Sang Penguasa

Sang Penguasa
60. Kota Hua 3.


Di dalam kamar penginapan Bunga Persik.


Yuan Bai dan Yuan Hei yang ditugaskan oleh Qing Ruo untuk berjaga di dalam kamar,  duduk dengan tenang, berkultivasi menyerap kekuatan ilahi dari daratan daratan surga tersebut.


Di dalam dunia jiwa.


Menjelang malam.


Qing Ruo yang beristirahat sepanjang hari bersama Qing Ling, terbangun dari tidurnya. Dengan lembut ditatapnya wajah wanita yang selalu menghawatirkan dirinya itu dengan penuh cinta. Karena tidak ingin Qing Ling terbangun,  Qing Ruo kembali memejamkan matanya.


Baru saja dirinya memejamkan mata,  tiba-tiba terdengar tangisan Qing Lian An.


" An er," ucap Qing Ling dengan seketika, terbangun dengan tergesa-gesa.


" Putri ibu," ucapnya lembut, sambil memeriksa Qin Lian An, dan mulai menyusuinya.


Dari atas tempat tidur. Qing Ruo yang sebelumnya sudah terbangun dari tidurnya memperhatikan tindakan Qing Ling dengan perasaan haru, lalu bangun dan menghampirinya.


" Gege, maaf membuat mu terbangun..." menatap Qing Ruo dengan lembut.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya, menatap wajah cantik Itu dengan penuh kehangatan, lalu menatap wajah mungil yang terlihat begitu kehausan.


" An er,  sepertinya lapar," ucap Qing Ling dengan suara pelan.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


" Aku harus secepatnya  pergi ke wilayah selatan, untuk mencari tempat tinggal, dengan demikian aku memiliki banyak waktu untuk bersama kalian," ucapnya, duduk di sisi Qing Ling dan berbincang-bincang sambil merendahkan suaranya.


Qing Ling menganggukkan kepalanya.


" Semuanya aku serahkan pada gege," jawab Qing Ling lembut.


Lima menit kemudian, Qing Lian An tertidur kembali.


" An er," ucap Qing Ruo sambil meraih tubuh mungil itu dan menggendong dengan hangat.


" Gege," ucap Qing Ling lalu keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam mereka berdua.


Setelah Qing Ling pergi, Qing Ruo lalu membawa Qing Lian An berjalan-jalan di sekitar kamar, memeluk sang putri dengan penuh kehangatan. Sesekali Qing Ruo mengecup keningnya, mengajaknya berbicara dan tertawa kecil, membuat terlihat seperti berbicara sendiri.


" An er, Putri Ayah. Dunia yang seperti apa yang kamu inginkan? Ayah akan melakukannya untukmu.." ucapnya lembut sambil terus berbincang-bincang santai dengan sosok mungil yang kadang menyunggingkan senyum kecilnya tersebut.


Tiga puluh menit kemudian, Qing Ling kembali sambil membawa makanan.


" Gege makan dulu..."


Qing Ruo menganggukan kepalanya, meletakan Qing Lian An pada tempat tidurnya,  lalu menghampiri Qing Ling yang sedang menata makanan di atas meja.


" Ling er, dengan makanan sebanyak ini.."


" Aku di bantu Huli Hei," ucapnya sambil mengambilkan makanan untuk Qing Ruo.


" Mari makan," ucapnya dengan penuh semangat.


" Sungguh sudah lama kita tidak melakukannya,"  ucap Qing Ruo sambil menyuapkan makanan pada Qing Ling.


" Gege..." membuka mulut sambil tersenyum kecil.


Sambil menikmati makanan,  mereka berbincang-bincang dengan santai dan saling menyuapi. Kadang gelak tawa mereka berdua mengisi kamar tersebut.


Setelah selesai menikmati makanannya, Qing Ruo kembali membawa Qing Ling beristirahat, dan berbincang-bincang santai sepanjang malam hingga akhirnya tertidur.


Menjelang pagi, Qing Ruo terbangun, lalu berkultivasi sampai siang. Dua jam kemudian,  Qing Ruo lalu berpamitan Pada  Qing Ling.


" Gege, tetap berhati-hati..." Memeluk Qing Ruo dengan erat.


Qing Ruo menganggukan kepalanya, lalu mengecup kening itu dengan lembut.


" Tenanglah, aku tahu batasanku," ucap Qing Ruo lembut.


" An er, ayah pergi dulu..." ucap Qing Ruo sambil mengecup  keningnya lembut, lalu meninggalkan istana emas


Dari istana emas. Qing Ruo bergerak menuju istana petir kuno untuk menemui Luo Feng.


" Ayah..." Ucap Qing Ruo dengan hormat.


" Ruo er, " ucap Luo Feng dengan lembut.


" Ayah, saat ini kita ada di perbatasan Utara, wilayah tengah daratan ilahi."


" Perbatasan Utara?"


" Benar. Ayah apakah ada yang salah?"


" Dari pusat wilayah tengah ke perbatasan Utara,  setidaknya itu perlu waktu dua bulan perjalanan, itupun jika dilakukan tanpa singgah dan tanpa halangan sedikitpun. Apakah kamu menggunakan gerbang teleportasi?"


" Benar ayah."


" Menumpas pasukan gelap. Dan ternyata mereka adalah orang-orang dari klan Yin. Apakah ayah tahu?"


Luo Feng terlihat tenang, namun sebenarnya dia begitu terkejut.


" Apakah para pemimpin mereka menggunakan cadar perak?"


" Benar ayah."


" Shen Guoshi Yin. Mereka adalah klan dewa kuno yang berada di wilayah terluar utara yang disebut dengan Gerbang es hitam. Apa yang mereka lakukan di perbatasan utara ini?"


" Hal inilah yang ingin aku tanyakan pada ayah. Sebelumnya aku bertarung dengan dua leluhur mereka yang sangat kuat, semi abadi tingkat tujuh."


" Bagaimana dengan tingkat serangannya?"


" Sangat kuat, namun tidak begitu stabil."


" Itu adalah salah satu teknik terlarang mereka, menaikkan tingkat kultivasi dengan ekstrem. Namun pada saat mereka selesai bertempur, tingkat kultivasi mereka yang sesungguhnya akan hilang sebanyak tiga tingkat. Mereka terkenal dengan teknik meracuni dirinya sendiri, yang merupakan serangan racun pengendali tubuh yang sangat kuat."


" Ayah benar. Ciri-ciri itulah yang menjadi momok pasukan jubah emas. Apakah ada cara melawan mereka?"


" Sebaiknya jangan. Mereka adalah klan gelap yang sangat kuat dan tanpa ampun. Yang kamu hadapi mungkin pasukan yang paling lemah. Jika leluhur sejati mereka datang, itu akan sangat sulit," ucap Luo Feng membuat Qing Ruo terdiam.


" Tidak heran jika mereka tidak takut membuat masalah dengan pasukan jubah emas. Tapi ayah, aku yakin kemunculan mereka di wilayah perbatasan utara ini karena sedang mencari sesuatu."


" Kita juga tidak bisa memastikannya. Tetapi perlu kamu ketahui, Klan dewa kuno adalah klan yang memiliki pondasi yang sudah mengakar di daratan ilahi ini. Walaupun terlihat sederhana, tetapi jarang yang  ingin mengusik keberadaan mereka..."


" Ayah, lalu bagaimana dengan klan Hua?"


" Apa!" ucap Luo Feng tampak begitu terkejut.


" Ayah, ada apa?" tanya Qing Ruo dengan perasaan berdebar-debar.


" Apakah kamu sekarang di kota Hua?"


" Benar..."


" Apakah kamu melewati hutan teratai raksasa?"


" Benar. Ayah ada apa?"


" Mereka adalah klan dewa kuno. Salah satu tuan muda mereka, Hua Wen adalah musuhku."


" Apa!" Qing Ruo merinding terkejut.


" Itu berarti aku telah memasuki kandang singa. Ayah mengapa bisa demikian?"


" Istriku  Jian Peiyu, ibu Luo Jian, adalah tunangan Hua Wen..." Dengan wajah sedih.


" Maksud ayah," ucap Qing Ruo pelan.


" Tapi aku tidak merebutnya. Jian Peiyu yang lari ke wilayah selatan bertemu denganku. Setelah Luo Jian lahir, barulah aku tahu hal itu."


" Tapi bagaimana reaksi Hua Wen?"


" Dia menantangku dalam pertarungan hidup dan mati, dan  aku membunuhnya."


" Lalu bagaimana reaksi dari klan Hua?"


" Para tetua menerima kekalahan itu, dan memakluminya. Namun tidak dengan putra dan putri."


" Ini aneh..."


" Tidak ada yang aneh, karena tuan muda klan besar selalu memiliki istri lebih dari satu itu adalah hal biasa. Kadang hal itu dilakukan sebagai politik untuk menguatkan keberadaan klan mereka. Mungkin satu-satunya penguasa yang memiliki istri satu itu hanya kamu..." ucap Luo Feng tersenyum kecil.


" Siapa bilang..."


" Eits, tubuh semi bunga emas  itu tidak termasuk..." ucap Luo Feng menimpali.


" Ayah, jika aku boleh tahu, kapan hal itu terjadi?" tanya Qing Ruo.


" Dua belas ribu tahun yang lalu," jawab Luo Feng. 


" Hais, ayah membuatku panik saja. Dua belas ribu tahun, itu adalah waktu yang sudah lama berlalu."


" Benar, tetapi jangan lupa. Para dewa selalu menceritakan aib mereka, dari generasi ke generasi, sebagai pengingat, agar mereka tidak melakukan kesalahan yang sama."


" Baik ayah, aku mengerti. Lalu bagaimana dengan bejana langit?"


" Wilayah timur daratan ilahi. Ada klan dewa kuno, Shen Guoshi Rongqi. Merupakan klan yang sangat kuat. Satu-satunya klan yang tingal paling dekat dengan matahari timur."


" Lalu bagaimana dengan Jun er?"


" Cari tempat yang memiliki aura emas yang cukup kuat, karena hal pertama yang harus di lakukan adalah membiarkan kekuatan emas alam, menyamarkan kekuatan tubuhnya." ucap Luo Feng.  


Sepanjang waktu mereka berbincang-bincang santai, membicarakan banyak hal,  hingga menjelang sore akhirnya Qing Ruo meninggalkan istana Petir kuno dan keluar dari dunia jiwa.