
Di Atas panggung.
" Baik, kita lanjutkan dengan item lelang yang ketiga," ucap Hong Tianmi, membuat suasana di tempat itu kembali menjadi tenang.
Tidak lama kemudian seorang pelayan wanita membawa kotak giok putih di atas nampan, naik ke atas panggung dengan tenang.
" Baik item ketiga," ucap Hong Tianmi, Sambil membuka kotak giok putih itu, menampilkan lima buah apel emas yang telah berevolusi. Membuat ruangan itu menjadi riuh kembali. Mereka tidak menyangka, jika rumah lelang itu akan melelang lima buah Apel emas itu secara bersamaan.
" Lima buah Apel emas yang sudah berevolusi," ucap Hong Tianmi menegaskan, lalu menutup kotak giok itu kembali.
" Baik, harga awal kami buka dengan lima juta kristal jiwa abadi."
" Enam juta," ucap suara dari kamar nomor dua puluh, membuat semua orang tertawa keras, dan menyorakinya.
" Saudara, apakah Anda pikir ini buah apel biasa yang dimakan oleh klan manusia yang lemah itu...." Suara dari kamar nomor delapan mengejek dengan lantang, membuat tempat itu semakin riuh.
" Tuan-tuan, mohon untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan." Hong Tianmi, mengingatkan.
" Delapan juta..." ucap pemuda dari kamar nomor dua.
" Sepuluh juta...." Kamar nomor delapan mengajukan penawaran.
***
Di dalam ruangannya, kamar nomor sembilan.
" Penguasa, apakah itu apel emas yang penguasa lelang sebelumnya?"
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Long Chen, pemuda yang berada di samping kita seperti harus menerima pelajaran," ucap Qing Ruo dengan wajah kesal.
" Maksud Penguasa?"
" Long Chen, apakah kamu tidak mendengar apa yang telah dia katakan sebelumnya?"
" Apakah yang penguasa maksud itu adalah kata-katanya yang merendahkan ras manusia?"
" Benar," jawab Qing Ruo.
" Baik penguasa, lalu apa yang akan kita lakukan?"
" Jangan biarkan dia memenangkan lelang. Jika pun iya, kita buat dia membayar dengan harga yang sangat tinggi."
" Baik penguasa, hamba mengerti." Dengan mata bersinar.
Persaingan harga terus berlanjut, hingga harga lelang apel emas itu kini berada di harga dua belas juta kristal jiwa abadi.
Di dalam ruangannya. Pemuda yang berada di kamar nomor delapan itu, terus melakukan penawaran tanpa mengetahui rencana Qing Ruo dan Long Chen.
" Lima belas juta," ucapnya dengan lantang.
" Tujuh belas juta," ucap pemuda dari kamar nomor tiga.
" Delapan belas juta..." ucap pemuda dari kamar nomor sembilan belas.
" Dua puluh juta," ucap pemuda dari kamar nomor delapan.
" Dua puluh lima juta," ucap pemuda dari kamar nomor satu.
" Tiga puluh juta," ucap pemuda dari kamar nomor tiga, membuat persaingan itu semakin memanas.
Para pengunjung yang berada di luar ruangan khusus, hanya bisa menyaksikan persaingan yang semakin memanas tersebut tanpa berani mengajukan penawaran.
" Saudara yang berada di kamar delapan, mengapa diam saja? Apakah saudara sudah tidak memiliki uang," ucap pemuda dari kamar nomor dua puluh memprovokasi.
Mendengar ejekan dari pemuda yang berada di kamar nomor dua puluh, membuat telinga pemuda yang berada di kamar nomor delapan itu panas.
" Tiga puluh lima juta," ucap pemuda itu tiba-tiba menaikan harga.
" Penguasa, apakah kita akan terlibat?" Tanya Long Chen.
Empat puluh juta," ucap pemuda dari kamar nomor satu dengan sengit, membuat ruangan itu tiba-tiba menjadi senyap.
" Sepertinya saudaraku yang berada di kamar nomor delapan, hanya berani mengertak," ucap pemuda yang berada di kamar nomor dua puluh terus memprovokasi.
" Kamu miskin, diam!" ucapnya kesal, sambil mengajukan penawaran.
" Empat puluh lima juta," ucapnya meninggikan suaranya.
Di dalam ruangannya.
Long Chen dan Qing Ruo terkekeh, karena ada orang lain yang cukup berani menjebak pemuda yang berada di kamar nomor delapan tersebut.
" Lima puluh lima juta," ucap Long Chen tiba-tiba, membuat tempat itu menjadi gempar, bahkan hampir membuat Hong Dou menyemburkan minuman dari mulutnya.
" Nona...." ucap salah satu tetua yang berada di belakang Hong Dou bereaksi. Menatap Hong Dou yang menggelengkan kepalanya.
" Benar-benar cerdik," ucap Hong Dou sambil menggelengkan kepalanya.
Penawaran yang dilakukan oleh Long Chen, membuat tempat itu menjadi hening. Namun tiba-tiba sekali lagi pemuda yang berada di kamar nomor dua puluh memprovokasi.
" Lihatlah, air yang tenang ternyata memang menghanyutkan. Tidak seperti pemuda kaya yang ada di kamar nomor delapan. Beriak tapi dangkal!" ucapnya sengit, membuat suasana semakin memanas.
" Enam puluh lima juta," ucap pemuda itu sengit, dengan suasana yang tiba-tiba menjadi hening kembali.
Di dalam ruangannya.
" Long Chen, cukup," ucap Qing Ruo sambil tersenyum santai.
" Baik penguasa..." sambil tertawa kecil.
" Tuan muda, karena anda begitu menginginkannya, maka kami menyerah," ucap Long Chen santai, membuat pemuda dari kamar nomor dua puluh tertawa terbahak-bahak, sedangkan pemuda yang ada di dalam kamar nomor delapan itu duduk dan berdiri dengan gelisah.
" Tuan muda, anda terlalu gegabah," ucap tetua yang ada di belakangnya menggelengkan kepala.
" Tetua, aku...." dengan wajah pucat pasi yang disertai keringat dingin yang kini mulai membasahi dahinya.
" Tenanglah. Aku akan akan meminta tetua yang lain datang."
" Baik tetua. Sekalian minta bantuan pasukan lebih. Aku ingin memberi pelajaran pada baj***n itu," ucapnya menatap kamar nomor dua puluh dengan kesal, sambil meminta tetua yang ada di belakangnya untuk menandai pemuda yang tersebut memprovokasinya tersebut.
" Baik tuan muda."
" Enam puluh lima juta, bukanlah jumlah yang sedikit. Maaf sebelumnya telah meragukan saudara," ucap pemuda dari kamar nomor dua puluh sekali lagi bersuara.
" Saudara, sepertinya gonggongmu lebih keras dari anj***ng peliharaanku," ucap pemuda dari kamar nomor delapan yang kini mulai berani berkata dengan kasar.
" Tuan-tuan, mohon untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan." Hong Tianmi mengingatkan.
Setelah situasi mulai tenang kembali, Hong Tianmi mulai menghitung.
" Enam puluh lima juta pertama...."
" Enam puluh lima juta kedua...."
" Enam puluh lima juta ketiga...."
" Maka dengan ini kami umumkan, pemenang lelang item ketiga ini adalah tuan muda dari kamar nomor delapan, selamat." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
Acara lelang terus berlanjut. Setelah item kedua itu dinyatakan sah telah dimenangkan oleh Pemuda dari kamar nomor delapan, tidak lama kemudian seorang gadis kembali naik ke atas panggung sambil membawa kotak giok berwarna putih.
" Tuan-tuan, item lelang yang ke empat." Ucap Hong Tianmi, sambil membuka kotak giok itu.
" Swhus...." Bola putih transparan, sebesar kepalan tangan orang dewasa bersinar, melepaskan hawa dingin yang sangat kuat.
" Long Chen, giliranmu," ucap Qing Ruo.
" Baik Penguasa..." Dengan penuh semangat menatap bola kristal tersebut.
" Mutiara jiwa naga es, tingkat delapan ini kami buka dengan harga satu juta lima ratus ribu," ucap Hong Tianmi menjelaskan, sambil menutup kotak giok itu.