Sang Penguasa

Sang Penguasa
220. Strategi Qing Ruo.


Di dalam makam.


Long Yu Wei dan rombongannya yang berjaga di tempat itu kini mulai tidak tenang, berharap Qing Ruo segera keluar dari dalam dunia jiwa.


" Semoga saja Penguasa segera naik tingkat, dan segera keluar dari dalam dunia jiwa," ucap Long Chen, sambil mengarahkan pandangannya pada dasar makam besar tersebut.


" Aku juga berharap demikian, aku khawatir Kongqi Duyun akan mengubah pikirannya," ucap Long Yu Wei.


" Aku tidak yakin dia akan berani bertindak seperti itu, namun yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana cara kita membunuhnya," ucap Long Chen dengan serius.


" Aku juga ingin melakukannya,  tapi bagaimana caranya," ucap Long Qe menimpali pembicaraan tersebut.


" Tunggu penguasa, aku yakin dia sudah memikirkan hal ini," ucap Long Fu. 


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang,  tiba-tiba Qing Ruo keluar dari dalam dunia jiwa.


" Swhus...." sosok yang muncul di dalam perisai ilusi, bersamaan dengan lenyapnya perisai perak dan perisai es yang menyelimuti perisai ilusi tersebut.


" Penguasa," ucap mereka dengan gembira, saat merasakan kekuatan semi abadi tingkat enam tahap menengah merembes dari tubuh Qing Ruo.


" Long Chen, kita akan bergerak meninggalkan tempat ini, tapi setelah hari benar-benar terang."


" Baik penguasa."


" Baik, aku akan memulihkan pondasi kultivasiku," ucap Qing Ruo sekal lagi, dan duduk tenang di atas cakram langit Ling.


****


Dasar makam.


Kongqi Duyun duduk dengan tenang, namun tidak dengan pikirannya.


" Sudah pagi, tapi mereka masih belum juga pergi. Apakah mereka sedang menunggu pasukan bantuan?" Membatin sambil menatap Bai Yu Xu dan Bai Yu Ming yang sedang memulihkan lukanya.


****


Dua jam kemudian. Qing Ruo akhirnya selesai memulihkan diri.


" Long Chen, kita akan melanjutkan perjalanan," ucapnya sambil meminta Long Yu Wei, Long Fu dan Long Qe kembali ke dalam dunia jiwa. 


" Baik Penguasa," ucap Long Chen dengan hormat.


" Swhus... swhus..." sosok Long Yu Wei dan rombongannya lenyap, menyisakan sosok Qing Ruo dan Long Chen yang bersiap akan meninggalkan tempat itu.


" Penguasa, apakah kita akan membiarkan Kongqi Duyun begitu saja?" Berbicara melalui telepati.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


"  Aku sudah memiliki rencana mengenai hal itu."


" Baik," jawab Long Chen dengan penuh semangat.


" Mari kita temui tetua Yanshi Gong." Sambil bergerak menuju langit makam.


" Swhus....." Tanda segel yang berada di langit makam itu bereaksi, lalu membuka secara perlahan.


" Swhuss... swhus...." Sosok mereka berdua,  muncul di dalam ceruk.


" Tuan muda, tuan Long Chen," ucap Yanshi Gong dengan penuh semangat.


" Tetua, maaf telah membuat Anda khwatir," ucap Qing Ruo.


" Tuan Muda, Apakah kalian baik-baik saja?"


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Kita sudah bisa melanjutkan perjalanan, tapi aku masih ada sedikit pekerjaan."


" Maksud tuan muda?" Mengerutkan keningnya dengan heran.


" Tetua bawa Long Chen pergi dari tempat ini, dan tunggu aku di perbatasan hutan hidup."


" Tapi tuan muda...." Dengan ragu.


" Tetua, aku tidak ingin kita terus-menerus di kejar oleh jenderal hewan gelap itu."


Mendengar penjelasan itu, membuat wajah Long Chen langsung menjadi panik.


" Tapi penguasa...." ucap Long Chen, berbicara pada Qing Ruo melalui telepati.


" Long Chen, tenanglah. Aku sudah memikirkannya masalah ini dengan matang," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Baik penguasa," ucapnya pelan dan tidak ingin berdebat dengan Qing Ruo.


" Tetua,  Long Chen, setelah aku membuka segel pada mulut ceruk, segera tinggalkan tempat ini."


" Baik tuan muda."


" Baik," ucap Qing Ruo lalu membuat segel tangan, dan membuka  perisai mantra formasi yang melindungi ceruk itu.


" Penguasa, berhati-hatilah," ucap Long Chen sambil bergerak meninggalkan tempat itu.


" Swhus.... swhus....." sosok mereka berdua keluar, melesat menyeberangi sungai raksasa tersebut.


Setelah Long Chen dan Yanshi Gong pergi, Qing Ruo lalu menyegel tempat itu dan menggubah susunan  mantra formasi pintu makam yang berada di lantai ceruk.


" Swhus...." sosoknya bergerak meninggalkan tempat itu, melepaskan jejak aura di setiap tempat yang dilewatinya.


" Swhus....swhus...." Qing Ruo terus bergerak kembali, memasuki kawasan yang pernah dilewatinya, lalu berhentinya.


" Swhus..... swhus..." tapak penghapus lagit dengan balutan petir hitam keemasan muncul, dan mulai menghancurkan kawasan itu dengan ekstrem.


" Dhuar .... dhuar...." Serangan tapak yang menghancurkan pohon-pohon raksasa dan mengubahnya menjadi debu, mengguncang kawasan itu hingga beberapa kilometer.


Satu menit kemudian, puluhan sosok ular hitam dan dua jenderal kadal hitam raksasa dan dua jenderal kucing hitam, tiba di tempat itu.


" Badj***n itu ternyata kembali berulah," ucap jenderal kucing hitam  dengan kesal, sambil memanggil  jenderal utama.


Tidak lama berselang,  Mao Cheng dan Mao Teng tiba di tempat itu.


" Saudara Cheng, para dewa kepa**t ini benar-benar menantang kita." ucap Mao Teng dengan kemarahan menyala.


" Ini aneh, apa yang dilakukan mereka di tempat ini. Jenderal,  apakah kalian menemukan sesuatu?" Tanya Mao Cheng.


" Jenderal besar, kaki tidak menemukan apapun, tetapi jejak auranya ke arah utara."


" Jika demikian, bergerak!" ucapnya dengan serius, lalu bergerak meninggalkan tempat itu,  mengikuti jejak samar yang dilepaskan oleh Qing Ruo.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo terus bergerak kembali menuju jeruk yang ditempati oleh Kongqi Duyun.


" Swhuss...." Tubuhnya memasuki ceruk lalu bersembuyi di ujung ceruk yang sempit dan menyegelnya.


Lima menit kemudian.


Mao Teng dan Mao Cheng beserta pasukannya tiba di tepi sungai ular putih.


" Jenderal besar,  jejak auranya bergerak menuju tempat itu,"  ucap ular  hitam raksasa pada ceruk kecil tersebut.


" Sepertinya itu adalah pengalihan, karena tidak mungkin sosok itu sembunyi di dalam jeruk yang sangat dangkal tersebut," ucap Mao Cheng.


" Tunggu dulu, ingat kejadian sebelumnya dimana mereka  bisa bersembunyi di hadapan kita. Prajurit, periksa tempat itu." ucap Mao Teng dengan serius.


" Baik jenderal."


" Swhus...swhus...." Dua ular hitam bergerak,  memasuki ceruk tersebut dan memeriksanya.


Pada saat kedua ular hitam itu sedang memeriksa ceruk tersebut, tiba-tiba pintu masuk makam yang berada di  lantai  ceruk itu terbuka.


" Swhuss...swhuss...." Mereka bergerak,  menghindari lubang tersebut.


" Jenderal besar, mereka ada di dalam," teriak  ular hitam, saat merasakan jejak aura pertempuran yang masih tersisa di dalam makam itu.


" Saudara Teng, Mari kuliti mereka!" ucap Mao Cheng dengan kemarahan  menyala, bergerak memasuki ceruk.


" Dewa kep***t. Kalian akan mati hari ini!" ucap Mao Teng, bergerak memasuki lubang makam.


" Kalian kembalilah. Pertempuran ini bukan untuk kalian," ucap Mao Cheng pada prajurit hewan gelap yang berada di tempat itu, lalu bergerak memasuki lubang makam.


" Baik jenderal," jawab mereka tanpa membantah, berbondong-bondong bergerak meninggalkan tempat itu.


Dalam waktu singkat, dentuman ledakan dahsyat bergema di dalam makam, menggetarkan dinding sungai tersebut.


Di dalam sudut ceruk.


Qing Ruo yang sedang bersembunyi di tempat itu segera melepaskan segel emas, menutup lubang makam, dan berjaga di tempat itu.


" Swhuss... swhus..." Long Yu Wei, Long Fu dan Long Qe muncul di tempat itu.


" Penguasa, apa yang terjadi?" tanya Long Yu Wei, yang begitu penasaran dengan suara ledakan yang terus bergema di bawah mereka.


" Aku telah memancing  dua jenderal  hewan gelap, yang berada di tingkat sembilan semi abadi tahap puncak agar melawan Kongqi Duyun," jawab Qing Ruo menjelaskan.


" Benarkah? Lalu apa yang akan kita lakukan?"


" Menunggu hasil  pertempuran tersebut, serta melihat peluang yang bisa kita ambil," ucapnya tersenyum santai.


" Baik penguasa. Kami mengerti..." ucap Long Yu Wei dengan gembira.


" Sudah aku katakan. Penguasa pasti sudah memikirkan hal ini," ucap Long Fu, berbicara melalui telepati pada Long Yu Wei dan Long Qe.


****


Di dalam makam.


Kongqi Duyun yang  dikejutkan dengan kemunculan Mao Teng, yang tiba-tiba melepaskan serangan membabi buta di dalam ruangan itu, begitu murka.


" Binatang buas seperti kalian benar-benar menganggap diri  terlalu tinggi!" ucapnya geram sambil melepaskan  tembakan angin Abadi.  Namun belum hilang keterkejutannya, tiba-tiba Mao Cheng muncul, dan ikut membatu Mao Teng mengeroyoknya.


" Dewa kepa***t tidak tahu diri!" ucap Moa Teng murka, melepaskan serangan  cakar perak.


Dalam hitungan menit, pertempuran dahsyat itu melukai mereka dengan parah, namun yang  lebih mengenaskan  Bai Yu Xu dan Bai Yu Ming yang berada di dalam air, tewas tanpa mengetahui sosok yang membuat masalah di tempat itu.


Dalam pertempuran dahsyat itu, Kongqi Duyun menyadari kemalangannya itu  pasti ulah dari Qing Ruo, namun dirinya tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan masalah itu, karena dia yakin kedua kucing hitam bermata gelap itu juga tidak akan pernah mendengar penjelasannya.


" Bajd***n kecil itu benar-benar memanfaatkan sibod*h ini," ucapnya kesal, yang tidak menyangka akan mendapat masalah yang akan mengakhiri perjalanan kultivasinya.


" Dhuar... dhuar ..." Ledakan dahsyat itu terus bergulir, bersamaan dengan mulai  melemahnya kekuatan mereka.


" Jika aku mati di tempat ini. Maka kalian juga!" ucap Kongqi Duyun yang sudah tidak memiliki pilihan itu, melepaskan kekuatan puncaknya.


" Argh ..... Kepa***t !" Ucap Mao Cheng kesal, menyadari sosok Kongqi Duyun yang ingin mengorbankan diri dengan menggunakan teknik roh penghancur diri.


" Saudara Teng,  dia ingin menggunakan teknik penghancuran diri!" ucap Mao Cheng sambil membuat perisai perlindungan diri dan melepaskan tembakan cakar perak  untuk mengganggu Kongqi Duyun yang sedang mempersiapkan serangan tersebut.


" Mari mati bersama!" ucap Kongqi Duyun sambil tertawa keras.


" Dhuar....." ledakan dahsyat itu menggetarkan kawasan itu.


👉 **Maaf satu bab ya kakak. Sedang 🥶 . terimakasih** 🙏🙏🙏.