Sang Penguasa

Sang Penguasa
161. Meninggalkan Pulau.


Pada saat Qing Ruo tiba di depan mulut gua, tiba-tiba ledakan aura semi abadi tingkat delapan, bersamaan dengan lengkingan serak burung bangau  muncul,  menindas semua makhluk yang ada di dalam pulau kecil itu, membuat Qing Ruo mematung di tempatnya.


" Sangat kuat," batinnya ragu untuk keluar dari gua itu.


" Dhuar....dhuar..." ledakan dahsyat pertempuran semakin membahana, mengguncang kawasan itu.


" Jika tidak pergi, bisa-bisa aku terkubur di tempat ini." Qing Ruo membatin sambil keluar dari tempat persembunyiannya tersebut.


" Swhuss... swhus...." Tubuhnya bergerak zig-zag,  bersembunyi di antara pohon-pohon raksasa yang telah meranggas terkena kekuatan racun kabut yang ada di hutan tersebut, sambil menghindari keberadaan hewan buas yang berjaga di seluruh kawasan itu.


Setelah bergerak cukup jauh, dan hampir keluar dari pulau tersebut, tiba- tiba Qing Ruo dikejutkan dengan suara gemuruh air yang sangat luar biasa, bersamaan dengan kemunculan perisai air transparan yang mulai membentuk kubah , menyegelnya seluruh pulau itu.


" Oh tidak..." ucap Qing Ruo, melesat ke atas langit dengan ekstrem, membuat keberadaannya langsung diketahui hewan buas yang sedang berjaga di sekitar bibir pantai pulau.


" Swhuss... swhuss..." Kilatan cahaya keemasan bergerak mengikutinya.


" Kejar dan tangkap!" teriak gagak emas memberi perintah, yang tidak ingin Qing Ruo keluar dari  perisai transparan tersebut.


" Swhuss...swhus..." Puluhan hewan buas semi abadi tingkat dua hingga tingkat tiga, melesat seperti tembakan anak panah, bergerak mengejar Qing Ruo yang terus menjauh dari tempat itu. Tidak hanya itu dua sosok elang Emas yang merupakan hewan buas semi abadi tingkat tujuh, melesat menyerang Qing Ruo.


Kemunculan Qing Ruo yang sedang dikejar  oleh  para hewan buas lainnya, menarik perhatian sosok bangau putih yang sedang bertarung melawan   para naga yang memasuki tempat itu.


" Ternyata ada dewa kecil di dalam pulau." Batinnya sambil menghajar para naga yang kini benar-benar tidak berdaya.


Kemunculan Qing Ruo yang berusaha pergi, menyadarkan sosok naga yang sedang bertempur tersebut pada situasi yang sedang mereka hadapi.


" Oh tidak. Pulau ini akan tenggelam," ucap para naga itu dengan panik, saat menyadari pulau itu sedang bergerak menuju dasar danau, yang akhirnya mereka ketahui, bahwa pulau tersebut adalah punggung kura-kura purba raksasa yang berusia jutaan tahun.


" Dhuar....dhuar...." Ledakan dahsyat terus bergema, persamaan dengan pulau yang terus bergerak dan  tenggelam.


Di atas langit pulau yang di tutupi perisai air transparan itu, kini menampakan air berwarna hitam pekat yang menandakan mereka sudah berada di dalam danau.


" Swhuss... swhus...." Qing Ruo terus bergerak dengan kecepatan ekstrem mencoba menghindari kejaran hewan buas dan menembus kubah perisai transparan pulau itu.


" Swhus... swhus...." tembakan pisau angin dari sapuan sayap elang emas mendorong Qing Ruo menjauh dari dinding perisai tersesat.


" Jangan biarkan dia pergi!" ucap Elang Emas ini sambil bergerak mendekat.


Qing Ruo yang menyadari dirinya tidak akan bisa lari dari kejaran elang emas itu, membiarkan diri terkena serangan angin elang emas tersebut.


" Dhuar...." sapuan angin setajam pedang itu menghantam tubuh Qing Ruo, mendorong sosoknya dengan ekstrem hingga mendekati dinding kubah.


" Swhus...." sosok elang emas lainnya bergerak melepaskan serangan pada Qing Ruo.


" Dhuar...." ledakan keras bergema saat serangan pisau angin itu menghantam tubuh Qing Ruo, yang mendorongnya semakin dekat dengan dinding perisai.


Dengan tubuh terlempar, Qing Ruo melepaskan cakram mantra formasi Ling.


" Swhuss... swhus...." cakram emas itu mendahului sosoknya, melesat menyerang dinding kubah itu dan langsung  merobeknya.


" Swhuss...." Sosok Qing melesat, keluar dari dinding kubah yang robek itu muncul di dalam danau hitam.


" Ba-bagaimana bisa...." ucap Elang Emas itu memantung, saat melihat sosok Qing Ruo lenyap dari pandangannya.


" Jenderal, kita tertipu. Dia dengan sengaja membiarkan diri terkena serangan itu dan memanfaatkannya untuk melarikan diri. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Elang putih, hewan buas semi abadi tingkat dua, bergerak mendekati Elang Emas yang mematung.


" Perintahkan pasukan yang berada di dalam air untuk menangkapnya." lalu meninggalkan tempat itu, bergerak menuju pusat pertempuran untuk membantu Bangau putih yang sedang menghajar para naga yang kini telah menggila.


***


Di dalam danau hitam. Belum sempat Qing Ruo memulihkan diri dari serangan elang emas, hewan buas semi abadi tingkat tujuh, kemunculan di dalam air itu langsung disambut puluhan tombak air transparan yang melesat kearahnya dengan ekstrem.


Qing Ruo yang tidak menduga akan mendapat serangan dari penghuni danau itu, langsung bergerak menghindar, namun kecepatan serangan tombak air itu lebih cepat dari pergerakannya.


" Dhuar...dhuar...." Ledakan keras tembakan tombak air yang ternyata  dilepaskan oleh puluhan ikan perak terbang, beradu dengan serangannya.


" Swhus...." ledakan dahsyat itu melempar sosok Qing Ruo hingga ratusan meter, membuatnya terdorong di dasar danau.


" Swhus...swhus....." tembakan pisau cahaya Shen Guang melesaat mendahului sosoknya yang bergerak menuju permukaan danau itu.


Tidak ingin mangsanya pergi. Puluhan  ikan perak terbang yang merupakan hewan air Semi abadi tingkat dua hingga tingkat tiga itu, terus bergerak mengejar Qing Ruo, sambil melepaskan tembakan tombak air transparan.


" Dhuar.... dhuar..." ledakan dahsyat di dalam air itu mengguncang permukaan danau tersebut.


" Swhus..." sosok Qing Ruo akhirnya berhasil keluar dari dalam danau itu, namun kemunculannya di permukaan danau kembali disambut ratusan tombak air yang seperti hujan, melesat kearahnya.


" Dhuar.... dhuar...." serangan tombak air itu menghantam serangan tapak emas naga ilahi, dan pisau cahaya Shen Guang yang bergerak melindungi tubuhnya.


Di atas permukaan danau hitam yang gelap itu. Qing Ruo terus bergerak  dan menjaga jarak dari ratusan sosok ikan perak terbang yang terus mengejar dan menyerangnya.


" Swhuss... Swhus...." Muncul ratusan ikan perak terbang lainnya, mencoba menyegel permukaan langit danau.


" Biarkan aku pergi," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak melepaskan serangan tujuh pisau cahaya Shen Guang, yang terus menghalau serangan ikan perak terbang itu.


Mendengar perkataan Qing Ruo, ikan perak terbang itu justru semakin beringas. Bahkan muncul ratusan ikan lainnya yang semakin brutal.


Karena memang tidak ingin bertarung, Qing Ruo menjadi kesal.


" Trark...." Ledakan petir  seperti ombak, tiba-tiba muncul, bergulung-gulung  di atas langit danau, lalu melesat menyambar ratusan ikan perak terbang tersebut.


Dhuar... dhuar..." Sambaran petir itu mengubah ikan perak terbang yang berada di tingkat dua menjadi kabut darah dan melukai tingkat tiga dengan parah.


Kemunculan serangan petir yang sangat kuat itu, membuat ikan-ikan yang selamat dari sapuan serangan itu, berhamburan memasuki danau.


Dengan tubuhnya yang masih terluka, Qing Ruo lalu bergerak meninggalkan tempat itu.