
Setelah Qing Ruo dan rombongannya memasuki lubang gelap yang merupakan lorong makam tersebut, tiba-tiba batu besar yang sebelumnya telah disingkirkan oleh Qing Ruo bergerak dan menutup kembali, membuat Jianyu yang berada di barisan paling belakang sedikit terkejut.
" Jianyu, tetap tenang. Batu besar Itu adalah pintu formasi yang dapat menutup kembali saat tidak merasakan jejak aura emas." Qing Ruo menjelaskan, sambil bergerak mengikuti Heian Bai dan Dalu Rong yang memimpin rombongan.
" Maksud penguasa?" Tanya Jianyu semakin heran.
" Jenderal, sebelumnya batu itu khusus untuk mereka yang menggunakan kekuatan gelap, tetapi aku mengubah susunan mantra formasinya untuk kita yang menggunakan kekuatan emas."
" Baik penguasa muda, aku mengerti..." menatap Qing Ruo dengan takjub.
Di dalam kegelapan lorong yang mampu menampung ratusan orang itu.
" Sembunyikan aura dan gunakan mata emas," ucap Heian Bai, berjalan perlahan tanpa menggunakan cahaya atau penerang, supaya tidak menarik perhatian kekuatan yang ada di dalam lorong tersebut, ataupun mengaktifkan jebaka yang ada di sepanjang lorong.
Semakin dalam mereka memasuki lorong, maka semakin kuat aura gelap tersebut, membuat mereka semakin berhati-hati.
****
Di luar lorong.
Hua Zun dan Hua Thong yang berjaga di tempat itu tiba-tiba merasakan beberapa aura mendekati tempat itu.
" Saudara Zun," ucap Hua Thong dengan sikap waspada.
" Aku juga merasakannya," jawab Hua Zun.
Tidak lama kemudian, mereka berdua melihat delapan pendekar Kaisar dewa tingkat akhir, dan dua semi abadi tingkat tiga mendekati tempat itu.
" Shen Lieren," ucap Hua Zun pelan, berdiri dari tempat persembunyiannya, mengamati Klan Dewa pemburu tersebut.
Di balik perisai ilusi.
" Saudara, aku sudah tidak merasakan aura asing itu..."
" Benar, aku juga sudah tidak merasakannya, tetapi berdasarkan penciuman tikus emas, aura asing itu muncul di tempat ini..." Sambil mengeluarkan dua sosok tikus emas dari balik bajunya.
Tampak kedua sosok sebesar kepalan tangan orang dewasa berwarna keemasan itu mencicit.
Dari balik mantra formasi ilusi. Hua Zun dan Hua Thong yang mengawasi pergerakan mereka bahkan telah mengeluarkan senjatanya.
" Swhuss...." tombak emas dengan balutan api biru, muncul di tangan mereka berdua, yang siap untuk di lepaskan.
" Tikus emas ini, kekuatan penciumannya sangat menakjubkan. Aku bahkan tidak merasakan kebocoran aura dari segel mantra formasi yang dibuat oleh penguasa muda Qing Ruo, tapi dia dapat melakukan," ucap Hua Thong, menatap orang-orang dari klan Shen Lieren dengan tajam.
" Jika mereka bergerak, kita harus segera membunuhnya," ucap Hua Zun.
" Baik, tapi bagaimana jika kita justru memanggil bantuan pasukan lainnya?" tanya Hua Thong.
" Saudara tenanglah, aku ada rencana," jawab Hua Zun dengan yakin.
Di hadapan Hua Zun dan Hua Thong. Para murid dari klan Shen Lieren itu, masih berada di tempatnya. Menatap kawasan tandus itu dengan heran dan penasaran, lalu melepaskan tikus emas yang ada di tangannya.
" Saudara, mereka melakukannya," ucap Hua Zun sambil menombak tikus yang sedang melompat dari tangan pemimpin kelompok tersebut, di ikuti oleh Hua Thong yang juga melepaskan tombaknya membunuh tikus yang lainnya.
" Swhus... swhus...." tombak emas muncul dari kehampaan, melesat dengan kecepatan tinggi, menombak tikus emas itu dengan telak.
" Dhuar... dhuar...." Ledakan api biru langsung membunuh kedua hewan pemburu harta tersebut, mengejutkan para murid klan Lieren.
" Swhus.... swhus...." Mereka bergerak dengan cepat membentuk formasi pertahanan.
" Oh tidak, kita disergap," teriak sang pemimpin kelompok dengan panik, saat merasakan kekuatan senjata tingkat tinggi yang muncul tersebut, sambil melepaskan tebasan pedang, menghalau tombak terbang yang langsung melesat ke arahnya.
" Dhuar... dhuar..." Serangannya beradu.
" Ukh..." Sang pemimpin kelompok yang merupakan semi Abadi Tingkat tiga itu terdorong hingga memuntahkan darah segar dari mulutnya.
" Sangat kuat," ucapnya sambil membela diri.
" Dhuar...dhuar ..." Ledakan keras bergema, bersamaan dengan terjatuhnya para pendekar tingkat kaisar.
" Argh...! Baj***n. Tunjukan diri kalian!" Teriak sang pemimpin kelompok murka, sambil menebaskan pedangnya menghadang serang tombak emas.
" Baj***n! Kami bahkan tidak mengganggu kalian...." Teriak yang lainnya kesal, saat melihat delapan murid lainnya kini tidak ada yang tersisa.
" Saudara, jika kita tidak pergi, Kita juga akan mati..."
" Argh... Siapa kalian sebenarnya!" teriaknya mereka murka dan mulai kewalahan.
" Siapa yang mengizinkan kalian memasuki tempat ini? Pasukan jubah emas tidak mentolerir hal itu. Ini sama saja kalian melawan kaisar. Dan Hukumannya adalah mati..." Ucap Hua Zun. melepaskan tembakan tombak lainnya.
" Swhus..." Tombak itu melesat seperti kilatan cahaya, menembus dada pemimpin kelompok tersebut dan merobohkannya.
" Swhuss..." Tubuh itu terjatuh dan lenyap di dalam mantra formasi ilusi, membuat sosok lainnya begitu ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri.
" Jenderal, mohon pengampunan kalian," teriak sosok itu, mengira yang mereka hadapi adalah pasukan jubah emas.
" Swhus...." Tombak emas Hua Thong menghadang pergerakannya.
" Dhuar...." serangannya beradu, namun terlambat, tombak Hua Zun melesat menembus punggungnya.
" Swhuss..." Tubuh tanpa nyawa itu terjatuh, membuat tempat itu menjadi tenang kembali.
" Saudara," ucap Hua Zun membawa Hua Thong membersihkan jejak aura pertempuran dari tempat itu, serta mengurus kedua jasad pemimpin kelompok tersebut, dan membawanya ke tempat lain, untuk dijadikan sebagai pengalihan.
***
Di dalam lorong makam yang gelap.
Qing Ruo dan rombongannya terus bergerak semakin dalam, tanpa mengetahui pertempuran kecil yang terjadi di luar.
" Tempat ini seperti tanpa dasar," ucap Hua Zhen berbicara melalui telepati pada Qing Ruo.
" Saudara Hua Zhen benar. Menurut perhitunganku, saat ini kita sudah berada di kedalaman tiga ratus meter," Jawab Qing Ruo.
" Benar, aku juga merasa demikian," ucap Hua Zhen.
Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan aroma busuk yang sangat menyengat.
" Aroma ini lagi," Ucap Heian Bai menatap ke arah Qing Ruo yang seperti bersikap biasa saja.
" Sepertinya lorong ini aman," ucap Murong Jianyu.
" Saudara Jianyu benar," ucap Dalu Rong yang berada di barisan paling depan.
Setelah berjalan sejauh lima ratus meter, mereka tiba di sebuah pintu batu raksasa yang menutupi lorong, tersegel dengan mantra formasi tingkat tinggi, membuat Qing Ruo dan rombongannya semakin penasaran.
" Pintu batu ini bahkan tidak mampu meredam ledakan aura gelap dan bau busuk yang sangat menyengat. Saudara Ruo," ucap Dalu Rong, menatap ke arah Qing Ruo.
Qing Ruo yang mengerti maksudku Dalu Rong, lalu mulai membuat segel tangan.
"Swhuss..."cakram emas sebesar telapak tangan orang dewasa kembali muncul.
" Bersiap!" Ucap Qing Ruo sambil terus bekerja.
Dalu Rong dan rombongannya yang mengetahui maksud Qing Ruo, segera mengedarkan kekuatan mereka, bersiap menghadapi kemungkinan yang pasti akan terjadi.
" Karena sepanjang lorong sebelumnya, kita bahkan tidak menemukan rintangan sama sekali, Itu berarti rintangan itu akan segera dimulai," ucap Heian Bai.
" Mundur...." Ucap Qing Ruo sambil mengeluarkan pedang Xue Luo dan menebas pintu batu tersebut.
" Dhuar...." Pintu batu tersebut meledak. Bersamaan dengan munculnya ribuan ular api sebesar tubuh orang dewasa dengan panjang lima belas hingga dua puluh meter langsung bergerak menyerang mereka.
" Dhaur.... Dhuar...." ledakan keras mengguncang lorong itu, mengubah ular berwarna hitam pekat dengan ekor yang memancar api merah itu meledak.
" Ini hanya permulaan, tetap waspada," ucap Qing Ruo yang tidak ingin rombongannya bertindak gegabah, dan mengeluarkan tenaga penuh, apalagi menghadapi hewan tingkat raja dewa hingga tingkat kaisar dewa tahap awal tersebut.
" Hati-hati. Racunnya sudah berada di tahap api tingkat akhir," ucap Jianyu sambil melepaskan serangan tapak api biru, membakar ular-ular yang telah berjatuhan, memastikan agar hewan gelap itu benar-benar mati, sedangkan Hua Zhen bertugas mengumpulkan permata jiwa ular-ular tersebut.
" Dhuar... dhuar..." Ledakan keras terus bergema di dalam lorong.
Tiga puluh menit berlalu, tetapi ular ekor api itu masih terus muncul, bahkan kini muncul kalajengking gurun dan semut racun.
" Bahkan Semi abadi tingkat tiga tidak akan mampu bertahan jika seorang diri," Qing Ruo membatin sambil melepaskan serangan api putih dari telapak tangannya.
Tiba-tiba Qing Ruo dan rombongannya dikejutkan dengan ledakan keras dari arah belakang. Dengan refleks Jianyu melepaskan tebasan pedang.
" Dhuar..." Ledakan keras bergema dengan meledaknya tubuh serangga-serangga raksasa yang tiba-tiba muncul tersebut.
" Ternyata mereka ingin mengepung kita," ucap Qing Ruo sambil membantu Jianyu.