Sang Penguasa

Sang Penguasa
I Love You


Sejumlah besar pasukan gelap terlihat berjalan dari kejauhan.


Ini benar-benar tak disangka.


Namun pada akhirnya beginilah kenyataannya.


Sang gadis kecil dan bocah lelaki pun hanya bisa terdiam.


"Baiklah tamat riwayat kita."


"!?"


Bocah lelaki langsung mengatakannya dari awal.


"Se- setidaknya kita harus usaha dulu 'kan?" Gadis kecil tak setuju.


Kemampuan analisis sang pelindung dunia cilik ini tak perlu diragukan.


Kalau memang kalah ya berarti begitulah adanya.


Tak perlu ada tambahan bumbu macam-macam.


Perlahan namun pasti pasukan gelap yang tak terhitung jumlahnya itu semakin dekat


Para pelindung dunia cilik ini belum pernah melihat ancaman seperti ini


Inilah akhirnya.


"...." Love tak bisa memaksa mereka berdua untuk terus menunjukkan sisi kuat.


Pada akhirnya apa yang mereka katakan adalah fakta yang sesungguhnya.


Akhirnya tiba saatnya juga pasukan gelap mulai menyerang dengan kekuatan penuh, tidak lagi nanggung seperti dulu.


Beban kerja begini sudah terlalu berat, bahkan untuk ukuran sang sosok pelindung dunia ini.


Love terdiam.


Tak bisa dipungkiri mendengar para pelindung dunia mengatakan kenyataan ini cukup mengguncang mentalnya.


Tapi ia yakin masih ada harapan.


"Sampaikanlah permohonan terakhirmu, jangan menyesal nanti." Bocil laki-laki tak hentinya mengingatkan soal ini.


"Ja- jangan katakan yang melemahkan saja dong." Rekannya tak suka mendengarnya.


Yah pada akhirnya memang begitulah kenyataannya.


Hanya tinggal menunggu waktu sampai dunia dikuasai oleh makhluk gelap.


Tak berlebihan, tapi inilah kenyataannya.


Takdir dunia ini seolah bergantung dari seberapa lama sang penguasa gelap tak menyerang dengan kekuatan penuh.


Dengan begitu masih ada kesempatan untuk bertahan dengan mencicil mengalahkan para makhluk jahat yang muncul di dunia ini.


Entah itu yang kuat atau yang lemah.


Biasanya itu bisa diatasi dengan mudah.


Namun kini berbeda.


"Ada kabar dari yang lain?" Sang bocah cilik penasaran.


Barangkali ada bala bantuan yang bisa meringankan situasi yang sedang terjadi ini.


"Ti-tidak ada...." Sang gadis cilik tak merasakan adanya makhluk yang akan datang ke sini untuk beberapa waktu ke depan.


Bisa jadi rekan kuatnya yang lain sedang sibuk mengurus sesuatu di sisi lain dunia ini.


"Persiapkanlah tempat peristirahatan terakhir yang terbaik."


"D- duh jangan katakan itu dong...."


Love terdiam.


Ia benar-benar tidak menyangka.


Pasukan gelap sudah dekat.


Sret.


Love mengangkat dua tangannya ke depan, dan seketika itu juga bola api besar muncul dan menghantam pasukan gelap!


Namun sayang sekali itu tak terlalu efektif!


Tak ada efek yang berarti pada para pasukan gelap.


Keras juga ya.


Pasukan gelap itu terus maju.


"...." Dua pelindung dunia ini menatapnya dengan tatapan kasihan.


Y- yah, setidaknya sudah usaha kan? Hehe.


Love tak mau tertekan lagi dengan keadaannya.


Kini ia menerima apa adanya dengan apa yang terjadi.


Semua ini sudah diramalkan jauh-jauh hari sebelumnya.


Kehancuran dunia pada akhirnya tidak ... terelakkan ....


BOOOM!!


Seketika itu juga ledakan hebat terjadi.


Hempasan angin kencang dan getaran hebat langsung terjadi.


'A- apa?' Love berusaha bertahan dengan apa yang terjadi ini dan melihat sekitar.


Tapi apa daya ia tak bisa melihat dengan jelas.


Ketutupan pasir tebal!


HUSSSH!!


Hempasan angin lain menghempaskan semua pasir yang menghalangi.


"!?" Love tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Para pasukan iblis itu menghilang begitu saja!


"!?" Dan ada hal lain yang lebih mengejutkannya!


DRAP!


"TU- TUAN!?" Terlihatlah sang tuan penguasa yang terbaring saja di tanah.


Love berusaha membangunkannya, namun terlihat jelas bagaimana sang penguasa ini lelah dan lemas brutal.


Kedua pelindung dunia tahu semuanya sudah berakhir, sang penguasa melakukan tugasnya dengan tepat waktu.


Sang penguasa gelap sudah dikalahkannya.


"Ini seperti yang sudah ditakdirkan." Sang bocah pelindung dunia mengatakannya.


"Hiks...." Gadis kecil mengelap air matanya.


Sang tuan penguasa berkorban melindungi dunia ini.


"TUAN!" Love masih berusaha berkomunikasi dengan tuannya.


'Syukurlah nona Love baik-baik saja' Max terdiam.


Ia sudah mengerahkan semu yang terbaik, berusaha melakukannya dengan singkat, padat dan jelas.


Ia akhirnya bisa melakukannya.


"N- nona Lo- Love." Max memegang tangan nona yang menemani perjalanannya.


Terima kasih atas bantuannya.


Ia senang bisa menuntaskan perjalanan ini.


"Tuan!" Love memegang tangan tuannya dengan erat.


Ia akhirnya belajar, bahwa cinta tak harus memiki, cinta juga melindungi.


Setidaknya ia senang bisa melindungi sosok yang membantunya dari awal, yang kebetulan mirip sekali dengan seseorang yang ia sukai di dunia nyata.


Terima kasih untuk semuanya.


Selamat tinggal.


***


Sring.


"Uh...." Max membuka matanya, tubuhnya terasa berat.


'Lho?' Dimana ini?


Kenapa ia ada di ... ruang perawatan?


Max mencoba menggerakkan kepalanya dan melihat sekitar.


Dan benar saja, ini memang ruang perawatan.


"Hm?"


Ada seseorang yang menunggunya tertidur sembari memegang tangannya.


Pegangannya sangat erat sampai-sampai ia ingat akan sesuatu yang lain.


"?"


Seorang yang menungunya itu terbangun dan terkejut.


"L- LOVE?" Max makin terkejut juga.


Pluk.


Gadis pirang ini langsung memeluknya lembut.


"Ma- maaf aku mengatakan hal buruk...."


"...." Jadi semua ini ... mimpi?


Max terdiam.


Ia ingat, ia memang kehilangan kesadaran saat ngobrol sama rekannya ini.


"Ng- nggak papa kok." Max tersenyum kecil.


Ia hanya shock sedikit, tapi sampe tumbang sih.


"Aku bohong."


"...?" Max terdiam.


"Semua itu hanya dialog adegan film, aku coba mempraktekkannya."


'Apa?' Max terdiam.


"Katanya kalau kamu mengatakan ini pada orang yang kamu suka, maka orang itu juga akan menyukaimu dan terus berjuang untukmu." Raut wajah gadis ini agak memerah.


'TEORI DARI MANA ITU?' Max heran.


....


TUNGGU DULU.


Itu artinya?


"Jangan tinggalkan aku lagi ... Max." Love menyesal sudah bercanda segitu jauhnya.


Ia harap orang yang disukainya bisa memaafkannya.


Disamping itu ia senang dia sudah kembali sadar seperti sedia kala.


Max menenangkan rekannya ini, ia tak masalah dengan candaan itu kok.


Dirinya saja yang terlalu lemah.


Beda lagi kalau ia sudah kuat dan bisa menguasai dirinya sendiri.


'Ah." Love merohoh sesuatu dari tasnya, sebuah surat.


Bukan surat biasa, melainkan surat mewah dan penuh dekorasi indah.


"Oh, ada surat dari seseorang ... pria tua dengan pakaian mewah, kamu kenal?" Love menyerahkan surat itu.


Max terdiam, baru pertama kali ia melihat surat seniat ini.


Surat apaan nih?


Masa ia punya penggemar sih? Atau dari seseorang yang ia kenal?


Perlahan Max membuka dan membcanaya.


"!?" Raut wajah pemuda ini berubah.


KOK?


-Terima kasih Tuan Max, kini dunia kita sudah damai lagi.


Nikmatilah waktu Tuan denganĀ  seorang yang Tuan kasihi dan sayangi.


Tertanda.


Supri-


"APAA!?" Teriakan pemuda ini membuat seisi rumah sakit terkejut.