal pasukan yang merupakan para pendekar semi abadi tingkat tiga bergerak menyerang Qing Ruo.
" Para jenderal, aku ingin pergi. Dan aku tidak ada kaitannya dengan kota Cheng ini," ucap Qing Ruo sambil bergerak santai, namun tidak di gubris oleh para jenderal tersebut.
" Swhus.... Swhus..." Pedang perak yang diselimuti cahaya gelap itu melesat dengan ekstrem.
" Dhuar...dhuar...." Serang itu beradu dengan tinjuan tapak emas naga ilahi dan menghancurkan pedang perak tersebut.
" Aku tidak ingin terlibat dalam peperangan ini. Jadi jangan memaksaku untuk melawan kalian," ucap Qing Ruo sambil bergerak meninggalkan tempat itu.
" Ingin menipu di depan mata. Apakah kamu pikir kami buta?" teriak salah satu jenderal dengan murka, karena sebelumnya mereka dengan jelas melihat Qing Ruo ada bersama Lin Chang dan rombongannya.
" Baik, jika kalian memaksa," ucap Qing Ruo , lalu bergerak menyerang salah satu Jenderal.
" Swhuss...." Tubuhnya melesat seperti kilatan cahaya, menyerang sang jenderal, dan menamparnya dengan keras hingga melempar sosok itu sejauh seratus meter. Tidak hanya itu, Qing Ruo juga menyerang tiga jenderal lainnya, dan menampar mereka.
Di dalam perisai perlindungan kota. Hei Lin Dan pasukannya menatap pertempuran Qing Ruo dengan ternganga.
" Dia dengan sengaja tidak membunuh lawannya," ucap seorang komandan berbicara.
" Sepertinya demikian. Bisa menyentuh para jenderal dan menamparmya, itu berati kultvasinya lebih tinggi dari para jenderal tersebut," ucap yang lain berbicara.
Di luar Perisai perlindungan kota.
Para jenderal yang mendapat tamparan keras Qing Ruo itu menjadi kesal, Karen telah di permalukan di hadapan semua orang.
" Swhuss.... swhus ..." Mereka bergerak sambil melepaskan kekuatan penuh untuk menyerang.
" Jika kalian masih tidak mau mendengar, maka aku akan benar-benar membunuh kalian ucap Qing Ruo."
" Swhuss.... swhus...." Tujuh pisau cahaya Shen Guang muncul, mengitari tubuhnya dengan ekstrem.
Kemunculan pisau cahaya Shen Guang itu membuat para jenderal itu langsung menjauh, bahkan ratusan prajurit kota Ning yang hendak menyerang, segera mundur dengan teratur, membiarkan Qing Ruo pergi dengan tenang.
Di dalam perisai transparan.
Hei Lin dan Pasukannya dibuat ternganga.
" Di-dia ternyata dari klan Dewa Cahaya Shen Guang," ucapnya menyesali diri. Menatap Qing Ruo yang bergerak meninggalkan medan serangan para prajurit kota Ning.
Di luar Perisai perlindungan kota.
" Swhuss... swhus..." sosok Qing Ruo bergerak pergi.
Di belakangnya.
Para jenderal dan prajurit kota Ning menatap kepergian Qing Ruo menggelengkan kepala.
" Jika dia membunuh kita, bahkan pemimpin kota juga tidak akan bisa berbuat apa-apa," ucap sang jenderal sambil memegang pipinya yang masih memerah.
" Saudara benar. Walaupun mereka tidak lagi menjadi penguasa di wilayah tengah, tetapi Shen Guang tetaplah klan penguasa yang memiliki kekuatan yang besar."
" Saudara benar. Dia bahkan bisa menyentuh kita. Itu berarti dia memang sengaja menyembunyikan tingkat kultivasinya." Sambil menatap Qing Ruo yang tiba-tiba memasuki kabut hitam dengan santai.
*****
Perisai pertahanan kota Cheng.
Lin Chang dan para tetua lainnya kembali, untuk bergabung bersama pasukan untuk melindungi kota itu.
" Swhus... swhus...." sosok mereka muncul, lalu menemui Hei Lin yang masing menantap kepergian Qing Ruo yang lenyap di dalam kabut hitam.
" Jenderal, dimana tuan Hua Ruo?" tanya Lin Chang, membuat sosok Hei Lin kelabakan.
" Dia sudah pergi, tetua." Seorang komandan menjelaskan.
" Pergi? Bagaimana bisa. Apakah telah terjadi sesuatu?" Dengan tatapan tajam, membuat Hei Lin yang ada di sisi komandan itu semakin salah tingkah.
" Apakah kalian mengusirnya?" Dengan sorot mata dingin.
" Tetua, aku tidak sengaja mengusirnya," ucap Hei Lin terbata sambil menjelaskan tindakannya.
" Bod*h! Bagaimana seorang jenderal berpikiran picik sepertimu. Apakah kamu buta? Di saat kami dan semua murid klan yang berada di tingkat semi abadi tingkat dasar terluka parah. Dia bahkan tidak terluka dan kelelahan sedikitpun." Seorang tetua berbicara kesal.
" Saudara cukup. Yang terjadi biarlah berlalu. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi, karena aku yakin perisai ini tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi," ucap tetua yang lainnya menenangkan situasi.
" Ini sebagai pembelajaran bagi kita semua. Dan kamu jenderal. Jangan bersikap baik dan ramah ketika ada maunya saja. Coba untuk lebih bersikap tulus, karena ketulusan akan berbuah kebaikan, walaupun tidak, kita juga tidak rugi ketika berbuat baik pada orang lain," ucap Lin Chang yang kini telah datang dengan persiapan penuhnya tersebut.
👉 Maaf ya kakak-kakak, hanya satu bab🙏
🙏🙏🙏 Selamat Natal bagi teman-teman yang merayakan.🙏🙏🙏