Sang Penguasa

Sang Penguasa
Mental


“Sudah kenyang jadi tak berguna?” Perempuan gelap itu tersenyum kecil.


“!”  Jadi begitu ya.


Love tak menyangka serangan pertama yang dterimanya bukan serangan fisik, melainkan serangan mental.


Makhluk itu seolah tahu apa yang ia rasakan.


Love terdiam, boleh juga serangan lawannya ini.


Serangan mental tak kalah efektif juga dengan serangan fisik.


Mudah sekali terpancing, marah dan tak terima dengan perkataan itu.


Dan memang itulah yang diinginkan lawannya.


“….” Love diam tak bergeming, raut wajahnya tak berubah.


‘HO.’ Perempuan gelap ini tak menyangka dia masih teguh.


Menyerang perempuan di hatinya adalah strategi yang efektif.


Namun pada akhirnya dia bukan sembarang perempuan juga.


Pada akhirnya ada dua arti kenapa gadis pirang ini terdiam saja.


Entah ia memang tak terpengaruh sesuai dengan raut wajahnya, atau sebaliknya.


‘SIALAN!’ Lain di luar lain di dalam.


Amarahnya memuncak, emosinya tak karuan, dan tak disangka susah juga menahannya.


Rasa ingin menggetok lawannya meningkat drastis.


Namun akal sehatnya masih ada, ia masih bisa sadar diri.


Perempuan gelap ini bisa bersaing dengan sang tuan penguasa yang meski pada akhirnya mundur juga.


Sedang apa yang bisa ia lakukan pada makhluk kuat ini?


Pada akhirnya semua pose bertarung yang ditunjukkannya hanyalah gimik belaka.


‘DIA SALAH PILIH LAWAN.’ Amarahnya menghilang cepat dan kini malah protes.


Namun tak bisa dipungkiri memang masuk akal bagi makhluk gelap itu untuk mendatanginya.


Tak lain tak bukan adalah karena hubungannya sendiri dengan sang tuan penguasa itu.


Blush.


Gadis pirang itu tiba-tiba menutup wajahnya.


“?” Kenapa dia? Perempuan gelap ini jadi heran.


Entah kenapa pikirannya malah kemana-mana pas mikir ‘hubungan mereka’.


Perempuan gelap ini jelas sedang malu-malu meong.


“Oi.”


“!” Love langsung balik lagi ke dunia nyata.


Dan langsung masang pose bertarung lagi.


“….” Perempuan gelap ini terdiam, yah ia sudah tahu itu cuman akting saja sih.


“Kenapa kau mengikutinya?” Akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari mulut makhluk gelap ini.


‘Lho?’ Love terdiam, kok malah ngobrol?


Bukannya dia datang buat baku hantam?


Sudahlah jangan basa-basi, tunjukkan saja tujuanmu yang sebenarnya!


Rasanya keren sekali kalau ia mengatakan itu, namun sayang sekali mulutnya tak setuju dengan apa yang diinginkannya.


Sudah pasti ia bakal kalah, nggak ada gunanya juga menantang.


Sejauh pengalamannya bertemu makhluk gelap, jarang yang ada basa-basi di awal.


Entah itu binatang gelap atau makhluk lain, rata-rata mereka beringas, ganas dan langsung ke intinya.


Itulah kenapa ia penasaran kok makhluk gelap satu ini malah santai dan ngajak ngobrol.


“!”


BISA JADI INI BAGIAN DARI RENCANANYA!


Akhirnya terjawab sudah rasa penasarannya.


Dengan basa-basi dia bisa membuat lawannya lengah, dan itulah yang dinantikannya!


Gadis pirang ini tetap diam, dan tak ada rencana untuk menjawab pertanyaan makhluk itu.


Toh pertanyaannya yang sebelumnya juga diacuhin, ia juga bisa melakukan hal yang sama.


Dan gadis ini heran juga kenapa makhluk gelap ini penasaran soal ini.


Love pikir makhluk gelap selalu membahas hal berat, namun ternyata tidak begitu ya.


“….” Sang perempuan gelap terdiam, tak ada jawaban apapun.


Gadis pirang itu malah makin serius menatapnya.


Keriusannya terasa juga dari aura kekuatannya.


Lumayan juga aura kekuatannya yang sekarang.


Perempuan gelap ini bisa merasakannya.


Gadis pirang itu pasti melakukan sesuatu di antara jeda pertemuan mereka yang lama ini.


Love tak sadar lawannya sedang memuji kekuatannya sekarang.


Kini ia sudah lebih berkembang dibanding sebelumnya.


‘Uh.’ Entah kenapa situasi jadi makin tegang.


Gimiknya takkan berhasil sampai selamanya juga.


“HAH.” Love menghela nafas dan menyudahi aktingnya.


Lawannya nggak nyerang-nyerang juga dari tadi.


“Nah.” Perempuan gelap ini tersenyum kecil.


Love masih diam dan menatap apa adanya, ia masih tak tahu akan tujuan sang makhluk gelap ini.


Tak bisa dipungkiri sifatnya agak terlihat beda, kini raut wajahnya tak terlalu serius dan malahan terkesan santai.


Padahal dia serius banget pas di pertemuan sebelumnya.


“Aku hanya ingin ngobrol kok.” Perempuan gelap itu terlihat santai dan meyakinkan.


‘HA?’


MASA SIH BENER!?


Love tak menyangka dugaannya malah kejadian.


Lumayan meyakinkan sih, tapi ia tak semudah itu bisa ditipu.


“Percayalah.”


SYUT!


Tiba-tiba muncul kursi hitam dan perempuan gelap itu duduk santai di atasnya.


Whoa, ini beneran sih. Love akhirnya percaya juga.


Tak ada tujuan lain dibalik kedatangan makhluk gelap ini selain untuk mengobrol biasa.


Dia sudah sadar apa gunanya bertarung kalau langsung menang, itu membosankan.


Mendingan ngobrol tipis-tipis saja di sini.


Tak disangka makhluk gelap sepertinya punya sisi lain begini.


Yah Love tak punya pilihan lain selain meredakan kecurigaan dan dugaannya.


“Jadi enaknya bahas apa dulu?” Perempuan gelap itu memegang dagunya dan berpikir.


*


Sementara itu di sisi lain….


Terlihatlah dua makhluk masih di antara awan-awan sedang menatap satu sama lain.


Yang tak lain tak bukan adalah dua Max dan orang tua salah satu penjaga dunia Ini.


KREK….


Zirah putih kebanggaan pria tua ini terlihat retak, dan makin menyebar ke bagian lain.


Pada akhirnya armor super kuatnya pun rontok juga.


“….” Sementara di sisi lain, terlihat juga sang pemuda dengan beberapa luka lecet baru pada badannya.


Mereka lagi-lagi saling memandang dengan serius.


‘Hm.’ Sang pria tua ini terdiam dan menganalisis apa saja yang sudah terjadi.


Bahkan setelah semua serangan super kuat yang dilancarkannya masih belum cukup untuk membuat pemuda itu berdarah.


Jadi harus dengan cara apa lagi?


Untuk pertama kali setelah sekian lama sang makhluk penjaga dunia ini bingung.


Padahal sudah serius, namun ia belum melihat kemajuan yang berarti.


Di sisi lain, ia sudah menggoreskan banyak luka baru, namun itu masih jauh dari tujuannya.


Sementara itu Max terdiam tenang dengan deretan luka yang ada pada tubuhnya.


Inilah kali luka terbanyak yang pernah dialaminya selama debut di alam fantasi ini.


Karena sebelum-sebelumnya ia selalu bisa mengatasi lawannya dengan mudah dan bahkan tanpa terluka sama sekali.


Namun kali ini beda.


Lawan yang dihadapinya bukanlah sembarang lawan.


Inilah kekuatan makhluk penjaga dunia, melebihi ekspektasi dari rumor yang beredar.


Deretan luka yang ada di tubuhnya memang terkesan kecil dan tak berbahaya.


Namun nyatanya tak seperti itu.


Rasa nyeri yang hebat kini tengah dirasakannya.


“….” Entah kenapa bisa begitu, Max tak terlalu peduli juga.


Namun itu tak terlalu mengejutkan mengingat memang kekuatan orang tua ini tidaklah main-main.


Jadi wajar saja kalau sakit sih.


Ia bisa belajar banyak dari rasa sakit juga.


Tak lupa juga ini momen langka, jadi kenapa tak dinikmati?


“Kau.” Terdengarlah suara serius nan kesal dari orang tua ini.