
Satu jam kemudian, Qing Ruo menghentikan pekerjaannya, lalu pergi ke istana emas, yang berada di pusat dunia jiwa.
" Swhus...." Sosoknya muncul di istana, di sambut Qing Ling, Huli Bai dan Huli Hei yang sedang berbincang-bincang santai di tempat itu.
" Gege," ucap Qing Ling dengan senyumnya yang hangat, menatap wajah Qing yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
" Penguasa," ucap Huli Bai dan Huli Hei dengan hormat.
" Kebetulan sekali," ucap Qing Ruo lalu duduk bersama mereka.
" Gege, apakah telah terjadi sesuatu?" Tanya Qing Ling dengan wajah serius.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya. Menatap Qing Ling dengan tersenyum santai.
" Apakah kalian semua sudah tahu Luo Jiao Lie?"
" Luo Jiao Lie? Penguasa, siapa dia?" tanya Huli Hei dengan penasaran.
" Itu berarti dia masih berlatih bersama Jun er," ucap Qing Ruo sambil menjelaskan sosok Luo Jiao Lie dengan rinci.
" Karena dia adalah orang kita, aku ingin kalian juga dapat membantunya."
" Baik penguasa," ucap Huli Bai.
Setelah berbincang-bincang cukup lama di tempat itu, Akhirnya Huli Bai dan Huli Hei meninggalkan ruangan itu.
" Ling er," ucap Qing Ruo sambil memeluk sang istri dengan penuh kehangatan, dan mengecup keningnya dengan lembut.
" Apakah telah terjadi sesuatu?" Menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Guang Zhou dan yang lainnya..." ucapnya pelan.
Qing Ling menganggukkan kepalanya.
" Aku juga sudah tahu. Sebelumnya, kami memang sedang membahas masalah itu." Memeluk Qing Ruo dengan hangat.
" Ling er, aku...." ucapnya ragu dengan perasaan sedih.
" Tidak perlu merasa bersalah. Ada kehidupan dan kematian, dan kita yang memiliki usia yang tidak terbatas juga bisa mengalaminya, apalagi mereka yang telah menjadi fana."
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Hanya saja aku belum sempat berterima kasih pada mereka yang selama ini telah membantu kita," ucapnya dengan tatapan menerawang.
Qing Ling yang sudah mengetahui reaksi Qing Ruo akan seperti itu hanya bisa terdiam, dan memeluknya dengan erat.
" Gege," ucap Qing Ling dengan lembut.
" Ling er, ada apa?"
" Putri kita," jawabnya pelan, sambil menunjukan gelang giok biru yang menyala di tangannya.
Qing Ruo menganggukan kepalanya, lalu mengikuti Qing Ling ke dalamnya kamarnya.
Dari luar kamar, terdengar tangisan keras Qing Lian An, membuat Qing Ruo dan Qing Ling mempercepat langkah mereka.
Pada saat mereka tiba, suara tangisan itu tiba- tiba hilang, dengan sosok mungil yang tertidur kembali.
" An er," ucap Qing Ruo gemas sambil meraih tubuh mungil itu, memeluknya dengan hangat, membuat Qing Ling menggelengkan kepalanya.
Dengan perlahan, perasaan sedih Qing Ruo kini memudar, terlebih lagi Qing Lian An yang berada di dalam pelukannya bahkan tidak terganggu sama sekali.
" Sepertinya dia benar-benar mengantuk," ucap Qing Ling.
" Sepertinya demikian," ucap Qing Ruo sambil menggendongnya dengan erat, lalu meletakkan tubuh mungil itu pada tempat tidurnya.
Setelah meletakkan Qing Lian An pada tempat tidurnya, Qing Ruo lalu menghampiri Qing Ling yang sedang menata buah-buahan abadi di atas meja kamar.
" Ling er, saat ini kita berada di kota Xi. Setelah itu, aku akan bergerak menuju kota Cheng, kota Bao, lalu tiba di pusat wilayah Utara. Dari kota itu aku akan menggunakan gerbang teleportasi besar, sehingga bisa langsung tiba di wilayah terlarang Es Hitam." Menjelaskan rute perjalanannya dengan rinci, sambil menikmati buah persik abadi
Qing Ling menganggukkan kepalanya.
" Semoga perjalanan kali ini berjalan dengan lancar. Gege, maaf aku tidak sempat menyiapkan makanan," ucapnya pelan.
" Tidak apa. Ini lebih dari cukup," ucap dengan lembut, sambil berbincang-bincang santai.
Setelah selesai menikmati makanannya, Qing Ruo dan Qing Ling melanjutkan perbincangan mereka di atas tempat tidur, hingga mereka berdua terlelap.
****
Di tempat lain.
Long Chen yang ditugaskan oleh Qing Ruo, akhirnya kembali.
" Saudara, bagaimana?" Tanya Huo Mingzhi.
" Syukurlah. Tapi aku rasa penguasa sedang beristirahat."
Long Chen menganggukkan kepalanya, lalu berbincang-bincang santai bersama Huo Mingzhi hingga pagi.
***
Di dalam dunia jiwa.
Qing Ruo terbangun dari tidurnya, mendapati Qing Ling sedang mengurus Qing Lian An.
" Ling er." sambil menghampiri Qing Ling dan meraih Qing Lian An yang sedang terbangun.
" Putri ayah ternyata sudah bangun." Berbicara pada Qing Lian An yang terlihat begitu senang.
" An er selalu terbangun pada saat menjelang pagi, nanti sebentar lagi akan tertidur kembali." Qing Ling menjelaskan.
Dan benar saja, tidak lama kemudian bayi kecil itu mulai merengek.
" Gege," ucap Qing Ling sambil meraih tubuh mungil itu, dan menyusuinya, membuat Qing Lian An mulai tenang kembali.
Sambil menemani Qing Ling yang sedang menyusui Qing Lian An, Qing Ruo berbincang-bincang santai, hinga dirinya menerima pesan dari Long Chen.
" Ling er, aku harus segera pergi." Menatap Qing Ling dengan hangat.
" Berhati-hatilah," ucapnya dengan lembut.
Setelah berpamitan pada Qing Ling, Qing Ruo lalu keluar dari dunia jiwa, dan muncul di dalam kamar.
Yang disambut Long Chen dan Huo Mingzhi dengan hormat.
" Penguasa, maaf telah mengganggu Anda," ucap Long Chen dengan hormat.
Qing Ruo tersenyum ramah.
" Ini juga sudah pagi. Long Chen, bagaimana?"
" Penguasa, aku telah mendapatkan informasi itu. Acara lelang itu di adakan oleh rumah lelang Giok Es. Hanya saja aku tidak mengetahui benda yang akan di lelang." Sambil menyerahkan lencana emas yang dia dapat dari rumah lelang itu.
" Mengapa bisa demikian?" .
" Sumber daya yang dilelang bersifat rahasia, hanya mereka yang ikut lelang yang mengetahuinya, dengan tujuan untuk melindungi mereka yang memenangkan hasil lelang tersebut."
Qing Ruo menanggukkan kepalanya.
" Jadi kapan acaranya dimulai?"
" Siang ini penguasa."
" Siang ini?"
" Benar penguasa. Alasanku mengganggu waktu istirahat Anda sebelumnya, karena alasan itu." Long Chen menjelaskan
" Jika demikian maka kita bersiap-siap." Sambil meminta Qilin api hitam kembali ke dalam dunia jiwa.
Setelah Huo Mingzhi kembali ke dalam dunia jiwa, Qing Ruo dan Long Chen lalu keluar dari dalam kamar itu.
Sambil berjalan menuju lantai dasar.
" Long Chen, apakah ada informasi penting lainnya?"
" Tidak ada penguasa. Sejauh ini kota Xi adalah kota yang aman. Walaupun demikian, aku tidak dapat memastikannya."
Qing Ruo menganggukkan kepalanya sambil terus melangkahkan kakinya.
Pada saat tiba di lantai dasar. Tampak tempat itu terlihat sepi. Hanya ada tiga pengunjung yang sedang berbincang-bincang santai.
" Sepertinya semua orang sudah pergi ke rumah lelang," ucap Qing Ruo.
" Sepertinya demikian," ucap Long Chen, sambil terus memimpin jalan.
" Saudara, apakah kalian akan pergi ke rumah lelang itu?" tanya salah satu pemuda yang sedang menikmati minumannya, berbicara pada Qing Ruo dengan ramah.
" Benar saudara. Apakah Saudara tidak pergi?"
" Tentu saja. Lagi pula acara masih lama, jadi kami sedikit bersantai," Jawab Pemuda itu sambil menunjukan senyumnya yang ramah.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Jika demikian, kami pergi dulu." Menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu meninggalkan tempat itu.
" Baik saudara. Sampai jumpa di rumah lelang," ucapnya sambil menangkupkan tangannya, menatap kepergian Qing Ruo dengan santai.
Setelah kepergian Qing Ruo, ketiga pemuda itu lalu kembali melanjutkan perbincangannya.